
HUJAN METEOR
Pranaja mempersiapkan dirinya. Dia akan menjalankan misi yang sangat berbahaya yang baru pertama kalinya menjadi sasaran operasi dinas intelijen rahasia Inggris. Sebuah operasi intelijen yang dirancang oleh ilmuwan-ilmuwan dari seluruh penjuru dunia demi menyelamatkan bumi dari kehancuran. Dan mereka menyerahkan semuanya di pundak Rich Pramaja, mahasiswa jenius dari Indonesia yang mendapat beasiswa untuk belajar dunia intelijen di Inggris.
31 DESEMBER 2019. Hari ini Pranaja akan menjalankan misi menghancurkan sebuah asteroid seluas lapangan bola yang sudah mendekati atmosfer bumi. Benda angkasa sebesar itu dipastikan tidak akan habis saat bergesekan dengan lapisan ozone dan akan menghantam bumi. Menurut perhitungan Q, dalam waktu kurang dari sepuluh jam batu meteor itu akan menghempas tepat di pusat keramaian kota Jakarta.
.”Ini misi yang sangat penting Pranaja. Selamatkan Jakarta. Bergegaslah, waktumu sangat sempit,” pesan M.
Pranaja segera mengaktifkan baju pelindung T-Shield 31316 nya. Dia harus memasang bom di seratus titik batu asteroid itu untuk menghancurkannya. Kalau memasang satu bom saja butuh waktu lima menit maka dia akan menghabiskan waktu hampir sembilan jam untuk memasang semuanya.
“Shield! Ayo kita berangkat untuk menghentikan asteroid raksasa itu,” panggil Pranaja.
Terdengar suara mendesis. Shield muncul dari lantai bawah tanah. Tubuhnya mengapung ke lantai tiga. Setelah sholat dhuha dan berdoa, Pesawat android itu melayang jauh dengan kecepatan cahaya, membawa tuannya untuk menunaikan tugas-tugasnya. Sementara M dan Q memandangnya dengan pandangan penuh makna. Kuatkan hatimu Pranaja, kau akan memberikan pembuktian kepada drimu sendiri.
Dalam waktu singkat Shield embawanya ke hadapan asteroid raksasa itu. Decak kagum keluar dari mulut Pranaja. Begitu indah sekaligus mengerikan. Asteroid raksasa ini melaju dengan kecepatan limabelas kilometer per detik!
“Hati-hati Shield. Jangan gegabah, bantu aku memasang bom-bom ini,” perintah Pranaja. “Waktu kita hanya sepuluh jam, perhatikan peningkatan kecepatan asteroid ini. Semakin dekat ke bumi, kecepatannya semakin bertambah.”
Shield bertransformasi menjadi robot. Dengan kecepatan super, dia mengejar laju asteroid dari samping. Pranaja mempersiapkan dirinya. Baju pelindung T-Shield 313216 diaktifkannya. Lalu mengikat tangannya dengan tali yang tersambung dengan tubuh Shiel. Sejenak dia memejankam matanya sambil berdoa. Shield terus menjaga jarak dengan asteroid itu. Tanpa helm dan alat bantu nafas, dia melompat dari tubuh Shield ke arah asteroid itu.
“Bismillahirrokhmmanirrokhiim. Heyaa!”
Krop!
Kedua tangan dan kakinya mantap menempel pada batu asteroid itu.. Selanjutnya dia terus bergerak lincah memasang bom-bom berkekuatan tinggi sesuai titik koordinat yang diberikan Q. Karena gravitasi, meteor raksasa itu bergerak semakin cepat mendekati bumi. Pranaja harus berpacu dengan waktu.
“Pranaja cepatlah. Semakin mendekati bumi kecepatan meteor itu semakin tinggi. Waktumu tinggal limapuluh menit lagi sebelum meteor itu masuk atmosfer!”
“Baik Q, masih ada lima titik yang belum dipasangi bom,” kata Pranaja.
Pemuda itu semakin mempercepat pekerjaanya. Tak terasa keringat dingin membasahi keningnya. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat asteroid bukanlah batu angkasa biasa. Kandungannya adalah nikel dan platina, bahkan lebih keras daripada besi dan baja. Dia tak bias membayangkan bila benda sebesar dan sekeras ini menghantam kota padat seperti Jakarta, pasti ada banyak korban jiwa.
Akhirnya bom terakhir dipasangnya.
__ADS_1
“Pranaja! Waktumu tinggal sepuluh menit lagi!”
