RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 91 DRAMA KOREA


__ADS_3

EPS 91 DRAMA KOREA


Hati yang dilanda cinta bagaikan tanah subur di dataran tinggi yang sejuk. Benih-benih bersemi menjadi tunas. daun-daun tumbuh di dahan mati, dan bunga-bunga bermekaran menghiasi jiwa-jiwa yang sepi. Karena cinta juga memiliki musim. Terkadang kita tersorot cerahnya keindahan, terkadang terguyur derasnya kesedihan.


Pagi masih begitu dingin. Tapi Pranaja sudah bangun dari tidurnya. Suara denting gelas dan piring yang beradu mengusiknya dari tidur lelapnya. Ah, pasti Ren yang sedang membersihkan ruang tamu dan mengemasi peralatan makan dan minum yang tadi malam mereka gunakan. Pemuda itu segera bangkit dari tidurnya, dan beranjak keluar kamar.


“Hai Ren, kamu sudah bangun?” sapa Pranaja .



Ren yang sedang membungkuk terhenyak. Gadis itu melirik pemuda itu. Mendadak dadanya berdegup kencang. Pranaja tengah menatapnya, memandang dirinya. Bertahun-tahun hidup hanya bersama kakak dan kakek Kim, inilah tamu pertama yang datang ke tempat ini. Dia jarang bertemu dengan orang asing. Apalagi kakaknya sangat ketat menjaga dirinya.



“Ren, boleh aku membantumu?” Pranaja bertanya lagi.



Sambil tetap membungkuk, Ren menggelengkan kepalanya. Pranaja melangkah mendekatinya. Lalu ikut berjongkok dan mengemasi gelas dan piring sisa makanan di atas meja. Ren terdiam, wajahnya terlihat begitu sungkan.



“Sunbae, jangan…”ucapannya terpotong.


Pranaja menghela nafas. Lalu menoleh, menatap wajah melangkolis itu.


”Mulai sekarang kau jangan memanggilku Sunbae ya? Panggil saja namaku,” pesan Pranaja. “Biar kita tidak canggung.”



Ren menganggukkan kepalanya. Jantungnya berdegup semakin kencang saat sepasang kaki Pranaja berdiri dekat sekali dengan tubuhnya. Apalagi saat kedua tangan pemuda itu memegang kedua bahunya dan menariknya berdiri. Wajah mereka terasa begitu dekat. Ren bahkan bisa merasakan desah nafasnya yang hangat.



“Aku juga ingin mengucapkan terimakasih karena kau sudah memasak makanan dan minuman yang lezat untukku,” sambung Pranaja.



Ren hanya diam terpaku. Merasakan sentuhan tangan Pranaja dikedua bahunya. Betapa getaran-getaran itu begitu kuat mengalir di pembuluh kulitnya. Sekujur tubuh Ren seperti merinding.



‘Ah, Pranaja kurang ajar banget, berani pegang-pegang bahuku’ batinnya. ‘Jantungku deg-degan tahu.’


__ADS_1


Lalu Pranaja melepaskan pegangannya. Sambil tersenyum, dia membalikkan badan dan melangkah ke dapur, sambil membawa piring dan gelas kotor. Sementara tubuh Ren langsung menggelosoh jatuh ke lantai. Uh, rasanya tubuhnya terasa lemas, tulang-tulangnya seperti lepas. Cukup lama dia duduk terpaku dilantai ruang tamu, sampai satu suara memanggilnya. Dan itu adalah suara kakaknya.



“Ren. Sedang apa kau duduk disitu?” tanya Ryong sambil menguap lebar. “Oahmm.”



Ren bangkit lalu memeluk kakaknya. Rasanya ada perasaan aneh yang ingin dia tumpahkan. Tapi tak ada kata-kata yang mampu dia ucapkan. Hanya senyuman penuh arti yang membuat hati Ryong jadi penasaran.



“Tidak apa-apa kakak. Aku hanya sedang membersihkan lantai yang kotor,” sahut Ren sambil berlalu menyusul Pranaja ke belakang


Ryong hanya melongo melihat senyum aneh di wajah adiknya. Tapi dia lalu mengabaikannya.


“Oaahhmm…”


Ryong kembali menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya. Setengah mengantuk, matanya yang sipit nampak semakin tenggelam. Baru saja mulutnya mengatup setengah, dia terkesiap, ada benda pedas masuk ke dalam mulutnya.


“Ini obat ngantuk. Biar matamu terbuka lebar,” kata Pranaja yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


“Sssh..Sssh..”Ryong mendesah-desah kepedasan.


“Sshh..minum..minum. Dimana minumanku?” tanya Ryong panik.


