
PERNIKAHAN ADALAH EVOLUSI
Selalu ada setitik sinar di dalam kegelapan. Diantara orang-orang yang lemah pasti ada yang paling kuat. Berada ditengah orang-orang yang kehilangan harapan, ada jiwa pahlawan yang menginspirasi dan membuat mereka menjadi bangkit kembali.
Rombongan pelamar pengantin dari tanah perdikan Somawangi berhenti di alun-alun depan Kademangan. Ki Jogoboyo menyambut kedatangan mereka bersama puluhan pasukan pengawal Kademangan yang sudah disiapkan sejak pagi. Ki Jogoboyo mempersilahkan perwakilan keluarga untuk masuk ke Dalem Kaemangan. Di sana Ki Demang Wanasepi bersama perangkat dan para tetua sudah siap menyambut kedatangan mereka.
Eyang Karangkobar, Roro Lawe, dan sang Acarya tanah perdikan masuk mewakili keluarga. Demang Wanasepi langsung tersenyum saat melihat mereka.
“Selamat datang Kakang Karangkobar, Mbakyu Lawe, dan Acarya tanah perdikan. Silahkan masuk.”
Roro Lawe yang berjalan paling depan memeluk Demang Wanasepi
“Bagaimana keadaanmu Wanasepi, lama sekali sejak kau meninggalkan padepokan Wanayasa,” katanya.
“Berkat perlindungan Hyang Widhi Wasesa, aku dalam keadaan baik mbakyu. Terimakasih dan mohon maaf bila penerimaanku kurang berkenan di hatimu,” sahut Ki Demang.
“Akulah yang minta maaf padamu. Mungkin perilaku adik-adikku telah mengganggu ketentramanmu. Atas nama Romo Begawan Wanayasa, aku memohon maaf kepadamu.”
Ah, Roro Lawe masih tetap seperti dulu. Perempuan cantik yang selalu menutup hatinya terhadap setiap lelaki yang mempesembahkan cinta untuknya. Dia lebih suka mengabdikan hidupnya untuk pengetahuan dan menjaga adik-adiknya.
“Silahkan masuk mbakyu,” kata Ki Demang.
Roro Lawe segera masuk ke dalam, diikuti Karangkobar dan Acarya. Setelah berbasa-basi sejenak, Roro Lawe menyampaikan maksud kedatangannya untuk melamar puteri Ki Demang, Raden Ayu Setiyariyaning Ameswari Diah Pitaloka sebagai isteri Panembahan Somawangi. Ki Demang dengan senang hati menerima kedatangan mereka dan memahami maksud kedatangan rombongan tanah perdikan itu.
“Sesuai dengan janji yang diucapkan puteriku sendiri tentang kesediannya untuk menjadi isteri kakang Somawangi, maka saya mene…” belum selesai berbicara, tiba-tiba ucapan ki Demang terhenti karena mendadak Riyani keluar dari kamarnya.
“Tidak! Tidak Romo! Aku tidak menerima pertunangan ini!" ucapnya.
Semua terkesiap kaget.
“Ada apa Riyani? Kau lupa dengan janjimu kepada Eyang Karangkobar?”
__ADS_1
“Tidak ayah! Perjanjian haruslah berpihak pada dua kepentingan, suka sama suka, bukan karena ancaman atau paksaan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca."
“Tidak ada yang memaksamu untuk mengucapkan itu. Apa kau lupa?” sahut Karangkobar sambil tersenyum.
“Apa kau juga lupa. Aku akan menerima bila yang datang kesini adalah kakakmu sendiri. Kenapa dia tidak ikut bersama kalian. Dia takut kan?” bantah Riyani lagi.
“Siapa yang kau maksud Riyani? Aku juga ada disini.”
Satu suara tiba-tiba mengagetkan mereka semua.
Seorang laki-laki memakai baju putih-putih, berselempang kain emas. menaiki kuda putih, masuk ke halaman Kademangan. Persis seperti gambaran yang muncul dalam mimpi Riyani. Kemudian dia membuka penutup kepala dan topengnya, memperlihatkan dengan jelas wajah yang tersembunyi itu. Dan semua orang tersentak kaget, karena mereka semua mengenalnya.
“Kakang Somawangi?” batin Ki Demang mengenali wajah itu puluhan tahun yang lalu. Dan dia tidak terlalu kaget karena sudah menduganya.
“Kakang Soma…?” Riyani tak sampai selesai mengucapkan namanya.
Bibirnya nampak bergetar. Rasa marah perlahan merayapi wajahnya. Matanya berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia berbalik dan berlari masuk kembali ke dalam kamarnya.
