RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 31 MENCARI DUKUH LELUHUR


__ADS_3

MENCARI DUKUH LELUHUR


Malam baru saja berakhir. Di ufuk timur tampak cahaya merah, disusul terbitnya matahari. Alam pun menjadi terang benderang. Sang Surya terus bergerak menapaki hari hingga sore pun menjelang. Warna putihnya berubah menjadi warna kuning keemasan sebelum tenggelam kembali dan merubah hari menjadi malam kembali.


Begitulah, karena malam dan siang sudah menjadi peristiwa rutin sehari-hari, manusia pun sudah tidak mempedulikannya lagi. Mereka sudah tidak perduli kenapa ada siang dan ada malam. Padahal perputaran siang dan malam memberikan banyak pembelajaran bagi mereka yang mau berpikir.


“Seperti kehidupan yang menjadi siklus perputaran generasi. Manusia lahir, tumbuh dewasa, kemudian menjadi tua, lalu mati. Pada saat yang sama ada bayi yang lahir kembali, tumbuh dewasa, lalu tua dan mati lagi. Banyak orang yang melupakan esensi daripada kehidupan itu sendiri,” kata ayah saat sedang berbincang berdua dengan Pranaja.


“Bahwa kehidupan itu bukan hanya sekedar siklus, tapi ada misi tersendiri?”


Ayah menganggukkan kepalanya.


“Banyak orang lupa atau tidak tahu bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Penciptanya. Pertama dia harus menjadi khalifah atau pemimpin bagi dirinya sendiri, keluarganya, lingkungannya , masyarakat, bangsa dan Negara,” sambung Ayah. “Yang kedua, kehidupan didunia itu terkonek dengan kehidupan akhirat. Khalifah yang baik akan memproduksi amal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk di bawa sebagai bekal dalam menjalani kehidupan akhirat.”


Pranaja tercenung mendengar kalimat-kalimat bijak itu.


“Ayah percaya tidak dengan kehidupan selain di Bumi? Maksudku di alam semesta ini ada peradaban lain selain manusia?.”


Ayah terdiam sejenak. Ditatapya wajah Pranaja dalam-dalam, mungkin sedang menebak ke arah mana kalimat-kalimat yang keluar dari mulut puteranya itu.


“Aku tidak tahu anakku. Tapi, alam semesta sangatlah luas. Dan Alloh tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia.”


Kalimat ayah terdengar bersayap antara yakin dan tidak yakin.


“Kenapa kau bertanya begitu?”


“Ada seorang professor yang mengatakan kemungkinan leluhur kita adalah alien. Maksudnya makhluk angkasa yang memiliki peradaban jauh lebih canggih dibanding peradaban manusia bumi.”


“Alasannya?”


“Karena struktur DNA dan komposisi oksigen di dalam butiran darahku yang berbeda dengan manusia pada umumnya.”


Ayah terdiam, menarik nafas panjang. Lalu berdiri menuju lemari penyimpanan buku-buku warisan keluarga. Mengambil sebuah album tua yang covernya sudah sangat kusam dan berdebu. Setelah membersihkannya dengan kain, dia kembali duduk di depan Pranaja.


“Album ini berisi lukisan dan foto-foto para leluhur kita,” kata ayah.


Lalu dia membuka lembaran pertama album itu dan diperlihatkan kepada Pranaja. Sebuah bangunan batu mirip candi penuh dengan relief-relief yang menceritakan kehidupan sang pemilik candi, Begawan Wanayasa.

__ADS_1


“Tidak ada orang yang mampu melukiskan wajahnya, bahkan dalam imajinasi mereka. Setiap yang melakukannya dipastikan sakit berkepanjangan.”


Selanjutnya adalah gambar ketiga putera-puterinya, Roro Lawe, Panembahan Somawangi dan Eyang Karangkobar.


“Mereka adalah tokoh-tokoh putih dunia persilatan yang sangat ditakuti pada zamannya. Orang-orang dibalik keberhasilan Sultan Mataram Panembahan Senopati Ing Alaga, dalam setiap operasi militernya menaklukkan kawasan-kawasan yang memberontak terhadap kekuasaan Mataram.”


“Kenapa Panembahan Somawangi dilukis saat muda tetapi yang lainnya sudah tua-tua yah?” Pranaja keheranan.


Karena usia tidak berpengaruh besar terhadap dirinya. Bahkan ini adalah lukisan yang dibuat saat beliau berusia delapan puluh tahun.”


Pranaja terperanjat.


“Wow! Delapan puluh tahun? Kenapa terlihat seperti pemuda berusia dibawah tigapuluh tahun?”


“Itulah salah satu kelebihannya. Ayah juga tidak begitu paham, kenapa dia menjadi awet muda begitu,” ucapnya. “Tapi bukan berarti dia dapat menolak takdir kematian. Dia meninggal pada usia seratus tahun dan memiliki lima putra.”


