RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 88 NEGERI TIRAN


__ADS_3

EPS 88 NEGERI TIRAN


“Hahahahak…”


Pranaja tertawa sampai kelihatan seluruh giginya yang putih dan rapi. Tangannya memegang perutnya yang terguncang-guncang. Ryong masih memandang wajah pemuda itu dengan tatapan tak mengerti. Tapi, dia merasa Pranaja sedang mempermainkannya.


“Itu namanya kamu kena, …. Prank!” ujar Pranaja disambung gelak tawanya.


“Prank? Apaan tuh?” tanya Ryong bingung.


Pranaja menghentikan tawanya sejenak.


“Kau juga tidak tahu prank Ryong? Hahaha..,” gelak tawanya kembali membahana. “Benar-benar kau hidup di dalam tempurung.”


Pranaja terus saja tergelak melihat kepolosan sahabat Korutnya itu.


Ryong menatap wajah Pranaja dalam-dalam. Wajah yang tak pernah mengenal rasa takut, tetapi tidak menyeramkan. Tertawanya begitu lepas, pertanda tidak ada beban di daam hatinya. Ah, beruntung sekali Pranaja. Andai dia memiliki kekuatan seperti yang dimiliki sahabatnya itu, pasti sudah sejak dulu dia lari dari negerinya.


“Tenang saja brother,” kata Pranaja pada akhirnya. “Tentu saja aku tidak akan pernah membakar sahabatku sendiri. Bahkan aku akan menjagamu dengan segenap jiwaku.”


Kalimat Pranaja terdengar begitu enteng, tapi memiliki makna yang dalam di hati Ryong. Dia masih menatap wajah Pranaja. Ada titik air di kedua sudut matanya. Pranaja terkesiap kaget.


“Kau menangis Ryong? Apa kata-kataku menyinggung perasaanmu?”


Ryong cepat-cepat menghapus air matanya. Lalu tersenyum tipis.


“Kau tidak menyimpan dendam kepadaku Pranaja? Padahal tiga hari yang lalu aku hampir membunuhmu,”katanya.


Pranaja menggelengkan kepalanya.


“Kau bukan yang pertama brother. Banyak orang yang mula-mula membenciku dan marah-marah kepadaku, tetapi setelah dekat mereka malah jatuh cinta kepadaku.”


Ryong menganggukkan kepalanya. Aku percaya Pranaja, batinnya. Siapapun akan jatuh hati kepada pemuda sepertimu. Bersamamu, rasanya semua masalah menjadi mudah..


“Sekarang kau percaya aku tidak akan membakarmu kan?”


Tiba-tiba Ryong tertawa terbahak-bahak.


“Hahaha…!”


Pranaja mengernyitkan keningnya.


“Kau kesurupan Ryong?”


“Tidak. Aku hanya ingin tertawa keras sepertimu.”


Pranaja menggelengkan kepalanya.


“Jangan.”


“Kenapa?”


“Gak pantas orang Korut tertawa begitu.”


“Alasannya?”


“Fals.”


“Apaan tuh?”


“Sumbang. Gak enak di dengar di telinga.”

__ADS_1


Ryong langsung menutup mulutnya.


“Ups!”


Pranaja membalikkan tubuhnya, membelakangi Ryong.


“Sudah, ayo naik ke punggungku.”


“Sekarang?”


“Nggak, tahun depan. Ya, sekarang!”


Pranaja jadi kesal. Ryong langsung melompat dan nemplok di punggung Pranaja. Tapi wajahnya seperti malu.


“Eh, Pranaja,” bisiknya, “Aku malu. Tubuhmu kan cungkring, cuman tinggi doang. Masa kamu yang gendong aku.”


Pranaja menghela nafas. Lalu menurunkan tubuh Ryong.


“Ya sudah aku yang di gendong,” ujarnya.


Lalu Pranaja langsung melompat dan nemplok di tubuh Ryong.


“Kekuatan Geni Sa..!”


“Eh, Pranaja,” kalimatnya dipotong.


“Apalagi?”


“Bener nih aku tidak akan terbakar?”


“Apapun yang menempel ditubuhku tidak akan terbakar, walaupun aku mengeluarkan kekuatan api biru. Kau lihat bajuku utuh kan?” ujar Pranaja.


“Kekuatan Geni Sawiji!” teriak Pranaja.


Leb!


Seketika nampak api biru menyelubungi tubuh Pranaja yang digendong Ryong. Tubuh pemuda Korea itu pun ikut tertutup api biru.


“Akh!” Ryong menjerit kaget.


Tapi benar kata Pranaja, dia tidak merasakan panas. Tubuhnya nyaman-nyaman saja.


Wus!


