
DEWA API
Selama lima hari menjelang Purnama, Panembahan Mbah Iro menggembleng Pranaja tentang pengetahuan isi kitab Irodarsulasikin, sebagai bekal yang harus dikuasai oleh Trah Somawangi. Nilai-nilai luhur yang mengajarkan tentang keseimbangan alam untuk mengatur keseimbangan hidup itu ditanamkan sedikit demi sedikit ke dalam jiwa Pranaja. Rupanya Panembahan Mbah Iro benar-benar ingin mempersiapkan Pranaja sebagai calon pemimpin Trah Somawangi.
Dia juga mengajak Pranaja berbaur dengan kehidupan warga Dukuh Somawangi. Mempelajari cara bersosialisasi dan interaksi antar warga, serta cara hidup mereka. Bagaimana mengolah tanah agar siap menjadi lahan yang subur. Menangkap ikan hanya di perbolehkan setiap hari Ahad, dan dilakukan bersama, sehingga tidak merusak ekosistem sungai.
“Kenapa di setiap rumah tidak dibuatkan pintu belakang Kek?” tanya Pranaja waktu melihat rumah-rumah di Dukuh Somawangi hanya ada dua pintu yang berdampingan tapi tidak sejajar.
“Tidak boleh ada dua pintu yang arahnya berlawanan, misalkan pintu depan dan pintu belakang, karena itu akan menghambat datangnya keberuntungan,” sahut Panembahan.
Pranaja menganggukkan kepalanya. Menarik juga untuk bahan studi. Nanti akan aku ceritakan sama teman-teman yang suka antropologi, batinnya.
Kedatangan Pranaja juga menarik perhatian gadis-gadis muda yang mulai berbisik-bisik melihat wajahnya yang imut dan murah senyum itu. Diam-diam mereka sering berkumpul dibalik jendela dan membicarakan dirinya saat dia lewat di depan rumah mereka.
“Mas Pranaja imut banget ya,” bisik mereka sambil mengintip lewat lubang kayu rumahnya.
“Iya. Baru pernah lihat pemuda setampan dia. Udah tinggi, kulitnya putih, pintar berkelahi lagi. Aku mau sih jadi isterinya?” sahut gadis satunya.
“Eh, kamu kan sudah punya kang Diro, calon suami kamu. Mau diapain dia?”
“Kalau mas Pranaja mau sama aku, mas Dironya aku buang ke laut aja.”
__ADS_1
Kekekekek…mereka tertawa tertahan.
***
Tiga hari menjelang Purnama mereka memulai perjalanan Sunyi. Melewati perbukitan dan pegunungan yang sekarang lebih terbuka. Banyak pepohonan yang telah ditebang, dan jalanan mulus yang memudahkan mereka cepat mencapai tujuan.
Malam pertama mereka menginap di bawah bukit Sipedang di puncak gunung Lawe. Bukit berupa batu kapur yang mencuat tegak lurus ke langit itu bagaikan pedang yang muncul dari dalam tanah gunung Lawe. Konon disinilah tempat tinggal Roro Lawe. Sayang di tempat ini sudah banyak coret-coretan anak muda yang datang berkunjung.
Paginya mereka berjalan lagi. Melewati hutan yang berisi barisan pohon Damar yang tumbuh teratur. Pohon Damar yang berusia ratusan tahun itu bahkan sampai berlumut. Konon mereka adalah jelmaan prajurit dari negeri kahyangan yang melakukan kesalahan, sehingga dikutuk menjadi pohon Damar. Banyak orang yang meyakini, saat terjadi purnama, pohon-pohon Damar itu akan berubah kembali menjadi pasukan negeri kahyangan dan bergerak ke dataran tinggi Dieng, negeri para Dewa.
“Kalau ada suara yang memanggil namamu, jangan menoleh atau menyahut,” kata Panembahan. “Kalau kau melakukannya, berarti perjalanan kita gagal.”
Pranaja menganggukkan kepalanya. Ditutupnya telinga dan mulutnya dengan kain. Lalu berjalan membuntuti langkah kaki Panembahan. Sampai mereka berhasil melewati hutan Damar dan sampai di Gua Hitam, di atas bukit Sedula. Di Gua inilah konon tempat tinggal Eyang Karangkobar, adik Panembahan Somawangi.
Seluruh permukaan gua dan bebatuannya berwarna hitam, seperti telah dibakar selama bertahun-tahun lamanya. Eyang Karangkobar memang di kenal juga dengan Dewa Api karena dia menguasai kekuatan api. Bahkan seluruh tubuhnya dapat berubah menjadi api yang sanggup membakar apapun yang dilewatinya.
