
MUSUH MENJADI CINTA
Kekalahan seringkali datang justru ketika kita seperti melihat peluang untuk menang. Kita bernafsu mengalahkan, tanpa menyadari musuh sudah menyelinap dan berdiri di belakang kita dengan pedang terhunus. Menyerang lawan tanpa membangun pertahanan yang kuat itu sama saja dengan bunuh diri.
Suasana di balairung istana Xialuai begitu hening dan samar. Xenara duduk berhadapan dengan penasehat ayahnya. Dia sedang berhitung tentang peluang dan kesempatan yang perlu di manfaatkan setelah kematian Jenderal Xialuai, ayah Xenara.
“Sudah tiga hari aku berdoa di bilik pamujan, aku tidak melihat sisi gelap dalam diri pemuda itu, Xenara,” kata Batukhan, salah satu penasehat istana yang paling tua.
“Dia sudah menunjukkan iktikad baik dengan mengantar jazad ayahmu ke sini. Dia juga telah melindungi keberadaan kita dari kejaran tentara pemerintah,” sambung Chinua, penasehat yang paling muda.
“Lagipula saat ini keselamatan kita tergantung pemuda itu. Untuk sementara kita ikuti saja apa maunya. Saya kira itu langkah yang bijaksana,” sambung Penasehat terakhir, Ulagan.
Xenara bangkit berdiri. Matanya menatap tajam ketiga pendeta tua dihadapannya itu.
“Apa? Inikah nasihat kalian kepadaku? Supaya aku menyerah begitu saja kepada orang yang telah membunuh ayahku. Kalian telah melupakan jasa-jasa Panglima Tertinggi Jenderal Xialuai Khan?” ucapnya dengan nada tinggi.
Ketiga pendeta tua itu saling berpandangan. Ah, rupanya benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, batin mereka. Bahkan Xenara terlihat lebih keras dari ayahnya.
“Dengar Xenara. Tidak ada hutang budi antara kami dan ayahmu. Kami hanyalah para pendeta yang diboyong ayahmu untuk dimintai doa dan nasehat saja. Tidak lebih,” kata Batukhan mengingatkan. “Dan kami sudah memberikan pendapat. Selanjutnya terserah kamu, tindakan apa yang akan kau ambil.”
“Jangan biarkan hati dan pikiranmu dibakar rasa benci, itu tidak baik buat rakyatmu. Belajarlah bijak dalam bersikap, sehingga tidak akan ada lagi nyawa yang terbuang sia-sia,” ujar Ulagan.
“Kami mohon pamit kembali ke ruang pamujan,” sambung Chinua.
Ketiga pendeta itu berpamitan dan mengundurkan diri dari balairung istana. Meninggalkan Xenara yang masih begitu galau dengan perasaan dan hatinya.
“Ada benarnya juga nasehat orang-orang tua itu. Sebaiknya hilangkan kemarahan dari dalam hatimu.”
Satu suara tiba-tiba mengagetkan Xenara. Dia melihat ke atas. Dilihatnya pemuda pembunuh ayahnya itu sedang duduk santai di salah satu pilar penyangga langit-langit istana.
__ADS_1
Kemarahan Xenara langsung meledak kembali.
“Dasar pemuda tidak tahu sopan santun! Rupanya dari tadi kau mencuri dengar percakapan kami?!”
Pranaja tersenyum nakal. Sifat jahilnya muncul seketika.
“Mencuri dengar? Tidaaak!” katanya sambil menggelengkan kepalanya. “Aku sudah ada disini sebelum para pendeta itu datang kemari. Bahkan saat kau bangun dari tidurmu, kemudian mengganti bajumu, aku sudah ada disini.”
Wajah Xenara langsung merah padam.
“Apa! Kurang ajar! Terima hukumanmu!"
Xenara meraih cemeti yang tergantung di pinggangnya, langsung disabetkan ke arah Pranaja.
Tarr!
Sebelum ujung cemeti itu mencapai tubuhnya, Pranaja berkelit. Sabetan cemeti itu hanya mengenai pilar tempat Pranaja duduk hingga menimbulkan retakan kecil. Debu\=debu kecil berupa butiran pasir dan semen nampak bertaburan ke lantai.
“Huh! Sok pamer!” teriak Xenara.
