RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 139 RENDEZVOUZ


__ADS_3

EPS 139 RENDEZVOUZ


Tanah kering berontak di hembus kerasnya angin. Mengoak gagak menjerit di dahan mati. Saat bulan semerah darah bersimbah karena tragedi. Mengantar hati ada pilu yang bersambung tiada henti. Saat arwah-arwah gentayangan masih mencari. Di rintih gerahmu akan kehidupan abadi.


Mendengar Pranaja menyebut nama Santika dan Miryam, arwah Dadhungawuk langsung membalikkan tubuhnya. Bola matanya yang keluar menggantung penuh darah dan nanah. Lalu melayang ringan mendekati Pranaja.



“Santika adalah pemimpin kami yang sesungguhnya. Dia adalah lurah Jalatunda sedangkan aku adalah cariknya. Saat dia pergi untuk berobat ke kademangan Wanasepi, barulah aku menggantikannya sebagai pejabat lurah. Sedangkan Miryam adalah kekasihnya. Dia adalah Mawar Jalatunda. Kecantikan dan kemolekannya adalah abadi di dalam benak stiap lelaki yang pernah memandangnya. Tapi dia hanya mengenal satu cinta dalam hidupnya….” Dadhungawuk tak meneruskan kata-katanya.



“Kau menangis Dadhungawuk?” tanya Pranaja.



Tetesan darah bening mengalir perlahan dari lubang bola matanya. Pranaja memandang hantu mengerikan itu dengan pandangan takjub. Hm, bahkan arwah gentayangan pun bisa terharu mengingat kisah cinta Miryam dan Santika. Tentu banyak orang yang menyayangi kedua sosok itu pada jamannya.



“Terimakasih anak muda.”


“Terimakasih? Untuk apa?”


“Kekuatan Anugerah Mata Dewamu telah menyempurnakan kematian rakyatku. Melepaskan mereka dari belenggu kutukan nyai Nagabadra selama ratusan tahun,” ujar Dadhungawuk. “Sekarang aku mohon, sempurnakanlah kematianku juga.”



Pranaja memandang arwah gentayangan itu dalam-dalam. Untuk sesaat tidak ada percakapan diantara mereka. Hanya suara kesiur angin menghembus bertabrakan. Menciptakan kekacauan di ruang hati.



“Tentu saja Dadhungawuk, dengan senang hati aku akan mengabulkan permintaanmu. Namun aku bertanya satu hal lagi padamu. Benarkah jazad Miryam dan Santika masih utuh?”



Dadhungawuk menggerakkan kepalanya kebawah. Membuat bola matanya yang menggantung bergoyang-goyang di udara.


“Mereka telah membawanya dengan bantuan seorang yang sangat sakti.”

__ADS_1



Pranaja mengernyitkan keningnya.


“Apa kau mengenalnya?”


“Tidak. Dia tidak datang dari jamanku. Tapi aku dengar orang-orang memanggilnya Kyai Badrussalam,” sahut Dadhungawauk. “Ehm, anak muda cepatlah kau sempurnakan kematianku. Aku sudah tidak sabar berkumpul kembali dengan rakyatku.”



Pranaja tersenyum tipis.


“Baiklah ki Lurah Jalatunda. Semoga kau tenang dalam tidurmu di alam keabadian.”


Pranaja memejamkan matanya kembali. Berkonsentrasi mengumpulkan kekuatan Anugerah Mata Dewa lewat kedua matanya. Setelah itu dia membukanya.



“Slap!”


Selarik sinar biru berpendar dari kedua matanya, melesat cepat mengarah ke sosok arwah Dadhungawuk. Seketika, arwah gentayangan itu menghilang tanpa bekas.


Malam adalah sebuah misteri. Kita tidak pernah tahu bahaya apa yang mengancam di dalam kegelapannya. Maka setitik sinar bisa menjadi penolong, seperti oase di tengah padang pasir yang tandus. Memberi solusi dari kehidupan yang sekarat karena panas yang menyengat. Dan itulah hakikat cahaya.



Di dalam kegelapan pepohonan di atas pebukitan yang mengular di bagian selatan wilayah Megapolitan tubuh Pranaja melayang ringan dari satu dahan ke dahan lainnya. Dari perbukitan Grilangan, gunung Mahameru, alas Salamerta, sampai puncak perbukitan Kethileng. Di beberapa titik dia berhenti, memandang bentang alam wilayah Megapolitan dari ketinggian, kemudian memetakannya dalam beberapa bagian sesuai karakteristiknya.



“Aku sudah bisa menangkap gambaran rencana pembangunan Megapolitan City,” batinnya.



