RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 99 KEGALAUAN PRANAJA


__ADS_3

EPS 99 KEGALAUAN PRANAJA


Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh semak dan duri kehidupan.



Pranaja berdiri tegak. Matanya menatap tajam wajah M, perempuan tangguh yang selalu dikaguminya itu. Tapi kali ini dia ingin menentangnya, walaupun dia tahu itu adalah tindakan sia-sia. Karena M terlalu tangguh untuk dilawan oleh siapapun, bahkan dengan kekuatan Tirtanala dan Geni Sawiji.



“Jangan pernah berpikir kau bisa mengurungku disini M,” ujar Pranaja geram.


M memandangnya dengan wajah dingin.


“Memangnya apa yang bisa kau lakukan anak muda?”


“Dengan mudah aku bisa menghancurkan tempat ini.”



M terdiam. Membalas tatapan Pranaja. Beberapa saat mereka membeku dalam bisu. Lalu M membalikkan tubuhnya dan beranjak dari ruangan itu.


“Dengan mudah juga aku akan menghancurkan hidup Ren,” ucapnya.



Apa? Pranaja terhenyak. M tahu tetang Ren?


“Apa yang kau ketahui dari gadis itu M?”


“Aku tahu dengan detail semua tentang gadis itu. Aku juga tahu isi hati dan pikiranmu. Karena aku bisa membacanya.”


Bug!


Pranaja merasa seperti berlari cepat lalu menabrak tembok batu yang sangat kokoh. Meluruhkan seluruh daya kekuatannya dan menghancur leburkan egonya. Sementara M terus berjalan tanpa mempedulikannya. Pranaja menundukkan kepalanya, mengatur nafasnya yang memburu dengan cepat. Betapa menahan kemarahan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Ren! Nama itu begitu menggema di dalam jiwanya.


“Baik M. Aku tidak akan menghancurkan tempat ini!” teriaknya.


Tapi M terus berjalan seolah tidak mendengar kata-katanya.


“Aku akan menebus semua kesalahanku!” teriak Pranaja lagi.



Lagi-lagi M tidak mempedulikan teriakannya. Langkah kakinya bahkan semakin cepat hendak meninggalkan ruangan itu. Saat mencapai pintu, tangannya segera membukanya. Dan Pranaja berteriak lebih keras lagi. Meluapkan seluruh emosi di dalam hatinya. Damn! Aku akan mengatakannya Ren!



Kriyeet!



“Aku bersedia kembali menjadi Agen 009!”



Lalu suasana menjadi sepi. M menghentikan langkahnya, namun belum memberikan respon apapun. Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya. Rupanya dia benar-benar dipaksa untuk menyerah. M begitu perkasa dan cerdik mempermainkan perasaannya.

__ADS_1



“Maafkan aku M. Aku bersedia menjadi Agen 009 kembali,” ulangnya parau.



Nada suaranya menurun tidak lagi menunjukkan kemarahan, tapi lebih terdengar sebagai keprasahan. M membalikkan tubuhnya, lalu berjalan kembali menghampiri Pranaja. Dia memberi isyarat agar ruangan fiberglass yang mengurung tubuh Pranaja supaya dibuka. Di tempat dimana tadi dia berdiri, perempuan tangguh itu berhenti. Menatap Pranaja dengan wajah datar, tanpa ekspresi apapun.



“Apa yang kau inginkan?”


“Pertemukan aku dengan Ren!”



Kali ini baru M tersenyum. Namun terlihat begitu sinis. Heh! Lagi-lagi masalah cinta. Dasar anak muda bermental lemah. Memiliki kemampuan setinggi langit, tapi hatinya dilemahkan oleh cinta. Aku bahkan tidak mengerti mengapa orang saling jatuh cinta, tapi kemudian menjadi lemah dan penuh air mata. Bullshit! batin M.



“Aku akan memenuhi permintaanmu, tapi tidak sekarang,” kata M.


“Apa!? Pranaja terkesiap. “Apa maksudmu M?”



M berjalan mendekatinya. Pranaja mendiamkannya. Dia tidak mau pura-pura bermuka manis di hadalam M.



“Menurut hukum Korea Selatan, setiap warga Korea Utara adalah juga merupakan warga Korea Selatan. Tapi sebelum itu mereka harus melewati serangkaian prosedur yang rumit dan panjang,” ujar M.




“Apa itu M?”


