RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 75 DEATH WORM


__ADS_3

EPS 75 DEATH WORM


Aku bukan monster tanpa hati yang hanya mampu menyakiti, tapi monster yang muncul dari bawah tempat tidur untuk mengagumi kecantikanmu. Jadi, tidurlah yang nyenyak dan buang rasa takutmu.


Rombongan kakek Zyed dan Alisher diikuti Pranaja dan para pengawalnya meneruskan perjalanannya. Menyusuri jalan padang pasir yang panas. Untuk menghilangkan ketegangan Pranaja menendang-nendang gulungan daun kering yang mengelompok seperti bola.


Gulungan daun kering itu menggelinding ke sana kemari, disambut angin gurun yang berhembuas semilir. Salah satu gulungan berhenti di kaki Alisher yang ikut berjalan kaki.


“Jangan menendang sembarangan Naja. Gulungan daun kering ini adalah bunga kebangkitan, bunga yang dapat hidup kembali dari kematian,” kata Alisher.


“Bunga yang bangkit dari kematian? Apa namanya?” tanya Pranaja.


“Mawar Jericho…” ujar Alisher


Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mawar Jericho dikenal sebagai bunga kebangkitan, karena kemampuannya bertahan hidup di daerah kering atau bahkan setelah diawetkan dengan pengeringan. Habitat asli tanaman ini di daerah kering, batang tanaman cenderung akan mengkerut dan menggulung seperti membentuk bola kecil. Ketika hujan turun batang yang menggulung tadi akan melepaskan diri gulungannya dan terurai kembali. Akar yang sudah terlepas akan masuk kembali kedalam tanah kemudian berkecambah dan batangnya akan berwarna hijau kembali.


“Pranaja! Kenapa kau mengurungkan niatmu untuk pulang?” tanya Alisher.


Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Ya. Tapi aku berubah pikiran. Setelah melihat peristiwa tadi aku jadi tertarik untuk membuktikan keberadaan Cacing Maut Gurun Gobi,” ujar Pranaja.


“Lalu?”


“Tak adil rasanya membiarkan kalian berada dalam bahaya sendirian. Jadi aku putuskan untuk menemani kalian pulang ke Samarkand.”


“Ah, kau pasti hanya mencari alasan untuk bisa terus berpetualang kan?”



Hahaha, kedua sahabat yang baru bertemu itupun tertawa bersama. Ya mereka akan menempuh perjalanan dan petualangan yang seru bersama-sama.



“Heya! heya! heya!”



Terdengar salah satu anak buah Alisher yang berjalan di depan memacu kudanya dengan cepat balik ke rombongan. Debu dan asap berterbangan kemana-mana. Dia baru menghentikan laju kudanya setelah dekat dengan Alisher.



“Ada apa Adam?” tanya Aisher.


Adam tidak langsung menjawab. Wajahnya begitu tegang memandang wajah junjungannya itu.


“Ada pemandangan mengerikan di depan sana bos! Mayat-mayat dalam keadaan tak utuh bergelimpangan dimana-mana,” serunya.



Alisher segera menaiki kudanya dan memacu dengan kecepatan tinggi. Lalu berhenti didepan pengawal satunya yang menunggu di depan. Sesaat kemudian Pranaja sudah menyusul di sampingnya. Wajah-wajah mereka terperanjat. Potongan-potongan tubuh manusia berserakan dimana-mana. Ada potongan kaki, tangan, tubuh dan yang lainnya. Mereka tercecer dimana-mana. Melihat pakaiannya, Alisher mengenali mereka adalah pengawalnya dan juga pengawal kakeknya yang telah berkhianat.

__ADS_1



“Kemungkinan besar kata-kata kakek benar Pranaja. Cacing Maut Gurun Gobi benar-benar ada. Mungkin mereka sedang lapar sehingga sekarang bermunculan,” ujar Alisher.



Pandangannya tak terlepas dari tubuh-tubuh yang bergelimpangan dalam keadaan tak utuh itu. Tangannya mulai memegang senjata serbu AK 47 yang ditentengnya. Firasatnya mengatakan mereka saat ini berada di tengah medan pertempuran.



“Bersiaplah menghadapi kemungkinan yang paling buruk,” katanya sambil menengok para pengawalnya.



Adam dan kawan-kawannya segera mempersiapkan senjatanya masing-masing. Suasana mencekam menciptakan ketegangan yang begitu tinggi di antara mereka. Hanya Pranaja yang tidak mau larut dalam ketegangan itu. Matanya yang tajam memandang alam seketar. Mempelajari bentang alam di sekeliling mereka untuk menghitung segala kemungkinan.



