RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 141 KEN DARSIH DAN DANDUNG?


__ADS_3

EPS 141 KEN DARSIH DAN DANDUNG


Pemberontakan hati adalah karena hilangnya rasa sunyi di dalam ruang rindu. Rasa yang meronta karena tersulut pesona merah jambu di kedua pipimu. Lalu kau hilang dalam jejak hitam malam yang tak bisa dikenang. Maka bersiaplah merasakan kutukannya. Karena cinta bisa datang tiba-tiba dan pergi tanpa ngasih aba-aba.


Lentik hitam bulu mata gadis itu menancap tajam di relung hati Pranaja. Entah magnit apa yang menariknya sehingga rasa kagum membuatnya terpaku di titik waktu. Sebening air telaga dan sesejuk wajahnya membasuh kering di relung hati. Menstimulasi rasa yang berpendar di setiap degup jantungnya. Serasa badai yang terdengar dari nafasnya yang memburu.


“Siapa gadis itu? Kecantikannya begitu sempurna,” ujar Pranaja. “Kenapa dia duduk bertapa di dasar danau ini?”


Gadis itu duduk di atas batu besar di dasar telaga tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Wajahnya begitu pucat dan bibirnya terkatup rapat. Seperti sedang menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Nampak bagian dadanya melepuh hitam seperti terbakar.


“Rupanya gadis itu baru saja mendapatkan pukulan hebat yang membakar seluruh kemampuannya” batinnya.


Raganya terlihat utuh, tapi jiwanya hancur berantakan. Dan meditasi adalah cara yang paling jitu mengobati penyakit hati dan angan-angan. Karena dengan meditasi orang dapat mencapai kebeningan jiwa pada tingkat yang paling tinggi, the highest level. Serta menyembuhkan luka-luka fisik dan mengembalikan kekuatannya. Walaupun semua itu butuh waktu yang cukup lama.


‘Pasti gadis sakti ini baru saja mengalami pertempuran hebat dengan pendekar lainnya, dan dia berhasil dikalahkan. Kasihan sekali gadis itu. Tapi siapa yang berhasil mengalahkan gadis setangguh itu? Seandainya aku tahu…’


Pranaja tak bisa membayangkan kesaktian pendekar yang berhasil mengalahkan gadis itu. Jelas dia bukan gadis biasa. Sinar terang yang berpendar dari tubuhnya merubah suasana danau yang gelap dan kaku menjadi terang dan menyenangkan. Apalagi kemampuan nafasnya di dalam air sangat luar biasa. Sejak Pranaja datang melihatnya sampai tengah malam, gadis itu nampak belum beranjak dari semedinya.


“Betapa inginnya aku masuk ke dalam air, duduk dihadapanmu dan menikmati wajahmu. Tapi aku takut akan mengganggu semedimu,” angan Pranaja sambil tersenyum.


Entah kenapa hatinya jadi begitu melangkolis dan sok puitis. Bukan karena dia pemuda yang mudah terpesona. Tapi karena keindahan tubuh gadis itu begitu menyedot perhatiannya. Setiap lekuk tubuhnya seperti memiliki mantra yang membelenggu akal sehatnya. Membuat hatinya berkali-kali terjerembab jatuh dengan rasa tak menentu.


Pral! Prol! Pral! Prol!


Entah sudah berapa kali jantung Pranaja ambrol ke relung hati. Yang jelas dia enggan meninggalkan tempat itu. Akal sehatnya menjadi tumpul, kewaspadaannya hilang dan indera keenamnya terabaikan. Dia tak mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya. Kemudian menempelkan benda tumpul ke punggungnya.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Tongkat itu mengeluarkan setrum listrik tingkat tinggi. Tubuh Pranaja langsung terlempar ke tanah dan kelojotan. Seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki mengalami kaku dan kejang-kejang. Kedua manik matanya menjadi juling, dan mulutnya melongo dengan postur tak seimbang kanan dan kirinya. Dalam keadaan begitu dia hilang kesadarannya dan otomatis tidak mampu mengeluarkan kemampuannya


“Dasar pemuda cabul! Beraninya kau mengintip tubuh kekasihku. Rasakan akibatnya,” umpat laki-laki itu. “Aku saja belum pernah menikmatinya, malah kamu yang mendahuluiku. Dasar mata mesum!”


Beberapa saat tubuh Pranaja masih berkelojotan menahan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum akhirnya jatuh pingsan karena hilang kesadarannya.


***


Byur!


