
EPS 135 MENYUSUP KE MEGAPOLITAN
Pagi-pagi sekali Pranaja sudah mengemudikan mobil barunya Aston Martin DBS V12 seri terbaru berwarna hitam yang dikirim dari atase militer Inggris di Jakarta. Mobil yang dilengkapi banyak fitur canggih itu juga sudah dipermak oleh Q dengan berbagai macam persenjataan yang belum pernah ada sebelumnya. Dari meriam canon 55, rudal kecil sampai senjata laser yang kekuatannya sanggup menembus logam paling keras sekalipun.
“Rich Pranaja! Wow, you look absolutely awesome!” jerit seorang gadis saat melihatnya.
Dia adalah pegawai magang di Kantor Atase Militer Inggris di Jakarta, namanya Marry Jo. Seusia Pranaja, tubuhnya berkembang sempurna dengan rambut hitam yang cukup lebat bergelombang sampai ke pinggang. Cantik, smart, periang dan tentu saja pemuja Pranaja. Walaupun jarang bertemu, tapi setiap melihat pemuda berwajah imut itu dia langsung histeris, mirip fans melihat artis pujaannya. Dia berlari menyambut Pranaja dan…
‘Bruk!”
Gadis langsung memeluknya tanpa malu-malu. Yang dipeluk hanya nyengir kuda kesenengan. Tapi karena situasi di kantor atase cukup ramai, Paranaja jadi malu sendiri. Apalagi semua mata langsung memandangi mereka. Para pegawai dan tamu-tamu yang datang tersenyum tipis, tapi kemudian berlalu tanpa peduli lagi. Huh! Dasar anak muda!
Jo memeluk Pranaja erat sekali. Raut wajahnya begitu ceria, khas wajah gadis belia saat melihat pemuda idamannya.
“Hi Tiger! How are you doing?” Tanya Jo manja.
“I’m feeling great,” jawab Pranaja. “How about you?”
“OK. It’s nice to meet you again. Aku seneng banget ketemu kamu lagi,” sahut Jo.
Ditatapnya wajah pemuda idamannya itu dengan penuh semangat. Pranaja memang terlihat begitu keren di balik kaca mata hitamnya. Apalagi saat dia duduk dibalik kemudi mobil barunya yang super keren itu, Jo kembali menjerit. Hanya agen-agen utama M16 yang mendapatkan fasilitas mewah dari Dinas Intelijen Inggris itu.
“Kapan kau akan mengajak aku jalan Tiger?”
__ADS_1
“Suatu saat pasti aku akan mengajak kamu jalan, Jo.”
Setelah itu mobil Pranaja segera meluncur pergi meninggal kantor Atase dan Jo. Matanya menatap tajam membawa mobil barunya melaju cepat membelah jalan tol Pondok Indah menuju ke luar kota. Cuaca yang bersahabat membuatnya bersemangat. Hari ini dia akan menemui penghubungnya di koordinat limapuluh Megapolitan city.
Lalu lintas menuju Gerbang Tol Cikarang siang ini, terlihat ramai lancar. Meski tersendat-sendat, mobil masih bisa melaju. Pranaja melihat ada beberapa kendaran yang menumpuk di satu titik. Rupanya terjadi sedikit kemacetan karena padatnya kendaraan yang keluar masuk di rest area. Memang biasanya banyak orang yang pergi ke luar kota untuk menghabiskan libur akhir pekan.
Setelah melewati rest area, arus lalu lintas kembali normal. Mobil Pranaja melaju dengan kecepatan sekitar 150 hingga 250 km per jam.Tidak sampai satu jam mobilnya sudah keluar dari gerbang tol Cikarang, terus meneruskan perjalanan masuk ke tol Cipali. Inilah perjalanan yang sesungguhnya. Melintasi jalan tol yang begitu panjang dan sepi, sambil menikmati pemandangan langit biru dan bukit-bukit gersang yang mulai menghijau.
Pranaja menginjak gas pol. Jarak seratus enambelas kilometer dari Cikopo ke Palimanan, Cirebon hanya di tempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Jam duabelas siang dia sudah keluar dari gerbang tol, lalu memperlambat laju mobilnya dan masuk ke sebuah restoran bebek goring yang cukup terkenal.