Dengan berpijak pada tali cemeti tubuh Pranaja melenting ke udara, lalu turun dan mendorong tubuh Xenara hingga jatuh terduduk di singgasananya. Dengan cepat dia menotok urat syaraf di belakang kepala gadis itu hingga tidak bias bergerak. Lalu dengan enaknya pemuda itu duduk di samping Xenara.
“Lihatlah. Alangkah baiknya kalau kita duduk bersama di singgasana ini. Aku bisa saja memaksamu untuk menjadi kekasihku,” katanya sambil tersenyum nakal. “Sesuai hukum perang, istana dan seluruh isinya beserta orang-orangnya menjadi milikku. Termasuk kau”
Betapa jengkelnya hati Xenara. Tapi dia tidak bias menggerakkan tubuhnya. Hanya mata dan mulutnya yang masih bias bergerak. Nampak matanya melotot dan mulutnya terus mengucapkan kemarahan.
“Aku tidak akan sudi menjadi kekasihmu!”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku tak akan memaksamu, aku seorang ksatria,” kata Pranaja,”Kalau begitu, aku akan melamarmu. Kuberi kau waktu tiga menit untuk menjawabnya.”
“Bagaimana kalau aku menolakmu”, sahut Xenara.
“Kau beserta seluruh istana dan orang-orangmu akan kumusnahkan,” Pranaja menjawab pendek.
Lalu dia keluar istana, meninggalkan Xenara dengan kemarahannya.
***
Pranaja terus memperkuat pertahanan istana. Dia menutup lorong masuk istana yang terletak di perut bumi dengan besi yang cukup tebal. Dengan kekuatan Geni Sawiji dia melumerkan besi-besi tersebut kemudian dirangkai dan disatukan, sehingga lorong itu tertutup rapat.
Para pegikut dan pengawal istana Xialuai sangat terkesima melihat tubuh Pranaja yang diselubungi api biru. Kemudian terbang kesana-kemari tanpa kenal lelah membangun pintu besi yang sangat kokoh. Bahkan bom dengan daya ledak tinggipun tidak akan menggoyahkannya.
“Sekarang kalian aman tinggal di dalam istana ini sementara waktu. Tapi kalian harus membuat jalan keluar, karena kita tidak bisa terus bersembunyi disini,” kata Pranaja.
Dengan dipimpin Pranaja mereka membuat lorong baru sebagai jalan keluar ke arah yang berbeda. Setelah dua minggu bekerja mereka berhasil membuat lorong baru yang ujungnya berada di wilayah Rusia. Namun pintu keluar itu sangat tersembunyi. Terletak di dalam kedalaman hutan yang jarang dimasuki manusia.
“Kalau kalian keluar lewat sini, kalian aman dari kejaran tentara pemerintah Mongolia, karena ini sudah wilayah Rusia. Tapi kalian tetap harus berhati-hati, jangan sampai bertemu pihak keamanan perbatasan Rusia, karena mereka akan menangkap kalian,” pesan Pranaja.
Para pengawal istana tersenyum puas dengan hasil kerja mereka. Rupanya Pranaja sudah berhasil merubah sikap dan cara pandang mereka. Mereka tidak lagi memusuhi pemuda yang telah membunuh pemimpin tertinggi mereka.
Dan Xenara memperhatikan semuanya. Diam-diam dia sangat mengagumi kemampuan pemuda itu dengan berbagai kesaktiannya. Tanpa sadar, bibirnya ikut tersenyum manakala melihat tingkah konyol Pranaja yang sedang bercanda dengan para prajuritnya.
***
“Kalian tetaplah tinggal disini. Bila tidak ada hal yang sangat penting jangan keluar dari tempat ini. Aku akan pergi sementara waktu,” kata Pranaja suatu hari.
“Memangnya kau akan pergi kemana, anak muda?” tanya Batukhan.
__ADS_1
“Aku akan kembali ke duniaku, orang tua. Tapi aku berjanji akan memperjuangkan keberadaan kalian kepada dunia internasional. Kalian berhak hidup bersanding dengan bangsa-bangsa lainnya di bumi ini,” ujar Pranaja.
Orang-orang terdiam. Mereka tahu, mereka tidak bisa menggantungkan keselamatan mereka kepada orang lain, termasuk Pranaja. Pemuda yang pada awalnya dianggap sebagai musuh, namun saat ini berubah menjadi pahlawan yang menaburkan benih cinta di dalam hati mereka.