RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 136 POHON JAMBU AIR


__ADS_3

EPS 136 POHON JAMBU AIR


Drrrt..drrtt…


Ponselnya bergetar kembali. Pranaja bangun dari tidurnya, melihat sekitarnya. Truknya masih melaju mulus di jalanan pegunungan yang cukup sepi. Lalu dia meraih ponsel di atas dashboard. Ada pesan dari Crop.


“Di sektor empat Karangreja, ada pengawal kendaraan. Namanya Rasmo, intel Kostrad TNI.”


“OK.”


Pranaja meletakkan ponselnya, lalu mengambil alih kembali kemudinya. Memperlambat kendaraannya saat memasuki perbatasan distrik Pemalang-Purbalingga. Melihat lokasi sektor empat Karangreja dari peta elektronik yang terhubung langsung dengan satelit M16. Kurang lebih lima kilometer dari tempatnya sekarang. Setelah melewati jalan menanjak kemudian turun ada SPBU di sebelah kanan dan sebuah sekolah SMA di kiri jalan.


“Hm, nampaknya aku harus berhenti disini,” batinnya di sebuah tikungan yang sepi.


Dia melihat seseorang dengan tanda pita merah di tangannya.


“Crop?”


“476503.”


Orang itu tersenyum, lalu dengan lincah melompat dan duduk di samping Pranaja. Melempar puntung rokoknya keluar jendela setelah melihat ada tanda ‘No Smoking’ di kap bagian atas. Menatap heran wajah Pranaja yang tertutup masker hitam. Dari tatapannya jelas dia meragukan kemampuan Pranaja yang bertubuh cungkring itu.


“Benar kau intelijen Inggris?”


Pranaja mengangguk sopan.


“Kok, kaya orang Indonesia?”


Pranaja mengangguk lagi. Rasmo mendengus kasar.


“Manggut-manggut kaya kambing. Di tanya mbok jawab, kamu punya mulut kan?”


Pranaja masih mengangguk, lalu membuka maskernya dan tersenyum.


“Nama saya Pranaja pak.”


“Aku Rasmo. Kok masih bocah sudah jadi intel di Inggris. Hebat kamu!”


Pranaja jadi geli sendiri. Biasanya intel itu gak suka ngomong, tapi intel yang satu ini kok malah cerewet mirip emak rempong. Pakaiannya semrawut dan buluk, seperti belum mandi berbulan-bulan. Apa memang intel di Indonesia penampilannya kaya gitu ya?


“Aku juga intel,” kata Rasmo kemudian. “Kamu jadi intel di Inggris, gajimu berapa?”


“Seratus ribu pak.”


Orangnya tertawa ngakak.

__ADS_1


“Kok mau kamu digaji segitu? Duit seratus ribu rupiah sehari juga habis.”


Gantian Pranaja yang tertawa.


“Bukan rupiah pak, seratus ribu pound.”


“Apa? Pound? Oh ya, maksudmu poudsterling? Itu mata uang Inggris kan?”


Pranaja mengangguk.


“Jadi kalau dirupiahkan berapa itu?”


“Sekitar dua milyar lebih sedikit.”


Seperti mendengar petir di siang bolong, tubuh Rasmo langsung terloncat.


‘Duk!


Kepalanya membentur pegangan besi di depannya.


“Adduh!” teriaknya.


Sejenak dia mengelus-elus jidatnya yang lebam. Sesaat kemudian menatap Pranaja kembali dengan pandangan takjub.


“Mak..maksudmu dua milyar rupiah?”


“Wah, itu sama saja gajiku seumur hidup dikumpulkan satu bulan.”


Rasmo menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi kemudian tertawa lebar.


“Memang rejeki orang berbeda-beda ya, walaupun pekerjaannya sama. Kau supir truk dan aku pengawalmu. Hehehe…”


Kemudian terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Tanpa terasa mereka sudah memasuki jalan masuk menuju area Megapolitan. Jalan proyek yang lebar dan kuat, menembus kelebatan hutan yang sangat sepi. Nampaknya wilayah ini adalah area hutan asli yang belum berpenghuni. Hanya beberapa mobil proyek yang lalu lalang dan sempat berpapasan dengannya.


Setengah jam kemudian pemandangan berbeda mulai terlihat. Setelah melewai bukit kecil yang sudah dihancurkan, mulai terlihat geliat pembangunan di daerah ini. Terlihat beberapa bangunan bertingkat yang sudah separuh jadi. Ada juga bangunan pencakar langit yang nampaknya akan dijadikan pusat bisnis dan transaksi keuangan digital.


“Megapolitan adalah area hunian yang dilengkapi segala fasilitas di pusat kota. Nantinya akan dibangun sekolah, universitas, rumah sakit, perkantoran, pusat perbelanjaan hingga akses jalan tol,” kata Rasmo seperti bisa membaca pikiran Pranaja.


“Seperti kota Mandiri maksudnya?”