“Sudah kubawa ke dapur dan kucuci bersih,” sahut Pranaja enteng.


Wus!


Tubuh Ryong berkelebat cepat menuju ke dapur.


Brak! prank! pyar!


“Aduh!”


“Kakak! Kalau jalan lihat-lihat! Tuh piring dan gelasnya jatuh di lantai, pecah semua,” seru Ren kesal.


Pranaja tergelak mendengar Drama Korea di pagi itu. Kkk…


“Pranajaa! Aku tidak akan mengampunimu!” teriak Ryong dari dapur.


Hahahaha…! Drakor..Drakor.


***

__ADS_1


Setelah makan pagi kakek Kim mengajak Pranaja masuk ke ruang rahasia. Sebuah ruangan yang terletak di bawah tanah. Mereka harus menuruni tangga yang cukup panjang sampai ke lantai dasar. Di tempat itu mulut Pranaja kembali berdecak kagum melihat pemandangan di depannya.


“Wow!” ucapnya penuh rasa takjub.


Di lantai dasar yang luas itu ada sebuah aliran anak sungai Yalu yang berasal dari mata air yang mengalir dari atas. Seperti air terjun tersembunyi di dalam perut bukit.


“Kemana air ini mengalir kakek?” tanya Pranaja.


“Ini adalah aliran sungai bawah tanah yang bermuara ke sungai Baekdo yang merupakan anak sungai Yalu,” jelas Kakek.


“Maksudmu di bawah air ini ada jalan keluar menuju sungai Yalu?” tanya Pranaja.


“Ya. Tapi kita harus membawa alat bantu pernapasan. Sungai bawah tanah ini cukup panjang, sekitar dua kilometer menuju daratan terbuka,” sambung kakek lagi.


Pranaja memperhatikan dengan seksama. Di bawah air terjun itu ada sebuah kincir yang terus berputar tertimpa air yang terjun cukup deras dari atas. Kincir ini terhubung dengan sebuah turbin yang menggerakkan generator besar. Pembangkit listrik tenaga air mini ini bekerja dengan cara merubah energi kinetik dari air terjun yang bergerak cepat menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin air yang menggerakkan generator. Dari proses itu terjadilah induksi elektromagnetik yang menghasilkan energi listrik.


“Amazing! Karya yang luar biasa kakek,” kata Pranaja.


Kemampuan orang-orang Korea dalam memanfaatkan sumber daya alam yang langka menjadi energi yang bermanfaat memang luar biasa. Bahkan lahan berbatu yang tidak subur pun bisa mereka sulap menjadi lahan perkebunan yang menghasilkan buah dan sayur berkualitas tinggi tanpa unsur bahan kimia di dalamnya.


“Salut kakek. Aku betul-betul tak menyangka,” katanya.


Kakek Kim tersenyum.


“Ada hal yang akan membuatmu lebih terkejut Pranaja.”


Kemudian kakek Kim mengajaknya masuk ke ‘gudang rahasia’. Hehe..semuanya serba rahasia, padahal rumah ini sudah super rahasia, batin Pranaja. Namun benar kata kakek Kim, lagi-lagi pemuda imut itu terkesiap kaget saat melihat barang-barang ‘bekas’ yang ada di dalam gudang itu. Tubuhnya bahkan sempat terdiam beberapa saat saking kagetnya.


Puluhan senjata dan amunisi, pecahan besi dan bagian-bagian pesawat tempur sisa Perang Dunia Dua, serta rudal-rudal tentara Jepang dan Amerika yang tidak meledak dikumpulkan jadi satu di tempat ini. Ada lagi bagian-bagian mesin pesawat Sukhoi 27 yang sangat legendaris.


“Ini pasti hasil perbuatanmu,” ujar Pranaja kepada Ryong. “Dasar anak nakal.”


Mantan perwira Angkatan Udara Korea Utara dan taruna terbaik itu hanya tersenyum jumawa.


“Jangan berprasangka jelek brother. Aku tidak mencurinya, aku hanya minta bagian-bagian prototypenya saja. Lalu aku kumpulkan dan aku bawa kemari," katanya.


Pranaja memeriksa barang-barang itu satu persatu. Tiba- tiba otaknya yang cerdas menemukan sebuah ide. Cuping hidungnya terlihat bergerak-gerak.


“Apa yang kau pikirkan brother?” tanya Ryong.


“Kita bisa membuat kapal selam sederhana yang bisa kita gunakan untuk keluar dari tempat ini melalui dasar sungai Baekdu menuju sungai Yalu,” katanya sambil tersenyum tipis.


“What!” seru Ryong dan kakek Kim berbarengan.


,

__ADS_1


__ADS_2