RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 144 LAURA CROWN


__ADS_3

EPS 144 LAURA CROWN


Dip..dip..dip..



Terlihat arloji di lengan kanan Lucra berrkedip-kedip. Lucra memencet salah satu tombol, lalu muncullah gambar M di layarnya. Rupanya arloji cantik milik Lucra juga berfungsi sebagai alat komunikasi yang langsung tersambung dengan M16. Lucra memandang Pranaja sekilas sambil tersenyum. Pranaja hanya menganggukkan kepalanya, mempersilahkan agen 004 itu menerima panggilan bos besarnya.



“Morning M,” sapa Lucra.


“Morning Lucra,” sahut M pendek.


“What’s up?” tanya Lucra.



M menatap tajam wajah Lucra, seolah memberitahu agar Lucra mendengarkannya baik-baik. Dan jangan sampai salah informasi.



“Kau punya identitas baru. Namamu Laura Crown, seorang konsultan dan ahli konstruksi dari Amerika. Kau akan bekerja di Megapolitan City mulai besok. Pramono akan menemuimu langsung besok di kantornya. Katakan bahwa kau butuh supir pribadi untuk mendukung kinerjamu,” ujar M.



Lucra mengangguk-anggukkan kepalanya. Saat akan menutup ponselnya, tiba-tiba M berbicara lagi.



“Bekerjalah professional, kau agen senior Lucra. Beri contoh yang baik kepada juniormu. Dia masih polos, jangan kau mencoba menggodanya.”



Suara M begitu menekan. Membuat semangat Lucra untuk caper di depan Pranaja hancur berantakan. Huh! Dasar M, selalu saja mengganggu kesenanganku.



“Apa yang M katakan kepadamu Lucra?”



Satu suara berat tiba-tiba terdengar di belakang Lucra. Gadis itu terkejut bukan main, hampir saja terloncat dari tempatnya. Seluruh gerakan tubuhnya langsung tak terkontrol, bergetar tak karuan. Degup jantungnya juga meningkat frekwensinya.



Deg Deg Pyar ,,,,! Deg Deg Pyar…!


Mendadak wajah imut Pranaja begitu dekat dengannya. Persis di sampingnya, ikut melihat layar arlojinya. Ih, kepo banget sih, batin Lucra. Tapi bibirnya tersenyum senang. Meskipun heran, mengapa gerakan Pranaja begitu halus, sampai dia tidak bias mendeteksi pergerakannya. Hadewh! Jangan-jangan gara-gara terpesona pemuda itu, dia jadi kehilangan indera keenamnya sebagai Agen Rahasia. Tapi tidak apa-apa lah, Agen Rahasia kan juga manusia. Hehehe…


***


Keesokan harinya Lucra sudah berada di koordinat sepuluh Megapolitan City. Terlihat dia sedang berdiskusi dengan Pramono, ‘Penguasa’ Megaproyek properti dunia itu. Pramono begitu intens mewawancarai staf ahli barunya itu.



“Jadi Mister Pramono mendapatkan rekomendasi dari Mister Subrata untuk mewawancaraiku?” tanya Lucra sedikit genit.



“Kau benar. Akulah yang berhak menentukan siapapun yang bekerja disini, kecuali pegawai yang mendapat rekomedasi pak Subrata, aku tidak bisa menolaknya. Apalagi bila orangnya secantik anda,” rayu Pramono.


ko


Lucra tersenyum. Dengan gerakan cepat dia meraih dasi yang yang dipakai Pramono, lalu menariknya dengan tangan kiri. Mendekatkan wajah laki-laki bangkotan itu dengan buah dadanya yang ranum menpesona.


“Hm, aku juga suka bekerja sama denganmu, mister Pra-mo-no,” ujar Lucra terbata.


Mata Pramono langsung terbelalak. Buah kembar itu begitu ranum memenuhi bola matanya. Apalagi jaraknya hanya lima sentimeter, lidah Pramono otomatis terjulur keluar.


“Hap!”

__ADS_1



Tangan kanan Lucra langsung menangkup wajah Pramono sehingga tidak bisa lebih dekat lagi. Setelah itu dasinya dilepaskan. Lalu wajah Pramono di dorong kembali ke belakang.



“Bruk!”



Tubuh Pramono jatuh kembali ke tempat duduknya semula. Wajah Pramono langsung memerah karena konaknya terlanjur naik ke ubun-ubun. Nafasnya mendengus kasar. Tapi dia tidak berani lebih jauh, karena Lucra adalah pilihan bigbosnya Subrata sendiri.



“Mungkin kita akan mempunyai waktu banyak untuk bersenang-senang Mister P,” goda Lucra lagi.


Pramono langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Tentu cantik.”



Lalu dia memperbaiki kemeja dan dasinya yang berantakan.


“Hem! Sekarang katakan apa yang kau butuhkan, pasti akan aku sediakan,” ujar Pramono buru-buru.



Lucra tersenyum jumawa. Seolah permainan sudah selesai dan dia adalah pemenangnya.


“Aku butuh supir pribadi,” kata Lucra. “Sekarang!”


