
MENEMUKAN HAL TAK TERDUGA
Perihnya menanggung cinta yang tak berujung, berbanding terbalik dengan semua keindahan yang seharusnya kau rasakan. Sabarlah. Karena tak semua harus sama. Adakalanya penderitaan datang mengawali sebelum kebahagiaan tiba tuk mengakhiri.
Riyani berjalan sendiri. Langkahnya ringan menuyuri jalan setapak di tepi hutan. Sesekali dia berhenti, lalu jari jemarinya yang lentik meraih beberapa dedaunan muda, dipetiknya lalu dimasukkan ke dalam keranjang, Di belakangnya mbok Sal, abdi yang bekerja di dapur Kademangan ikut menemaninya. Jauh di belakangnya Kang Tumin, sibuk mencari rumput untuk memberi makan hewan ternak milik ki Demang.
Sejak kedatangan Karangkobar ke Dalem Kademangan, ki Demang memang tidak memperbolehkan puterinya itu pergi sendirian kemana-mana. Dia selalu menyuruh mbok Sal untuk menemaninya dan kang Tumin untuk diam-diam mengawasinya dari kejauhan. Sejak kecil Riyani suka bermain di tepi hutan bersama teman-temannya. Sekarang dia suka pergi ke sini untuk mencari daun-daun muda kesukaannya untuk dimasak.
Ketika isi keranjangnya sudah menggunung, mbok Sal menggamit tangannya.
“Sudah cukup sayurnya cah ayu, nanti kebanyakan. Siapa yang mau makan?” katanya.
“Tidak apa-apa mbok. Kita masak saja yang banyak, nanti kalau berlebih, kita bagikan kepada orang-orang yang datang ke Kademangan,” sahut Riyani.
Mbok Dal tersenyum. Ah, buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti ayahnya, Demang Wanasepi yang suka menolong dan begitu baik melayani rakyatnya, Riyani juga memiliki watak dan sifat yang sama. Gadis ini adalah mutiara terpendam yang sudah bersinar walaupun belum di poles apapun. Seandainya dia tinggal di kotaraja, pasti akan menjadi rebutan para pangeran dan pembesar istana. Walaupun sudah tua dan memiliki banyak isteri, para pembesar itu masih suka memburu gadis-gadis muda.
“Lihat mbok, kupu-kupu itu bagus sekali,” kata Riyani sambil menunjuk kupu-kupu besar diantara kupu-kupu lainnya yang mengelilingi bunga-bunga di tepi hutan.
Mbok Dal mengalihkan perhatiannya.
“Oh, itu namanya kupu-kupu Daun Syurga Den Ayu. Tubuhnya memang besar dan cantik,” sahut mbok Dal.
Mendadak Riyani memberikan keranjangnya kepada pengasuhnya kemudian berjalan menghampiri kupu-kupu itu.
“Kamu duduk dulu disini ya mbok. Aku ingin menangkap kupu-kupu itu.”
Mbok Dal menganggukkan kepalanya. Lalu duduk diatas batang kayu yang roboh.
“Jangan jauh-jauh ya cah ayu,” ingatnya.
Semakin dekat semakin terlihat keindahan kedua sayap kupu-kupu paling besar itu. Seperti ada lukisan kolam berwarna hijau terang, dikelilingi berbagai macam warna-warni bunga. Indah sekali. Pantas dinamakan kupu-kupu Daun Syurga.
__ADS_1
Tapi rupanya tidak mudah bagi Riyani untuk menangkap kupu-kupu itu. Begitu Riyani mendekat, kupu-kupu itu terbang tinggi. Riyani yang sudah kadung suka langsung mengejarnya. Kemanapun kupu-kupu itu hinggap, gadis cantik itu terus mengikutinya. Tanpa sadar kupu-kupu itu telah membawanya masuk jauh ke dalam hutan. Saat akhirnya dia berhasil menangkapnya, dia baru sadar sudah jauh dari mbok Dal.
“Eh, kenapa aku sampai masuk kesini,” batinnya.
Hutan yang masih asli itu terlihat remang-remang walau di siang hari. Kerimbunan pohon-pohon yang begitu rapat, membuat sinar matahari tak mampu menembusnya.
“Kupu-kupu, kenapa kau membawaku ke dalam hutan?” katanya pada si kupu-kupu.
Walaupun tidak tahu arah jalan pulang, tapi Riyani tidak takut sedikitpun. Dia tetap berpikir jernih. Sebagai gadis desa yang tumbuh di dekat hutan, dia tahu caranya untuk mencari jalan pulang. Dilepaskannya lagi kupu-kupu tadi.
