RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS HUKUMAN YANG MENYENANGKAN


__ADS_3

EPS 131 HUKUMAN YANG MENYENANGKAN


“Ah,uh,eh..”


Mulut keempat orang suruhan Pramono menjadi gagu. Suara mereka seperti tercekat, tubuh mereka menjadi dingin dan membeku. Leher yang tadinya bisa digerakkan pun kemudian ikut membeku. Hanya kedua bola mata mereka yang masih bias bergerak-gerak. Berputar-putar ke kiri, kanan, atas dan bawah. Lalu berputar-putar seperti mata orang yang sedang linglung.


“Kalau begitu, saya mohon pamit mau masuk ke dalam rumah,” kata Ayah Pranaja.


Wajah keempat orang itu terperanjat.


“Heg..ihg..okt..nek..(Hai pak, jangan tinggalkan kami)” jerit mereka tanpa suara.


Dengan santainya ayah masuk ke dalam rumah lagi, membiarkan keempat orang itu diam membeku di halaman rumah. Perlahan rasa takut menggerayangi hati mereka, mendapati tubuh mereka tidak bisa digerakkan sama sekali. Apalagi tuan rumah dengan cueknya melenggang ke dalam rumah. Apa yang sedang terjadi? batin mereka. Jangan-jangan tubuh mereka akan lumpuh selamanya?


Di belakang rumah, Pranaja dan Anastassya masih asik berbincang. Sambil duduk di atas Gazebo yang berada di pinggir kolam renang, mereka menikmati es lemon dan strawberry racikan chef Pranaja. Air lemon, air gula, minuman bersoda, daun mint, dicampur es batu. Setelah itu dimasuki potongan buah strawberry yang dipotong tipis.


Kalian bisa membayangkan betapa segarnya kan? Apalagi diminum di pinggir kolam renang bersama pasangan. Hm, romatisme es lemon dan sensasi rasa strawberry yang manis-manis asam langsung meledak. Kedua mata Ana saja sampai merem melek saking enaknya.


Hehehe…Pranaja terkekeh melihat seringai wajah Ana yang sedang keenakan.


“Uuh…enak sekali minuman buatanmu Pranaja,” ujarnya. “Aku mau dong dibuatkan minuman sama kamu setiap hari.”


“Setiap hari? Kalau begitu kamu tidak usah pulang dong. Tinggal saja disini, nanti aku halalin kamu,” ledek Pranaja.


“Apa?”


Ana langsung membuka matanya, lalu melihat ke kanan dan ke kiri, mencari sepatu dari kulit buayanya. Tapi tidak ketemu. Rupanya Pranaja yang sudah mulai hapal kelakuan Ana, telah membuang jauh sepasang sepatu itu ke tengah kolam renang.


“Pranajaa!”


Teriak Ana begitu melihat sepasang mengapung di tengah kolam renah. Wajahnya terlihat sangat kesal. Sementara Pranaja malah tambah semangat tertawanya.


“Hahaha..!”


“Sepatuku jadi basah kan?”


Tanpa diduga Ana bangkit dari duduknya, berlari lalu meloncat ke dalam kolam.


“Byur!”


Dengan cepat tubuhnya meluncur di dalam air. Tangannya meraih sepatu kulit buaya miliknya, lalu balik kembali ke pinggir kolam. Tidak sampai sepuluh detik.


“Wow! Kecepatan renangmu luar biasa Ana!”


Ana tidak mempedulikan pujian pemuda konyol itu. Dia naik ke atas kolam, berdiri dan mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Pesona kecantikan Ana semakin membius pikirannya. Tiba-tiba, tanpa basa-basi Ana membuka kaosnya di depan Pranaja.

__ADS_1


“Ups! Ana…!” suara Pranaja langsung tercekat.


Biji mata pemuda itu serasa mau meloncat begitu melihat keindahan tubuh Anastassya. Tubuh mulusnya terpampang indah bagaikan patung lilin di museum Madame Tussaud, London, Inggris. Lekuk pinggangnya terbentuk sempurna dengan garis bulu-bulu halus membelah perutnya dari atas ke bawah. Apalagi ketika Ana menggeleng-gelengkan kepalanya kembali, tubuhnya ikut bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Bola mata Pranaja sampai ikut bergoyang ke kanan dan ke kiri.


“Ap..apa yang kau lakukan Ana? Ke..kenapa kau menunjukkan auratmu kepadaku?”


Ana malah membalikkan tubuhnya menghadap Pranaja. Lalu dia berjalan menghampiri pemuda itu. Tubuh Pranaja langsung bergetar hebat. Suhu tubuhnya langsung naik turun tak beraturan. Panas, dingin, panas, dingin lagi. Eh, panas lagi.


“Kalau tahu aurat, kenapa matamu malah melotot?” bentak Ana sambil mengalihkan pandangannya “Cepat ambilkan handuk dan baju ganti. Kau harus bertanggung jawab karena membuang sepatuku ke tengah kolam!”


Wus!


