RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 140 KENDALI DIRI


__ADS_3

EPS 140 KENDALI DIRI


Kelopak matamu bagaikan mata air bening yang mengalir di padang tandus. Mengira indahmu hanya akan membuatku terlalu jatuh cinta. Karena hati yang terpesona terpasung mantra yang berhembus dari setiap lekuk tubuhmu. Seperti pengembara yang meniup seruling di dahan senja. Semua tertarik pulang menyambut Sang Dhyakala.


‘Aaaarkkkk!”


Tiba-tiba terasa angin beresiur lembut, membawa hawa dingin yang menusuk. Disusul suara gemuruh dari atas perbukitan. Angin yang berhembuas lirih itu berubah menjadi angin ribut yang menerbangkan debu dan sampah ke udara. Pranaja mengalihkan pandangannya ke dalam hutan. Rupanya arwah siluman penunggu hutan Kecipir merasakan kehadiran tamu tak diundang. Dan dia menunjukkan kemarahannya.


“AARGGH!!!”


“Ternyata banyak sekali arwah gentayangan dari manusia dan siluman di area Megapolitan. Pantas Subrata menyewa pasukan tentara bayaran terbaik didikan sekolah paramiliter milik kolonel Blade Muller. Mantan komandan pasukan elit tiga angkatam kerajaan Inggris yang sangat legendaris,” batinnya.

__ADS_1


Walaupun kehadiran mereka juga mengundang banyak tanya, karena anak buah Blade adalah tentara terlatih yang biasa bertempur di dunia nyata. Bukan ghosbusters atau penangkap hantu yang biasa bergelut dengan makhluk-makhluk astral dan dunia supranatural. Pranaja yakin, mereka tidak akan mampu mengusir keberadaan makhluk-makhluk kasat mata itu agar keluar dari wilayah Megapolitan.


“Aku hanyalah pengembara yang tersesat wahai pemilik hutan. Aku hanya lewat dan tidak bermaksud merusak hutanmu,” kata Pranaja sambil memandang ke dalam kegelapan hutan.


“Aaarrkk!”


Auman itu terdengar lagi tapi kali ini lebih rendah. Mendadak angin berhenti berhembus dan suara gemuruh yang berasal dari dalam hutan pun menghilang. Pranaja meneruskan perjalanannya masuk ke dalam hutan kecipir. Bola matanya liar menatap keadaan di sekitarnya.


Beberapa saat dia duduk diam tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya sedang melayang kembali saat berlibur di pantai Tasik, Malaysia. Ibu membawa bekal nasi dan sayuran yang sangat lezat, dan itu adalah sayur Kecipir.


“Duk!”

__ADS_1


Sebuh benda kecil dan ringan jatuh di keningnya lalu berguling ke tanah. Dinginnya air embun mengalir di atas keningnya. Perlahan dambilnya benda itu dan diamatinya. Seperti buah kecipir yang sering dimasak ibunya. Sebuah kecipir muda berwarna hijau terang. Diciumnya buah kecipir itu. Lalu didekatkan ke mulutya, baunya agak anyir. Dihisapnya air embun yang menempel dikulit kecipir itu dalam-dalam.


Hmh, segar sekali. Bisa sedikit mengobati rasa dahaganya. Didorong rasa lapar digigitnya kecipir muda itu. Hmm..enak sekali, kata hatinya. Mungkin saking laparnya.


“Buah ini enak sekali ibu,” gumamnya.


Sisa buah kecipir yang ada ditangannya langsung ditelan semuanya. Dia memetik lagi buah kecipir muda di atas kepalanya, dengan rakus dimakannya buah itu bulat-bulat.


“Hrm..enak sekali,” mulutnya sampai mengeluarkan cairan hijau buah kecipir.


Setelah perutnya terisi, pemuda imut itu mulai berpikir. Dia mengamati sekelilingnya. Banyak buah kecipir muda yang bergelantungan diatasnya. Dia mengangguk-angguk. Buah kecipir memang sangat lezat sambil minum besama jus. Dan Pranaja terus melangkahkan kakinya ke dalam hutan sambil memasang sifat kendali atas diriya sendiri. Karena dia merasakan potensi menyikapinya.

__ADS_1


__ADS_2