RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 86 MQ-9 REAPER


__ADS_3

EPS 86 MQ-9 REAPER


Rasa kagum dan takut bercampur menjadi satu. Membuat mereka ragu untuk bertindak. Padalah tubuh Pranaja sekarang berada di ruang terbuka. Mudah sekali menjadi sasaran tembak senjata-senjata mereka yang canggih. Sampai kemudian terdengar peluru-peluru ditembakkan dari udara dan berseliweran di atas kepala mereka.



“Suiit…! Ssshhh…! Shiuuttt…!”


Para tentara bayaran itu langsung mengarahkan pandangannya ke atas. Beberapa pesawat tanpa awak bermunculan dari barbagai tempat. Mereka mengarahkan serangannya ke arah Pranaja yang masih berdiri tegak di tengah tanah terbuka. Pemuda itu langsung mengenalinya, satu skuadron tempur pesawat nirawak atau drone seri MQ-9 Reaper.


Melihat kedatangan pesawat-pesawat Nirawak itu, pasukan bayaran yang masih bersembunyi di dalam hutan bersorak. Keberanian mereka bangkit kembali. Dengan perlindungan dari udara, mereka yakin mereka mampu mengalahkan pendekar muda itu. Secara serentak prajurit-prajurit professional itu mengarahkan senjata serbunya ke arah Pranaja. Ratusan peluru dari senapan AK 47 itu memburu pergerakan pemuda itu.


“Siaap! Tembak!” teriak komandan pasukan.


“Tatatatatatata…!”


Pranaja malah bergeak maju. Tubuhnya berlari dengan kecepatan tinggi demgan langkah zig zag. Meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri, membentuk lingkaran atau melompat-lompat bagaikan seeokor rusa menghindari predatornya. Namun peluru-peluru itu terus saja mengurungnya. Bibirnya bergerak gerak merapal doa matek ajian Lembu Sekilan.


“Niat ingsun matek aji Lembu Sekilan, tak sabetaken gunung gugur, tak sabetaken bumi mbledag, lir ing sambekala.”


Ada kekuatan tersembunyi yang menyelubungi tubuhnya, bagaikan perisai. Senjata apapun tak akan sampai menyentuh kulitnya. Akan mental pada jarak limabelas sentimeter.


“Tang! Tang! Tang!”


Pesawat nirawak atau drone-drone itu pun menyerang dengan brutal. Mereka baru saja menembakkan peluru kendali AGM-114 Hellfire yang dilengkapi IR targeting sensor. Pada ujungnya yang lancip terdapat kamera kecil yang berfungsi seperti indera penglihatan. Rudal itu akan mengejar kemanapun targetnya bergerak sebelum meledakkannya.


“Suiit…! Ssshhh…! Shiuuttt…!”


Puluhan rudal bersensor ini seperti mengejar Pranaja.


“Kekuatan Geni Sawiji!” teriaknya sambil melompat cepat ke udara.


Tubuhnya langsung berubah menjadi gumpalan api biru yang meliuk-liuk diangkasa. Bagaikan seekor elang yang dikejar puluhan ekor burung camar, kemanapun dia bergerak.


“Suiit…! Ssshhh…! Shiuuttt…!”


Rudal-rudal itu terus mengejarnya tanpa lelah. Sensor target membuatnya dapat mendeteksi keberadaan musuhnya kemanapun dia lari. Di belakang rudal-rudal itu puluhan pesawat nirawak atau drone terus mengawalnya. Suasana sungguh menegangkan. Para tentara bayaran yang berada di bawah hanya bisa melotot takjub melihatnya. Tanpa terasa mulut-mulut mereka sampai terbuka.

__ADS_1


“Kejar terus!”


“Hajar!”


Pesawat tanpa awak atau drone jenis MQ-9 Reaper ini buatan General Atomics Aeronautical Systems, perusahaan AS yang memang memproduksi pesawat tanpa awak dan radar militer. Drone ini menjadi salah satu drone tercanggih yang dimiliki militer AS. Ukurannya hampir sebesar pesawat tempur dengan panjang sayapnya sekitar 20 meter. Hanya bobotnya yang jauh lebih ringan dibandingkan pesawat tempur tercanggih F35 milik Angkatan Udara Amerika.


MQ-9 Reaper memilik panjang 11 meter, tinggi 3,8 m. Drone ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal 482 km/jam dan kecepatan jelajah 313 km/jam. Persenjataannya bisa dimodifikasi berbagai jenis senjata. Pesawat ini dilengkapi dengan laser rangefinder dan synthetic aperture radar. MQ-9 dapat dibongkar pasang dan diangkut ke berbagai lokasi dengan mudah.


“Heya!”