Panembahan mengajak Pranaja memasuki gua itu. Keadaan gua sangatlah gelap karena tidak ada penerangan apapun. Panembahan Mbah Iro menggesekkan dua batu api yang banyak terdapat di gua itu untuk membakar seikat kayu kering.
“Srekk! Burr!”
“Kita melompat saja kakek,” ujar Pranaja.
Panembahan menggelengkan kepalanya.
“Kita tetap harus berjalan melewati jembatan gantung itu.”
Dengan langkah pelan mereka mulai berjalan diatas jembatan reyot itu. Entah sudah berapa ratus tahun usia jembatan gatung itu, kalau bukan karena kekuatan supranatural yang menyangganya, pasti jembatan itu sudah ambrol.
Setelah berhasil melewati jembatan itu, mereka masuk ke dalam sebuah ruangan. Nampak ada bekas rantai yang tertanam kuat di dalam dinding batu hitam itu.
“Berdirilah di tepat di depan rantai ini Pranaja dalam keadaan telanjang. Lepaskan semua bajumu!”perintah Panembahan.
Pranaja terperanjat.
“Apa! Maksudmu aku harus telanjang di depanmu kakek?”
“Iya” kata Panembahan.
__ADS_1
Sambil menengok ke kanan dan ke kiri, Pranaja mulai menanggalkan bajunya, sampai tidak ada lagi yang menutupi tubuhnya. Sementara Panembahan sibuk menautkan empat rantai yang di pasang berlawanan arah itu. Setelah bertaut menjadi satu, Panembahan duduk bersila dan mulai membaca doa-doa yang di pelajarinya dari kitab Irodarsulasikin tentang kekuatan Geni Sawiji dan Anugerah Mata Dewa.
Perlahan rantai-rantai itu mengeluarkan sinar berwarna biru muda. Mulai dari pangkalnya, terus merambat ke tengah tempat bertemunya keempat ujung rantai. Sinar itu mengumpul menjadi satu, membentuk bulatan yang semakin lama semakin besar. Lalu seperti ditembakkan, bola sinar itu melesat melabrak tubuh Pranaja yang berdiri telanjang.
“Akh!”
Pranaja menjerit saat gumpalan sinar biru muda itu menabrak tubuhnya. Tapi dia tidak merasakan apapun. Gumpalan sinar itu juga hilang, begitu menabrak tubuhnya.
Panembahan membuka matanya. Sementara Pranaja masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
“Sudah kek?” tanya Pranaja.
Panembahan menganggukkan kepalanya.
“Aku sudah boleh pakai bajuku kembali?”
Panembahan menganggukkan kepalanya kembali. Pranaja segera membungkuk mengambil pakaiannya. Tapi belum sempat meraih celananya, mendadak dari kedua tangan dan kakinya keluar api yang berkobar.
“What!”
Pranaja kaget bukan kepalang. Dia berusaha mengibas-ngibaskan api itu agar padam, tapi gagal. Api bahkan semakin besar membakar tubuhnya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki keluar api yang sangat panas. Anehnya, Pranaja tidak merasa kepanasan.
Tubuhnya berlari kesana kemari menabrak apa saja yang ada di depannya. Banyak batu-batu api yang bersebaran di tempat itu ikut terbakar.
“Loh Kakek! Apa yang terjadi kek!” teriaknya panik.
“Tenanglah Pranaja! Tarik nafasmu dalam-dalam, dan kendalikan apimu!” teriak Panembahan.
Pranaja berhenti berlari. Mengamati seluruh tubuhnya yang kini berselubung api, tapi dia tidak merasakan panasnya sama sekali.
“Itulah kekuatan Geni Sawiji, kekuatan inti api yang memang sudah tertanam dalam dirimu. Kendalikan hatimu, agar kau dapat mengendalikannya. Bila hatimu tenang, api itu akan padam dengan sendirinya.”
Pranaja berdiri tegak. Kedua tangannya di letakkan lurus di samping tubuhnya. Perlahan dia menarik nafas dalam-dalam, lalu di hembuskan perlahan. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Benar kata kakek, api yang membakar tubuhnya perlahan padam dan hilang sama sekali.
Pranaja girang sekali. Dia sampai melompat-lompat karena saking senangnya bisa menguasai kekuatan Geni Sawiji. Sampai Panembahan menegurnya.
“Kau jangan melompat-lompat begitu Pranaja. Pakai dulu bajumu…”
__ADS_1