
EPS 81 ANCAMAN BAHAYA
Matahari baru saja menjelang. Semburat jingganya perlahan merayapi dindung kamar hotel dimana Pranaja menginap. Hingga pelan-pelan akhirnya membuat jelas pemandangan di luar jendela kamar. Tampak gedung-gedung dan kompleks perumahan yang tertata rapi. Tak terlihat gedung tua. Itu hanya pandangan sekilas dari kamar saya di lantai enam.
“Wellcome to Astana, Sir,” ujar resepsionis hotel dengan senyum ramah.
Matanya yang bulat bercahaya tak lepas memandang wajah imut tamunya malam itu. Pranaja memesan kamar VVIP. Saat melihat kartu kredit Platinum yang disodorkan Pranaja, cahaya di mata gadis itu semakin berbinar.
“How many days will you stay, Mr. Pranaja?”
Pranaja menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menjelaskan dia akan menginap selama yang dia inginkan. Karena dia sedang berjalan-jalan saja menghabiskan waktu.
“Wow! Just call me if you need something, sir,” katanya sambil menyerahkan kunci kamar di lantai enam hotel ini.
Pranaja menerima kunci tersebut dari tangan resepsionis itu. Dengan sengaja tangan gadis itu menggenggam tangan Pranaja. Saat dilepaskan Pranaja merasa seperti ada kertas yang terselip di tangannya. Hm, pemuda itu menyunggingkan senyumnya yang paling menawan. Sifat jahilnya seketika muncul. Mata kanannya dikedipkan dengan cepat.
“Okay. See you tomorrow.”
“See you, sir.”
Seorang room boy mengantar Pranaja ke kamarnya di lantai enam. Begitu masuk kamar, dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuh. Rasanya kangen sekali tidur diatas kasur. Setelah berhari-hari berpetualang, tidur diatas batu beratapkan langit yang kelam. Namun baru saja akan memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
‘Drrt..drrrtt..ddrrrrtt…”
__ADS_1
Miracle?
Pranaja langsung mengangkatnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, di sangat mencemaskan nasib Miracle dan Tong Pi, sahabat-sahabatnya sesama agen M16. Mereka di tahan oleh Dinas Rahasia Inggris karena kasus yang melibatkan dirinya. Semua kontak M16 yang terhubung dengannya, semua diputus. Termasuk ponsel Miracle dan Tong Pi.
‘Kenapa malam ini Miracle bisa menelponku?’ batin Pranaja.
Walaupun penasaran tapi dia sangat senang. Kangen rasanya mendengar suara cempreng sahabat terbaiknya itu.
“Woi Bunting! Apa kabarnya?” serunya.
“Culaaa! Aku kangen!” teriak Miracle dari seberang sana.”Mmuah!..muah!..muah!”
Miracle menghadiahinya dengan serbuan kecupan. Walaupun cuman suaranya, tapi Pranaja merasa bergidik sendiri. Rasanya hujan ciuman dari sahabatnya itu membuat nafasnya menjadi sesak.
“Auh! auah! eits!”teriaknya. “Hentikan Bunting, aku nggak bisa bernafas!”
Miraccle tergelak. Kepolosan Pranaja itulah yang membuatnya semakin rindu pada pemuda yang sudah menguasai hatinya itu.
Pranaja ikutan tertawa. Rasanya hanya Miracle yang bisa membuatnya tertawa begitu lepas.
“Aku lagi di Astana, ibukota Kazakhstan,” ucapnya.
“Wow! Bagaimana kau bisa ada di situ? Salah jalan? Atau lagi cari gebetan? Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Bercinta dengan Dayana?” sahut Miracle.
lagi-lagi Miracle menghujaninya dengan ribuan pertanyaan. Rupanya rasa cenburu telah menguasai hatinya. Apalagi dia paham betul reputasi gadis-gadis Kazakhstan yang molek dan mudah diajak kencan.
“Dasar bule sinting. Aku kan lagi menelpon kamu, kok menuduh aku sedang bercinta dengan Dayana?”
“Ups!”
Miracle menutup mulutnya. Dia langsung menyadari kebodohannya. Gara-gara dibakar api cemburu, dia jadi menuduh Pranaja di luar logika.
“Eh, Miracle, kamu kok bisa menghubungi aku? M sudah membebaskanmu?”
“Iya. Gara-gara prestasimu membongkat sindikat jual beli senjata biologis illegal dan penyelundupan batu Kristal.”
“Apa batu Kristal?”
