
EPS 110 MATAHARI SANG RAJA
Bunga-bunga di hati Pranaja langsung bermunculan tumbuh berkembang bagaikan kuncup yang lahir di musim semi. Warna-warni indah romantika cinta serta bayang-bayang Selena yang menemani mimpi basahnya yang pertama kali begitu terpateri dalam memorinya. Dan senyum itu belum berubah. Bahkan wajah Selena Gomes yang dahulu selalu menghiasi layar imajinya sampai sekarang pesonanya masih sama.
“Ap..ap..ap..”begitu gagapnya Pranaja sampai tidak bisa mengeluarkan satu kata yang bermakna.
“Ap! Ap! Ap! Kamu ngomong apa sih?” Tanya Wyona heran. “Kamu kerasukan?”
Aaark!
Tiba-tiba Spot berteriak keras di telinga Pranaja. Teriakan itu begitu mengejutkan, hingga Pranaja kehilangan rasa gagapnya.
“Apa aku nggak salah lihat!” teriak Pranaja. “Kamu beneran Selena Gomes?”
Huft! Pranaja menghempaskan nafasnya, melepas semua rasa yang tiba-tiba menghimpit hatinya.
“Hik..hik..hik..”
Wyona tertawa lebar.
“Tentu saja bukan. Ini aku Wyona.”
“Apa?”
__ADS_1
Pranaja mengernyitkan keningnya. Perlahan kesadarannya mulai pulih. Lalu dia menepuk jidatnya keras-keras, sebelum ikutan tertawa tergelak-gelak. Lalu diam. Memandang wajah Wyona dalam-dalam.
“Tapi terimakasih Wyona. Paling tidak aku sudah tidak penasaran lagi,” ujarnya. “Terimakasih juga kau selalu berusaha membuat hatiku bahagia.”
Kali ini Pranaja memeluk tubuh Wyona dengan penuh rasa sayang. Dikecupnya ujung kepala peri cantik itu. Pranaja tahu, bukan salah Wyona kalau peri itu memendam rasa cinta yang dalam kepada dirinya. Karena dia memang ditakdirkan untuk menjadi pasangannya.
“Tetaplah menemaniku Wyona. Aku berjanji akan selalu membawamu kemanapun aku pergi,” katanya.
Wyona membalas pelukan Pranaja. Kepalanya di rebahkan di dada lelaki perkasa itu. Sekali lagi air matanya tertumpah penuh rasa bahagia.
“Aku tidak punya siapa-siapa Pranaja. Hanya kau tempat aku berlindung,” ujar Wyona.
Peri dilahirkan dari tetes embun kelopak bunga Narsis yang banyak tumbuh di lereng gunung Himalaya. Dia tidak punya ayah, ibu ataupun saudara. Makanannya adalah sarimadu bunga matahari yang selalu menghadapkan wajahnya ke arah cahaya. Sehingga tubuhnya pun selalu mengeluarkan cahaya. Dan mereka diciptakan dengan satu tujuan, memberikan jalan manusia menuju kebahagiaan.
Sriiing!
Mendadak ada bias cahaya menerpa wajah mereka. Pranaja terksiap, ujung matanya menangkap selarik sinar biru yang muncul dari pedang Naga miliknya memancar lurus menembus kepekatan malam.
“Aark!”
Tubuh Pranaja dan Wyona melenting serentak ke angkasa Spot menyusul terbang di belakangnya. Makhluk legenda itu menyambut tubuh mereka di udara. Pranaja langsung duduk di punggung sang naga, sedang tubuh Wyona berubah menjadi uap putih dan masuk e dalam sisik permata biru yang terletak diantara kedua mata Spot.
“Aaark!”
Tubuh Spot terus terbang menembus batas cakrawala. Sayapnya yang lebar dan kuat, mengepak keatas dan kebawah. Menghasilkan kekuatan angin yang mendorong tubuhnya melesat menembus malam. Tatapan matanya tajam menatap lurus ke arah bola matahari. Sebentar kemudian mereka sudah sampai diatas awan hitam.
