RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 52 MENGENDALIKAN PIKIRAN


__ADS_3

MENGENDALIKAN PIKIRAN


Alam telah mengenalkan kita kepada berbagai macam cahaya yang berwarna-warni. Ada cahaya putih, kuning, merah, ungu dan lainnya. Cahaya-cahaya itu menampilkan keindahannya sendiri-sendiri. Namun beragam warna cahaya itu bila disatukan akan menjadi satu warna yaitu warna putih.


Si Penyusup berjalan hati-hati mengelilingi ruangan tempat dimana Tong Pi dipisahkan dari dunia luar. Ruangan berbentuk kubus dengan pembatas dinding transparan yang membuat semua orang bisa melihat ke dalam ruangan. Ada toilet dan ruang dimana Tong Pi tergeletak sekarang. Terlihat kepalanya menggeleng-geleng. Tidak ada satu lubangpun yang bisa digunakan untuk masuk atau keluar.


“Luar biasa cara mereka mengurung Tong Pi, sehingga kemampuan teleportasinya tidak dapat digunakan,” bisiknya.


Perlahan tangannya menyentuh dinding transparan itu. Begitu kenyal dan cukup tebal. Meskipun terlihat empuk, tapi bahannya terbuat dari thremoplastik yang sangat kuat. Di pukul dengan benda keras, maka bendanya akan mantul sendiri, tanpa meninggalkam kerusakan apapun.



Tut…tut…tut…..



Ada pesan masuk ponselnya. Langsung dibaca.


“Cula, sudah kau temukan jejak si Gundul?”


Dia membalasnya.


“Sudah. Aku melihat Tong Pi dikurung dalam ruangan plastik yang sangat kuat.”


“Bagaimana keadaannya?”


“Nampaknya dia tak sadarkan diri. Aku sedang mencari cara membebaskannya, tapi tak ada lobang apapun untuk bisa masuk ke dalamnya.”



“Gunakan saja kekuatanmu.”


“Maksudmu Tirtanala atau Geni Sawiji?”


“Iya.”


“Tidak. Aku khawatir tubuh Tong Pi terkena dampak buruknya. Ini masalah tekhnologi Macan, pasti ada cara untuk membukanya.”


“Oke”


“Sabar ya.”


“Waktumu hanya sepuluh menit Cula, sebentar lagi ada petugas datang untuk menyuntikkan oksigen ke dalamnya.”


“Oke.”



Cula adalah nama panggilan Miracle kepada Pranaja. Pemuda itu mengitari ruangan itu sekali lagi. Kali ini dia mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 nya. Terasa ada hawa sejuk yang mengalir lewat pori-pori tubuhnya. Merasuk ke dalam saluran darah, urat syaraf sampai ked lam sum sum tulangnya. Meningkatkan kekuatan tubuhnya dan mempertajam panca inderanya.



Kini matanya dapat melihat dinding ruangan plastik itu dengan lebih jelas, Matanya bahkan bisa memperbesar setiap obyek yang dicurigainya. Bahkan lubang sekecil apapun.bisa ditemukan dengan indera penglihatannya.

__ADS_1



“Eh, benang apa ini?” batinnya.”Nampaknya benang ini yang menjadi kunci masalahku. Hm, hampir tak terlihat.”



Matanya yang tajam melihat sehelai benang yang terhubung dengan keempat sudut ruangan berbentuk kubus itu. Matanya terus menelusuri keberadaan benang itu sampai di tengah langit-langit, kemudian tersimpul di situ. Pranaja terus berpikir, dia yakin benang yang hamper tak terlihat itu, adalah kunci masuk ke dalam ruang transparan. Tubuhnya yang tinggi dan tangannya yang panjang berhasil meraih benang kecil itu, lalu menaraiknya.



Blup!..Blup!..Blup!..



Ruang plastik itu mendadak berubah dan bergerak. Plstiknya mengecil dan tertarik keatas dan masuk ke dalam sebah lubang langit-langit kamar. Meninggalkan tubuh Tong Pi tergeletak di ruang terbuka. Untung ini adalah ruang laboratoriu, jadi jarang ada orang datang.



“Wow! Amazing!” serunya dalam hati.



Pranaja langsung menghampiri tubuh Tong Pi. Memeriksa nafas, deyut nadi dan suhu tubuhnya. Hm, nampaknya baik-baik saja. Mungkin dia tertidur karena pengaruh obat bius, batinnya. Diangkatnya tubuh kecil ke tempat yang lebih gelap. Lalu dia kembali ke tempat tadi. Dia meletakkan peralatan mungil di tengah ruangan. Setelah memencet tombol merah, keluar gambar hologram tubuh Tong Pi tergeletak di lantai. Lalu dia menarik benang kecil yang terjuntai di atas langit-langit kamar. Sekejap kemudian, ruang plastik tadi kembali mengembang dan mengurung tubuh Pranaja palsu di dalamnya.



