
PENGAWAL BARU
Sesuai petunjuk gurunya, eyang Sapujagad, Tusin dan Daningrum melanglang ke pantai selatan untuk mencari Bunga Karang. Berbekal dendam yang membara, mereka meninggalkan kediaman gurunya di Lembah Tidar. Dengan berkuda mereka menempuh perjalanan jauh ke pantai selatan. Melewati deretan pegunungan dan hutan lebat di kaki gunung Merapi yang begitu wingit, mereka harus berjuang melawan berbagai macam godaan dari makhluk-makhluk astral.
Setelah tiga hari tiga malam berkuda, sampailah mereka di pantai Selatan. Kemudian mereka melepas kuda-kudanya ke alam liar. Sesuai petunjuk gurunya mereka harus berjalan kaki agar bisa menemukan gua Karang Bolong.
Dengan penuh kewaspadaan. Mereka melangkah lambat menyusuri jalan setapak menuju ke arah matahari terbenam di sebelah barat. Satu tujuan mereka hanyalah menemui Dewi Sryakanthi di gua itu.
Mereka yakin akan mendapatkan sesuatu disana, kekuatan besar yang dapat mengalahkan kekuatan Panembahan Somawangi.. Mereka terus berjalan siang dan malam, hingga sampailah mereka di atas gugusan karang yang terlihat bolong di tengahnya. Seperti sebuah roti donat yang digantung di atas permukaan laut.
‘Istriku, aku yakin yang dimaksud eyang guru Sapujagad dengan gua Karang Bolong adalah tempat ini,” katanya.
“Benar suamiku, kalau melihat ciri-cirinya, gua ini cocok seperti gambaran yang diberikan Eyang Guru,” sahut Daningrum.
Dengan kaki telanjang, mereka mulai mendaki bukit karang yang berdiri tegak lurus itu. Untunglah banyak lubang-lubang yang bisa dijadikan pijakan. Dengan sedikit mengandalkan tenaga dalam yang mereka miliki, akhirnya mereka dapat mencapai lubang itu. Sebenarnya tempat ini tidak seperti gua pada umumnya, yang memanjang, tapi lebih mirip lubang di tengah gunung karang tidak ada ujung dan akhirnya.
Tampaknya mereka bukanlah orang pertama yang pernah bertapa di gua ini. Karena ada dua batu gepeng yang sudah halus, pertanda sering digunakan untuk bertapa. Tusin dan Daningrum duduk berjajar menghadap laut selatan. Setelah meletakkan kedua tangannya di atas lutut, mereka membaca doa-doa meminta izin kepada penguasa laut selatan untuk melaksankan hajatnya. Setelah itu barulah mereka memulai pertapaannya.
***
Hari itu Riyani memdapatkan kejutan. Dia mendapatkan pengawal baru, pengawal pribadi yang akan menjaganya kemanapun dia pergi. Ki Jogoboyo yang membawanya ke Dalem Kademangan.
“Apa! Kenapa aku harus diikuti pengawal kemana-mana?” tanya Riyani heran.
“Untuk menjaga keselamatan Den Ayu dari kelompok-kelompok penjahat yang mengincar nyawa Den Ayu,” ujar ki Jogoboyo.
“Ada penjahat yang mengincar nyawaku? Kau jangan berlebihan ki Jogoboyo,” kata Riyani berusaha menolaknya.
Tapi ki Jogoboyo sudah mempertimbangkan semuanya.
“Saya tidak berlebihan Den Ayu. Peristiwa di pasar hewan yang mengancam nyawa Den Ayu ternyata sudah direncanakan. Pelakunya juga sudah ditangkap.”
“Siapa?”
“Kebo Luwuk, wakil kepala pasar hewan. Selama ini dia diperalat oleh para tengkulak dari Kotaraja untu mengeruk keuntungan dari para peternak kecil. Mereka tidak senang dengan langkah-langkah Den Ayu melindungi para peternak dan petani.”
Riyani terhenyak, tak menyangka sama sekali ada orang yang mau membunuhnya karena terbawa nafsunya.
“Saya juga sudah mengirim kurir untuk mengirimkan surat kepada ki Demang di Kotaraja, bahwa Den Ayu akan dikawal secara pribadi.”
__ADS_1
“Apa pendapat Romo Demang, ki?”
“Ke Demang setuju dengan usulan ini. Dia juga meminta agar pengawal yang menjaga Den Ayu adalah pengawal terbaik yang sanggup melindungi keselamatan Den Ayu.”
Riyani mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah kau sudah menemukan orangnya Ki?”
Ki Jogoboyo menganggukkan kepalanya.
“Sudah Den Ayu?”
“Hah? Secepat itu?”
