
EPS 137 SENANDUNG POHON CINTA
Pranaja mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216-nya. Terasa ada hawa sejuk yang memasuki pori-porinya, dan langsung masuk ke dalam pembuluh darahnya dan seluruh sel di dalam tubuhnya. Memberinya energi yang berlipat, juga dengan kekuatan inderanya. Dengan kekuatan matanya dia dapat membesarkan obyek yang kecil nampak sepuluh kali lipat lebih besar.
Di titik yang begitu jauh di tengah lahan kosong di Megapolitan City yang terbentang hingga garis cakrawala, Pranaja melihat ada sesuatu yang meliuk-liuk tertiup angin. Seperti binatang yang sangat kecil yang terombang-ambing dipermainkan ombak di tengah lautan. Angin yang berhembus kencang tanpa terhalang pepohonan membuat debu dan asap beterbangan ke udara.
Pranaja menajamkan indera penglihatannya. Semakin lama semakin jelas benda apa yang menarik perhatiannya itu. Rupanya benda itu adalah sebatang pohon yang masih berdiri kokoh, tinggi menjulang di tengah ribuan hektar lahan Megapolitan yang belum tersentuh pembangunan.
“Pohon apa itu? Kenapa pohon itu masih berdiri kokoh, padahal pepohonan lainnya sudah habis di tebang?” batinnya.
Pranaja langsung turun dari kendaraannya lalu berdiri di belakang bak truknya. Pohon itu semakin jelas terlihat di matanya.
“Hah? Itu kan pohon jambu air?” batinnya.
Instingnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi dengan pohon itu.
‘Hm, aku harus menyelidikinya,’ katanya dalam hati.
Baru saja dia akan melangkahkan kakinya, mendadak telinganya yang tajam mendengar suara langkah kaki sedang mendekat ke arah truknya. Dengan kecepatan super, dia langsung balik lagi masuk ke dalam kendaraannya. Lalu pura-pura tidur di balik kursi joknya.
“Hem!” terdengar suara batuk. “Pranaja!”
Pranaja langsung terbangun. Pura-pura menggeliat sambil menguap. Lalu kepalnya muncul dari balik tempat duduknya. Melihat seorang petugas keamanan berdiri di samping kendaraannya. Hm, rupanya petugas yang tadi memeriksa muatannya. Ada emblem nama di baju seragam yang di pakainya, Rokhman.
“Siap! Ada apa pak?”
“Kamu boleh membongkar muatanmu sekarang. Rupanya batu alam yang kau bawa akan langsung di pasang hari ini juga.”
“Siap pak!”
“Ah, kamu mirip tentara saja, Supir ya supir! Biasa saja kali, tidak usah lebay! Panggil aku Rokhman”
Pranaja nyengir kuda.
“Sia..eh, ya pak Rokhman.”
“Gak pakai pak! Aku masih single.”
“Owh!”
“Jangan berpikir tidak ada perempuan yang menyukaiku lo ya?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak pak. Apalagi anda ganteng.”
Rokhman tersenyum simpul. Wajahnya sedikit merona.
“Aku membujang tuh karena bingung memilih gadis-gadis yang mengejar-ngejarku.” ujar Rohman sambil membuka pintu samping, lalu melompat masuk dan duduk disebelah Pranaja.
“Kamu supir baru kan? Ayo, aku tunjukkan jalannya!”
Pranaja langsung menghidupkan kendaraannya. Suara mesin yang begitu halus membuat Rokhman terkagum-kagum.
“Wah, mobilmu baru Pranaja?”
“Milik perusahaan.”
Rokhman tertawa.
“Iya aku tahu. Tentu saja milik perusahaan. Supir miskin kayak kamu mana mampu beli truk canggih begini.”
Pranaja menganggukkan kepalanya sambil tersenyum masam. Walaupun hatinya senang. Semakin orang merendahkannya, semakin bagus. Berarti penyamarannya berhasil mengelabui mereka.
“Eh, ini kemana lagi pak?” tanya Pranaja saat sampai di persimpangan jalan.
“Belok ke kanan. Kita akan bongkar muatanmu di titik koordinat sepuluh.”
Rokhman tersenyum semakin melecehkan.
“Kau belum pernah bekerja di perusahaan milik pak Subrata ya? Pantes, dasar udik.”
Lagi-lagi Pranaja tersenyum kecut.