“Tolong buatkan aku bebek panggang lada hitam ya?” pesannya.
“Iya mas. Di tunggu sebentar ya?” sahut resepsionis sambil tersenyum ramah.
“Terimakasih,” gumam Pranaja.
Lalu dia mulai menikmati makan siangnya. Hm, masakan restoran ini memang sangat enak, pantas banyak pengunjug yang dating. Kata orang, bebek yang ada disini adalah bebek Peking yang lebih gurih dan dagingnya sangat lembut. Dan juga sambel trasinya yang membuat orang-orang ketagihan. Pranaja betul-betul makan dengan kenyang.
‘Aargh’ dia bersendawa cukup panjang seperti memberi tanda.
Lalu melambaikan tangannya. Pelayan tadi menghampirinya kembali. Meletakkan selembar kertas tagihan di atas meja, lalu membawa piring yang kotor ke dapur. Pranaja mengambil kertas bill itu, terasa ada sesuatu yang mengganjal di bawahnya. Pranaja mengambil benda itu dan dimasukkan ke dalam saku bajunya.
Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir dia segera keluar lagi. Saat melewati meja resepsionis, dia masih sempat melihat gadis itu sedang mencuri pandang kepadanya. Pranaja langsung timbul sifat jahilnya. Dia mengedipkan salah satu matanya kepada gadis itu. Wajah gadis itu langsung menunduk dengan warna merah jambu membias di kulitnya yang glowing.
__ADS_1
Dia berjalan memutari restoran menuju ruang belakang. Sampai disana dia melihat sebuah kendaraan truk tronton besar beroda sepuluh. Ada tulisan yang terpampang jelas dibagian depannya, Renault Suez RX26. Laalu nomor mobilnya persis sama dengan tertulis di baju pelayan tadi, R 4 J A. Pranaja merogoh sakunya, mengeluarkan benda kecil yang ternyata adalah kunci mobil truk itu. Dia lalu melompat naik dan masuk ke dalamnya.
“Rupanya truk ini membawa batu alam,” batinnya saat menengok ke belakang.
Dia melihat dashboard yang sangat cantik dengan system pencahayaan yang indah. Tidak banyak tombol yang terlihat, karena kendaraan ini bisa dikendalikan oleh robot. Jadi kalau supirnya mengantuk, truk ini bisa mengendalikan dirinya sendiri. Truk bertekhnologi canggih ini menggunakan energi listrik seratus persen. Dengan mesin matik yang mampu membawa beban sampai 26 ton.
Lima belas menit kemudian mobilnya sudah keluar dari restoran. Kendaraan raksasa itu meluncur tenang menuju pintu tol Pejagan. Suasana jalan tol terlihat sepi. Hanya ada beberapa bus dan mobil angkutan barang. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi, sebentar saja Pranaja sudah sampai di Brebes Exit. Lalu membawa mobil barunya berbelok ke arah selatan menuju pedalaman pulau Jawa.
“Drrt..drrt..”
Ponselnya bergetar. Pranaja mengambilnya. Ada tulisan ‘Crop’ di layar ponselnya. Hm, rupanya agen yang bertugas sebagai penghubung. Dia mengirimkan pesan singkat lewat aplikasi whattshap.
“PIN?”
”476503” balas Pranaja.
“Bawa barangmu ke koordinat limapuluh Megapolitan City. Ada agen yang menunggumu di sana.”
“Okey.”
Ah, Megapolitan masih jauh. Dibutuhkan waktu sampai lima jam untuk sampai ke sana. Apalagi mereka harus melewati jalan terjal dan sepi di kaki gunung Slamet, gunung terbesar di pulau Jawa. Pranaja merebahkan tubuhnya. Mobil truknya sepenuhnya di kendalikan oleh robot.
Rupanya ada kamera sensor yang membaca situasi jalan di depan dan belakang mobil itu. Sehingga kalau ada benda keras di depannya pada jarak lima meter, mobil itu otomatis akan melambat dan berhenti sendiri. Wow!
__ADS_1