Pramono terkesiap.


“What! Sekarang?”


“Ya, Detik ini juga,” tegas Lucra. “Apa kau sanggup Mr. P?”




“Glek!”



Lalu kepalanya mengangguk-angguk.


“Tentu. Tentu saja aku sanggup. I..itu hal sepele bagiku.”


Lalu Pramono menelpon sekretarisnya.


“Des, suruh pak Darsono mencarikan aku supir pribadi. Sekarang, detik ini juga. Bawa kemari!” perintah Pramono.


“Baik Pak!”



Terdengar gagang telepon yang tidak diletakkan dengan benar, disusul suara langkah kaki yang berjalan keluar dengan tergesa-gesa.



Lima menit kemudian, Desi mengangkat telponnya kembali.


“Pak Darsono mohon ijin ketemu dengan bapak dengan seorang supir baru.”


“Ok. Siapa namanya?”


“Rich Pranaja. Dia supir pemasok bahan material untuk konstruksi bangunan di titik koordinat limapuluh.”


“Cepat suruh mereka masuk!”

__ADS_1


***


DUA BULAN KEMUDIAN…



Pranaja memarkir mobil sport warna merah menyala itu di depan kantor eksekutif Megapolitan City. Di belakangnya adalah Lucra Venzi, agen 004 sekaligus bosnya di Megapolitan. Memakai celana panjang hitam dan blazer warna putih, terlihat sangat cantik dan segar. Sebelum turun di merangkul leher Pranaja dari belakang, lalu mencium ujung kepalanya. Ritual rutin yang selalu dia lakukan setiap pagi. Dan Pranaja hanya tersenyum saja.



“Ada kabar hari ini buronan kita Blade Muller akan dating ke Megapolitan 009. Kau harus mempersiapkan dirimu.”


Pranaja menganggukkan kepalanya. Dia juga sudah tahu informasi kedatangan Blade.


“Oke. Aku turun dulu ya?” ucap Lucra, masih dengan senyum manja.


Pranaja menganggukkan kepalanya lagi. Sepertinya dia enggan meladeni rayuan agen seniornya itu.



Tok! Tok! Tok!



Terdengar suara sepatu Lucra berjalan memasuki kantornya. Sementara Pranaja hanya terdiam menunggu di balik kemudinya. Sengaja dia memarkir mobilnya menghadap ke arah landasan helicopter atau Helipad yang berjarak enam puluh meter di depan kantor Megapolitan. Dari sini dia dapat mengamati pergerakan orang-orang di helipad tanpa dicurigai oleh siapapun.



Hampir sehari semalam dia menunggu kedatangan Blade, namun belum ada informasi apapun. Lucra juga belum keluar dari ruangannya, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Saat Pranaja akan meneguk tetes kopinya yang terakhir tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah selatan. Pranaja segera bersikap waspada.



“Brrrdddd!..taptaptaptap!”



Sebuah helicopter berwarna hitam muncul dari kegelapan bukit Kethileng. Suasana malam pun langsung pecah. Beberapa orang keamanan yang masih terjaga langsung bersikap waspada. Mereka mempersiapkan senjatanya masing-masing, lalu mengepung landasan helikopter menunggu pesawat itu turun.


Begitu helikopter itu mendarat, Blade di sambut Kolonel Darsono, mantan perwira menengah angkatan darat yang memilih pensiun dan meneruskan karir sebagai kepala keamanan wilayah Megapolitan. Tidak ada orang tahu, kalau kolonel Darsono adalah agen penghubung dari Dinas Intelijen Inggris. Dialah orang yang diam-diam banyak membantu Lucra dan Pranaja.


“Selamat datang Blade. Senang sekali bisa bertemu denganmu,” sambut Darsono.


Blade memeluk tubuh Darsono sambil tertawa lebar.


‘Terimakasih sudah menyambutku. Aku datang karena aku merasa kangen kepada kalian semuanya,” sahut Blade.



Lalu kedua pensiunan tentara itu masuk ke markas untuk rehat.


“Maaf Blade, pak Pramono belum bisa menyambutmu karena sedang ada kepentingan di Australia.”


Blade menganggukkan kepalanya.


“Oh, ya aku mengerti. Kapan pak Pramono kembali?”


“Kemungkinan lusa sudah berada di Megapolitan lagi.”



Mendadak Blade menghentikan langkahnya. Matanya melihat ada perempuan bule berambut pirang sedang duduk di depan salah satu ruangan di kantor pemasaran Megapolitan City. Kenapa masih ada perempuan di Megapolitan City tengah malam begini? Darsono juga ikut berhenti dan menatap perempuan yang sama.



“Namanya Laura Crown, seorang ahli konstruksi yang didatangkan dari Amerika. Kinerjanya bagus sekali. Cantik, seksi, percaya diri dan mengembangkan daya khayal, ” puji Darsono sambil tertawa.



Blade masih memandanginya. Dia merasa ada yang aneh dengan perempuan itu. Instingnya yang tajam dan pengalamannya mengatakan kalau dirinya sedang terancam bahaya!


LAURA CROWN?

__ADS_1


__ADS_2