
RELIEF CANDI YANG HIDUP
Pranaja berdiri mematung di atas tebing. Pandangannya tak lepas dari rumah mewah di bawah sana. Nalurunya sebagai agen rahasia langsung bekerja. Entah kenapa dia merasa memiliki urusan dengan si empunya bangunan megah itu.
“Eh, kok malah melamun di situ!” tegur Ana dari bawah. “Pengin jatuh biar tambah benjol kepalanya?”
Pranaja tertawa lebar. Dan gadis itu baru menyadari, Pranaja terlihat sangat kereen saat tersenyum. So cute, batinnya.
Pranaja melompat turun, melenting di udara, berputar kemudian mendarat dengan sempurna di depan Ana. Dan usaha Pranaja menebar pesona mendapatkan hasil maksimal. Gadis itu sampai membelalakkan mata mengaguminya.
“Wow!” serunya. “ Kamu atlet atau pemain akrobat?”
Pranaja menepuk jidat.
“Adduh! Yang agak keren dikit dong nebaknya. Masa pemain akrobat, artis laga atau pemeran superhero gitu.”
Bibir Ana langsung monyong.
“Hmm, maunya,” katanya sambil ketawa geli.
“Bagaimana, kamu sudah lihat rumahku kan?”
Naja mengangguk.
“Ckckck,..bagus banget. Itu rumah apa hotel?”
Ana tertawa lagi. Enak banget ngobrol sama pemuda konyol ini, sebentar-sebentar jadi ketawa.
“Rumah lah. Ayahku memang suka membeli bukit dan pegunungan, lalu di buat hunian elit kelas VVIP,” katanya bangga.
“Hebat banget ayahmu. Pengusaha sukses, ya?”
Ana menganggukkan kepalanya.
“Sebenarnya bisnis utamanya pembersihan lahan untuk perumahan. Tapi kemudian mendapat kepercayaan dari seorang big bos mengerjakan proyek besar Megapolitan?”
“Siapa?”
“Subrata.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Konglomerat dunia asal Indonesia, itu kan?”
“Iya.”
“Kalau ayahmu?”
“Kalau ayahku namanya…”
__ADS_1
Belum sempat Ana menyebtkan namanya, tiba-tiba terdengar suara jauh dari bawah bukit memanggil namanya.
“Ana! Sayaang! Dimana kamu?”
Ana tersenyum kepada Pranaja.
“Eh, itu ayahku. Rupanya sudah pulang. Mau aku kenalin?”
Pranaja menggeleng cepat.
“Owh, tidak. Terimakasih. Aku kan lagi ditunggu kakek,” katanya.
“Ya sudah. Aku pulang dulu ya?” kata Ana sambil mengemasi keranjang berisi daging belut itu.
“Dadah!” katanya sambil melambaikan tangan kepada pemuda yang baru dikenalnya.
“Bye!” balas Pranaja.
Begitu Ana berbalik dan berjalan menuruni bukit, Pranaja langsung mencari tempat tersembunyi untuk melakukan pengintaian. Lalu mengaktifkan baju pelindungnya, membuat kekuatan indera penglihatannya bertambah tajam. Dari sebuah celah kecil dia dapat dengan jelas wajah ayah gadis itu.
***
“Kenapa lama sekali Pranaja?” Tanya Panembahan Mbah Iro.
“Iya kek, soalnya aku tadi hamper dimakan belu raksasa,” sahut Pranaja.
Panembahan mengernyitkan keningnya. Baru pernah mendengar ada belut hendak memakan tubuh manusia.
Pranaja tersenyum malu.
“Tidak. Tapi aku ditolong seorang gadis. Dia membunuh belut raksasa itu dengan dua anak panah. Dia lalu memotong-motong tubuhnya, dan aku diberinya sepotong,” ujar Pranaja sambil menunjukkan potongan belut pemberian Ana.
Panembahan malah tertawa lebar.
“Ya, sudah. Ayo kita melanjutkan perjalanan. Sudah terlalu siang, nanti kita bisa terlambat sampai tujuan.” katanya.
“Siap kek. Lanjuuut…”
Mereka pun segera berjalan lagi menuju dataran tinggi Dieng. Senja harinya mereka berhenti di bukit terakhir sebelum mereka mendaki dataran Tinggi Dieng. Di tempat itu terdapat sebuah bangunan batu menyerupai candi yang sangat indah. Pada dinding-dindingnya terpahat relief-relief perjalanan hidup seseorang yang sangat dihormati Trah Somawangi.
Pranaja mengamati relief-relief itu dengan seksama. Tiba-tiba lukisan batu di dinding itu seperti hidup, dan menarik tubuh Pranaja ke dalamnya.
“Hai! Apa ini!” teriaknya.
