
EPS 140 KENDALI DIRI
Kelopak matamu bagaikan mata air bening yang mengalir di padang tandus. Mengira indahmu hanya akan membuatku terlalu jatuh cinta. Karena hati yang terpesona terpasung mantra yang berhembus dari setiap lekuk tubuhmu. Seperti pengembara yang meniup seruling di dahan senja. Semua tertarik pulang menyambut Sang Dhyakala.
‘Aaaarkkkk!”
Tiba-tiba terasa angin berkesiur lembut, membawa hawa dingin yang menusuk. Disusul suara gemuruh dari atas perbukitan. Angin yang berhembus lirih itu berubah menjadi angin ribut yang menerbangkan debu dan sampah ke udara. Pranaja mengalihkan pandangannya ke dalam hutan. Rupanya arwah siluman penunggu hutan Kecipir merasakan kehadiran tamu tak diundang. Dan dia menunjukkan kemarahannya.
“AARGGH!!!”
“Ternyata banyak sekali arwah gentayangan dari manusia dan siluman di area Megapolitan. Pantas Subrata menyewa pasukan tentara bayaran terbaik didikan sekolah paramiliter milik kolonel Blade Muller. Mantan komandan pasukan elit tiga angkatan kerajaan Inggris yang sangat legendaris,” batinnya.
Walaupun kehadiran mereka juga mengundang banyak tanya, karena anak buah Blade adalah tentara terlatih yang biasa bertempur di dunia nyata. Bukan ghosbusters atau penangkap hantu yang biasa bergelut dengan makhluk-makhluk astral dan dunia supranatural. Pranaja yakin, mereka tidak akan mampu mengusir keberadaan makhluk-makhluk kasat mata itu agar keluar dari wilayah Megapolitan.
“Aku hanyalah pengembara yang tersesat wahai pemilik hutan. Aku hanya lewat dan tidak bermaksud merusak hutanmu,” kata Pranaja sambil memandang ke dalam kegelapan hutan.
“Aaarrkk!”
Auman itu terdengar lagi tapi kali ini lebih rendah. Mendadak angin berhenti berhembus dan suara gemuruh yang berasal dari dalam hutan pun menghilang. Pranaja meneruskan perjalanannya masuk ke dalam hutan kecipir. Bola matanya liar menatap keadaan di sekitarnya.
Hanya pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak ada semak belukar. Terlihat sejenis tanaman perdu yang merambat di beberapa dahannya. Entah pohon apa itu, karena Pranaja tidak bisa memastikannya dalam gelap. Yang jelas dia hapal dengan baunya. Masakan kesukaanya saat kecil.
Beberapa saat dia duduk diam tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya sedang melayang kembali saat berlibur di pantai Tasik, Malaysia. Ibu membawa bekal nasi dan sayuran yang sangat lezat, dan itu adalah sayur Kecipir.
__ADS_1
“Duk!”
Sebuah benda kecil dan ringan jatuh di keningnya lalu berguling ke tanah. Dinginnya air embun mengalir di atas keningnya. Perlahan dambilnya benda itu dan diamatinya. Seperti buah kecipir yang sering dimasak ibunya. Sebuah kecipir muda berwarna hijau terang. Diciumnya buah kecipir itu. Lalu didekatkan ke mulutya, baunya agak anyir. Dihisapnya air embun yang menempel dikulit kecipir itu dalam-dalam.
Ada rasa segar yang masuk ke dalam tenggorokannya. Lumayan, bisa mengobati tenggorokannya yang sedikt kering. Bibirnya tersenyum sendiri. Teringat ayahnya yang sangat suka makan oseng sayur buah kecipir, Di iris tipis-tipis dalam bentuk bintang lalu di oseng bersama daun melinjo dan petai cina, waduh rasanya mak jleb! Ditemani sepiring nasi putih yang masih mengepul hangat, ayah biasanya nambah dua kali dari kebiasaan makannya.
‘Kriyuk! Kresek!’
Pranaja berjalan masuk semakin dalam. Kakinya menginjak tumpukan dedaunan dan buah kecipir kering yang begitu tebal menutupi permukaan tanah.
‘Hm, betul-betul hutan ini masih asli belum terjamah manusia. Pasti ada alasan logis kenapa mereka tidak berani memasuki hutan ini. Mungkin karena mereka takut dengan keberadaan siluman naga, seperti yang diceritakan arwah Dadhungawuk tadi.
