
RAJAWALI DI PERMUKAAN BULAN
“Kenapa aku Q?”
“Maksudmu?”
“Kenapa aku yang dipilih untuk menjalankan misi penghancuran asteroid itu?”
“Apa kau takut?”
Pranaja menggeleng cepat.
“Aku tidak takut. Hanya ingin tahu alasannya.”
“Kau dianggap paling mampu dibanding agen-agen lainnya. Komposisi oksigen di dalam butiran darahmu dapat berubah-ubah menyesuikan lingkungan sekitarmu. Itulah mengapa kau dapat hidup di dalam air dan bertahan di ruang hampa udara tanpa bantuan peralatan oksigen, seperti yang lainnya.”
“Menurut ayahku ini adalah kekuatan langit yang diturunkan kepada para leluhurku.”
Q terdiam, berpikir sejenak, lalu menatap Pranaja.
“Kekuatan langit? Itulah yang menarik perhatianku. Mungkin menurut keyakinan leluhurmu, itu adalah kekuatan para Dewa. Tapi bagiku, kemampuan adaptasimu adalah hasil rekayasa genetika dari peradaban canggih yang mungkin ada di luar angkasa. Itu yang aku ingin tahu.”
Pranaja tercenung mencerna kata-kata Q. Kedua alisnya yang tebal dan hitam itu nampak menyatu saat dahinya mengkerut.
“Atau bisa jadi leluhurmu adalah sekelompok alien yang berevolusi menjadi manusia biasa secara fisik. Walaupun kemampuan adaptasinya tidak berubah.”
Pranaja tersenyum tipis, jadi geli sendiri mendengar kata-kata Q. Leluhurnya adalah alien? Dan keluarganya adalah hasil evolusi makhluk alien? Hm, tapi kata-kata Q masuk akal juga. Analisis berdasarkan fakta yang kuat, mengingat kemampuan yang dia miliki, batin Pranaja. Tapi jelas dia tidak mempercayainya. Memang ada alien yang gantengnya kaya aku? hehehe, batinnya.
“Siapa yang merekomendasikan aku kepada M?”
“Aku sendiri.”
Pranaja terkesiap. Matanya nampak membesar menatap Q.
“Maksudmu aku juga menjadi obyek penelitianmu? Menjadi kelinci percobaan, apakah aku juga bisa bertahan hidup di luar angkasa?”
Q menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Jujur saja iya. Tapi ini semua juga untuk pembuktianmu sendiri. Aku adalah ilmuwan, tugasku hanya meneliti dan menganalisis. Kau sendiri yang membuktikan, apakah kau mampu bertahan di luar angkasa tanpa alat bantu pernapasan.”
“Kau sudah memperhitungkan resikonya?”
“Tentu. Itulah alasan aku menciptakan T-Shield, robot android yang bisa berubah menjadi kendaraan untukmu. Dia siap melindungimu setiap waktu. Aku sudah melengkapinya dengan fitur-fitur keamanan yang dibutuhkan manakala terjadi situasi darurat.”
Pranaja memandang wajah professor tua itu dalam-dalam. Dia percaya dengan kemampuan Q merekayasa senjata-senjata dan peralatan canggih, tapi dia masih tidak percaya dengan dirinya sendiri. Butuh waktu untuk meyakini bahwa dia memiliki kemampuan seperti yang diyakini oleh Q.
“Kalau kau belum yakin, ajaklah Shield berjalan-jalan ke bulan. Kita lihat seberapa kemampuanmu di sana,” kata Q.
Pranaja membuang pandangannya keluar jendela. Di luar angin berkesiur lembut, menerbangkan anak-anak rambut Pranaja yang dikuncir kecil seperti ekor kuda poni.
***
Tengah malam Pranaja bangun dari tidurnya. Lalu berjalan mengendap keluar kamarnya yang ada di lantai tiga. Lalu dia memanggil kendaraan barunya.
“Shield ayo kita jalan-jalan!”
Lalu lantai bawah tanah terbuka. Shield keluar dari persemayamannya. Tubuhnya melayang ringan tanpa suara, mendekati kamar Pranaja di lantai tiga. Pemuda itu segera masuk kokpit dan meminta Shield untuk menghidupkan layar monitor.
Shield langsung menjawab lewat tulisan di layar monitor.
‘SATU KOMA TIGA DETIK’
“Ha? Cepat sekali. Ehm, kalau ke Merkurius?”
‘LIMA KOMA LIMA MENIT.’
“Kalau menyeberangi galaksi bima sakti?”
‘SERATUS RIBU TAHUN CAHAYA’
Subhanaloh! Betapa jagad raya begitu luas sampai tidak ada yang tahu batas-batasnya. Sehingga untuk menghitung jarak yang amat jauh seperti jarak antar bintang, bumi dengan bintang, maka digunakanlah satuan Tahun Cahaya. Padahal menurut Q satu tahun cahaya sama dengan sembilan ribu empat ratus enampuluh satu trilyun kilometer!