“Riyani?” panggilnya pelan. “Apa kau marah padaku?”
Tidak ada jawaban. Hanya ada isak tangis yang tertahan.
“Kalau kau menganggap aku salah, aku minta maaf. Tapi, tunjukkan dimana salahku?” ujar Panembahan lagi.
“Kenapa kau berbohong?” kata Riyani dari dalam.
Somawangi terdiam sejenak.
“Tidak Riyani. Aku tidak pernah berbohong kepadamu. Sejak awal aku mengenalmu, aku selalu menjawab jujur setiap pertanyaanmu.”
“Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau adalah pemimpin tanah perdikan?”
__ADS_1
“Karena kau juga tidak pernah menanyakannya kepadaku, “jawab Somawangi. “Lagipula buat apa aku menyebutkan siapa aku? Kalau itu aku lakukan, Mungkin kau akan menerimaku karena terpaksa, atau kau pasti akan menolakku, karena hatimu sudah diselimuti kebencian terhadap sosok Panembahan Somawangi, walaupun kau belum pernah bertemu dengannya.”
Riyani terdiam, mencoba memahami kata-kata Somawangi. Ya, mungkin dia telah bersikap tidak adil. Menilai seseorang hanya karena ketida sukaannya kepada sikap Karangkobar yang mengancam ayahnya. Lalu membencinya dengan semena-mena.
“Pertemuan kita adalah pertemuan yang adil Riyani. Dan cinta kita adalah cinta yang tumbuh dari dalam hati, tanpa kau tahu siapa aku dan darimana aku berasal.”
Perlahan Riyani membuka pintu. Lalu berjalan keluar kamar, menatap mata laki-laki yang selalu menghiasi mimpinya itu. Ada ketulusan di dalamnya.
“Kalau perlu aku akan membuang semua apa yang kumiliki asal bisa hidup bersamamu, menjadi pekerja perkebunan atau menjadi penggembala kambing.”
Riyani tersenyum tipis. Kakang Soma benar, dia memang tidak pernah menanyakan apakah kang Soma adalah pemimpin tanah perdikan padahal jelas namanya sama. Lelaki itu bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya. Ingin rasanya dia memeluknya saat ini juga, tapi malu. ‘Maafkan aku kakang,’ batinnya.
“Tidak perlu kau melakukannya kakang. Kau sudah membuktikan ketulusan cintamu. Kau adalah pemimpin yang dicintai rakyatmu. Aku yang telah salah menilaimu”
Panembahan Somawangi tersenyum.
“Jadi, apa kau akan membatalkan perjanjianmu dengan adik tuaku Karangkobar?”
Royani tersenyum geli mendengar kata-kata Somawangi. Lalu menggelengkan kepalanya. Somawangi berjalan ke ruang pendopo lagi diikuti oleh Riyani dibelakangnya. Melihat senyum yang menghiasi bbir gadis itu, semua orang jadi merasa lega.
Akhirnya mereka menyepakati hari pernikahan mereka akan dilakukan empat puluh hari lagi sesuai dengan petunjuk sang Acarya yang memilihkan hari baik buat mereka.
***
Pernikahan adalah bersatunya dua jiwa dalam kepentingan dan tujuan yang sama. Kemudian mencari jalan dan cara untuk meraih tujuan itu semaksimal mungkin sambil belajar menerima cara berpikir dan bersikap pasangan dalam mengambil sebuah keputusan. Karena pernikahan adalah evolusi, membutuhkan waktu dan kesabaran agar bisa saling menumbuhkan ketergantungan satu sama lain seperti manusia membutuhkan udara.
Pernikahan adalah membagi beban pekejaan demi tujuan-tujuan pasti. Karena setiap pernikahan adalah membangun mimpi. Bukan keramaian pesta atau kemeriahan resepsinya, seperti ketersediaan makanan yang lezat dan berlimpah ruah, karena setelah pesta usai mereka harus membersihkan sampah dan kotorannya. Dalam keadaan lelah dan mengantuk, menjaga semangat untuk menuntaskan malam pertama sebagai sesuatu yang tak terlupakan, unforgettable experience.
Rasakan pernikahan itu sebagai perasaan saat kita melihat dedaunan yang jatuh di musim gugur. Karena mereka selalu berubah dan makin menjadi indah setiap harinya.
__ADS_1
Setelah menikah, Panembahan Somawangi dan Riyani pun menjalani kehidupan rumah tangga mereka yang baru dengan penuh kebahagiaan setelah mengalami proses panjang lika-liku kehidupan cinta yang melelahkan.