RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 89 REN


__ADS_3

EPS 89 REN


Tanpa pikir panjang, Ryong naik ke punggung Pranaja. Kali ini dia tidak merasa malu dan tidak mau menggendong Pranaja lagi. Walaupun tubuhnya cungkring, namun berat tubuh Pranaja cukup membuat nafasnya menjadi sesak.


“Kau benar-benar bisa terbang seperti manusia super, Pran?”


“Tidak persis seperti itu sih. Kau rasakan sendiri nanti,” sahut Pranaja. “Pejamkan mata!”


Ryong memejamkan kedua matanya, tapi tidak benar-benar tertutup. Rupanya dia masih penasaran dengan kemampuan sahabatnya untuk terbang di udara.


“Wuss!”


Seperti angin tubuh Pranaja membawanya melayang dengan sangat cepat. Dengan ilmu ringan tubuh yang tinggi Pranaja menghentakkan kakinya, lalu melompat jauh. Beberapa meter kemudian tubuhnya turun kembali, kemudian kaki kanannya menapak di atas dedaunan Padi sebelum melompat lebih jauh lagi.


“Swiing!”


Ryong yang membuka sedikit matanya betul-betul terperanjat. Wajahnya menyiratkan rasa takut sekaligus mengagumi kemampuan Pranaja, Bagaimana tidak, pemuda itu hanya mengunakan pucuk hijau daun padi dengan salah satu kakinya sebagai pijakan, lalu terbang kembali menuju arah depan. Terlihat tanpa beban, padahal sambil menggendong dirinya.


Bagaikan burung malam, bayang-bayang mereka berkelebat cepat melintasi areal persawahan yang sangat luas. Hanya meninggalkan jejak pada rumpun-rumpun batang padi yang bergerak ringan. Melewati sungai, padang rumput dan hutan kecil. Menembus dinginnya udara malam yang berhembus dari deretan pegunungan Changbai di arah selatan desa Congrae.


Sampai di sebuah gundukan tanah mirip bukit kecil mereka berhenti. Pranaja menurunkan Ryong ke tanah, lalu berdiri menentang kegelapan. Malam semakin larut. Di depan mereka terlihat bayangan bukit kecil yang menghitam. Tanpa sinar bulan dan bintang-bintang yang enggan muncul, tempat ini betul-betul gelap.


“Kenapa berhenti disini Ryong? Aku tidak melihat apapun disini?” ujar Pranaja.


“Rumah kakek tua sahabatku itu ada di balik bukit. Sangat tersembunyi,” sahut Ryong.


“Kenapa kita tidak langsung ke rumahnya saja?”


Ryong menggelengkan kepalanya.


“Ini sudah tengah malam, mungkin mereka sedang terlelap. Lagipula aku ingin memastikan ini aman dari intel-intel pemerintah. Aku tidak mau kedatangan kita malah membahayakan mereka.”


Pranaja menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 nya, untuk meningkatkan kekuatan panca inderanya. Matanya yang tajam dapat menembus kegelapan malam. Dia memutar kepalanya, mengamati setiap sudut dengan seksama. Indera pendengarannya juga ditajamkan, mendengarkan perubahan desir angin pada jarak yang paling jauh.


“Tempat ini aman Ryong. Aku tidak melihat ada tanda-tanda kehadiran manusia selain kita,” ujar Pranaja dengan yakin.


Ryong menghela nafas lega. Untung ada Pranaja, batinnya.


“Tidurlah Ryong. Masih ada waktu untuk beristirahat sebelum pagi menjelang,” kata Pranaja sambil merebahkan tubuhnya di atas batu besar.


Ryong mengumpulkan dedaunan untuk menutupi tubuhnya biar hangat. Aahmm,.. tak lama kemudian mereka pun terlelap.


***


Pagi baru saja menjelang. Matahari belum lagi menampakkan sinarnya. Tubuh Ryong menggeliat, lalu menyibakkan dedaunan yang menutupi tubuhnya. Sesaat dia mengusap-usap matanya, sebelum mengedarkan pandangannya, menikmati pemandangan pagi hari yang sejuk dan indah. Dilihatnya tubuh Pranaja yang sedang bersimpuh di atas batu besar itu.

__ADS_1


“Assalaamu’alaikum waraokhmatullah!”


Pranaja mengucapkan dua kali salam. Setelah itu bibirnya berbisik membaca doa-doa. Mengungkapkan rasa terimakasih atas segala karunia dari sang maha Pencipta. Sehingga dia bias bangun pagi dalam keadaan selamat, tak kurang suatu apa.


“Alhamdulillahilladzii akhyanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.”


Ryong memperhatikannya dengan seksama. Dia melihat Pranaja selalu melakukan ritual yang sama setiap pagi. Mungkin itu sumber kekuatannya, batinnya.