Tiba-tiba tubuh Pranaja melesat tinggi ke udara, tegak lurus menuju batas atmosfer. Rudal-rudal itu serentak berbelok tegak lurus mengikutinya. Segumpal api biru itu terus melesat sampai hilang dari pandangan. Meninggalkan tanda tanya dan ketegangan baru di hati orang-orang yang melihatnya. Meninggalkan kebingungan diantara drone-drone yang terus berseliweran di udara.


“Heya!”


Mendadak gumpalan sinar biru itu muncul kembali dari balik awan. Rupanya Pranaja membuat gerakan melingkar di batas atmosfer. Lalu muncul kembali di belakang drone-drone itu. Melesat dengan kecepatan suara, diikuti puluhan rudal berdaya ledak tinggi. Drone-drone itu tidak sempat menghindar saat tubuh Pranaja menyusup terbang diantara mereka. Akibatnya fatal, rudal-rudal itu yang mengikutinya menghantam barisan drone itu.


Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum!


Drone-drone itu hancur berkeping-keping. Hanya beberapa yang selamat Sisanya masih mengejar Pranaja. Sebagian rudal juga masih terus membuntutinya. Tubuh Pranaja bermanuver lagi. Meliuk diudara, lalu terbang rendah menuju hutan dimana tentara bayaran itu bersembunyi. Tentara-tentara itu terlihat panik. Mereka terus menembakkan senjatanya ke arah sinar biru itu dan berloncatan kesana-kemari. Namun terlambat, saat sinar biru itu masuk ke hutan melewati mereka, rudal-rudal itu mengikutinya.


Bum! Bum! Bum! Bum! Bum!


***


Pranaja berhenti dan membalikkan tubuhnya. Lalu mengapung dan berdiri tegak diudara. Dibentangkannya kedua tangannya kesamping kanan dan kiri. Matanya terpejam, elemen panas dalam tubuhnya menyerap enegi api, masuk kedalam setiap serat baju T-Shield 313216 nya. Lalu kekuatan itu mengalir disetiap pembuluh kapiler dan urat-urat serabutnya. Seluruh tubuhnya nampak bersinar merah membara, lalu perlahan berubah menjadi biru dengan suhu panas yang semakin meningkat.


Kemudian pemuda itu memusatkan kekuatannya pada kedua tangannya. Perlahan energi api itu merambat ke ujung lengan kanannya. Membuatnya menjadi bersinar dari ujung telapak tangan sampai ke siku, begitu menyilaukan. Lalu dengan satu kali hentakan, tangannya memukul ke arah drone-drone yang masih menembakinya.


“Pukulan Api Biru!!” teriaknya.


Seketika gumpalan sinar berwarna biru melesat menuju sasaran, sebuah drone yang terbang paling depan. Suaranya keras mengguntur seperti badai hebat yang tengah mengamuk.



Wugwugwugwugwugwug!!!


BUMM!!

__ADS_1


Suara menggelegar menggetarkan angkasa raya, menghancurkan drone yang paing depan. Diikuti gelombang elektromagnetik dalam skala besar seperti gulungan ombak menyapu ke segala arah. Tiga buah drone yang tersisa langsung oleng dan berputar-putar kehilangan kendali, sebelum jatuh berdebum ke bumi. Salah satunya jatuh ke danau dimana Ryong bersembunyi.


Bum! Byur!


Suara menggelegar diikuti debuaran ombak setinggi puluhan meter menggetarkan alam sekitarnya. Burung-burung beterbangan, hewan-hewan disekitar danau pun berlarian.


“Ryong!” teriak Pranaja.


Dia segera turun ke danau, mencari keberadaan sahabatnya itu.


“Ryong!” teriak Pranaja kembali. “Ryong Bae!”


Pranaja berlari-lari kesana kemari dari pinggir danau. Wajahnya terlihat panik. Lalu...


Byuk...


Terdengar kecipak air. Pranaja menoleh, terlihat kepala Ryong muncul dari dalam air. Berenang ke pinggir danau, lalu berjalan menghampiri Pranaja. Tampaknya baik-baik saja.


“Kau baik-baik saja Ryong?”


Pemuda Korea itu menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum sambil mengelap air yang membasahi wajahnya.


“Kita periksa drone-drone itu Pranaja.”


“Kenapa?”


“Barangkali masih bisa dipakai.”


“Memangnya kau mau kemana?”


“Aku harus kembali ke Korea Utara.”


“Untuk apa?”


“Menyelamatkan keluargaku.”


Pranaja memandang wajah sahabatnya dalam-dalam. Nafasnya masih tersengal setelah pertempuran. Sementara angin senja berkesiur lembut, menerbangkan anak-anak rambutnya yang tergerai ke ujung hidungnya.

__ADS_1


Pertempuran belum selesai brother!


__ADS_2