Dari kelima puteranya itu kemudian menurunkan garis keturunan yang sampai kepada ayah dan Pranaja.


“Waktu ayah kecil dulu, sering diajak kakek ke dusun Somawangi, sebuah pedukuhan kecil di kaki bukit bagian selatan Jawa.’


Pranaja terdiam. Tangannya membuka lembar demi lembar album warisan keluarga itu dan menikmati lukisan atau fotonya. Dia kaget saat melihat lukisan seorang laki-laki memakai pakaian serba putih, menaiki kuda hitam sambil membawa keris di tangannya.


“Ya. Ayahnya adalah salah satu cucu Sultan Mataram, sedangkan ibunya adalah salah satu cucu Panembahan Somawangi.”


Pranaja membuka lembar terakhir foto neneknya.


“Kenapa tidak ada foto kakek yah?”


“Karen kakekmu itu orang biasa, bukan termasuk keturunan bangsawan keraton. Makanya foto ayah juga tidak ada, karena sudah dianggap memiliki darah campuran.”


Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menutup cover terakhir album itu.


“Yah, apakah semua keturunan Begawan Wanayasa memiliki pukulan Dinding Angin dan Gajah Godham?”


Ayah menganggukkan kepalanya.


“Pukulan Dinding Angin dan Gajah Godam adalah ilmu turun temurun yang harusnya dikuasai oleh seluruh keturunan Begawan Wanayasa.”

__ADS_1


“Apakah kemampuan yang aku miliki juga dimiliki keturunan lainnya?”


“Maksudmu kemampuanmu hidup di dalam air, dan kelainan struktur DNA mu?”


Pranaja mengangguk, lalu ayah menggelengkan kepalanya.


“Tidak Pranaja. Hanya kau yang memiliki kemampuan itu, yang lain tidak ada. Bahkan ayah juga tidak memiliki kemampuan sepertimu.”


“Kenapa?”


Ayah menghela nafas. Menatap wajah putera bungsunya itu dalam-dalam.


“Konon menurut legenda, seperti sebuah siklus yang ayah sebutkan tadi, setiap seratus tahun sekali, ketika turun tahun kembar, akan ada keturunan Panembahan Somawangi yang memiliki kemampuan seperti putera sulungnya, Pangeran Haryo Ranggawiyana Kertanaki. Dia memiliki pukulan yang sangat dahsyat karena merupakan gabungan kekuatan inti air, angin dan api.Serta kekuatan dari langit Anugerah Mata Dewa dan batu Mustikaning Jagad.”


Pranaja sampai terperangah mendengar kata-kata ayah.


“Maksudnya, apakah aku termasuk keturunan yang akan mendapatkan kekuatan itu?”


Ayah menggelengkan kepala.


“Aku juga tidak tahu. Menurut cerita hanya keturunan yang memiliki darah murni keturunan Panembahan Somawangi yang akan mendapatkannya. Sedangkan kau memiliki darah campuran dari kakekmu.”


Pranaja mengangguk-anggukan kepalanya. Yang jelas sekarang dia tahu leluhurnya bukanlah alien seperti yang dituduhkan Q kepadanya.


***


Pranaja mengendarai mobil barunya yang merupakan jelmaan Shield. Mobilnya pelan menelusuri jalan berbatu menuju dusun yang sepi itu. Dia sedang bingung sendiri. Hampir setiap orang yang ditanya tentang keberadaan dukuh Somawangi mengatakan tidak tahu atau belum pernah melihatnya.


Ada juga yang mengatakan bahwa dukuh Somawangi hanya dapat dilihat oleh garis keturunan Panembahan Somawangi.


“Maksudmu, mereka itu makhluk Ghaib?”


Laki-laki tua dihadapannya itu menggelengkan kepalanya.


“Bukan, mereka adalah manusia biasa, hanya dusunnya seperti tertutup kekuatan ghaib yang membuatnya tak terlihat dari pandangan manusia biasa.”


Dia juga menceriterakan bahwa sebagian besar penduduk asli dukuh Somawangi adalah petani. Mereka biasa membawa hasil kebun untuk dijual ke pasar. Ciri khas lainnya adalah pakaian mereka masih suka memakai baju lancingan, ciri khas pakaian jaman dahulu.

__ADS_1


Tiba-tiba Shield menghentikan mobilnya secara mendadak. Sekilas tadi dia melihat ada orang tua yang menyeberang jalan. Pranaja segera turun, lalu mencari sosok orang tua tadi, tapi tidak ada siapapun. Mendadak dia menemukan jalan setapak menuju ke balik bukit. Anehnya ada tanda panah kecil diantara semak-semak bertuliskam “SOMAWANGI.”


__ADS_2