Namun tak ada seorang pun yang mendengarnya. Tiba-tiba dia merasa berada di suatu tempat yang sangat asing dan baru pertama dilihatnya. Dia seperti berada di sebuah daerah yang sangat gersang dan rusak parah.
“Eh, dimana aku?” gumamnya bingung.
Di sekelilingnya nampak gundukkan abu menghampar sejauh mata memandang dengan lingkaran kawah terbuka di mana-mana. Ada yang sebesar mangkuk, ada yang melebar sampai radius ratusan kilometer. Di bawah kawah-kawah itu Nampak cairan lahar yang sangat pnas. Merah menyala dan terus bergolak, apapun yang masuk ke dalamnya di pastikan lebur karena suhunya mencapai 400 derajat celcius.
Pranaja mendongakkan kepalanya. Langit di atas membentang pekat dan menampilkan kilau bintang gemerlap. Tak ada atmosfir. Bola panas yang kita kenali sebagai matahari menggantung gagah di langit, jauh lebih besar dari matahari di Bumi, dengan bias cahaya yang mengantarkan hangat dan nyaris membutakan.
Angin panas berembus dari segala arah, namun masih dapat diterima kulit manusia. Suaranya bergemuruh kencang karena tidak adanya pepohonan yang menghalangnya. Sebagian bertiup menerpa wajah dan seluruh tubuh Pranaja. Membuat peluh bercucuran membasahi pakaiannya.
__ADS_1
‘Uh panas sekali di sini. Pantas tidak ada tanaman yang hidup disini,’ batinnya.
Pranaja terus melangkahkan kakinya perlahan, menembus kabut abu yang tebal. Kadang dia melompat bila mendapati kawah panas yang cukup lebar. Hingga pada suatu tempat, dia menghentikan langkahnya. Lama dia berdiri terpaku. Rupanya dia mengenali tempat ini.
Tiba-tiba seperti ada suara berat yang menekan kesadarannya.
“Ini adalah rumahmu, Pangeran?”
Pranaja terkesiap. Bola matanya liar mencari sumber suara. Tapi dia tidak melihat siapapun.
“Siapa kamu! Tunjukkan dirimu!”
“Aku adalah pembimbingmu. Namaku Shamteq.”
“Pembimbingku?” batinnya heran.
Dia belum mengerti, tapi pemuda itu mencoba menguatkan hatinya
“Baiklah kalau begitu. Ada apa ini Shamteq? Tempat apa ini?” tanya Pranaja.
“ISTANA KERAJAAN.”
“Hah!? Maksudmu ini istana siapa?”
“Ini istanamu sendiri, pangeran.”
“Istanaku?” Pranaja membalik pertanyaannya.
Shamtex mendesis seperti mengiyakan pertanyaan Pranaja. Dihadapan mereka terhampar tanah lapang yang begitu luas. Tidak ada bangunan apapun di atasnya. Tapi Pranaja yakin, pastilah dahulu diatas tanah lapang ini berdiri istana ayahnya yang sangat megah.
Tiba-tiba terdengar suara kakeknya menepuk bahunya keras sekali.
“Heh, Pranaja! Kenapa malah terbengong di depan relief candi?”
Hah? Pranaja tergagap. Dilihatnya relief di depannya itu. Kenapa tadi seperti hidup ya? Batinnya.
“Tempat apa ini, kakek?” tanya Pranaja.
“Ini adalah makam Begawan Wanayasa, seorang brahmana suci yang sudah mencapai tingkatan Dewa. Satu-satunya manusia yang sangat disegani para Dewa,” sahut Panembahan. ”Inilah puncak leluhur kita, ayah dari Roro Lawe, Panembahan Somawangi dan Eyang Karangkobar.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Pantas Panembahan Somawangi beserta saudara-saudaranya mendapatkan banyak keistimewaan dalam hidupnya. Rupanya karena berkah dari ayah mereka, yang merupakan Brahmana Suci kesayangan para Dewa, Begawan Wanayasa.
“Duduklah di depan pintu candi Pranaja,” kata Panembahan Mbah Iro. “Pejamkan matamu dan berdoalah. Kembali kepada dirimu, hilangkan segala keinginan dan kehendak.”
__ADS_1
Pranaja mengangguk. Lalu mengambil sikap duduk di depan makan leluhurnya, kakek Begawan Wanayasa. Memejamkan matanya sambil membaca doa-doa. Mendoakan agar arwah kakeknya itu mendapat tempat yang layak disisinya. Merasakan keheningan malam di puncak bukit Wanayasa yang begitu dingin dan mistis. Membawa jiwa pemuda itu pada tingkat keadaran tertinggi tentang hakekat hidup dari sang Maha Pencipta,Alloh Subhanahu wa Ta’ala.