
EPS 103 DUNIA YANG ANEH.
Pranaja menengok kesana kemari. Dia baru sadar kalau dia berada di sebuah negeri yang asing. Bukan hanya asing tetapi juga aneh. Dari tempat ini dia baru melihat pohon timun raksasa yang batangnya di duduki Tong Pi.
Pohon sukun-sukunan itu tumbuh menjulang hngga enam meter dan memiliki batang yang besar. Namun dahan dan rantingnya hanya sedikit mengumpul diujungnya.
Bisa kebayang kan berapa besar buah timunnya kalau batangnya saja bisa diduduki manusia? Selain timun raksasa juga ada pohon-pohon jamur raksasa, menyerupai payung-payung yang berwarna-warni tumbuh bertebaran dimana-mana.
Tong Pi juga kelihatan bingung dengan alam sekitarnya. Sangat aneh.
“Dimana kita Pranaja?”
Pranaja menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tidak tahu. Sepertinya kita tidak berada di bumi kita. Aku melihat bentang alam yang berbeda dengan permukaan bumi.”
“Mungkinkah kita masuk ke dalam kehidupan dimensi lain?” Tanya Tong Pi lagi.
Pranaja menganggukkan kepalanya. Bisa jadi pendapat Tong Pi benar. Tapi kalau benar mereka memasuki dimensi lain, di dunia apa kini mereka berada?
“Kau belum menemukan benda yang jatuh dari langit tadi?” tanya Tong Pi.
Pranaja kembali fokus mencari benda yang meluncur jatuh dari langit dan menimbulkan ledakan dahsyat tadi. Dia melihat keadaan sekitarnya. Hanya ada gundukan tanah dan pasir yang terbakar berwarna hitam. Kemudian lubang cukup besar seperti mangkuk raksasa yang terbentuk akibat benturan benda angkasa tadi.
Dengan ranting timun raksasa itu dikorek-koreknya dasar lubang bekas ledakan itu. Tiba-tiba gundukan tanah itu nampak bergerak. Lalu sebuah benda bulat sebesar bola basket melesat keluar dengsn cepat ke udara. Pranaja yang agak kaget mundur ke belakang. Lalu dengan sekali hentakan kakinya melayang mengejar benda bulat itu.
“Hap!” benda itu ditangkap dengan kedua tangannya.
Diperiksanya benda itu dengan seksama. Kulit luarnya seperti cangkang telur buaya, bentuknya juga oval seperti telur. Hanya telur ini jauh lebih besar dibanding telur lainnya. Benar-benar dia berada di tempat yang sangat berbeda.
“Benda ini kuat sekali, jatuh dari langit dan terbentur keras, tapi tetap utuh,” batinnya.
Mendadak benda itu bergerak lagi. Dia berhasil meloloskan diri dari tangan Pranaja. Lau memantul-mantul ditanah layaknya bola basket. Pranaja mengejarnya, tapi benda itu terus bergerak, seolah ada sesuatu yang memberontak di dalamnya. Mungkin ada makhluk hidup didalamnya?
“Hai! Berhenti!” teriaknya.
Dia berlari dengan cepat dan berhasil menangkap bola bulat tadi. Lalu diikatnya dengan erat di punggungnya.
“Hm, sekarang kau tidak akan bisa kemana-mana,” ujarnya.
Bola itu terdiam. Rupanya dia sudah merasa nyaman di gendong oleh Pranaja. Lalu pemuda itu mengajak Tong Pi kembali ke gudang. Miracle masih tertidur dengan nyenyaknya. Padahal dalam gudang itu tidak apa-apa. Hanya tumpukan jerami yang memenuhi ruangan itu. Tumpukan yang tipis menjadi lantai, sedangkan tumpukan yang tebal digunakan untuk tidur.
“Siapa pemilik tempat ini? Dan dimana dia?” batinnya.
__ADS_1
Setelah memastikan keadaan aman, Pranaja melepaskan ikatan pada telur aneh itu diatas jerami tebal lalu ditutupi dengan jerami lagi biar hangat. Setelah itu dia merebahkan dirinya.
“Kau lapar Pranaja?” tanya Tong Pi.
Pranaja memandang wajah Tong Pi dengan tatapan aneh.
“Kenapa kau bertanya begitu?”
“Aku punya makanan?”
“Hah? Makanan apa?”
“Ini”
Tong Pi menunjukkan timun raksasa sebesar bantal guling yang di petiknya tadi.
“Aku rasa cukup untuk makan pagi kita bertiga.”
Pranaja tersenyum. Lalu dia membangunkan Miracle.
“Eh, Bunting bangun! Tidur terus!”
