
RAYUAN MAUT UNTUK KOLONEL
Kematian Viktor menggegerkan markas Tentara Pembebasan Mongolia. Apalagi motif pembunuhannya sama sekali tidak terungkap. Vladimir yang ditangkap sebagai pembunuhnya mengaku tidak tahu menahu mengapa dia melakukannya. Dia bahkan menangis saat mengetahui Viktor tewas karena perbuayannya.
‘Aku? Membunuh Viktor? No way! It’s impossible! Tidak mungkin aku melakukannya. Kalian tahu kan dia adalah sahabat terbaikku?” teriaknya histeris.
Dia bahkan tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau benar dia adalah pelakunya.
“Kau tidak bisa mengelak Vladimir. Banyak saksi yang melihat kau masih mengacungkan pistolmu saat orang-orang dating ke lokasi dan menolong. Kau juga mengmpat Viktor berkali-kali,” kata Kolonel Kurk.
Tapi Vladimir tetap menyangkalnya. Membunuh Viktor jelas diluar daya nalarnya. Perbuatan bodoh yang tidak mungkin dia lakukan. Kalau dia melakukannya berarti dia pasti dalam keadaan tidak sadar atau mabuk berat. Masalahnya dia merasa tidak memiliki masalah apapaun dengan mantan anak buahnya itu.
“Tidak mungkin aku melakukannya Kolonel,” katanya.
Viktor adalah permira muda terbaik di angkatannya. Mengabdi di Angkatan Udara Rusia lima tahun, kemudian membelot dan masuk ke TPM sebagai tentara bayaran, karena finansial yang menggiurkan. Dia juga yang aktif mempengaruhi Vladimir, atasannya sendiri, untuk ikut bergabung Tentara Pembebasan Mongolia.
“Ada yang mengendalikan pikiranku Kolonel, camkan itu! “ teriaknya saat beberapa orang tentara menyeretnya ke dalam penjara.
Kolonel Jzadi Kurk tercenung mendengar teriakan itu. Mengendalikan pikiran Vladimir? Apa maksudnya? Aku harus melaporkan hal ini kepada Pemimpin Tertinggi Tentara Pembebasan Mongolia Jenderal Xialuai Khan.
***
“Kau belum menemukan jejak si gundul. Macan?” bisik Pranaja menyebut Tong Pi dengan kode jejak si gundul dan Macan untuk memanggil Miracle.
Miracle hanya mengangkat kedua bahunya, memberitahu Pranaja kalau dia memang belum menemukan tanda-tanda keberadaan Tong Pi.
“Aku akan mendekati Kolonel, Cula,” sahut Miracle.
Pranaja terhenyak, langsung menatap wajah gadis pirang itu.
“Hai, kok panggil aku Cula? Apaan tuh?” Pranaja penasaran.
Miracle tertawa lebar tapai tanpa suara.
“Cungkring tapi membuat aku cinta, gilaaa,” bisiknya lagi.
Hah? Tangan Pranaja bergerak cepat. Pletak! Menotok kepala Miracle.
“Aduh! Sakiit,” Miracle mengusap kepalanya.
“Dasar Bunting.”
“Kok?”
“Bule Sinting!”
“Pranajaa!”
Jemari lentik Miracle bergerak cepat mendarat di pinggang Pranaja, lalu dicubitnya keras-keras.
__ADS_1
“Auuw!” teriak Pranaja sambil meringis.
Tapi lalu menutup mulut secepatnya. Matanya melotot ke arah Miracle.
“Nona! Di panggil pak Kolonel!” tiba-tiba ada ajudan Kolonel Kurk memanggil Miracle.
Gadis itu segera merubah sikapnya. Dia lalu berjalan tegap menuju ke ruang Mr. Kurk. Sebelum masuk ke ruangan dia masih sempat menoleh ke belakang, menatap wajah Pranaja yang masih meringis kesakitan. Lalu lidahnya dijulurkan, matanya dijulingkan.
‘Week”
Pranaja langsung ngamuk-ngamuk.
“Adduh! Dasar bule sinting!”
***
Kolonel Jzadi Kurk menatap tubuh Miracle dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tiba-tiba Miracle mengibas-ngibaskan kepalanya. Anak-anak rambutnya berterbangan tak karuan kesana-kemari. Membuatnya rambutnya menjadi berantakan. Sehelai rambut yang jatuh diujung hidungnya yang lancip di hembusnya perlahan. Membuat mata Kolonel tua itu semakin terpesona.
“Eh..Kapten Miracle,” panggilnya sedikit gagap.
“Siap!” Miracle berdiri dalam sikap sempurna.
Kakinya di rapatkan, kedua tangannya menggenggam di samping, Pandangannya lurus ke depan.
“Silahkan duduk,” kata Kolonel.
