
EPS 95 PERJALANAN MAUT
Dan perjalanan maut pun di mulai. Pranaja bertugas mengendalikan kendaraan lapis baja yang sudah di modifikasi menjadi kapal selam itu dengan hati-hati. Pesawat tempur Tunderbolt diikat dua pelat besi berbentuk lingkaran yang dapat dibuka sewaktu-waktu. Dia juga menempelkan sebuah roket pendorong pada bagian bawah badan pesawat. Ryong menjadi pilot dan Ren menjadi kopilotnya.
Dua buah tabung raksasa berisi udara yang di sambungkan dengan sisi kanan dan sisi kiri kendaraan lapis baja itu, membuatnya mengambang di permukaan air. Setelah berjalan beberapa puluh meter meninggalkan kediaman rahasia kakek Kim, Pranaja memencet tombol untuk membuka katup penutup tabung, Lalu dia memompa sebagian udara keluar, sehingga air dapat masuk ke dalam tabung.
Belp..belp..belp..pep..pep..
Gelembung udara bermunculan dari dalam air begitu kapal selam darurat ini mulai tenggelam. Setelah separo tabung udara terisi air, Pranaja menutup kembali katupnya. Air yang masuk ke dalam tabung membuat bobot kapal selam bertambah. Massa jenis air dan kapal selam pun menjadi berimbang, sehingga kapal selamnya dapat melayang di dalam air.
“Wow! Berhasil Pranaja! Kapal selam kita dapat mengapung di dalam air dan tidak tenggelam sampai dasar sungai,” seru Ryong.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Oke. Sekarang kita memulai perjalanan Ryong. Kedalaman sungai Baekdu ini sekitar sepuluh meter lebar dua ratus meter, sedangkan sungai Yalu mencapai dua puluh meter dan lebar kurang lebih satu kilometer. Apa yang kau ketahui tentang kedua sungai ini?”
“Baekdu adalah anak sungai yang bermuara ke sungai Yalu. Sebagai sungai besar yang menjadi perbatasan antara Korea Utara dan China, banyak kapal-kapal berlalu lalang di sana. Khususnya para pedagang yang datang dan pergi ke kota Dandong, China.”
“Berarti kemungkinan kita aman saat melewati jalur itu?” tanya Pranaja.
Ryong terdiam sejenak seperti merasa ragu.
“Aku tidak yakin Pranaja. Di sisi sungai yang menjadi wilayah Korea Utara, dibangun benteng tinggi dan kokoh. Di sepanjang benteng itu ada deretan tentara dengan senjata terkokang serta kendaraan tempur lainnya.”
“Artinya?” tanya Pranaja.
“Kemungkinan ada sensor bawah air yang memindai setiap pergerakan manusia atau kendaraan yang hendak membelot dari Korea Utara. Mereka siap untuk mengeksekusinya,” ujar Ryong. “Mungkin ada juga ranjau darat yang dipasang di bawah permukaan sungai.”
__ADS_1
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Hm, aku mengerti Ryong. Kita harus ekstra hati-hati.”
Begitu sampai di muara sungai Baekdu, Pranaja keluar dari kendaraan lapis bajanya. Lalu mengaktifkan baju pelindung T-Shield 323216 nya untuk meningkatkan kekuatan panca inderanya. Matanya tajam menatap hamparan permukaan dasar muara pertemuan sungai Baekdu dan sungai Yalu itu. Di permukaan tanah berpasir itu terlihat gundukan-gundukan kecil berisi ranjau-ranjau yang otomatis akan meledak begitu tersentuh tangan manusia.
“Apa yang dilakukan Pranaja, kak?” tanya Ren yang sedari tadi hanya terdiam.
“Dia sedang mengamati dasar muara sebelum kita memasuki sungai Yalu,” ujar Ryong sambil memandang tubuh Pranaja yang mengapung di dalam air.
‘Kenapa Pranaja mampu mengapung di dalam air selama itu? Apa dia juga bisa bernafas di dalam air?’ batinnya sambil menggeleng kagum.
“Kenapa kakak malah tersenyum?” ujae Ren yang merasa aneh.
Ryong jadi tergagap.
“Oh, eh, anu…aku tersenyum melihat kemampuan Pranaja menahan nafas di dalam air. Sudah lebih dari sepuluh menit dia berada di sana.”
“Banyak ranjau di dasar muara Ryong! Jangan menjatuhkan apapun ke bawah!” teriaknya.