Pranaja berdiri di atas punggung Spot. Lalu kakinya menjejak, dan tubuhnya melesat cepat mendahului tubuh sang Naga. Kecepatan terbangnya sungguh luar biasa. Dia terus terbang menembus lapisan langit paling atas dan berdiri terpaku di limit atmosfir. Kedua matanya di pejamkan, menghimpun kekuatan Geni Sawiji pada tingkatan paling tinggi.
Tubuhnya mengapung tenang, menghadap ke arah matahari. Kedua tangannya di bentangkan. Tangan kanannya kokoh memegang pedang Naga.
“Wyona! Perintahkan Spot untuk mengumpulkan kekuatan apinya. Lalu semburkan ke arahku!” teriak Pranaja.
“Baik Pranaja! Persiapkan dirimu Spot!” sahut Wyona.
__ADS_1
Diatas awan hitam. Spot juga berhenti. Dia menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan ratusan kubik udara di dalam perutnya. Di dalam tubuhnya molekul-molekul oksigen itu di proses mejadi zat karbon. Lalu bersentuhan dengan efek panas yang keluar dari butir-butir darah naga.
Perlahan zat asam arang itu dekeluarkan melalui tenggorokannya. Di situlah puncak suhu yang terjadi di dalam tubuh Spot. Zat asam arang atau zat karbon di dalam tenggorokannya mencapai kenaikan panas maksimal. Lalu dengan sekuat tenaga dia hempaskan zat karbon itu sekuat tenaga. Kecepatan dan panas makimal menimbulkan cahaya yang dengan cepat berubah menjadi api yang maha dahsyat. Inilah inti kekuatan Naga!
Aark!
Wurrrrr!
“Terimalah apimu Pranaja,” teriak Wyona lagi.
Jilatan api yang sangat panas meluncur lurus ke arah tubuh Pranaja. Pemuda itu langsung menyerap energy panas dari api sang Naga. Energi panas iru merasuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Hawa panas api sang Naga berpadu dengan kekuatan Geni Sawiji miliknya. Perlahan tubuhnya berubah menjadi manusia api. Sekujur tubuhnya diselubungi cahaya api biru yang sangat panas.
“Kekuatan Geni Sawiji!”
Berrrrr!
Api dari mulut Spot terus membakar dirinya, semakin bertambah kekuatan yang dia serap. Lalu dengan kedua tangannya, pedang naga dangkat lurus menghadap ke arah matahari. Pranaja menyalurkan kekuatan pukulan Api Biru ke dalam pedang Naga. Perlahan ada cahaya perak menyilaukan memenuhi lempengan logam senjata mustika itu. Lalu Pemuda itu berteriak keras.
Heyaa!
Tubuhnya melesat dengan kecepatan cahaya yang menyelubungi tubuhnya. Kecepatan cahaya merupakan kecepatan tertinggi di alam dan merupakan kecepatan batas, kecepatan absolut. Tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Mencapai sekitar 300,000 kilometer per detik atau sekitar satu milyar tujuhpuluh sembilan juta kilometer per jam. Cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar 8,5 menit untuk mencapai bumi.
Segumpal cahaya biru itu terus melesat mendekati matahari. Sesampai di garis orbit Merkurius, planet yang paling dekat dengan matahari., dia berhenti. Lalu denga kekuatan penuh dia hentakkan kekuatan api biru melalui pedang Naga yang keramat itu. Kekuatan Geni Sawijipun bertambah berlipat ganda. Lalu sinar putih menyilaukan keluar dari ujung pedang di tembakkan langsung ke arah matahari.
“Pukulan Api Biru!” teriaknya lagi.
Sriiing!
Dari garis orbit planet Merkurius, cahaya putih itu hanya butuh waktu dua menit untuk mencapai permukaan Matahari. Cahaya panas itu terus terpancar tiada henti dari pedang Naga. Efek panasnya mulai terlihat. Lapisan es yang menutupi permukaan matahari mulai mencair dan menguap. Semakin lama semakin meluas. Permukaan matahari mulai telihat. Lapisan es yang meleleh terus merambat, membuat tanah di permukaan matahari pun semakin terlihat jelas.
Blar! Blar! Blar!
Terdengar ratusan ledakan hebat dari dalam permukaan matahari. Efek panas pedang Naga terus merambat masuk ke dalan tanah permukaan matahari, Memancing energi sang Raja Surya yang maha dahsyat untuk kembali menghidupi alam semesta.
__ADS_1