“Betul. Nah perbukitan di depanmu itu nantinya akan dibiarkan menjadi hutan wisata dan ruang terbuka hijau. Rencananya semua tanaman dari seluruh dunia akan di datangkan dan di tanam di sana. Juga seluruh spesies binatang yang ada di dunia akan didatangkan dengan menciptakan ekosistemnya terlebih dahulu.”


Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya. Betul-betul proyek prestisius dan ambisius dari seorang taipan besar seperti Subrata. Dibutuhkan intuisi bisnis yang luar biasa membangun hunian seperti ini. Dan itu membuktikan kekuatan kapital serta ketangguhan Subrata dalam mengembangkan naluri bisnisnya.


“Perlambat kendaraanmu Pranaja. Sebentar lagi kita akan melewati pintu gerbang pertama untuk pemeriksaan protokoler. Siapkan semua dokumen dan identitasmu.”

__ADS_1


Pranaja menganggukkan kepalanya. Di depannya nampak ada sebuah bangunan besar berdiri diatas sebuah jalan masuk ke area Megapolian. Rupanya pintu masuk ke Megapolitan menggunakan one gate sistem atau sistem satu pintu. Tak ada akses jalan lain, kecuali satu jalan yang telah dilengkapi dengan CCTV, serta satu regu pasukan keamanan yang akan memeriksa dengan ketat setiap kendaraan yang masuk.


Sampai di pintu gerbang masuk Megapolitan, Pranaja menghentikan kendaraannya. Satu pasukan keamanan memeriksa kendaraannya. Dari atas, bawah, samping kanan dan samping kiri menggunakan alat detektor logam. Satu orang petugas keamanan memeriksa surat kelengkapan Pranaja dan menatap tajam wajahnya dengan penuh selidik.


“Siapa dia?” ujarnya kepada Rasmo.


Rupanya dia sudah dikenal di situ.


“Ehm… supir baru, pengganti yang lama,”sahut Rasmo sambil tertawa sok akrab.


Petugas keamanan bersenjata lengkap itu ikut tertawa. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah sang komandan.


“Aman ndan!” teriaknya.


“Oke! Masuk dan bongkar besok pagi!” kata sang komandan.


Pranaja menganggukkan kepalanya, lalu melajukan kendaraannya kembali. Melewati deretan gedung rumah-rumah mewah yang melingkar di sepanjang boulevard, lalu berhenti disebuah tanah lapang yang cukup luas. Ada banyak truk yang terparkir di sana.


“Kau tunggu di sini, aku akan turun dan melapor ke kantor,” kata Rasmo.


Intel angkatan darat itu melangkah dengan sigap menuju ke gedung kantor pelayanan Megapolitan City. Cukup lama Pranaja menunggu, lalu terlihat dua orang berbadan tegap dan bersenjata lengkap mendatanginya. Tanpa meminta izin terlebih dahulu mereka langsung naik ke bak truk dan memeriksa barang bawaan Pranaja.


“Oke. Sudah sesuai dokumen perjalanan. Ini adalah batu alam terbaik sesuai pesanan perusahaan,” kata salah satu orang kepada temannya.


Temannya mengangguk. Lalu mendatangi Pranaja yang masih duduk dibelakang kemudi sambil tersenyum ramah.


“Hai Pranaja! Kau lihat bangunan berwarna hijau di seberang lapangan?”


Pranaja menganggukkan kepalanya. Kok orang itu tahu namaku? Pasti ulah Rasmo.


“Itu adalah home base kita. Para supir yang akan membongkar barang besok pagi, bisa beristirahat di sana,” katanya lagi.


“Baik pak. Terimakasih. Tapi saya ingin beristirahat di dalam mobil saja.”


“Oke. Tapi kalau kau butuh makan dan minum, langsung saja ke sana ya?”


“Eh, pak Rasmo kemana?”


“Sudah pulang. Tugasnya hanya mengawal kendaraanmu tiba dengan aman disini.”


Setelah itu mereka pergi meninggalkan Pranaja. Pemuda itu langsung mengedarkan pandangannya. Jauh dibelakangnya adalah deretan perbukitan yang mengular seperti menjadi benteng wilayah Megapolitan di sebelah selatan. Sedangkan di depannya terbentang lahan kosong sejauh mata memandang. Tidak ada pohon satupun, semua sudah rata dengan tanah, bahkan rumput pun sudah hilang tak berbekas.


“Rupanya itu adalah lahan yang masih kosong yang belum tersentuh. Luar biasa, semua sudah rata dengan tanah,” batinnya.


Terlihat debu mengepul tertiup angin di tengah lahan kosong itu. Pranaja menajamkan pandangannya. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang aneh. Ada satu pohon yang nampak tinggi menjulang berdiri kokoh di tengah lahan kosong itu.

__ADS_1


“Hah? Itu kan pohon jambu air?” batinnya.


__ADS_2