“Satu menit lagi ada petugas medis kemari, aku harus mebersihkan semunya,” batinnya.




Para penjaga yang tak sadarkan diri juga di dudukkan bersama dalan satu kursi panjang. Beberapa saat kemudian para petugas medis datang. Melirik para penjaga yang sedang tertidur sekilas dan memandang Pranaja yang berdiri tegap di samping mereka.



“Hanya kau yang terjaga, temanmu tidur semua?” tanya salah seorang dari mereka.



Pranaja hanya menganggukkan kepalanya. Membiarkan para petugas medis itu melakukan tugasnya. Mereka menyuntikkan suplai oksigen ke dalam ruang plastik agar Tong Pi dapat bernafas.



Nampaknya mereka sama sekali tak menaruh kecurigaan apapun. Apalagi tubuh Tong Pi jelas masih tergeletak di ruang transaparan. Setelah selesai dengan pekerjaannya mereka langsung pergi tanpa menoleh lagi.



Pranaja menarik nafas lega. Paling tidak sampai para penjaga ini sadar tidak akan ada yang tahu, kalau sebenarnya Tong Pi sudah tidak ada di tempatnya lagi.


***


Pagi sudah menjelang. Sinar matahari merasuk ke dalam dinding-dinding kamar. Miracle pura-pura menggeliat bangun dari tidurnya. Tangannya direntangkan sampai meninju wajah Kolonel Kurk yang masih mendengkur di sampingnya. Perwira tua itu langsung membuka matanya.

__ADS_1



“Maaf, membangunkanmu pak,” kata Miracle.


Kolonel Kurk bangun dari tidurnya. Nampak bingung dengan keadaannya.


“Masih kecapaian Kolonel? Kau lumayan hebat juga,” ucap Miracle sambil tersenyum menggoda.



“Apa yang terjadi, kapten?” tanya Mister Kurk.


Miracle terkikik.


“Kau lupa dengan apa yang kau lakukan kepadaku Kolonel? Kau mau lari dari tanggung jawab? Bagaimana kalau aku sampai hamil?”



Kolonel Kurk terhenyak.


“Kita benar-benar melakukannya tadi malam?”



Miracle hanya tersenyum. Memakai kembali kemeja dan celana panjangnya. Lalu berjalan keluar kamar, membiarkan Kolonel termangu dalam keraguannya.


“Cepat Kolonel, hari ini banyak pekerjaan yang harus kita lakukan,” kata Miracle.


Begitu membuka pintu, nampak beberapa pengawal yang berjaga di ruang penyekapan Tong Pi tadi malam berdiri menunggu. Rupanya mereka hendak melaporkan kejadian tadi malam kepada Kolonel.


“Hai” sapa Miracle sambil tersenyum manja.


Ketiga pengawal itu terkesiap melihat ada perempuan secantik Miracle keluar dari kamar atasannya. Apalagi Miracle menyentuh pipi hingga dagu mereka satu persatu. Pandangan ketiganya langsung layu, tidak galak lagi.


“Kembalilah kalian, Kolonel masih tidur,” katanya.


Bagai kerbau yang dicokok hidungnya, mereka membalikkan tubuhnya dan kembali ke ruang tugasnya. Rupanya Miracle telah mengendalikan jalan pikiran mereka.


“Siap, Kapten,” kata mereka.


Miracle menghubungi Pranaja.


“Cula, jejak si Gundul sudah diamankan?” tulis Miracle.


“Sudah, dia dibawa Shield tadi malam ke tempat nyonya besar,” sahut Pranaja. Yang dimaksud nyonya besar adalah M.


Pintu kamar Kolonel terbuka. Mister Kurk sudah siap dengan seragam kebesarannya kembali. Di coleknya pinggang Miracle dari belakang.


“Menelpon siapa, Kapten?”


Miracle tersenyum.


“Menelpon supir agar bersiap, kita akan melaut kembali,” katanya.

__ADS_1


Pulau tempat penyekapan Tong Pi memang terletak di tengah samudera Atlantik. Mereka harus naik kapal cruisher super cepat tadi malam. Kolonel tidak tahu kalau diam-diam Pranaja yang menyamar jadi supir mengikuti perjalanan mereka. Menyusup ke dalam pulau, lalu membebaskan Tong Pi dan mengirimkannya ke markas M16


__ADS_2