Sang relawan Galaksi selesai memasang bom terakhirnya. Dia lalu melompat menghindari laju sang bintang jatuh. Wuass! Tetap saja tubuhnya terpental jauh. Untung tangannya terikat dengan tali yang dihubungkan dengan tubuh Shield
“Shield! Ayo kita cepat kembali ke bumi sebelum bomnya meledak!”seru Pranaja.
Shield segera merubah dirinya kembali menjadi pesawat. Begitu Pranaja masuk ke dalam kokpit, Shield langsung berubah menjadi cahanya dan membawanya kembali ke rumahnya di Jakarta. Dalam waktu lima detik dia sudah berada di halaman rumahnya.
“Bagus Pranaja! Sebentar lagi bom ini akan meledak!”teriak Q di layar monitor..
Pranaja segera mengalihkan perhatiannya ke layar monitor. Nampak layar monitor sedang menghitung mundur. Sepuluh, sembilan, delapan,…….tiga. dua, satu!.
“BUMM!!!”
Batu angkasa raksasa itu meledak menjadi jutaan butir meteor dan serpihan-serpihan kecil. Tepat lima menit menjelang masuk lapisan atmosfer bumi. Dengan kecepatan yang tak terlihat mereka langsung tersedot gravitasi bumi menembus lapisan atmosfer.
Telepon berdering. M muncul di layar monitor.
“Pranaja! It’s amazing! Luar biasa. Meteor raksasa itu berhasil diledakkan dan hancur.”
“Aku juga sudah melihatnya M. Sebentar lagi jutaan batuan meteor akan memasuki atmosfer bumi. Kita lihat apa yang terjadi,” ujar Q dalam saluran yang berbeda.
“Baik Q. Kemungkinan sebentar lagi akan terjadi hujan atau badai meteor diatas langit Jakarta,” kata M lagi.
“Pranaja naiklah ke tempat yang tinggi. Sebentar lagi akan terjadi hujan meteor di rumahmu. Aku akan mengawasinya lewat teleskop,” kata M.
Pranaja turun dari tubuh Shield. Mengamati rumahnya yang sepi. Hm, padahal ini malam tahun baru. Lalu dia melompat ke lantai tiga rumahnya, dan segera berlari naik ke menara air untuk menikmati hujan meteor pada malam itu.
***
Pranaja mengambil air wudlu dari menara air, lalu berdiri diatas menara. Pandangannya memutari langit Utara. Suasana begitu hening. Langit juga nampak cerah walau tanpa sinar bulan. Bintang-bintang terhampar luas dengan kerlip cahayanya. Tidak ada yang menyangka malam ini angkasa akan di hujani dengan jutaan meteor yang terbakar di atmosfer atau bintang jatuh.
__ADS_1
“Kau sedang menunggu bintang jatuh Pranaja?” tanya ayahnya dari bawah menara.
Dia keluar rumahnya karena mendengar suara gaduh di luar. Di belakangnya menyusul ibunya.
“Eh itu benar Pranaja?”
Ayah menganggukkan kepalanya.
“Ngapain kamu pulang-pulang malah naik ke menara kaya monyet?” suara kak Iben.
Pranaja jadi kaget.
“Ternyata kalian belum pada tidur?”
“Masa malam tahun baru tidur,” kali ini suara kak Keysa yang terdengar.
Wow! Surprise! Ternyata semuanya ada di rumah.
“Sebentar Yah, sebentar lagi ada bintang jatuh. Aku ingin berdoa sebanyak-banyaknya di atas sini,” jawab Pranaja.
Mereka jadi tertawa melihat tingkahnya. Lalu masuk kembali ke dalam rumah, membiarkan Pranaja khusyuk dalam berdoa.
“Berdoalah dengan sungguh-sungguh. Pasti Alloh akan mengabulkannya,” pesan ayah.
Pranaja mengangguk mantap. Lalu dia memejamkan matanya.
“Allohu Akbar,” Pranaja mengangkat kedua tangannya.
Perlahan jutaan meteor itu mulai nampak berjatuhan. Sinarnya mewarnai langit pada malam itu. Indah sekali. Seperti jutaan burung ababil melemparkan batu-batu bercahaya ke bumi. Seketika langit menjadi terang, mengguyur tubuh Pranaja yang sedang bersujud..
Batu-batu meteor itu bersinar karena bergesekan dengan lapisan atmosfer bumi. Efek panasnya menghasilkan cahaya yang membakar batu meteor itu sampai habis.
__ADS_1
Pranaja berdoa dengan khusyuk. Lalu tersenyum membuka matanya. Menikmati cahaya jutaan meteor di angkasa raya. Rasanya dia telah menumpahkan semua yang diinginkannya. Dan membuktikan kekuatannya sendiri di angkasa raya.