
SEBEBAS BURUNG SABANA
Bukan hal mudah membuang rasa di dalam hati. Apalagi setelah terjadi perubahan dalam hatimu. Perubahan yang membuat hati dan pikiranmu menggantungkan harapan pada sesuatu yang awalnya kau benci. Lalu kau harus melepaskannya kembali.
Pranaja menunduk hormat kepada Puteri Xenara Ksyeandra yang baru saja dinobatkan sebagai Pemimpin Tertinggi Gerakan Pembebasan Mongolia yang baru. Dia sekaligus hendak berpamitan pulang ke Indonesia, setelah tugasnya di Mongolia selesai.
“Aku mohon pamit Puteri, maafkan bila aku punya salah kepadamu. Membuat hatimu sedih dan terluka,” ucapnya pelan.
Xenara menggelengkan kepalanya.
“Aku sudah melupakannya Pranaja. Dan jangan kau panggil aku Puteri, karena sesungguhnya kau lah pemilik istana ini.”
Pranaja terdiam mendengarkan kata-kata Xenara.
“Katamu, pemenang perang berarti menjadi pemilik istana ini dan seluruh isinya.”
Pranaja tersenyum.
“Jangan diartikan terlalu dalam kata-kataku Puteri. Aku hanya bercanda, kau tahu aku kan?”
Xenara kembali menggelengkan kepalanya.
“Hak adalah hak. Untuk apa aku memperjuangkan hak rakyatku kalau aku menikmati sesuatu yang bukan milikku?”
“Apa maksudmu Puteri?”
Xenara berjalan mendekati Pranaja.
“Aku tidak akan menghalangi kepergianmu. Tapi ingatlah, kau adalah pemilik istana dan seluruh isinya ini. Jadi, kembalilah kesini saat kau lelah dengan petualanganmu.”
Xenara memeluk tubuh Pranaja dengan lembut. Melampiaskan perasaan yang selama ini menggoyahkan hati dan pikirannya. Ternyata dia telah salah sangka, Pranaja adalah pemuda yang baik dan bertanggung jawab. Seperti kata Batukhan, tidak ada sisi gelap dalam dirinya.
“Aku akan selalu menunggumu, dan menyambutmu kapanpun kau ingin pulang.”
Tubuh Pranaja bergetar. Baru pertama kali dia merasakan desiran yang aneh saat dipeluk seorang gadis. Dan dia menikmatinya.
“Tapi, aku adalah…”
Xenara menempelkan jari telunjuknya di bibir Pranaja.
__ADS_1
“Tidak Pranaja, jangan lagi kau ungkit masa lalu. Aku sudah tidak marah lagi. Mungkin ayahku adalah sebuah kesalahan, dan aku akan menebusnya dengan kesetiaan.”
Lalu bibir Xenara mendekat dan mencium bibir Pranaja. Tapi pemuda itu menghindar.
“Jangan Xenara, nanti aku dimarahi ayah,” katanya.
Xenara terhenyak, dipandanginya pemuda berwajah imut itu dalam-dalam.
“Dimarahi ayah?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Iya. Kata ayah, aku boleh menyentuh seorang gadis kalau aku sudah mengikatnya dalam pernikahan suci. Kalau aku melanggarnya, dia akan marah padaku,” ucapnya.
Xenara masih tersenyum, rasa kagumnya terhadap pemuda dihadapannya itu semakin dalam. Tanpa terasa ada titik air di kedua sudut matanya.
“Baiklah Kaisarku, aku akan menunggumu di istanaku.”
“Jangan Xenara. Perjalanku sangat jauh dan lama. Mungkin aku akan melupakanmu.”
Suasana menjadi hening. Hanya detak jantung dan desah nafas yang terdengar lirih. Xenara menatap kedua mata Pranaja, betapa sejuknya mata bening itu.
Xenara memeluk tubuh Pranaja semakin erat. Seolah enggan untuk melepaskannya. Dia butuh Pranaja untuk melaksankan kewajibannya sebagai Pemimpin Tertinggi. Karena dia hanya memiliki sebuah hati yang juga butuh untuk dilindungi. Biar dia tidak salah arah lagi.
Ya, Di jalan berkerikil itu kau hanya akan menemukan luka. Maka beralihlah ke jalan cahaya, yang terang dan membuat hatimu tenang.
***
Semilir angin sore mengguyur pepohonan di hutan pegunungan Sayan. Sentuhannya yang lembut mendesah seolah menyuarakan kegelisahan yang tak kunjung usai, Karena meninggalkan sesuatu yang sudah terlanjur merasuk ke dalam jiwamu adalah siksaan batin tersendiri. Butuh ketangguhan dan tekad yang menggelora untuk menaklukkannya.
