
EPS 115 IKAN HIU MAKAN TOMAT
Amita!
Teriak Pranaja saat menyadari kalau Amita benar-benar telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkannya. Dengan sigap dia mengangkat tubuh gadis cantik itu. Lalu tubuhnya dihentakkan dan kembali duduk di atas punggung Spot yang baru saja membakar habis seluruh pasukan tak dikenal yang menyerang Pranaja.
Aaark!
Teriak Spot sambil mengibas-ngibaskan kedua sayapnya untuk merayakan kemenangan, sebelum berbalik terbang meluncur kembali ke bumi.
“Kekuatan Tirtanala!” teriak Pranaja.
Dengan lembut disentuhnya ujung kepala Amita, menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan dan menyembuhkan.. Beberapa saat Pranaja memperhatikan luka di tubuh gadis yang baru dikenalnya itu. Dari ujung kaki hingga pangkal paha mengalami luka sobek sehingga tulang-tulangnya kelihatan. Sementara dipunggungnya ada luka tusuk akibat logam roket yang runcing menghantamnya tadi.
“Kekuatan Tirtanala!” teriak Pranaja kembali.
Dia berusaha semakin keras untuk menyelamatkan nyawa Amita. Namun kali ini ada keanehan. Kekuatan Tirtanala yang menyejukkan dan menyembuhkan seperti tidak berhasil mengembalikan dan menyembuhkan luka-luka di tubuh Amita. Darah masih mengalir dan jaringan syaraf yang sobek masih terbuka. Ada apa dengan kekuatannya? Pranaja berpikir keras sambil terus menyalurkan kekuatan Tirtanalanya.
“Kakek! Bantu aku!” teriaknya memanggil Shamtek.
Wyona yang baru menyadari betapa parahnya luka yang diderita Amita, ikutan panik. Hilang sudah rasa amarah dan cemburu dalam hatinya. Yang ada adalah rasa cemas dan tidak tega melihat keadaan gadis itu. Dia memejamkan matanya, mencoba menghubungkan batinnya dengan Shamtek yang ada di pulau Socrota. Dan bisikan itu muncul dalam hatinya.
“Kata kakek kita harus kembali ke Socrota, Pranaja. Di sana kau baru bias menyembuhkan luka Amita,” kata Wyona.
Pranaja menatap wajah Wyona dalam-dalam, seolah sedang meyakinkan dirinya bahwa kata-kata Wyona adalah benar-benar merupakan pesan dari Shamtek Yang Agung. Setelah itu di menoleh ke arah Spot. Naga itu mengepakkan sayapnya seolah siap untuk mengantar kembali ke Socrota melewati lorong waktu.
Aaark! Aaar! teriaknya.
Pranaja berdiri tegak. Lalu dia mencabut pedang Naga miliknya. Setelah menarik nafas dan memejamkan matanya, kedua tangannya mengangkat pedang Naganya ke atas. Lurus menembus angkasa. Sinar putih yang sangat menyilaukan terpancar deras membelah langit. Menciptakan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Gumpalan awan hitam berarak menutupi permukaan kerajaan Bumi.
Heyaa!
Jleger! Jleger!
__ADS_1
Percikan-percikan kilat keluar dari pedangnya. Mendadak langit di atas kerajaan Bumi semakin gelap. Matahari, bulan dan bintang-bintang tertutup uap air berwarna putih tipis sekali. Gumpalan uap es seperti kapas putih itu berkumpul dan mulai berputar, semakin lama semakin cepat. Angin bertiup diikuti suara bergemuruh yang amat dahsyat.
Lalu pusat putaran itu perlahan terbuka, membentuk sebuah lorong waktu yang amat panjang. Di ujung lorong adalan hamparan bumi Socrota, dengan pepohonan Dorstenia Gigas dan Adenium Obesum, atau Pranaja menyebutnya Mawar Palem Botol. Dengan satu kali hentakan, tubuh Pranaja meluncur lurus, terbang menuju lorong waktu. Berbarengan dengan tubuh Wyona.
Dengan hati-hati Spot mengambil tubuh Amita dengan mulutnya. Setelah itu diletakkan di dalam mulutnya yang cukup untuk menampung tubuh gadis itu. Lalu dia mengibaskan sayapnya. Semakin lama semakin cepat. Dan..
Wuss!
Tubuhnya melesat cepat menuju lorong waktu, menyusul Pranaja dan Wyona. Kibasan sayapnya dari atas ke bawah menciptakan deru angin yang bergemuruh. Terdorong oleh kepak sayapnya kuat, tubuh Spot melayang dengan kecepatan tinggi. Menyambut tubuh Pranaja dan Wyona. Tubuh Pranaja meliuk di udara, kemudian mendaratkan kedua kakinya di punggung Spot. Kedua tangannya kuat mencengkeram kedua tanduk Spot.