__ADS_1
“Ya kereta api super cepat yang kau temukan itu memuat ribuan ton batu krisal dari lembah gurun Gobi dan diselundupkan melalui Astana, ibukota Kazaskhtan ”
“M sangat bangga kepadamu. Apa yang kau lakukan telah berhasil mengangkat kembali nama baik M16 sebagai wadah agen rahasia yang sempat memburuk,” kata Miracle. “Dia memebaskan aku, Tong Pi dan beberapa tawanan lainnya.”
Pranaja tersenyum Sinis. Dia tidak pernah tergoda untuk berbaikan kembali dengan Dinas Intelijen Rahasia Inggris itu. Dia lebih suka seperti sekarang, bebas berpetualang sambil mengungkap berbagai macam aksi kejahatan yang semakin hari frekwensinya semakin meningkat.
Lalu keduanya tenggelam dalam perbincangan panjang. Sampai tengah malam, barulah Pranaja menutup ponselnya. Miracle banyak memberinya informasi tentang keadaan di markas M16.
“Sampai jumpa Miracle.”
“Sampai jumpa Cula. Kau hati-hati tinggal di Astana, banyak kuntilanaknya.”
Pranaja terkekeh. Yang dimaksud Miracle tentu bukan kuntilanak beneran, tapi gadis-gadis cantik Kazakhstan yang bisa membuat hatinya luluh seperti saat dia bertemu ‘Dayana’ dulu.
Lalu dia bediri dan menghampiri jendela kamarnya. Dibukanya jendela kamar itu lebar-lebar, mebiarkan udara segar masuk ke kamarnya. Dari lantai enam hotel tempat dia menginap, dia dapat menikmati keindahan Astana di waktu malam.
Dua puluh tiga tahun yang lalu, sebuah kota kecil bernama Akmola yang pernah dijadikan penjara bagi tahanan pemerintah Soviet disulap oleh Pemerintah Kazakhstan menjadi sebuah ibu kota dengan penataan yang sangat terencana. Ibu kota tersebut dinamai Astana (sekarang Nursultan). Ibu kota lamanya, Almaty, terletak jauh di ujung tenggara Kazakhstan.
Letak ibu kota lamanya yang berada di ujung dan terlalu dekat dengan Tiongkok menjadi alasan kenapa Kazakhstan mengalihkan ibu kotanya. Sementara itu lokasi baru yang menjadi incaran, selain secara geopolitik dinilai lebih aman, juga merupakan lokasi yang subur dan kaya akan sumber daya alam.
Dari kamar hotelnya, Pranaja menyempatkan mengambil foto bandara yang dibangun pada tahun 1931 dan mengalami renovasi besar-besaran pada 2005 agar layak menjadi bandara internasional itu. Tidak terlalu besar, tetapi cukup menarik bentuknya, seperti helm.
“Hm, banyak sekali bangunan aneh di kota ini. Mungkin sengaja dirancang unik dan berkelas.”batinnya. .
Astana dibangun dengan campur tangan empat puluh arsitek yang berasal dari Jepang, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, dan Jerman. Untuk menyulap sebuah kota provinsi yang kecil di dataran luas menjadi sebuah ibu kota yang seperti sekarang diperkirakan memakan biaya 30 miliar dolar AS.
Kemegahan bangunan berskala luas dan gedung pencakar langit dengan arsitektur yang unik sempat pula mengganjar ibu kota baru tersebut dengan gelar ibu kota teraneh di dunia oleh media-media barat.
Kota ini juga terlihat bersih. Tidak ada pedagang kaki lima berjualan di trotoar. Bahkan di sekitar mal terbesar di Astana, Kan Shatyr, yang terletak di Turan Avenue, ada area publik yang pasti dilintasi pengunjung mal. Areanya luas. Namun, tempat itu steril dari pedagang. Area publik juga terlihat cukup banyak dan luas-luas, seperti di sekitar Bayterek Tower. Terlihat banyak anak-anak bersama orangtuanya. Mereka menyewa mobil-mobil mini yang dikontrol dengan remote.
Drrt..drrt..drrtt !
Ponselnya berbunyi kembali. Dia membukanya, dahinya berkerut.
“Unidentified name?”
Pranaja memperbesar volume suaranya. Terdengar suara sorang laki-laki dari seberang sana. Suaranya datar, dingin dan penuh dendam.
“Aku akan membunuhmu…”
Pranaja terkesiap kaget. Suara siapa ini? Berani mengancamnya?
__ADS_1