RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 97 HUJAN PELURU


__ADS_3

EPS 97 HUJAN PELURU


Pesawat jet jadul sisa perang dunia kedua, Thunderbolt itu terus melaju cepat meninggalkan arena pertempuran antara Pranaja dengan pesawat-pesawat Chengdu J-20. Dua roket pendorong yang di pasang di bawah badan pesawat, membantu pesawar tua itu melesat dengan cepat. Namun, melewati kilometer 150, roket-roket itu mulai kehabisan bahan bakar.



Dud!…dud!…dud!..



“Apa yang terjadi kak?” tanya Ren sedikit cemas.


Dia tidak melihat tubuh Pranaja sama sekali. Dimana dia? Batinnya.


“Bahan bakar roket pendorongnya habis. Aku harus melepaskannya dan mulai menghidupkan mesin pesawat kita.”



Suara roket itu mulai tersendat-sendat. Kecepatnnya menurun drastis. Ryong bergerak cepat. Dia segera menekan tombol fire untuk menghidupkan mesin Sukhoi 27 nya, lalu melepaskan kedua roket itu dari badan pesawat. Namun terjadi sedikit kesalahan tekhnis. Roket itu tidak bisa dilepaskan. Laju pesawat yang mereka naiki menjadi melambat dan miring ke bawah, karena beban kedua roket itu.



Ryong terus menekan tombol darurat tanpa henti, berusaha melepaskan kedua roket itu, Sementara pesawat-pesawat siluman Chengdu J-20 itu semakin dekat. Pesawat tua itu malah sudah masuk dalam radar dan jangkauan tembak rudal mereka. Pilot-pilot dari Angkatan Udara China itu mengunci pergerakan Thunderbolt.



“Aku sudah berhasil mengunci mereka kapten!” kata salah satu pilot.


“Tembak!” perintah sang kapten.



Swing! Swing! Swing!



Puluhan peluru kendali udara ke udara berdaya serang pendek itu langsung melesat mengejar pesawat Thunderbolt. Dalam beberapa detik saja pesawat itu akan hancur.



“Prak!”



Ryong memukul keras tombol otomatis untuk melepaskan kedua roket yang membebani pesawat mereka. Setelah berkali-kali berusaha, akhirnya kedua roket itu dapat dilepaskan. Pesawat Thunderbolt bermesin jet Sukhoi Su-27 itu langsung melesat dengan cepat. Sementara kedua roket yang terlepas menjadi sasaran empuk rudal-rudal AU China.



“Bum! Bum! Bum! Bum!”



Sukhoi SU-27 adalah pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat. SU-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Mesin turbotan, Saturn-AL 31 memiliki kecepatan hingga 2500 km/jam, menjadikannya pesawat paling cepat pada jamannya.



Pesawat tempur China yang hanya mampu terbang dengan kecepatan maksimal 2100 km/jam langsung tertinggal jauh. Namun sayang, bodi pesawat Thunderbolt sisa perang dunia II itu tak mampu menembus kecepatan melebihi suara. Kerapatan molekul-molekulnya mulai merenggang. Tak lama kemudian terjadi keretakan-keretakan di sana-sini.



Rektek..pretek..krek..



“Lihat kak, ada garis-garis retakan pada tubuh pesawat kita,” kata Ren semakin cemas, apalagi dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan Pranaja.


“Bersiaplah Ren! Pada hitungan ketiga kau tekan tombol pelontar pada tempat dudukmu di sebelah kanan” kata Ryong. “Apa kau sudah melihatnya?”



Ren mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan tempat duduknya.


“Iya. Aku sudah melihatnya,” sahut Ren.

__ADS_1


“Oke. Tempelkan jari telunjukmu di atasnya. Nanti setelah aku mulai menghitung, tekanlah pada hitungan ketiga.”



Ren menyimak petunjuk kakaknya.


“Apa kau siap?”


“Siap kak!”



Ryong menghela nafas dalam-dalam. Matanya tajam menatap ke depan. Dia tahu, keselamatan dirinya dan adiknya ada di tangannya sendiri. Karena dia sudah kehilangan Pranaja. Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Tapi dia tidak mau memikirkannya saat ini. Walaupun dia memiliki firasat yang buruk.



“Satu, dua,…tiga!”



Ceklek!



Pintu kockpit terbuka.



Wud! Wud!



Kedua tempat duduk pilot dan ko-pilot pesawat Thunderbolt itu melesat tinggi ke udara. Meninggalkan pesawatnya yang mulai pecah dan terlepas beberapa bagiannya. Tak lama kemudian pesawat tua itu betul-betul meledak di udara.