“Karena Ryong adalah perwira militer, dia dan adiknya akan dinvestigasi selama tiga bulan. Kalau invetigasinya menyatakan dia bersih, maksudku tidak membahayakan secara ideologis, maka mereka akan di karantina. Mereka akan mengalami proses assimilasi paling tidak selama dua tahun. Lalu diberi pelatihan, dan prosedur administrasi pengalihan kewarganegaraan yang rumit. Itu bahkan memakan waktu sampai tiga tahun.”



Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Assimilasi adalah proses perubahan pola kebudayaan untuk mengikuti negara yang akan diajukan kewarganegaraannya. Setelah memahami budaya, bahasa dan tradisi masyarakatnya, barulah mereka boleh mengajukan perubahan kewarganegaraan.



“Dan selama itu pula mereka tidak boleh berhubungan dengan orang asing sekalipun.”


“Apa? Bagaimana mungkin M?”


M tidak menjawab pertanyaan Pranaja. Malah berbalik dan beranjak pergi.



“Pergilah ke kamarmu. Baju pelindungmu ada di sana.”


__ADS_1


Pranaja masih duduk terdiam. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Pikirannya begitu kacau, apalagi perasaannya. Kekhawatirannya akan nasib Ren begitu besar. Mungkin benar kata M, Pranaja yang sehari-hari selalu gembira dan begitu tangguh, kali ini harus merasakan terkulai lemah karena cinta…


***


“CULAAAA!!!”


Suara itu begitu melengking menyakitkan telinga. menggema di lorong-lorong gedung Secret Intelligent Service atau M16. Semua orang tekejut dan terhenyak sesaat. Bahkan kucing Balkan yang biasanya hanya terpekur diam diatas pembaringannya yang hangat pun ikut tersentak kaget. Kemudian memilih pergi saat melihat siapa yang datang dari kejauhan.



Miracle berlari cepat sekali dari ujung koridor gedung Biru, begitu melihat Pranaja turun dari mobil pengawal yang mengantarnya. Tangannya di kembangkan ke kanan dan ke kiri. Wajahnya begitu bersemangat, seolah baru saja menemukan pujaan hatinya yang telah lama pergi menghilang dan tiba-tiba datang.



“Culaaa!” teriaknya sekali lagi sambil melompat.



“Hup!”



Dengan sigap Pranaja menangkap tubuh Miracle. Badannya yang cungkring sama sekali tidak terdorong oleh tubuh gadis itu. Miracle memeluknya begitu erat tubuh pemuda yang selalu bersemayam di dalam hatinya. Pranaja juga membalas pelukannya. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin memeluk seseorang. Mungkin untuk melepaskan kepenatan hatinya. Bahkan dia mencium rambut blonde itu begitu dalam.



“Mmmhhh..” desahnya sambil melepaskan nafas panjang.



Miracle terhenyak. Baru kali ini Pranaja memeluknya dengan penuh perasaan. Bahkan mencium rambutnya segala. Apakah Pranaja merindukanku juga? Batinnya.



“Rupanya kau juga sedang merasakan rindu yang sama, Cula?”



Pranaja tidak menjawab pertanyaan gadis blonde itu. Dia malah mencium rambutnya lebih dalam lagi. Tubuh Miracle langsung bergetar hebat. Perlahan ada titik bening yang mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa bahagia langsung menggerayangi hatinya. Padahal Pranaja sedang membayangkan wajah Ren.



Miracle membenamkan wajah cantiknya di dada Pranaja. Pelukannya semakin erat, seolah tidak mau melepaskan tubuh pemuda itu. Rasanya rindu yang dia simpan di dalam hatinya selama berminggu-minggu terbayar sudah. Tak disangka, ternyata Pranaja juga menyimpam rasa rindu kepadanya.



“Miracle, bagaimana keadaanmu?”



Terakhir mereka bertemu saat memadamkan api pemberontakan pimpinan Jenderal Xialuai Khan di Mongolia.



“Aku baik-baik saja Cula,” ujar Miracle.


__ADS_1


Meskipun merasa senang, tapi sikap Pranaja menumbulkan tanda tanya di hati gadis blonde itu. Pranaja begitu pendiam dan tidak jail lagi. Biasanya pemuda itu memanggilnya Bunting alias Bule Sinting. Tapi kali ini dia langsung menyebut namanya, dengan nada yang begitu dingin dan lembut. Apa yang terjadi denganmu Cula?


__ADS_2