Bagian Barat sebagai satu-satunya akses pintu masuk wilayah Megapolitan dibangun sebagai wajah peradaban baru kehidupan orang-orang super kaya yang hidup dalam satu kota. Disana sudah dibangun gedung-gedung pencakar langit sebagai pusat bisnis dunia baru dan pusat transaksi keuangan, kondominium, hotel dan restoran bintang lima, pusat hiburan seperti discotek, bioskop, panggung pertunjukkan terbuka hingga gedung seni dan budaya.



Di bagian utara adalah pusat pendidikan dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Kejuruan hingga Universitas modern dengan kurikulum yang menggerakkan sektor ekonomi, bisnis dan keuangan. Ada juga tempat-tempat penelitian yang dilengkapi peralatan paling canggih dari seluruh dunia. Ada gedung perpustakaan setinggi sepuluh lantai, Museum Geologi, Sejarah serta museum Sosioogi dan antropologi.

__ADS_1



Di sebelah timur adalah tempat-tempat wisata edukasi, hotel dan restaurant yang mengelilingi danau buatan seluas dua ribu hektar. Danau ini bersambung dengan ruang terbuka hijau serta deretan hutan buatan yang mengular sambung menyambung sampai ke bukit Gralangan. Di dalam danau dan hutan ini akan dibuatkan ekosistem yang beragam yang bisa menampung setiap hewan aneh dan langka dari seluruh dunia.



Sedangkan di bagian selatan adalah wilayah hunian elit. Dibuatkan rumah-rumah bak istana dengan model klassik zaman pertengahan. Tiap rumah luasnya tiga hektar, di lengkapi dengan berbagai fasilitas olah raga, kolam renang, bioskop pribadi serta café pribadi. Ada landasan helipad di atas atapnya yang berlantai tiga, Nantinya yang tinggal di sana adalah para taipan, konglomerat, penguasa dunia putih maupun hitam, sultan-sultan dari seluruh dunia serta pelaku bisnis level tertinggi lainnya.



Belum lagi perbukitan panjang yang baru saja dilintasinya. Perbukitan ini sengaja dibiarkan sebagai hutan alami untuk menjaga tata guna tanah serta ketahanan air yang mencukupi kebutuhan penghuni Megapolitan. Sungai Tambra yang membelah wilayah ini akan dibuatkan bendungan raksasa untuk digunakan sebagai pembangkit listrik dan pasokan air yang menghidupi pepohonan dan taman-taman di setiap sudut kota.



“Super duper mahakarya Megapolitan. Wow! Wow! Wow! Sangat berkelas,” batin pemuda berwajah imut itu.



Setelah puas mengamati Megapolitan dari ketinggian bukit, Pranaja segera meneruskan perjalananya menelusuri perbukitan terbesar diantara bukit-bukit lainnya, yaitu bukit Kethileng. Merayap sampai ketinggian bukit keadaan semakin gelap. Apalagi saat dia memasuki hutan yang terbentang seluar duapuluh hektar di puncaknya, pandangan mata biasa tidak mampu menembus kegelapan hutan.


Indera penglihatannya di pertajam dengan kekuatan baju pelindung T-Shield 313216-nya. Sekarang dia bisa melihat keadaan hutan dengan jelas. Bola matanya berputar ke atas dan ke bawah melihat pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak ada semak belukar. Hanya pohon perdu yang merambat di beberapa dahannya. Lalu pandangannya ditebarkan, mengamati keadaan sekitarnya.


“Aaarggh!”


Mendadak terdengar suara menggeram saat kaki-kakinya mulai melangkah pelan memasuki hutan itu. Pranaja terkesiap kaget, suara itu bahkan lebih berat dan lebih mengerikan dari auman seekor singa jantan. Dia mundur dua langkah, kemudian mempersiapkan dirinya, kalau-kalau ada serangan dari hewan buas penghuni hutan ini.


“Kriyul! Kress!”


Kakinya menginjak tumpukan dedaunan dan ranting serta buah-buah kering diantara pepohonan besar. Pranaja memungut dan mengamatinya.


“Eh, ini kan buah Kecipir?” batinnya.


Kemudian bola matanya berputar mengamati keadaan di sekelilinginya. Banyak tanaman merambat yang menggelantung di antara dahan dan ranting pohon-pohon besar. Lalu dia teringat tentang legenda hutan Kecipir yang dia baca beberapa hari yang lalu. Katanya ada hutan yang tidak ditumbuhi semak belukar, hanya ada pohon kecipir di dalamnya.


“Hm, aku yakin aku telah memasuki wilayah hutan kecipir di puncak bukit Kethileng,” batinnya.


Namun tiba-tiba suara menggeram itu terdengar lagi.


“Aaaarkkkk!”

__ADS_1


__ADS_2