RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 116 PUTERI RAJA ZHRA


__ADS_3

EPS 116 PUTERI RAJA ZHRA


Socrota adalah pulau terakhir peninggalan para dewa. Letaknya di ujung tanduk benua hitam. Karena itulah segala makhluk yang hidup dan berkembang di pulau ini berbeda dengan pulau lainnya. Disamping Mentimun raksasa atau Dendrosicyous Socrotana, Dorstenia Gigas dan Adenium Obesum, ada juga tanaman aneh lainnya yang hanya tumbuh di Socrotana. Aloe Perryi adalah tumbuhan lidah buaya tanaman warisan Dewa Penyembuh yang sangat berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit.



“Hmmhh..” perlahan tubuh Amita menggeliat lalu matanya mulai terbuka.



Ada sinar biru yang mengerjap. Bola matanya berputar menatap langit Socrota. Sesaat dia terhenyak. Rasanya dia tidak berada di tanah Merkurius. Bola matanya kembali berputar, menatap langit gelap di atasnya. Matahari yang semerah darah, begitu kecil, jauh dengan bola matahari di tanah Merkurius yang empat kali lebih besar. Jelas dia tidak berada di rumahnya sendiri.


”Dimana aku?” bisiknya.


Lalu perlahan dia bangkit dari pembaringannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang kakek sedang duduk menatapnya.



“Siapa kakek?” tanya Amita. Aneh, tubuhnya terasa sangat segar.


“Aku Praxima Shamtex.”



Hah? Praxima Shamtex, si penyihir Yang Agung? Mulut Amita terbuka, tak menyangka dia bertemu sosok pelindung Kerajaan Bumi yang termasyhur itu.



“Maksudmu kau adalah Shamtex Penyihir Yang Agung?” Amita bertanya untuk memastikan.



Sang Penyihir Agung itu menganggukkan kepalanya. Amita menjadi sungkan. Tapi bagaimana ceritanya dia ada di tempat asing ini. Padahal tadi dia sedang melindungi Pranaja dari serangan anak buahnya sendiri. Apa dia sedang bermimpi? Lalu dia mengusap-usap matanya. Setelah itu memandang Shamtex penuh tanya.



“Apa yang terjadi orang tua?”


“Ceritanya panjang. Nanti aku akan menceriterakannya padamu.”


Amita mengernyitkan keningnya. Dia semakin bingung dengan jawaban Shamtex.


“Lalu kenapa aku ada disini?”


Shamtex tersenyum. Semakin bingung wajah Amita, semakin kesal hatinya.

__ADS_1



“Mereka yang yang membawamu kesini.”


Shamtex mendongakkan kepalanya, menunjukkan kalau di belakang Amita ada Pranaja dan Wyona. Dengan cepat Amita menengok ke belakang. Amita terhenyak.


“Hah? Pranaja?” tanya Amita dengan suara tertahan.


Bola matanya membesar, wajahnya terlihat begitu gembira. Apalagi terlihat Pranaja baik-baik saja. Dia langsung membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya meraba kepala dan seluruh tubuh pemuda yang telah menawan hatinya itu.


“Kau baik-baik saja Pranaja? Tidak terluka kan? Apa ada darah yang mengalir? Mana bagian tubuhmu yang sakit, biar aku periksa,” ucapnya bertubi-tubi,


Pranaja tidak langsung menjawab pertanyaan Amita. Dia merasa risih dengan tangan Amita yang mengerayangi tubuhnya. Wyona memandangnya dengan tatapan jengkel. Andai saja tidak ada kakek Shamtex, ingin rasanya memarahi gadis itu.


“Namamu Amita kan? Puteri Abroha?” tanya peri itu ketus.


Amita diam saja, sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan Wyona.


“Ehm..Amita, k..kau di tanya, apa ayahmu bernama Abroha?” tanya Pranaja.


Amita menganggukkan kepalanya. Rasanya senang mendengar Pranaja menyebut nama ayahnya. Apakah Ayah yang mengijinkan Pranaja membawanya ke tempat aneh ini?


“Apa kau mengenal ayahku, Pranaja?”


Pranaja menggelengkan kepalanya..


Pranaja menggeleng lagi. Wyona semakin tidak suka dengan sikap Amita yang sok manja itu.


Huh! Hrrrmgh..keretek! giginya sampai berbunyi saking mangkelnya.


“Lalu apa tujuannya kau membawaku kemari?” tanya Amita.


Kedua tangannya sekarang memegang kedua pipi Pranaja, dan menghadapkan wajah pemuda itu ke wajahnya sendiri. Wyona tidak bisa menahan diri lagi. Untunglah dia seorang peri, sehingga tidak bisa mengumpat dengan bahasa yang kasar atau main kekerasan.


“Kau tadi terluka parah. Lalu dibawa Spot kemari untuk disembuhkan!” ucap Wyona. “Lepaskan kedua tanganmu! Apa kau tidak merasa malu dilihat banyak orang?”