“Ayo Shield! Bawalah aku ke bulan,” kata Pranaja.
__ADS_1
Shield mendesis. Lalu terdengar suara mendengung dari tubuhnya. Sesaat kemudian tubuhnya sudah berubah menjadi cahaya putih berkilauan. Pranaja merasa berada di tengah ruangan cahaya yang menyilaukan. Matanya langsung terpejam.
Ketika dia membukanya, ternyata mereka sudah berada di bulan! Tubuh Shield mengapung diatas permukaan bulan.
Pranaja menggeliat bangun dari duduknya. Kegelapan menyelimuti sekelilingnya.
Pandangannya memutar mengamati bentang alam yang nampak samar sampai batas jarak pandangnya. Dua detik yang lalu dia masih berada di bumi.
“Shield, benarkah kita sudah berada di bulan?” tanya Pranaja ragu.
Shield mendengung seolah membenarkan kata-kata pemuda itu.
“Apa!? Aku sudah benar-benar sampai ke bulan?” serunya seperti tak percaya.
Matanya nampak berbinar, Hatinya begitu senang tapi juga merasa aneh. Dia senang akhirnya bisa melihat bulan secara langsung, tapi juga merasa aneh karena apa yang dilihatnya di sekelilingnya. Permukaan bulan sama sekali tidak halus dan rata seperti penampakkannya selama ini. Banyak terdapat lubang-lubang seperti kawah dimana-mana.
Mungkin karena benturan dengan batu-batu meteor yang jatuh tertarik oleh gaya gravitasi bulan. Lalu menghantam permukaan bulan sehingga menimbulkan lubang-lubang itu.
Anehnya lagi lingkungan bulan ternyata gelap. Meskipun bulan terlihat sangat putih dan terang, permukaan bulan sebenanya gelap dengan tingkat kecerahan sedikit lebih tinggi daripada aspal yang hitam.
Menurut Q, bulan adalah satelit alami bumi satu-satunya dan merupakan bulan kelima dalam tata surya. Bulan berada pada rotasi singkron dengan bumi sehingga selalu memperlihatkan sisi yang sama pada bumi. Setelah matahari, bulan adalah benda langit paling terang. Satu-satunya benda langit yang pernah di darati manusia.
“Kita mendarat Shield, aku ingin berjalan-jalan,” katanya.
Shield mendengung. Lalu tubuhnya melayang turun kebawah dan mendarat di permukaan bulan.
“Luar biasa,” batinnya begitu melihat tanah bulan, perasaannya tidak bisa dilukiskan.
Pintu kokpit terbuka. Perlahan Pranaja menginjakkan kakinya di bulan. Merasakan tanah dan debu bulan yang menempel di ujung kakinya, merasakan sensasi yang luar biasa.
Ups! Dia hampir terjatuh. Untung tangannya masih berpegangan pada tubuh Shield. Mendadak dia merasakan kakinya begitu ringan. Dia bahkan bisa melangkah lebih jauh daripada langkah kakinya di bumi.
“Itu karena daya tarik Bulan lebih kecil daripada daya tarik bumi. Benda-benda yang ada di Bumi tiga kali lipat lebih ringan kalau dibawa ke bulan,” jawab Q ketika Pranaja menghubunginya. “Kau benar-benar sedang berada di bulan?”
Pranaja tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia jadi paham sekarang. Gravitasi? Itu artinya dia pun bisa melompat lebih tinggi disini.
“Jadilah robot Shield!”
Shield mendengung, lalu tubuhnya bertransformasi menjadi robot Android.
“Shreek! Shreek! Quiit! Quiit!”
Bagian-bagian tubuh Shield nampak bergeser-geser dan membolak-balik. Lalu keluarlah tangan, kaki dan kepalanya. Shield berdiri tegak, tingginya sekitar limabelas meter.
“Wow! Transformer!” teriaknya, suaranya menggaung di atas permukaan bulan.
Pranaja mengambil ancang-ancang, berlari lalu melompat tinggi ke atas dan berdiri di bahu Shield. Dari ketinggian itu dia mengamati bentang alam yang nampak lebih jelas.
Ternyata di bulan pun terdapat bukit-bukit dan pegunungan, bahkan ada gunung yang masih aktif. Struktur tanahnya juga mirip dengan bumi. Hmm..jangan-jangan bulan adalah potongan bumi yang terpisah karena benturan dengan benda langit lainnya, pikir Pranaja mengira-ngira. Lalu bibirnya tersenyum lebar, rupanya dia ingin bersenang-senang.
“Hahaha…huuii!” dia berteriak kegirangan sambil melompat melewati sebuah kawah yang cukup lebar. Kakinya lurus ke belakang, tangannya dibentangkan ke kanan dan ke kiri. Matanya tajam menatap ke depan. Lalu berteriak keras sekali.
__ADS_1
“Aaaarrkk!!!”
Seolah seekor rajawali yang terbang diatas permukaan bulan. Asyiiik!