Dengan kecepatan super Pranaja mengambil handuk dan kaos ganti buat Ana. Tidak sampai dua detik dia sudah berada di samping Ana lagi. Gadis itu bahkan tidak menyadarinya. Dia hanya mengekspresikan wajah terkejut saat melihat di tangan Pranaja sudah ada handuk dan kaos ganti.


“Ini handuk sama kaosnya,” kata Pranaja sambil tersenyum nakal.


Ana menatap Pranaja dengan pandangan tak peraya. Tapi gesture pemuda itu begitu meyakinkan. Apa lagi suara ketawa Pranaja yang renyah dan wajahnya yang imut, membuat tingkat kecerdasan gadis polos itu menurun drastis dan tidak bisa berpikir normal. Jadi, mau tidak mau dia harus mempercayai sesuatu yang jelas tidak masuk di akalnya..


Dengan lembut Pranaja melingkarkan handuk itu ke tubuh Ana. Wajah mereka yang begitu dekat membuat tatapan mata mereka saling bertaut. Seperti ada telaga yang menyejukkan di dalam matanya, batin Pranaja. Sebaliknya Ana melihat ada ketulusan dan keteduhan di mata pemuda itu.


“Kau masih marah kepadaku Ana?” bisik Pranaja.


“Kalau masih marah, kenapa kau tersenyum?”


Senyum Ana semakin lebar.


“Memang ada larangan orang marah sambil tersenyum?”


Pranaja membalikkan tubuhnya, berniat meninggalkan gadis itu. Tapi kedua tangan Ana memegangi lengannya.


“Jangan pergi Pranaja.”


Gerakan Pranaja tertahan. Dia membalikkan tubuhnya kembali.


“Kenapa?”


“Kau masih harus menjalankan hukumanmu.”


“Hukumanku? Apa yang harus aku lakukan Ana?”


“Pakaikan kaosku sekalian.”


Lalu Ana melepaskan bikininya yang basah. Sepasang gunung kembar dengan puncak semerah buah strawberry, terpampang jelas di depannya. Begitu kencang dan padat, menyembul hampir menyentuh kulit Pranaja. Tapi pemuda itu langsung memejamkan matanya. Kembali tubuhnya gemetaran.

__ADS_1


“Ini ujian Pranaja, ujiann!” jeritnya dalam hati.


Dengan hati-hati dia memakaian kaos itu ke tubuh Ana. Gerakannya sangat lamban dan penuh kehati-hatian, takut menyentuh gunung kembar itu. Ah, kalau hukumannya menyenangkan begini, Pranaja sih mau di hukum setiap hari. Hehehe…


Drrt..Drrt..!


Ada pesan masuk. Dari ayahnya, Pramono Suteja


“Ayah kangen padamu Ana. Empat orang pengawal sudah kusuruh menjemput ke rumah temanmu. Langsung pulang ya?”


Apa? Ana langsung memperlihatkan pesan ayahnya melalui ponsel kepada Pranaja. Pemuda itu juga terkesiap kaget.


“Katanya ayah sudah mengirimkan empat orang pengawalnya?” kata Ana.


“Oke. Ayo kita cek ke ruang depan.”


Mendadak perasaan Pranaja menjadi tak enak hati. Bergegas dia berjalan ke ruang depan, diikuti Anastassya. Sesaat kemudian mereka tertegun saat melihat empat orang tinggi besar, berpakaian serba hitam, berdiri bagaikan patung. Diam membeku dengan wajah seramnya, tapi mengapa mata mereka penuh linangan air mata. Apa yang terjadi?


“Kenapa kalian menangis?” tanya Ana.


Baru sekali ini dia melihat para pengawal ayahnya menangis. Dan mereka tidak menjawab pertanyaan Ana. Bola mata mereka saja yang bergerak seperti orang panik.


“Kenapa kalian menangis? Kalian baru dimarahin ayah?” Ana bertanya lagi.


Pranaja menghela nafas panjang.


“Bukan ayahmu Ana, tapi ayahku,” sahut Pranaja.


Pranaja lalu menjelaskan kalau orang-orang itu sedang dihukum ayah.


“Mungkin karena perilaku mereka yang tidak sopan sehingga ayah perlu menghukum mereka.”


Ana memandang wajah Pranaja tak mengerti. Hukuman macam apa hingga membuat tubuh para pengawalnya jadi membeku seperti patung.


“Itu adalah hukuman yang menyenangkan Ana. Kalau aku yang melakukan kesalahan, ayahku bahkan mengancam akan menghancurkan aku menjadi debu.”


“Hah? Memang ayahmu sekejam itu Pranaja?”


Pranaja tertawa lebar.


“Tidak, ayahku baik sekali. Dia hanya mengancam saja, dan Alhamdulillah, aku belum pernah melakukan sesuatu yang membuatnya marah.”


Ana menatap lekat wajah Pranaja. Perasaan kagum itu semakin kuat tertanam dalam hatinya. Dibalik sikapnya yang konyol, Pranaja adalah pemuda yang patuh dan taat pada ayah dan ibunya.


Pranaja....❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2