Gumpalan api biru itu terbang tinggi ke langit. Lalu terbang menyelinap di antara awan putih di atas perbatasan Mongolia-China menuju sungai Yalu atau Amnok-gang. Sebuah sungai yang mengalir dan membatasi wilayah China dan Negeri Tiran itu. Sungai ini berhulu dari gunung Baekdu di rangkaian gunung Changbai, mengalir ke selatan dan bermuara di Teluk Korea antara kota Dandong di China dan kota Sinuiju, Korea Utara.


Pranaja bergerak perlahan dari gumpalan awan yang satu ke gumpalan awan lainnya. Rupanya dia sangat berhati-hati di atas wilayah udara China, Negara dengan kekuatan militer terkuat nomer tiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Rusia. Dan negeri tirai bambu ini sangat ketat menjaga kedaulatan wilayahnya denga berbagai macam peralatan canggih.


Matahari sudah merangkak ke peraduannya ketika mereka melihat bentangan sungai Yalu dibawahnya.


“Itu sungai Yalu, Pranaja!” seru Ryong sambil menunjuk sungai dibawahnya.


“Ssst! Jangan berisik! Aku sudah tahu itu sungai Yalu,” katanya.


Gumpalan sinar biru itu berhasil melewati wilayah udara China, menyeberang sungai Yalu untuk memasuki wilayah Korea Utara. Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa kemiskinan terpampang jelas di Korea Utara. Di sebelah kiri sungai Yalu, berdiri Kota Dandong China dengan segala kemegahannya. Gedung-gedung tinggi pencakar langit, kota yang sibuk dan hidup sepanjang waktu. Lampu-lampu yang berpijar dan jembatan raksasa yang berdiri gagah menggambarkan kemakmuran masyarakatnya.


Tapi pemandangan kontras di sebelah kanan sungai adalah kota Sinuiju, Korea Utara, yang miskin dan gelap. Jangankan gedung tinggi, yang ada adalah gubug-gubug reyot dalam perkampungan dikelilingi tembok pembatas yang tinggi dan tebal. Nampak di atas tembok itu ratusan tentara berjaga di sepanjang perbatasan dengan senapan yang terkokang. Siap menembak rakyat Korea Utara yang berani keluar untuk melarikan diri.


***


Pranaja dan Ryong mendaratkan tubuhnya di tengah areal persawahan, di desa Congrae, tempat tinggal keluarga Ryong. Hamparan tanaman padi hijau terlihat hitam di kegelapan, Tidak nampak ada lampu yang menyala di malam hari.

__ADS_1



“Belum ada listrik di desamu Ryong?” tanya Pranaja.


“Sudah ada. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang beruntung mendapatkan aliran listrik,” sahut Ryong.



Mereka berjalan merunduk diantara kerimbunan tanaman padi menuju rumah Ryong. Beberapa saat kemudian, mereka berhenti. Ryong menunjuk rumah yang cukup besar dan lebih bagus dibanding rumah-rumah lainnya. Di teras rumah juga ada lampu listrik yang menyala.



“Itu rumahku,” katanya.


“Kau orang terhormat Ryong. Lihat ada lampu di rumahmu,” kata Pranaja.


“Di Korea Utara, perwira militer adalah warga negara nomer satu. Mereka sangat di hormati oleh masyarakat dan mendapat banyak fasilitas dari pemerintah.”



“Termasuk kau juga?” tanya Pranaja.


“Iya. Aku adalah perwira Angkatan Udara, Taruna terbaik di angkatanku.”


“Ow, pantas saja rumahmu besar dan di jaga banyak tentara.”



Ryong menggelengkan kepalanya.


“Mereka adalah intelijen yang siap memburuku. Sejak aku tertangkap olehmu, maka aku danggap sebagai musuh negara. Sekarang keluargaku di cap pengkhianat dan dibenci seluruh negeri,” ucapnya. “Untunglah sebelum aku pergi. Aku sempat menitipkannya pada kakek tua sahabatku, di sebuah tempat yang terpencil.”



Pranaja terdiam, berpikir sejenak.


“Kalau begitu ngapain kita kesini. Mending kita ke tempat kakek tua itu,” ucapnya.


“Kau benar. Aku juga ingin memastikan keselamatannya.”



“Kalau begitu cepat naik ke punggungku!” ujar Pranaja.


“Eits! Jangan! Sebaiknya kita jalan kaki saja.”


“Hah? Apa maksudmu?”


“Desaku sangat gelap. Kalau kau berubah menjadi api biru, akan terlihat aneh. Tentara pasti akan mengejar kita,” kata Ryong.



“Memangnya kau pikir aku hanya bisa terbang setelah menjadi manusia api saja?”



Ryong tercengang mendengar kata-kata Pranaja. Hah? Maksudnya Pranaja bisa terbang seperti Superman? Aduh, kekuatan rahasia apalagi yang belum kau tunjukkan kepadaku, teman?



“Ayo, cepat naik ke punggungku!”

__ADS_1


__ADS_2