Ki Jogoboyo kembali menganggukkan kepalanya.
“Dia adalah pemuda yang menyelamatkan Den Ayu dari serangan kerbau di pasar hewan. Dia juga yang menangkap Kebo Luwuk, wakil kepala pasar yang menjadi otaknya.”
Riyani terkesiap kaget. Pemuda yang menyelamatkan dirinya? Pemuda aneh yang menghilang setelah menyelamatkan dirinya itu, kini menjadi pengawal pribadinya? Pemuda yang selalu datang dalam mimpinya dan sekarang sedang di cari-carinya?
“Bagaimana Den Ayu?” tanya ki Jogoboyo.
Riyani tersadar dari lamunannya.
Ki Jogo menepukkan tangannya, menyuruh pengawal baru Riyani untuk masuk. Orangnya masih muda, berkulit putih bersih, tegap dan kuat, bercambang dan ada jenggot kecil yang dianyam menggantung di dagunya. Dengan wajah tertunduk, pemuda itu berdiri di depan Riyani.
Riyani jadi teringat saat kedua lengan yang kuat itu memeluk dirinya dan membawanya ‘terbang’ sebelum jatuh terguling-guling dengan wajah yang sangat dekat.
“Siapa namamu?”
“Soma,” kata pemuda itu. “Somawangi.”
Apa? Riyani hampir terloncat dari duduknya karena kaget. Hampir saja dia hendak menanyakan apakah pemuda itu adalah Panembahan Somawangi pemimpin tanah perdikan, tapi diurungkannya. Dia takut di tertawakan oleh ki Jokoboyo.
‘Panembahan Somawangi kan sudah tua?’ batinnya. ‘Pasti hanya kebetulan saja namanya sama.’
“Apakah kau benar-benar sudah siap menjadi pengawalku?”
“Siap Den Ayu.”
__ADS_1
Riyani mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menoleh kepada ki Jogoboyo. Kepala keamanan Kademangan itu langsung tanggap.
“Untuk kamar sudah saya siapkan di belakang ruang amperan Den Ayu. Dia akan tinggal siang malam di Dalem Kademangan bersama beberapa pengawal lainnya,” katanya.
“Baiklah. Terserah ki Jogo bagaimana mengaturnya. Kalau begitu aku akan masuk ke dalam,” katanya.
Ki Jogo mengangguk. Riyani segera masuk ke dalam. Begitu melewati pintu ruang pendopo dia langsung berbelok ke dalam bilik kamar tamu. Lalu mengintip Somawangi yang masih berbincang dengan ki Jogo. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya di kedua pipinya, dengan wajah yang gemas. Adduh, Somawangi, kamu ganteng bangeeettt!! teriaknya dalam hati.
***
Hari-hari pun di lalui Riyani dan Somawangi dengan penuh kegembiraan. Walaupun tidak pernah diperlihatkan secara langsung, semua orang di Kademangan merasakan kebahagiaan yang dirasakan Den Ayunya. Mereka merasakan perhatian junjungannya kepada mereka bertambah. Para pengawal kademangan mendapatkan seragam baru yang dibelikan dari uang pribadi milik Riyani.
Mereka juga sering diberikan jatah libur bersama keluarganya. Kecuali Somawangi karena tinggalnya memang di Dalem Kademangan. Benih-benih cinta pun mulai tumbuh diantara keduanya. Walaupun mereka tidak memperlihatkan kedekatan, tapi mata dan hati mereka terasa begitu dekat. Hingga suatu malam saat Somawangi sedang berjaga sendiri, Riyani datang membawakannya segelas kopi.
Melihat junjungannya membawakan kopi untuknya, Somawangi segera berlari mennyongsongnya.
“Eh, Den Ayu kok membuatkan kopi sendiri?” katanya.
Di atas tangga Somawangi berdiri, mengulurkan tangannya untuk menerima kopi itu. Tapi karena terburu-buru kaki Riyani terpeleset dan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan pemuda itu. Kopi panas itu menyiram tubuh Somawangi, tapi pemuda itu seperti tak merasakannya. Dia lebih memilih memeluk junjungannya yang hampir jatuh ke bawah tangga,
“Ups! Somawangi! Kau tidak apa-apa?” tanya Riyani.
Somawangi diam saja. Matanya menatap tajam wajah Riyani yang kini berada dalam pelukannya. Tatapan mata penuh cinta yang dirasakan keduanya.
“So..Somawangi..a..apa yang kau lakukan?”
“Aku mencintaimu Den Ayu,” bisik pemuda itu lirih.
__ADS_1
Riyani memejamkan matanya, lalu mengangguk. Memberi tanda kalau dia juga merasakan hal yang sama di dalam hatinya.