“Sekarang kau bertanggung jawab mencarikan aku jalan pulang,” katanya sambil tersenyum.
Seperti baru terlepas dari belenggu, kupu-kupu itu terbang tinggi. Riyani mengikutinya dari bawah. Dia yakin kupu-kupu itu akan membawanya keluar dari hutan, karena bunga-bunga banyak tumbuh di tepi hutan. Kupu-kupu itu terus terbang, dan Riyani terus mengikutinya. Namun mendadak kupu-kupu itu turun ke tanah dan menghilang di balik semak-semak. Riyani menengok kesana kemari mencarinya.
“Eh, terbang kemana kupu-kupu tadi?” batinnya.
Dia berjalan menghampiri semak-semak dimana kupu-kupu tadi menghilang. Satu persatu semak-semak itu disingkap dengan kakinya. Sesaat kemudian dia terkesiap kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kupu-kupu itu nampak hinggap diatas benda kecil yang mengeluarkan sinar menyilaukan. Anehnya, benda kecil itu terletak di tengah lubang yang bentuknya seperti tempurung raksasa.
Perlahan Riyani turun ke dalam lubang itu. Kedua tangannya memegang erat akar dan semak belukar sebelum merosot jatuh ke dalam lubang. Begitu Riyani turun, kupu-kupu itu terbang menjauh lagi.
Tapi Riyani sudah tak mempedulikannya lagi. Hatinya lebih tertarik meraih benda kecil yang berkilau itu.. Lalu diamatinya dengan seksama.
“Seperti batu Kristal berbentuk lingkaran yang terbelah menjadi dua?’ gumamnya. “Tapi dimana yang separuhnya lagi?”
Potongan batu Kristal itu dia masukkan ke dalam kembennya. Kemudian dia pandangannya ditebarkan ke dalam lubang mencari bagian batu Kristal yang separuh lagi. Tapi tidak ketemu.
“Ah, mungkin jatuh di atas lubang,” batinnya.
Kakinya mencoba mencari pijakan agar dia dapat naik ke atas lubang lagi. Tapi gagal, berkali-kali kakinya terpeleset dan jatuh lagi ke dalam lubang. Tangannya dijulurkan keatas setinggi mungkin, mencoba meraih akar yang tadi menjadi pegangan. Namun lagi-lagi gagal, akar itu terlalu tinggi untuk di raih.
Adduh, bagaimana ini? Dia berpikir lagi, mencari jalan keluar. Riyani tidak putus asa. Dia mundur dua langkah kebelakang mengambil ancang-ancang. Setelah itu berlari cepat mendaki dinding lubang, lalu kakinya di hentakkan.
__ADS_1
‘Wush!’
Tiba-tiba tubuhnya melenting terbang tinggi sekali. Tangannya mengapai-gapai kesana kemari, sebelum jatuh bergulingan di atas semak belukar.
“Aw..Toloong! Bug!”
Riyani langsung bangkit berdiri. Dilihatnya sekujur tubuhnya, tidak ada yang terluka. Aneh, bagaimana aku bisa meloncat setinggi itu? batinnya. Apa yang terjadi dengan diriku?
Diperiksanya lagi sekujur tubuhnya dengan seksama. Dia juga tidak merasa sakit sedikitpun. Sekejap dia melihat cahaya dari batu kristal yang ada di dalam bajunya, sebelum redup kembali.
‘Aneh. Jangan-jangan batu ini yang membuat tubuhku terbang tinggi,” batinnya.
‘Krossak!’
Tiba-tiba terdengar suara semak belukar yang tersingkap. Beberapa orang laki-laki berpakaian prajurit dan bersenjat lengkap bergerak mengepung dirinya.
“Den Ayu! Apa yang kau lakukan disini?” kata Bekel Birin, kepala pasukan pengawal.
Riyani tersenyum. Akhirnya dia tak perlu susah payah mencari jalan pulang.
“Bagaimana kalian bisa menemukan aku?”
“Kami mendengar suara minta tolong tadi. Apa yang terjadi?”
“Aku hanya kaget. Tiba-tiba ada laba-laba besar di depanku, makanya aku berteriak minta tolong,” kilahnya.
“Terus dimana laba-labanya sekarang Den Ayu?”
“Sudah pergi. Katanya mau jalan-jalan sore, menikmati matahari tenggelam,” sahut Riyani sambil berjalan meninggalkan para pengawalnya.
Hah? Laba-laba jalan-jalan sore? Memang ada? Para pengawal itu saling berpandangan tak mengerti. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mereka segera berlari mengejar junjungannya sebelum tersesat lagi.
__ADS_1