“Kau lapar Ryong?” tanya Pranaja beberapa saat kemudian.


Ryong menggelengkan kepalanya. Walaupun lapar. Tapi dia tidak enak hati selalu merepotkan Pranaja.


“Kalau kau nggak lapar ya sudah, ikannya aku makan sendiri,” kata Pranaja.


Pemuda itu turun ke bawah gundukan tanah, lalu naik lagi membawa seekor ikan besar yang sudah di panggang. Tentu saja Ryong terkesiap kaget.


“Darimana kau mendapatkannya?”


“Dari anak sungai Yalu jauh di bawah sana,” Pranaja menunjuk sebuah tempat.


Bagi orang lain mungkin butuh waktu enampuluh menit untuk sampai ke sungai itu dan balik lagi kesini.


“Hah? Kau tidak tidur Pranaja? Bagaimana kau bisa melakukannya secepat itu?”


‘Kriyuk. Kriyukk’


Pranaja tertawa. Diberikannya tubuh ikan yang tinggal separuh itu kepada Ryong. Pemuda Korea itu langsung melahapnya.


“Nih, makanlah yang cepat Ryong. Kita harus pergi sebelum ada orang lewat.”


Baru saja berkata begitu, mendadak wajah Pranaja seperti terkesiap kaget. Matanya melotot, jakunnya turun naik dan wajahnya menjadi merah jambu.


“Ji Soo?” ucapnya seperti tak sadar.


Ryong terhenyak. Di tatapnya wajah sahabatnya itu.


“Apa? Kau menyebut nama seseorang?”


Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Siapa?”


“Ji Soo.”


“Mana?”

__ADS_1


“Di belakangmu.”


Ryong menoleh ke belakang. Seorang gadis, berpakaian putih putih, dikombinasi warna hijau muda dan merah muda, terlihat melintas diantara ilalang. Dia menggendong sebuah keranjang di punggungnya. Rambutnya tebal, hitam menjuntai di sepanjang garis punggungnya. Bola matanya begitu lincah bergerak mencari dedaunan, memetiknya lalu memasukkan ke dalam keranjang.


“Lihat bibir tipisnya Ryong, itu adalah milik Ji Soo,” kata Pranaja dengan gemas.


Tiba-tiba gadis itu memalingkan wajahnya ke arah Pranaja. Lalu tersenyum lebar.


Prol!


Jantung Pranaja langsung rontok untuk yang kedua kalinya. Apalagi kemudian gadis itu membentangkan kedua tangannya. Lalu berlari ke arah Pranaja.


“Kakak!” teriaknya memecah kesunyian.


Pranaja jadi gugup. Kakinya bergetar hebat. Inilah untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa grogi. Akhirnya dia hanya ikut membentangkan tangan dan menutup kedua matanya. Menunggu pelukan Ji Soo untuknya.


Bruk!


Pranaja membuka matanya. Lho, kemana gadis itu? Kok menghilang. Saat dia melirik ke samping, wajahnya kembali terkesiap kaget. Nampak Ji Soo sedang berpelukan dengan Ryong, erat sekali. Bahkan menumpahkan air mata segala. Kedua mata Pranaja langsung terbelalak. What!! Apa Ryong sudah punya ist…?


“Ini adikku. Namanya Ryung Nae,” kata Ryong setelah melepas pelukannya.


Pranaja menghela nafas lega. Bunga-bunga yang tadinya hampir layu, mendadak tumbuh kembali di dalam hatinya. Alhamdulillah, batinnya.


Gadis itu tersenyum tipis, melepaskan anak panah dewa Amor ke relung hati Pranaja. Dia langsung mengulurkan tangannya. Gadis itu menyambutnya.


“Hai, eh…” Pranaja melirik Ryong.


“Ryung Nae,” ucap Ryong lagi. “Panggil saja Ren.”


“Hai, Ren,” kata Pranaja dengan bibir bergetar. “Aku Pranaja. Sahabat kakakmu Ryong. Asalku dari Indonesia. Jauuuh banget. Aku datang kesini untuk mengantarkan kakak mu bertemu dengan…”


“Hem!” Ryong pura-pura batuk. “Perkenalannya panjang amat.”


Ucap Ryong sambil melihat ke arah lain. Pranaja jadi salah tingkah.


“Ups! Iya, itu saja.”


“Tangan dilepaskan,” ucap Ryong lagi.


Pranaja semakin salah tingkah.


“Eh, iya. Sampai lupa,” ucap Pranaja sambil melepaskan tangan Ren yang putih, lembut dan glowing itu. “Maaf.”


Ren jadi tersenyum geli melihat tingkah dua pemuda di depannya itu. Apalagi wajah Pranaja berubah menjadi merah menyala seperti buah Cerry di musim semi. Kkk…

__ADS_1


__ADS_2