Miracle menyeret kursi didepan meja besar sang Kolonel. Lalu duduk santai di kursi itu. Wajah dan senyumnya di buat menggoda. Jantung Kolonel langsung meningkat ritmenya.
“Dug..dug..dugdug…dugdug…dugdugdug…dugdugdug….”
“Bagaimana Kolonel?” kata Miracle setelah sekian lama perwira tua itu hanya terdiam menatapnya.
“Begini Kapten. Kau tahu kan apa yang terjadi dengan Viktor? Dia tewas dan rekannya Vladimir terpaksa kami amankan. Padahal keduanya adalah dua orang pilot jet tempur andalan kami.”
Kolonel berhenti sejenak, memperhatikan reaksi Miracle.
“Untuk itu aku akan menunjukmu bersama Kapten Pranaja untuk menggantikan keduanya,” lanjut Kolonel.
Miracle tersenyum. Sikapnya semakin menggoda.
“Baik Kolonel. Aku siap melaksakan tugas apapun darimu. Apapun!” jawab Miracle.
Kakinya yang jenjang diangkat. Lalu ujung jempolnya digunakan untuk menyentuh kaki sang Kolonel. Merambat perlahan dari tumit, terus ke atas sampai pangkal paha.
“Uuh!” Kolonel melenguh, terasa ada desiran halus di bawah perutnya.
“Tugas apapun?” tanya Kolonel dengan bibir bergetar.
Merasakan elusan halus gadis remaja secantik Miracle, Kolonel Kurk jadi terlena. Miracle mulai merasuki pikirannya, lalu perlahan mengendalikannya.
__ADS_1
“Aku ingin pergi ke suatu tempat yang tersembunyi tapi dijaga dengan ketat. Hanya kita berdua, aku dan kau” ucap Miracle.
Tubuhnya naik ke atas meja, lalu wajahnya didekatkan ke wajah Kolonel tua itu.
“Apakah kau mau?”
Mata Kolonel langsung berbinar.
“A..apa? Kita bedua ke tempat sepi yang di jaga ketat? Y..ya a..aku mau.”
“Apakah ada tempat seperti itu?”
Kolonel mengangguk cepat.
“Ada..ada..Tentu saja ada,” tegasnya. “Ayo kita pergi sekarang.”
Rupanya sang Kolonel sudah tidak kuat lagi menahan konaknya. Dia langsung menggandeng tangan Miracle dan membawanya keluar ruangan. Saat dia bermaksud memanggil sopirnya, tangan Miracle mencegahnya.
“Jangan Kolonel. Mobilmu sudah terlalu tua. Pakai mobilku saja,” ucap Miracle.
Gadis pirang itu melambaikan tangan sambil bersuit keras.
“Suiit!”
Lalu dari belakang gedung yang gelap muncul cahaya terang, dan suara mesin mobil di nyalakan.
“Nggreng! “
Sebuah mobil mewah BMW seri 8501 terbaru berawarna hitam meluncur tenang dan berhenti didepan mereka. Sang sopir yang bertubuh tinggi ramping, turun dan membuka pintu. Sang Kolonel masuk ke dalam diikuti Miracle.
Lalu Kolonel tua itu memberikan ponselnya, memberitahu tempat yang akan di tuju kepada si Sopir.
“Ini alamat dan petunjuk bagaimana kau bias mencapi tempat itu. Kamu cari sendiri ya, aku agak sibuk di belakang,” ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Baik, tuan.”
Kolonel Kurk duduk kembali. Pikirannya penuh dengan rencana-rencana nakal. Tapi, kenapa matanya malah terasa begitu berat?
“Tidurlah Kolonel. Aku akan mendatangimu dalam mimpimu.” kata Miracle.
Dia mempermainkan alam bawah sadar sang Kolonel seolah mereka sedang berasyik masyuk di sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga. Mirip filem India.
***
Di sebuah ruangan kecil di sebuah pulau terpencil, Tong Pi tergeletak tak berdaya. Dia di tempatkan di dalam ruangan Thermoplastik yang sangat kuat. Kekuatan teleportasinya dilumpuhkan Tidak ada lubang sekecil apapun di dalam ruangan. Hal ini membuat Tong Pi tidak bisa berpindah kemana-mana.. Untuk pernapasannya ada suplai oksigen disuntikkan lewat lubang yang sangat kecil setiap empat jam sekali.
Lalu mendadak terdengar suara gaduh, seperti orang yang terkena pukulan keras lalu mengaduh dan pingsan.
Dug! Bug! Hek!
__ADS_1
Tiga orang penjaga langsung terkapar tak sadarkan diri di serang penyusup. Lalu penyusup itu berdiri tegak, memandang sosok bertubuh kecil, tergeletak tak berdaya di dalam sebuah ruangan bening yang terbuat dari plastic.