Semenara tubuh Wyona berubah menjadi uap air. Kemudian masuk kedalam sisik permata biru yang terletak diantara kedua mata Spot.
Aaark!
Spot berteriak sekali lagi. Suaranya mengguntur membelah angkasa, sebelum tubuhnya dan ketiga junjungannya melewati pintu portal dan masuk ke lorong waktu. Di dalam lorong itu, tubuh mereka terpental terpisah-pisah. Mereka merasa tersedot dalam ruang yang penuh warna. Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru.
Jleg!
Heyaa!
Aaark!
Adduh!
Tubuh Pranaja berguling-gulung, lalu berhenti persis di samping tubuh Miracle yang masih tertidur nyenyak. Sejenak Pranaja terkesiap kaget. Miracle masih tidur dengan posisi persis sama seperti saat dia meninggalkannya. Bahkan peraduannya sendiri masih terasa hangat. Bagaimana mungkin? Padahal dia merasa sudah meninggalkan mereka berhari-hari.
“Cepat selamatkan Amita, Pranaja!” perintah Shamtek.
Suara Shamtek yang berat dan lembut itu menyadarkan Pranaja akan kewajibannya terhadap Amita. Spot meletakkan tubuh Amita di depan Shamtek. Pranaja berdiri menghampirinya. Sambil berjongkok dia menyentuh kepala gadis itu kembali. Menyalurkan kekuatan Tirtanala, yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan.
“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya keras dengan kekuatan penuh.
Kali ini berhasil. Hawa sejuk terasa merasuki pori-pori kulit kepala Amita. Hawa sejuk itu terus merambat masuk ke dalam sel-sel darah, jaringan urat syaraf dan tulang-tulangnya. Memberikan rasa yang nyaman serta menghilangkan segala rasa sakit. Dan untuk kesekian kalinya, kekuatan Tirtanala kembali mempertunjukkan keajaibannya.
__ADS_1
Perlahan rasa sakit yang di derita Amita lenyap, berganti rasa nyaman yang menyelimuti hatinya. Lalu luka sobek yang membelah ujung kaki sampai pangkal pahanya mulai menutup, Luka tusuk di punggung gadis itu juga sudah mulai menutup kembali. Darah yang mengalir berhenti dan terhisap masuk kembali ke dalam jaringan darah. Jaringan urat yang terputus bertautan kembali. Segala luka di tubuh Amita benar-benar hilang tak berbekas.
“Hmmh…”
Beberapa saat kemudian, perlahan tubuh gadis itu menggeliat. Semua perhatian tertuju kepada gadis itu. Pranaja, Shamtek, Wyona dan Spot menatap Amita tak berkedip. Wyona bahkan berdecak kagum dalam hatinya. Sekilas dia mengerling ke arah Pranaja. Sudut matanya menagkap wajah pemuda itu yang begitu tenang menyembuhkan Amita. Lalu Pranaja melepaskan tangan dari kepala Amita. Menunggu gadis itu bangun dari pingsannya.
“Kau hebat sekali sayang,” puji Wyona dengan kata hatinya.
Pranaja tersenyum tipis sambil melirik Wyona.
“Apanya yang hebat?” sahut Pranaja lewat bahasa batin juga.
“Baru sekali ini aku melihat ada pemuda ganteng, sakti dan mampu menyembuhkan luka yang sangat parah kembali sembuh seperti semula. Luar biasa!”
“Sudah cukup segitu pujiannya?” sahut Pranaja lagi.
“Iya. Kalau kebanyakan nanti kamu jadi mabuk,” ujar Wyona.
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Mabuk? Mabuk apa?”
“Mabok cinta dong. Cinta sama akyu…hik hik hik.”
“Hem!” tiba-tiba Shamtek terbatuk.
Pranaja dan Wyona serentak melihat ke arah penyihir tua itu. Nampak kedua mata kakek terpejam. Tapi tetap saja wajah Pranaja dan Wyona jadi merah jambu. Mereka lupa kalau Shamtek bisa mendengar percakapan batin mereka.
“Ikan hiu makan tomat, jangan merayu saatnya tidak tepat!” tegurnya.
Hah? Pranaja dan Wyona kembali tersentak. Keduanya reflek menengok wajah Shamtek lagi. Posisnya masih sama, tapi ada senyum tipis di bibirnya. Kedua sejoli itu menutup mulutnya masing-masing, karena tidak kuat menahan tawa.
Huh, ternyata kakek Shamtek usil juga, hehehe…
__ADS_1