“Berapa sih luas wilayah proyek ini pak?”
“Luas lahan Megapolitan City itu sepuluh ribu hektar, yang terbagi dalam seratus titik koordinat. Artinya satu titik koordinat itu luasnya sekitar seratus hektar.”
“Astaga!” Pranaja memasang wajah takjub, mulutnya sampai terbuka. “Luar biasa!”
Rokhman semakin bangga. Ternyata masih ada orang yang lebih songong daripada aku, bisiknya sambil melirik Pranaja. Wajahnya ganteng, penampilannya keren tapi otak nol.
“Titik koordinat sepuluh merupakan lokasi kantor pusat Megapolitan City.”
Mereka mulai memasuki kawasan yang sudah dibangun. Gedung-gedung pencakar langit mulai nampak di kanan dan kiri mereka. Mobil-mobil proyek yang tadi sempat berpapasan dengannya sudah tidak ada. Berganti dengan mobil-mobil mewah milik para karyawan, petinggi-petinggi Megapolitan, para investor dan kendaraan militer.
“Banyak tentara juga? Untuk apa?”
__ADS_1
“Mereka adalah tentara bayaran. Tentara profesional yang didatangkan dari berbagai belahan dunia. Hasil didikan Kolonel Blade Muller, komandan SAS atau pasukan khusus Inggris.”
Pranaja mengernyitkan dahinya.
“Memang situasinya gawat di sini pak?”
“Tidak. Tapi pak Subrata selalu ingin yang terbaik untuk setiap proyeknya. Hingga tentara bayaran terbaik didatangkan dengan kontrak mahal untuk bekerja disini.”
“Sejak kapan?”
Rokhman terdiam, seperti mengingat sesuatu.
“Sekitar tiga bulan yang lalu. Pada awalnya mereka didatangkan untuk mengamankan penebangan sebuah pohon keramat di tengah wilayah hunian Megapolitan Clusters.”
“Pohon Keramat?”
Rokhman menganggukkan kepalanya. Tubuhnya seperti bergetar san wajahnya nampak ketakutan saat menyebut pohon itu.
“Ya. Sebuah pohon jambu air yang sampai saat ini tidak ada siapapun yang sanggup menebangnya.”
“Owh ya?” kali ini Pranaja terhenyak betulan.
“Kabarnya…”
Rokhman berhenti bicara, Tiba-tiba seluruh bulu kudunya seperti meremang semua.
“Bagaimana?” tanya Pranaja lagi.
“Kabarnya pohon itu milik sepasang kekasih yang meninggal limaratus tahun yang lalu. Dan jazad mereka masih utuh, terkubur di bawah pohon itu. Kekuatan mereka lah yang membuat pohon itu tidak bisa ditebang,” sahut Rokhman.
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia yakin pohon yang di maksud Rokhman adalah pohon jambu air yang tadi dilihatnya. Berdiri kokoh, tinggi menjulang dan tak tumbang walau diterjang hembusan angin yang begitu dahsyat. Pertanyaannya, benarkah ada jazad sepasang kekasih yang memberikan kekuatan hidup pada pohon itu? Lalu kekuatan apa itu? Dan siapa mereka sebenarnya?
***
Malam tersedia tanpa bulan dan bintang. Gelap menyelimuti bentang alam ribuan hektar lahan yang sudah dikosongkan di titik koordinat limapuluh Megapolitan City. Sebatang pohon jambu air berdiri gagah menusuk langit.
Ditengah gelapnya malam, terlihat pohon itu bercahaya. Dan Pranaja dapat mendengar rintihannya. Syair kemarahan penuh dendam dan tekad kuat untuk melawan takdir yang telah memberikan ketidak adilan pada sepasang kekasih. Saat mereka mengira kebahagiaan telah datang setelah penderitaan panjang, namun ternyata maut malah memisahkan mereka.
“Tidak akan ada yang mampu melawan cinta kita kakang. Aku akan melawan takdir ini. Biarkan Dewata tahu bahwa cinta kita tidak akan pernah berakhir. Cinta kita akan menjadi kisah legenda sebagai cinta yang tidak berujung,”
Lalu terdengar suara perempuan mulai bersenandung menyanyikan tembang Asmarandhana. Suaranya begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Perlahan suaranya semakin lirih dan menghilang.
Dan di depan pohon itu, Pranaja meneteskan air matanya.
__ADS_1