Kali ini Amita mendengarkan kata-kata Wyona. Dia langsung menatap tajam peri cantik itu.


“Malu? Kau sendiri tidak tahu malu. Memeluk Pranaja di depanku sambil mengaku sebagai kekasihnya,” ucapnya sengit.


“Aku memang kekasihnya. Takdirku adalah bersamanya. Sedangkan kau? Pura-pura sayang padahal anak buahmu hampir membunuhnya!” Wyona langsung menohok.


Amita terhenyak. Ditatapnya wajah Pranaja dalam-dalam, seolah menunjukkan rasa penyesalannya.


“Itu diluar kendaliku. Mereka bergerak sendiri tanpa aku perintahkan,” sahut Amita.

__ADS_1


Terdengar nada suaranya merendah, takut Pranaja menyalahkannya.


“Kalau bagitu berterima kasihlah kepada semua orang. Setelah itu pergilah dari sini. Pulang ke rumahmu sendiri. Pasti ayahmu sedang gelisah menunggumu,” kata Wyona.


Wyona masih menatap Pranaja, berharap pemuda itu membantah kata-kata Wyona dan mempertahankannya. Tapi pemuda itu malah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Hadewh, pusing pala barbie, batin Pranaja. Mau bela Amita, pasti Wyona tambah ngamuknya. Mau bela Wyona, nanti Amita minggat. Padahal dia belum tahu jalan pulang.


Wadduh, kakek. Jangan diam saja dong? Batinnya menjerit. (hehehe…salah sendiri ganteng).


“Hem!” Shamtek pura-pura batuk.


Amita langsung memperbaiki sikap duduknya. Wyona menundukkan kepala.


“Amita tidak akan pulang ke Merkurius. Dia adalah manusia bumi.”


Apa? Kata-kata Shamtek bagaikan petir di siang bolong. Mata Amita bahkan terlihat melotot menatap wajah Shamtek.


“Apa maksudmu orang tua?” tanya Amita.


“Maksudku jelas. Kau adalah manusia bumi, jadi rumahmu disini.” ujar Shamtek lagi.


“Rumahku disisni?” tanya Amita dengan bibir bergetar. “Kau lupa kalau aku puteri raja Merkurius, Abroha?”


Shamtek tersenyum lembut.


“Abroha itu robot berwujud manusia. Dia tidak mungkin memiliki anak.”


Kali ini Amita tidak mampu berkata-kata. Tubuhnya nampak bergetar hebat. Satu sisi dia menerima kebenaran Shamtek, kalau ayahnya memang robot berujud manusia. Sisi lainnya tidak bisa menafikkan bahwa Abroha adalah ayah yang sangat dicintai dan juga mencintainya sebagai puteri tunggalnya.


“Aku tadi melihat ada sinar biru yang mengerjap dari kedua matamu. Hanya keturunan raja kerajaan Bumi yang memiliki kemampuan seperti itu. Kau adalah puteri raja Zhra yang di culik Abroha limabelas tahun yang lalu. Saat itu kau sedang merayakan hari ulang tahunmu yang ketiga. Saat pasukan Abroha dengan licik menyergap, lalu membunuh raja Zhra dan isterinya, dan membawamu ke kerajaan Merkurius.”


“Be..benarkah ceritamu Shamtek?” tanya Amita.


Shamtek menganggukkan kepalanya.


“Aku yakin kau adalah puteri raja Zhra yang diculik Abroha. Sejak ayahmu meninggal, aku yang menggantikan kewajibannya melindungi kerajaan Bumi. Kini saatnya kau menggantikan aku untuk memimpin kerajaan Bumi.”


Amita langsung limbung. Tubuhnya menggelosoh jatuh terduduk. Terjadi pertarungan batin yang hebat di dalam hatinya. Jadi selama ini orang yang menyayangi dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang adalah orang yang telah membunuh kedua orang tuanya? Tanpa terasa air matanya menetes, membasahi kedua pipinya.


“Bangkitlah Amita. Kau adalah keturunan Zhra, pemimpin besar kerajaan Bumi. Sebentar lagi kau akan menerima mandat untuk memimpin rakyat kerajaan Bumi yang masih terjebak dalam lapisan es. Mereka bisa bertahan karena kekuatan sihirku,” ujar Shamtek.


“A..apa yang harus aku lakukan orang tua?”


“Kita kembali ke jaman es. Kalian selesaikan masalah kalian dengan Abroha. Aku yakin, pasti dia akan menyerbu kerajaan Bumi untuk membebaskan puterinya.”

__ADS_1


Amita langsung menggelengkan kepala. Bukan…Abroha bukanlah ayahku. Dan aku bukan puterinya Dia adalah musuh yang harus aku lenyapkan dengan kedua tanganku sendiri.


__ADS_2