Hamparan padang pasir terbentang di sekitar mereka. Ada gundukan pasir di sebelah kanan menyerupai bukit kecil. Di sebelah kiri ada sekumpulan bebatuan yang bertebaran. Sementara di belakang dan di depan mereka terbentang hamparan pasir sampai batas horizon.



“Lallana pergilah kau ke belakang. Lindungi kakek, biar aku membuka jalan dari sini,” kata Alisher.



Pranaja melihat ke belakang. Jarak antara dirinya dengan rombongan kakek sekitar tigaratus meter.




Alisher menganggukkan kepalanya. Sekarang dia baru ingat, keselamatan kakeknya adalah prioritas utama.



“Apa yang ada dalam pikiranmu brother?” ujarnya.


“Kau berjalan di depan, sedangkan aku berjaga di sebelah kanan. Tempatkan beberapa pengawal di belakang rombongan kakek,” ujar Pranaja.



Alisher memutar pandangannya. Dia mulai memahami strategi yang ingin dijalankan Pranaja. Di sebelah kiri mereka adalah kumpulan bebatuan. Kata kakek, Death Worm atau Cacing Maut muncul dari dalam gundukan pasir dan masuk kembali ke dalamnya. Jadi, tidak mungkin hewan itu muncul dari arah kiri.



“Brilian. Kau betul-betul tuan segala tahu,” katanya memuji Pranaja sambil tersenyum.


“Berikan aku senjata AK 47 milikmu,” sahut Pranaja.


Alisher memandang heran.


“Kau juga tahu cara menggunakan AK 47?”

__ADS_1



Hehehe..tentu saja, aku kan agen rahasia Dinas Intelijen Rahasia Inggris, batin Pranaja.



“Kalau ada senjata pelontar granat, aku juga bisa menggunakannya,” ucapnya.



Wow! Alisher terkesiap, walaupun meragukannya. Jangan-jangan tubuh cungkring Pranaja akan terlempar kebelakang saat menembakkan granat, karena tekanannya sangat kuat. Tapi dia memerintahkan pengawal lainnya untuk mengambilkan pelontar granat dari kotak senjata.



“Ini tuan Pranaja,” kata si pengawal.



Pranaja menerima dengan tangan kirinya. Terlihat dia sama sekali tidak merasa terbebani dengan senjata berat itu.



Mereka segera mempersiapkan dirinya. Pranaja mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 nya, untuk meningkatkan kekuatan panca inderanya. Benar saja, seketika telinganya langsung mendengar ada makhluk hidup yang bergerak di dalam pasir. Arahnya seratus meter dari arah belakang. Pranaja langsung menengok ke belakang.



“Adam! Lallana! Bersiaplah kalian!” teriaknya.



Semua orang terkejut. Terlihat ada gundukan pasir yang bergerak sangat cepat di belakang rombongan. Mereka langsung bereaksi dengan mengacungkan senjatanya masing-masing. Namun tanpa di duga, dari dalam gundukan itu terlihat pancaran sinar listrik yang muncul dan menyerang dua orang pengawal paling belakang. Bagaikan tersengat petir, kedua orang pengawal itu langsung berkelojotan dengan tubuh gosong. Disaat orang belum sadar akan apa yang terjadi, Monster raksasa itu muncul dari dalam pasir.



Byur!


Kyeeek!



Gundukan pasir itu buyar ke atas, disusul suara jeritan monster yang menusuk telinga. Reflek semua orang menutup pendengarannya. Monster raksasa itu muncul dari dalam pasir dengan mulut terbuka. Mencaplok kedua pengawal yang terkena serangan listrik tadi, kemudian menenggelamkan dirinya kembali ke dalam pasir.



Semua orang tersadar, tapi terlambat. Super cepat. Monster itu sudah menghilang di dalam permukaan gurun. Pranaja melompat kemudian menembakkan senjata pelontar granat itu dari udara. Granat itu melesat menuju gundukan, dan masuk ke dalamnya.



Blar!



Terjadi ledakan besar. Asap dan debu mengepul tinggi ke udara. Lubang seperti kawah terbentuk karena ledakan besar itu. Tapi tidak terlihat jejak monster itu. Semua orang tampak shok. Mereka masih terpaku di tempat mereka berdiri. Seperti mimpi, beberapa kali mereka mengusap matanya.

__ADS_1


Dan kali ini mereka betul-betul percaya, Cacing Maut Gurun Gobi benar-benar nyata!


__ADS_2