
EPS 92 KAPAL SELAM DARURAT
Suatu benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya dorong ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut. Makanya sebuah benda akan terasa lebih ringan bila di dalam air.
Pranaja mulai bekerja keras mewujudkan idenya. Semua barang-barang bekas, besi rongsokan, potongan-potongan tubuh pesawat tempur, kendaraan lapis baja andalan Jerman saat perang dunia kedua Sd Kfz Sonderkraftfahreug 234 yang beroda delapan pun dia rangkai kembali.
“Kita kan tidak punya peralatan las Pranaja,” ujar kakek Kim.
Pranaja hanya tersenyum.
“Dia tidak memerlukannya kakek. Pranaja sudah memiliki peralatan las di tangannya,” sahut Ryong.
Pertama-tama Pranaja membuat gambar prototype kapal selam yang dia rencanakan. Kemudian dia menunjukkannya kepada kakek Kim dan Ryong. Pesawat tempur Republic P-47D Thunderbolt buatan Amerika diletakan diatas kendaraan lapis baja Sd Kfz Sonderkraftfahreug 234 buatan Jerman. Dilengkapi senapan mesin andalan militer Jepang HO-103 12,7 mm dan meriam HO-301 40 mm yang juga bisa digunakan sebagai peluncur roket.
Dua buah tabung udara disiapkan di kanan dan kiri kendaraan lapis baja. Tabung udara diperlukan untuk membuat kapal selamnya bisa melayang di dalam air.
“Tabung udara ini akan membuat kendaraan lapis baja ini mengapung di permukaan air, kemudian tenggelam dan melayang di dalamnya. Caranya dengan mengalirkan air ke dalam tabung dan mengurangi volume udara untuk menambah masa jenisnya," jelas Pranaja. “Suatu benda akan mengapung jika massa jenis benda itu lebih kecil daripada massa jenis fluida. Suatu benda akan melayang jika massa jenis benda itu sama dengan massa jenis fluida. Dan, suatu benda akan tenggelam jika massa jenis benda itu lebih besar daripada massa jenis fluida.”
“Hm, Prinsip hukum Archimedes,” gumam Ryong lirih.
“Fluida itu apa Pranaja?” tanya kakek Kim.
“Fluida adalah segala jenis zat yang dapat mengalir, baik dalam bentuk gas maupun cair kakek," sahut Pranaja.
Kakek Kim mengangguk-anggukkan kepalanya. Pranaja memiliki kecerdasan yang luar biasa. Otak kanan dan otak kirinya dapat bekerja bersamaan. Kecemerlangan dalam ide, ketepatan tindakan dan skill nya di atas rata-rata manusia biasa.
“Aku juga akan menambahkan mesin pesawat Sukhoi 27 ini sebagai tenaga cadangan pada pesawat Thnderbolt ini. Mesin ini hanya digunakan bila keadaan benar-benar darurat, saat terjepit pesawat musuh. Begitu aman kau harus meninggalkan pesawat itu dan biarkan meledak di udara.”
Ryong menganggukkan kepalanya. Dia paham, Thunderbolt adalah pesawat tempur jadul tinggalan Perang Dunia kedua. Apabila menggunakan mesin Sukhoi 27 yang dapat melesat melebihi kecepatan suara, maka badan pesawat itu akan hancur berantakan pada radius seratus kilometer saja.
__ADS_1
“Oke. Kalau begitu kita mulai mengerjakannya saat ini juga. Kita berpacu dengan waktu Ryong. Cepat atau lambat tentara pasti akan menemukan jejak kita,” ujar Pranaja.
Dibantu oleh Ryong dan kakek Kim mereka bekerja siang dan malam mewujudkan kapal selam impian agar dapat keluar dari negeri tiran tersebut. Dengan menggunakan kekuatan api biru yang sangat panas lewat tangan kanannya, dia menempelkan setiap lempengan besi dan pelat dengan dengan rapi.
“Wow!” seru kakek Kim dengan penuh rasa takjub.
Dia sampai tidak bisa berkata-kata. Seumur hidupnya yang sudah ratusan tahun dan selama malang melintang di dunia pendekar, baru kali ini dia melihat ada manusia bisa mengeluarkan api biru dari tangannya. Dia memiliki kekuatan warisan para dewa, batinnya.
Ren juga sibuk membuatkan makanan dan minuman untuk mereka. Sesekali dia menyuapkan makanan ke mulut Pranaja saat tangan pemuda itu belepotan minyak dan oli hitam.