Miracle membuka separuh matanya. Demi melihat wajah Pranaja yang begitu dekat dia langsung memeluk leher Pranaja dengan erat. Wajah pemuda imut langsung dibenamkan ke dadanya yang berisi dua buah ‘mentimun’ bulat penuh. Tentu saja Pranaja jadi gelagepan dan sulit bernafas.
Tangannya menggapai-gapai ke udara karena kesulitan bernafas. Apalagi tenaga Miracle sangat kuat. Sehingga kepala Pranaja sulit untuk melepaskan diri. Akhirnya setelah berjuang dengan keras, kepalanya dapat lolos dan terlepas dari pelukan Miracle. Wajah Pranaja jadi sedikit kesal, sementara Tong Pi tertunduk malu melihat pemandangan itu.
“Bunting! Kau mau membunuhku?” teriak Pranaja.
Miracle membuka mata, begitu mendengar suara Pranaja yang berteriak memanggil julukannya. Hanya Pranaja yang memanggilnya dengan kata-kata itu.
“Ada apa sayang, pagi-pagi kau membangunkan aku,” ucap Miracle manja.
Pranaja semakin kesal. Apalagi tangan Miracle kembali mengapai-gapai untuk memeluknya. Dilepaskannya tangan Miracle, lalu dia melompat ke belakang. Rasanya sekujur tubuhnya jadi bergidik.
“Huh! Bangun! Kamu lapar nggak? Tuh makan mentimunmu,” ujar Pranaja.
__ADS_1
Miracle langsung terkesiap kaget melihat mentimun sebesar bantal guling.
“Mentimun apa ini?”
“Sudah tidak usah banyak tanya. Makan metimunnya!”
Miracle tersenyum melihat kekesalan Pranaja.
“Baik kakanda, ayo kita makan,” kata Miracle.
Hehehe.. Tong Pi jadi ketawa melihat polah kedua sahabatnya itu. Namun setelah itu merekapun asyik tenggelam makan mentimun sampai habis. Mungkin karena sudah kelaparan.
Setelah makan timun raksasa yang dibawa Tong Pi, Pranaja pun tertidur lagi. Dia membiarkan telur ajaibnya tergeletak diam di lantai. Rupanya telur itu juga ikut tertidur Miracle mengamati dengan seksama telur aneh itu. Seharian dia duduk menunggu telur dan tubuh Pranaja yang tertidur dengan lelapnya.
Sampai saat petang, telur itu masih terdiam dan biasa-biasa saja. Namun menjelang tengah malam sesuatu yang aneh terjadi. Tiba-tiba cangkang telur itu perlahan retak.
Kretek, kretek, kretek.
Telur itupun terpecah menjadi dua bagian. Lalu keluarlah seekor makhluk aneh berkaki empat, berekor panjang dan berperut gendut. Lidahnya nampak bergerak-gerak keluar masuk mulutnya. Wajahnya begitu imut dan lucu. Gerakannya juga lamban dan menggemaskan. Yang paling aneh adalah dia mempunyai sepasang sayap dipunggungnya.
‘Qiuuk, qiuuk, qiuuk, ‘
Suaranya mengiuk sepeti sedang memanggil ibunya. Pranaja langsung terjaga. Pandangannya langsung tertuju pada cangkang telur yang telah terpecah. Dengan penuh waspada dia melangkah mendekati suara aneh itu. Saat dia membuka tumpukan jerami, nampak makhluk lucu itu sedang memandangnya. Kedua matanya yang bulat membesar lalu mengerjap-ngerjap.
“Hai,” kata Pranaja sambil tersenyum.
Lalu dia berjongkok dihadapan makhluk manis itu. Diulurkannya kedua tangnnya untuk membelainya. Makhluk kecil itupun memejamkan matanya saat Pranaja membelainya.
“Hm, rupanya kau adalah seekor naga, pantas tenagamu kuat sekali” ujarnya.
Ciit! Ciit! Ciit!
Terdengar suara tikus di sudut ruangan. Mata naga kecil itu langsung membelalak. Lalu tubuhnya melompat dengan cepat. Dengan tiga kali lompatan dia berhasil menangkap tikus itu dan langsung menyantapnya.
Wow!
__ADS_1
Pranaja terkejut. Tak disangka makhluk kecil, berperut gendut, berwajah lucu dan gerakannya lamban itu bisa tiba-tiba berubah menjadi ganas dan mengerikan. Masih terlihat darah belepotan di kedua bibinya Mulut Pranaja sampai terbukan beberapa saat. Hm, benar-benar dunia yang aneh dan mengejutkan.