Ryong menganggukkan kepala sambil mengacungkan jempolnya. Ups! Tapi… Ryong baru sadar kalau barusan Pranaja berbicara di dalam air dan suaranya terdengar begitu jelas.
Hah? Kok bisa? Pranaja itu Aquaman juga? Beribu pertanyaan muncul dalam hatinya.
Pranaja masuk kembali ke dalam kendaraan lapis baja dan melanjutkan perjalanannya. Perlahan kapal selamnya melewai muara sungai bak ladang ranjau itu dan masuk ke sungai Yalu. Sungai besar yang menjadi perbatasan China dan Korea Utara. Sungai yang menjadi batas kemakmuran dan kemiskinan. China dan Korea Utara.
Pranaja semakin menambah volume air pada tabung udara. Kapal selamnya pun semakin tenggelam di kedalaman limabelas meter sungai Yalu. Kedalaman yang sangat aman, tak mungkin tertangkap pandangan mata manusia biasa. Sungai yang diatas permukaannya banyak kapal pedagang yang berlalu lalang itu juga aman tanpa sensor.
__ADS_1
Di luar perhitungan Pranaja dan Ryong, pergerakan mereka tertangkap oleh citra satelit China yang mampu menembus kedalaman air dari luar angkasa. Mereka menangkap pergerakan kapal selam asing di perbatasa China dan Korea Utara. Militer China segera memberikan informasi itu kepada militer Korea Utara. Dan dua kekuatan milter itu bekerja sama untuk meringkus benda asing mencurigakan di dalam sungai Yalu.
“Tuiiiit! Tuuiiit! Tuiit!
Terdengar bunyi sirine membelah angkasa sambung menyambung. Seluruh kekuatan militer Korea Utara di sepanjang perbatasan langsung disiagakan. Tanpa konfirmasi apapun, mereka langsung menluncurkan torpedo-terpedo yang meluncur dengan kecepatan tinggi di dalam air. Dan Pranaja serta Ryong tidak menyadarinya sama sekali.
Namun insting tajam Pranaja menangkap potensi berbahaya itu. Dia terkesiap kaget, merasakan ada benda-benda yang melunciur cepat untuk menghancurkan keberadaan kapal selamnya. Secepat kilat tubuh pemuda itu keluar dan berdiri gagah di atas kendaraannya. Begitu torpedo-terpedo itu mendekat, dalam jarak lima puluh meter, dia menghentakkan kakinya keras sekali.
“Kekuatan Dinding Angin!” teriaknya.
Kapal selamnya langsung terdorong dengan cepat ke bawah, bersamaan dengan torpedo-terpedo itu sampai ke sasarannya. Akibatnya bom berdaya ledak tinggi itu saling bertabrakan sendiri.
“Bum! Bum! Bum!”
Ryong dan Ren yang tidak tahu datangnya bahaya, terkejut bukan kepalang. Apa itu? Beberapa saat kemudian baru mereka menyadari kapal mereka sedang di serang militer Korea Utara bekerja sama dengan militer China. Sementara itu Kapal selam mereka terus meluncur ke bawah dengan cepat, menuju dasar sungai yang penuh ranjau! Apalagi gelombang akibat ledakan itu ikut mendorong dengan kuat ke bawah!
Heyaa!
Secepat kilat tubuh Pranaja berkelebat ke bawah lambung kapal selamnya. Kedua tangannya ditempelkan ke dinding lambung kapal, lalu dia matek kekuatan Geni Sawiji.
“Kekuatan Geni Sawiji!”
Sesaat kemudian tubuh dan kapal selam yang di sentuhnya diselubungi api biru. Warna birunya begitu terang, berpendar di dalam air menerangi sungai Yalu. Permukaan air sungai Yalu pada jarak seratus meter persegi mendadak mendidih karena efek panas dari tubuh Pranaja. Satu persatu puluhan ranjau darat yang ditimbun di dalam dasar sungai meledak dengan dahsyat.
Bum! Bum! Bum! Bum! Bum!
Setelah sinar biru yang mewarnai air sungai Yalu, dari dasarnya muncul semburan debu dan api berwarna merah keputihan. Pemandangan yang sangat indah dilihat dari citra satelit. Seperti bunga-bunga yang bermekaran di dalam aquarium raksasa bernuansa biru.
__ADS_1
Blar! Blar! Blar! Blar! Blar!
Lalu semburat airnya memancar tinggi ke udara bagaikan pohon-pohon cemara tertutup salju yang bermunculan dari dalam air. Keindahan yang menakutkan!