Guyuran seember air dingin menyadarkan Pranaja. Beberapa saat dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengurangi kadar air yang membasahi rambutnya. Lalu terdiam dan mencoba fokus kembali. Dia mendapati tangannya tak bisa di gerakkan. Rupanya laki-laki yang menyetrumnya telah memborgol kedua tangannya. Bahkan kedua kakinya juga terikat dengan kaki kursi yang sedang didudukinya.

__ADS_1


“Heh! Bocil bangun!’ teriak laki-laki itu.


Pranaja mendongakkan kepalanya menatap laki-laki yang menyiramnya. Hm. Laki-laki yang sangat gagah. Tubuhnya tinggi dan tegap. Dari bentuk rahangnya terlihat dia juga laki-laki yang kuat. Memakai celana panjang hitam, dan kaos lengan panjang berwarna hijau tentara. Ada selempang di tempat dua buah pistol tersimpan di kantongnya.


“Iya Om!”


“Enak saja panggil Om. Sejak kapan aku menikahi tantemu?”


“Oh. Maaf mas.”


“Mas? Memangnya aku barang dagangan yang bisa diperjualbelikan?”


“Oke kak!” sahut Pranaja pada akhirnya.


Kali ini laki-laki itu tersenyum. Rupanya dia suka di panggil ‘kak.’


“Sekarang sebutkan siapa kamu dan apa maksudmu mengendap-endap di pinggir telaga. Asyik mengintip pacarku yang sedang bersamadi tanpa busana. Kau tahu, matamu itu telah menodai pacarku?”


Pranaja hanya menunduk malu.


“Maafkan aku kak. Aku tak sengaja lewat tempat itu. Eh, ada pemandangan eksotis yang tak mungkin aku lewatkan.”


Laki-laki itu mendengus kesal.


“Iya kak tahu. Itu kan judul film Aurat Membawa Nikmat.”


“Salah! Sengsara Membawa Nikmat, dodol!”


Kepala Pranaja tertunduk semakin dalam. Gegara pikiran mesum sampai salah mengucapkan judul film yang diangkat dari sebuah novel karya Sutan Sati, salah satu author legendaris Indonesia. Sengsara Membawa Nikmat bukan Aurat Membawa Nikmat.


“Masih bocil, pikirannya mesum,” sungut laki-laki tadi. “Sekarang tunjukkan identitasmu. Siapa namamu dan dimana rumahmu, juga sekolahmu jangan lupa!”


“Baiklah. Namaku Pranaja, rumah tidak punya, sekolah juga tidak ada.”


“Hah? Kamu ini anak Pramuka atau PA yang tersesat dan tidak tahu jalan pulang?”


Pranaja menggelengkan kepalanya kembali. Laki-laki itu mendengus kesal sambil membanting ponselnya.


Brak!

__ADS_1


Hehe, untung ponsel mahal. Jadi gak rusak.


“Sudah. Kamu akan aku serahkan ke Polsek terdekat. Anak buahku akan mengurusmu.”


Pranaja mengernyitkan keningnya.


“Hah? Kakak Polisi?”


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


“Kakakku juga seorang polisi, namanya Iben. Tepatnya AKP Ben Wise Asshiddiq.”


Gantian Dandung yang terkesiap.


“Apa kau adiknya Iben? Dia temanku satu angkatan di Akademi Kepolisian dulu.”


Matanya nampak berbinar. Bergegas dia melepaskan borgol yang membelenggu tangan Pranaja.


“Dasar Bocil songong! Kenapa dari tadi kau tak cerita kalau kau adiknya Iben? Kakakmu itu teman baikku.”


“Kakak namanya siapa?


“Aku Dandung, pangkatku AKP atau setara Kapten kalau di milter.”


Pranaja menatap wajah Dandung. Hm, sama gagahnya dengan kakaknya. Cuman bedanya kalau AKP Dandung terlihat parlente dan menarik perhatian, sedangkan kak Iben jauh lebih sederhana.


“Ya sudah. Ayo aku antar kamu ke rumahmu. Lihat ini sudah tengah malam, besok kamu ngantuk.”


“Baik kak”


Dandung mengajak Pranaja berjalan menuruni bukit dimana mobilnya terparkir. Dia berjalan di depan sedangkan Pranaja mengekor di belakangnya.


“Boleh aku bertanya kak?”


“Boleh?”


“Siapa nama gadis yang ada di dasar telaga tadi kak?”


“Oh itu kekasihku, namanya Ken Darsih.”

__ADS_1


Ucapan Dandung terdengar begitu kuat dan penuh keyakinan, seolah sedang menegaskan tak seorang pun boleh mengganggunya….


Termasuk agen 009 Rich Pranaja.


__ADS_2