‘Apakah suara auman binatang itu adalah suara kemarahan sang naga yang tidak menyukai kehadirannya? ‘ batinnya.
Semakin jauh dia berjalan, dia semakin merasakan kehadiran masuk asing yang terus mengawasinya. Pasti siluman naga itu sedang memata-matai dirinya, batinnya lagi.
Suasana hening begitu mencekam. Pranaja terdiam beberapa saat, menunggu balasan. Setelah memastikan tidak ada yang membalasnya, dia melangkahkan kakinya kembali. Namun baru saja dia membalikan tubuhnya, wajahnya langsung terkesiap. Di depannya terpampang pemandangan yang mengerikan.
Wajah seekor naga seperti yang dia lihat dalam film-film thriller dan game-game online tergambar mengerikan di depannya. Kepalanya yang sebesar rumah itu nampak menggelosoh di atas tanah, sementara tubuhnya yang ‘raksasa’ menggelung di belakangnya. Matanya yang semerah darah menatap tajam dirinya. Mulutnya terbuka. Memperlihatkan gigi taringnya yang begitu tajam. Mungkin kalau dia binatang nyata, tubuhnya sudah dimakannya.
“Apakah kamu nyai Nagabadra? Siluman Naga penghuni hutan Kecipir ini?” tanya Pranaja.
Sang naga hanya mengedipkan matanya. Kepalanya diangkat perlahan ke udara. Lalu berputar mengamati tubuh Pranaja, seolah sedang menilai karakter dan potensi ancaman dari pemuda itu. Setelah itu dia menggeram, lalu bergerak pergi meninggalkan pemuda itu, tanpa memberikan jawaban apapun.
__ADS_1
“Hai! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku!” teriaknya.
Namun teriakannya tidak digubris sama sekali. Sang Naga terus saja berjalan dan menghilang di dalam kegelapan hutan. Pranaja menghela nafas panjang. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya. Dibiarkannya arwah naga itu melayang pergi meninggalkannya.
‘Dia meninggalkanku berarti dia mengijinkan aku masuk ke dalam hutannya,’ batinnya.
Lalu dia berjalan lagi, menyibak kerapatan pohon kecipir yang merambat di mana-mana. Pendengarannya yang tajam seperti mendengar kecipak air dari kejauhan.
‘Pyuk!’
“Seperti kecipak air? Apakah di dalam hutan ini ada telaganya?”
Tak lama kemudian dia melihat telaga itu. Cahaya putih yang menyelubunginya membuatnya dengan mudah menemukan telaga itu. Lalu kenapa airnya bercahaya?
“Wow! Seperti kolam-kolam buatan di tengah kota yang dihiasi lampu-lampu untuk menambah keasriannya. Betul-betul menakjubkan!” batinnya.
Dia lalu berjalan menghampiri telaga itu. Airnya yang begitu jernih memperlihatkan dengan jelas isi telaga itu. Binatang-binatang air nampak berenang hilir mudik di dalamnya. Gurameh, Mujair, Melem, Sepat dan Lele. Beberapa ekor ular juga nampak sedang mengejar-ngejar ikan untuk mengisi perutnya. Gerakan inilah yang menimbulkan kecipak air dari kejauhan.
‘Lalu darimana sumber cahaya ini berasal?’ batinnya.
Matanya tajam berputar-putar mengamati setiap sudut dasar telaga. Dengan bantuan kekuatan baju pelindung T-Shield 313216-nya, dia mencoba menyingkap tabir misteri cahaya yang menyelimuti danau itu. Dan lagi-lagi wajahnya terkesiap kaget. Penglihatannya yang tajam menemukan sumber cahaya itu berasal dari sosok tubuh seorang perempuan yang sedang bertapa di dasar Telaga.
‘Jelas dia bukan manusia biasa yang sedang menenggelamkan dirinya untuk mencari kematian. Dia adalah seorang perempuan sakti dengan kemampuan yang sangat dahsyat. Aku bisa merasakan aura kekuatannya dari sini, “ batinnya. “Pantas telaga ini bercahaya sangat terang.”
__ADS_1
Pranaja terus mengamati wajah perempuan itu. Wajah seorang gadis yang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari semua gadis yang dikenalnya. Wajahnya begitu bening bagaikan batu pualam yang baru saja digosok dengan siraman air embun pagi yang diambil dari kelopak bunga Narsis.
It is absolutely awesome!