Bum!




“Pranajaa,” teriaknya dengan suara parau.


***


Tubuh Pranaja yang terus meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba tersentak. Pendengarannya yang tajam seperti mendengar suara Ren memanggil namanya. Seketika dia terkesiap kaget. Apalagi tubuhnya meluncur cepat menuju gugusan karang yang tajam dan runcing.



“Kekuatan Geni Sawiji!”



Lima meter diatas gugusan batu karang itu, tubuhnya berubah menjadi api biru.



Heya!



Sambil berteriak, segumpal api biru itu segera meliuk, tipis diatas batu-batu karang yan siap mengoyak tubuhnya. Terbang lurus kemudian naik empat puluh lima derajat mengejar kembali pesawat Ryong dan Ren. Dengan kecepatan cahaya, sebentar saja dia sudah berhasil mengekor di belakang pesawat-pesawat tempur Chengdu J-20 itu.



Wyus! Wyus! Wyus!



Dia melepaskan bola-bola api dari belakang mereka. Tiga buah pesawat yang terbang paling belakang tak sanggup menghindar. Ekor pesawat mereka langsung terbakar hebat. Pilot-pilotnya langsung melontarkan tubuhnya ke udara.


__ADS_1


Bum! Bum! Bum!



Pesawat-pesawat itu langsung meledak menjadi abu. Pranaja terus menembakkan bola-bola apinya. Pesawat-pesawat musuh tang tidak menyadari apa yang telah menyerang mereka, tidak mampu berkelit. Pesawat-pesawat itu mengalami kebakaran hebat sebelum akhirnya meledak dan hancur berkeping-keping. Dan Pranaja terus melaju ke depan, menerobos barikade puluhan pesawat siluman China itu untuk menyelamatkan Ryong dan Ren.



“Kakak!” Ren masih berteriak ketakutan.



Wud!



Kain parasut yang terletak di belakang tempat duduk melesat ke atas kemudian mengembang. Menahan laju kursi pilot dan ko-pilot itu yang meluncur ke bawah. Sesaat parasut mereka bergoyang kesana kemari mengikuti arah angin. Sebelum akhirnya turun dengan tenang ke bumi. Ryong terus meneriaki adiknya agar tenang dan terus mengikuti semua petunjuk-petunjuknya.



“Tenang Ren! Jangan panik!” teriak Ryong.


Ren menatap wajah kakaknya sambil mengangguk.


“Arahkan parasutmu ke tanah terbuka di bawahmu!” teriak Ryong lagi. “Gunakan tali di tangan kananmu sebagai kendalinya!”



Ren berusaha mengendalikan parasutnya dengan tali yang di pegang di tangan kanannya. Laju parasut itu semakin terarah dan mulai terkendali. Ryong memandang ke belakang. Pesawat-pesawat tempur musuhnya sudah tidak terlihat lagi. Mereka melakukan manuver sebelum berbalik arah, kembali ke pangkalannya di Dandong, China.



Swing! Swing!



Wajah Ryong terkesiap kaget bukan kepalang. Dua buah rudal melaju cepat ke arah parasut mereka. Rupanya sebelum berbalik, masih ada pesawat yang menembakkan rudalnya untuk menghancurkan tubuh Ryong dan Ren. Kedua kakak beradik itu hanya bisa menejamkan matanya. Pasrah dengan apa yang akan terjadi.



Heya!



Terdengar teriakan keras yang sangat akrab dengan telinga mereka. Ryong dan Ren membuka matanya. Nampak Pranaja berhasil mengejar rudal-rudal itu. Dengan kecepatan cahaya, bukan hal yang sulit bagi pemuda itu mengejar senjata yang mengancam Ryong dan Ren. Tangan kanannya memukul salah satu rudal itu dengan pukulan gajah godham.



“Pukulan Gajah Godham!”



Rudal itu langsung berbelok arah, melesat menuju rudal lainnya. Kedua senjata berdaya ledak tinggi itu meledak dahsyat dihadapan Pranaja, Ryong dan Ren.



Blar!



Rudal-rudal itu meledak, tapi memberikan dampak yang buruk bagi mereka. Serpihan-serpihan baja itu bagaikan peluru-peluru kecil yang menyebarkan maut kemana-mana. Tubuh ketiga pemuda itu seperti dihujani peluru yang menembus sekujur tubuh mereka.



Arrgghh! Teriak Ryong.



“REN!” teriak Pranaja sambil menggapaikan tangannya.



Bibir gadis itu tersenyum tipis, diantara aliran darah yang mengucur dari kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2