Seiring waktu kebersamaan, hati mereka semakin bertaut. Ren sudah tidak canggung lagi menertawakan wajah Pranaja yang belepotan, lalu membersihkannya dengan hati-hati.
“Hem!” Ryong terbatuk. “Wajah kakak juga belepotan nih.”
Ren tersenyum malu. Lalu menggeser tubuhnya untuk membersihkan wajah kakaknya. Pranaja jadi kesal melihat ulah nakal Ryong yang sok usil itu. Begitu Ren masuk kembali ke dalam, dia segera mengambil kain kotor dan menyapukannya ke wajah Ryong.
Tentu saja Ryong menjadi marah. Wajahnya terlihat kesal sambil berteriak-teriak ke arah Pranaja. Kakek Kim ikut tertawa melihat tingkah polah mereka.
***
Pranaja, Ryong, kakek Kim dan Ren berdiri mematung di depan benda besar yang tertutup kain hitam. Wajah mereka menunjukkan kepuasan dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Mata mereka sampai tak berkedip seolah tak percaya dengan apa yang ada di depan penglihatan mereka.
“Pimpin doa dulu kakek,” ujar Pranaja tanpa mengalihkan pandangannya.
Kakek Kim maju selangkah ke depan. Dia menyalakan dua batang hio, kemudian berjalan memutari benda itu sambil bersenandung. Melantunkan puja dan puji kepada para dewa yang Agung. Agar selalu diberikan keselamatan dan kelancaran dan melaksanakan rencana mereka.
Pranaja melirik wajah Ren yang tertunduk sambil memejamkan matanya, tenggelam dalam doa yang panjang. Wajah gadis itu begitu teduh dan menentramkan.
__ADS_1
“Aku akan menjagamu Ren, dengan segenap hati dan jiwaku,” batinnya.
Seperti mendengar kata hati Pranaja, Ren membuka matanya. Lalu menatap wajah Pemuda imut itu dalam-dalam. Inilah petualanganku yang paling indah Ren, batin Pranaja lagi. Saat mataku dan matamu saling bertemu, menyapa dalam bahasa cinta. Tidak ada keraguan yang terpateri, kecuali rasa untuk saling memiliki.
Ren memejamkan matanya kembali, meneruskan doanya. Kali ini bahkan lebih khusyuk lagi.
‘Aku tidak ingin ini menjadi perjalanan terakhirku, Tuhan. Berikanlah jalan agar aku selalu bisa menghabiskan waktu bersamanya,’ batinnya. Hanya ada satu wajah yang bermain di layar imajinya, dan itu adalah wajah Rich Pranaja.
“Bukalah layar penutup itu Pranaja,” kata kakek seusai berdoa.
Pranaja maju kedepan. Membuka tali pengikat kain itu, kemudian menariknya ke bawah.
“Bismillahirokhmanirokhim,” ucapnya mantap.
‘Sreed!’
Kain penutup itu terjun ke bawah. Terlihatlah kapal selam ‘darurat’ buatan mereka semua. Ada tulisan ‘PREN’ pada badan pesawat Tunderbolt itu.
“Kok ada tulisan PREN?” tanya Ryong curiga.
“Kan singkatan Pranaja Ryong until the end,” kilah Pranaja.
Ryong menatap wajah jahil Pranaja dengan tatapan tak percaya. Namun dia diam saja. Pranaja terkekeh dalam hati. Padahal PREN itu singkatan Pranaja dan Ren. Kkk…
“Jadi kapan kalian akan berangkat?” tanya kakek Kim. “Aku pikir, lebih cepat akan lebih baik untuk keselamatan kalian.”
Pranaja menatap wajah Ryong.
“Rencananya kita akan berangkat besok malam kakek,” kata Ryong.
“Aku akan membereskan barang-barang kakek,” ujar Ren.
Kakek Kim menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu. Aku akan tetap disini.”
“Hah?” kata Pranaja dan Ryong bertiga hampir bersamaan.
Ren terhenyak.
“Apa maksud kakek?” tanya Pranaja.
__ADS_1
Mereka memandang wajah kakek Kim dalam-dalam. Kakek hanya tersenyum. Wajahnya terlihat tenang, penuh kepasrahan.
Dalam usianya yang sudah sangat renta, apalagi yang dimilikinya? Kecuali rasa cinta kepada tanah air yang pernah di perjuangkannya, Negeri Korea.