Tubuh Pranaja berkelebat cepat menerabas kerapatan hutan. Kaki-kaki kecilnya begitu lincah menapak dari satu pohon ke pohon lainnya menuju padang sabana. Dia perlu segera pergi ke tempat yang lebih terbuka agar dapat menghubungi teman-temannya. Gerakan tubuhnya yang sangat cepat serupa bayang-bayang membuanya sulit di tangkap mata orang-orang biasa.
Serombongan pasukan patroli perbatasan Rusia yang berpapasan dengannya pun hanya merasakan desiran angin kuat yang tiba-tiba berhembus, menjatuhkan topi baja mereka.
“Wow! What’s that?”
Temannya hanya mengangkat kedua bahunya.
“I don’t know. Just strong wind?”
“Yeah. It could be.”
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan kembali perjalanannya. Sementara Pranaja sudah jauh sampai di pinggir padang sabana. Di atas sebuah batu besar dia berhenti. Sejauh matanya memandang hanya ada padang rumput dan padang rumput yang menghijai. Bagaikan hamparan karpet yang menyelimuti bumi.
“Shield! Kemarilah!” katanya memanggil Shield, pesawatnya.
Pranaja menunggu beberapa saat. Tapi Shield tidak segera muncul di tempat itu.
“Shield! Jemputlah aku!” ulangnya memanggil robot android yang khusus diciptakan untuknya.
Tapi Shielad tidak datang juga. Padahal biasanya Shield akan langsung muncul begitu dia mendengar suaranya. Apa yang terjadi dengan Shield? Batinnya..
Dia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi M. Tapi tidak nyambung. Demikian juga saat dia menghubungi Miracle, hal yang sama pun terjadi. Tidak ada tanda-tanda ponsel milik Miracle dalam keadaan aktif. Lalu coba menghubungi Q, Moneypenny dan orang-orang lainnya yang dia kenal di M16, tak seorang pun yang mau mengangkat ponselnya.
Tentu saja Pranaja menjadi heran. Ponselnya bukan ponsel biasa. Dia terhubung langsung dengan satelit rahasia milik departemen pertahanan Inggris. Biasanya mudah dihubungi bahkan di tempat yang paling tersembunyi sekalipun. Tapi kenapa seperti tidak berfungsi? What happened? Apa M dan Miracle sengaja meninggalkannya di tempat ini?
Lalu dia melihat ada pesan dari Miracle yang dikirim dua minggu yang lalu. Hah? hatinya terkesiap. Ah, rupanya dia terlalu sibuk di istana Xialuai, sehingga hamper melupakan sahabat tebaiknya itu. Dibacanya pesan dari Miracle.
“M marah Cula. Kau dianggap membela kaum pemberontak. Pemerintah Mongolia kirim nota protes, dan memutus hubungan dengan M16.”
Terus ada pesan kedua.
“Kau di nonaktifkan dari M16 sampai ada klarifikasi. Semua fasilitasmu ebagai agen dicabut termasuk Shield. Dia telah di matikan oleh Q sehingga tidak bisa berinteraksi denganmu.”
Ada lagi pesan ketiga.
“Aku dan Tong Pi dianggap menyembunyikan informasi tentangmu. Mereka menangkapku dan Tong Pi dan dimasukkan ke tahanan khusus agen M16.”
Apa! Pranaja menepuk jidatnya sendiri. Dia sama sekali tak pernah berfikir kalau tindakannya telah menyulut konflik diplomatik antara Mongolia dan Inggris. Bahkan semua aksesnya ke M16 telah di putus. Tapi, mengapa Miracle dan Tong Pi di tahan? Pranaja tak habis piker. Nampaknya dia memang harus cepat-cepat menemui M.
Dia memandang padang sabana di depannya. Melihat domba-domba berlarian kesana kemari. Bermain sembari memakan rumput yang lezat. Melihat burung-burung kecil yang terbang bergerombol kesana kemari, melompat dan berebut cacing tanah yang muncul diantara rerumputan. Begitu lepas dan bebas. Seperti aku sekarang?
Tiba-tiba Pikiran Pranaja berubah. Sekarang dia bahkan bisa menikmati kebebasannya sendirian tanpa ada telepon M yang selalu mengganggunya. Mungkin sudah saatnya dia menikmati waktunya sendiri. Pranaja berlari cepat ke tengah padang rumput lalu melompat tinggi sambil berteriak.
“Kekuatan Geni Sawiji!”
Tubuhnya yang masih melayang diudara mendadak diselimuti api biru, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu dia terbang ke angkasa, tinggi sekali. Sebebas burung sabana.
__ADS_1
“Uhuuiii!”