RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 74 MONSTER LEGENDA


__ADS_3

EPS 74 MONSTER LEGENDA


Keheningan Gurun Gobi pagi itu di pecahkan oleh suara teriakan minta tolong yang begitu keras. Seolah teriakan terakhir seseorang menjelang ajalnya. Pranaja yang baru saja berpisah dengan rombongan kakek Zyed dan Alisher langsung berbalik arah, karena yakin suara itu datang dari arah yang berlawanan. Tubuhnya melesat ringan sambil mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 nya. Lalu matek ajian Lembu Sekilan untuk melindungi sekujur tubuhnya dari serangan-serangan yang tak terduga.



“Heyaa!” teriaknya.



Dalam waktu sekejap dia sudah berada dibelakang rombongan kakek Zyed. Nampak dari arah depan seekor kuda berlari sangat cepat menuju ke arah mereka. Dan Alisher mengenali itu adalah kuda milik salah satu pengawalnya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang mengerikan terjadi dengan anak buahnya. Pemuda tampan itu melompat dan berdiri gagah di tengan jalan menghadang laju sang kuda. Begitu dekat di lagsung melompat tinggi, tubuhnya berputar di udara, lalu tangannya menarik tali kekangnya. Begitu kakinya mendarat di tanah, tali kekang itu ditarik ke belakanga.



“Niyeeheh!” binatang itu melenguh panjang sebelum menghentikan larinya.



“Heyaa!”


Alisher berteriak sekali lagi. Ditepuk-tepuknya tubuh binatang itu supaya tenang. Setelah itu diperiksanya tubuh salah satu pengawalnya yang sengaja mengikatkan dirinya ke tubuh kuda itu. Kondisi pengawalnya itu terluka sangat parah. Seluruh tubuhnya gosong seperti habis terbakar, dan dari bagian pangkal paha hingga kakinya sudah tidak ada alias buntung. Pengawal itu menghembuskan nafas terakhirnya saat Alisher memeluknya.


“Daafar! Bangun!”


Alisher menggoyangkan tubuh itu beberapa kali sambil berteriak memanggil nama pengawalnya, namun sudah terlambat. Pranaja melompat dan mendarat tepat di samping Alisher. Tangannya bergerak cepat menyentuh kepala si pengawal.


“Ajian Tirtanala!” ucapnya tegas.


Dia menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan, tapi gagal. Malaikat maut telah lebih dahulu mencabut nyawanya. Pranaja memandang wajah Alisher sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seolah memberi tanda, kalau nyawa anak buahnya tidak mungkin tertolong lagi.


Alisher menganggukkan kepalanya. Wajahnya berubah menjadi sedih. Lalu dia memanggil kepala pengawalnya.


“Urus jasad Daafar,” perintahnya.


Kepala pengawal dibantu beberapa pengawal lainnya segera melaksanakan perintah junjungannya.


“Siapa yang telah berbuat begitu keji kepada Daafar. Benar-benar manusia berhati binatang!” geram Alisher.


Wajahnya tampak tegang menyimpan kemarahan. Tiba-tiba tangannya mencabut pedang dipunggungnya, kemudian meloncat tinggi. Begitu mendarat pedang itu langsing disabetkan ke arah batu sebesar tubuh kerbau.


“Heyaa!”


“Slap!”


Pranaja terkesiap kagum. Tanpa sadar mulutnya terbuka melihat pemandangan didepannya. Batu sebesar tubuh kerbau itu terbelah menjadi dua!


“Wow!”


Hampir saja Pranaja berteriak. Untung dia langsung sadar dan menutup mulutnya. Dia tidak mau merusak suasana hati Alisher yang sedang berduka.


“Dia akan mengalami kematian tanpa bentuk. Bahkan malaikat maut saja tidak akan mengenalinya,” desisnya.


Suasana menjadi hening. Mereka asyik bermain dengan pikirannya masing-masing.


“Herm!” Pranaja terbatuk, mencoba mencairkan suasana. “Mungkin juga pembunuhnya bukan manusia, bro.”


Alisher masih terdiam. Pandangannya lurus ke depan, memandang batas horizon. Namun pikirannya mencerna kata-kata Pranaja.


“Kau tadi lihat kan luka-luka di pangkal pahanya? Terlihat tidak beraturan sama sekali, seperti bekas gigitan yang ditarik paksa,” sambung Pranaja.

__ADS_1


Perlahan kepala Alisher tertunduk, keningnya mengernyit. Lalu memandang sahabat barunya itu.



“Hm, betul juga kata-katamu Naja. Kenapa aku tidak mengamati dengan cermat ya?”



Pranaja tersenyum. Lalu mengacak kepala Alisher.



“Karena hatimu terlanjur terbakar kemarahan.”



Alisher tersenyum. Baru kali ini ada orang yang berani mengacak-ngacak kepalanya. Tapi dia tidak tersinggung. Malah berterimakasih kepada Pranaja.



“Thanks bro. Kau benar, kemarahan membuat pikiran menjadi gelap dan tidak jernih melihat pangkal persoalan.”



Lalu dia berjalan menghampiri kakek Zyed yang masih duduk terpaku di atas pelana kudanya yang tinggi besar.



“Apa pendapatmu kakek?”



Kakek Zyed tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku melihat bekas darah yang belum kering. Tubuhnya membeku penuh ketegangan. Nampak kecemasan merayapi wajah tuanya.



“Kakek? Jangan melamun.”


“Hah?..ah! aeh! ..oh!” kakek Zyed tergagap.



Lalu memegang tangan Alisher kencang sekali.



“Tidak mungkin,” ucapnya dengan bibir bergetar.



Lalu wajahnya berpaling, menatap Pranaja.


“Kau benar Pranaja, ini bukan ulah manusia,” ucapnya.


Semua orang tersentak kaget.


“Maksud kakek, ini ulah binatang buas?” tanya Alisher.


Kakek Zyed menganggukkan kepalanya.

__ADS_1



“Binatang apa Kek? Setahuku di Gurun Gobi tidak ada binatang buas yang sangat kuat dan menakutkan. Paling harimau tutul yang tubuhnya tidak lebih besar dari kambing jantan,” tanya Alisher.



“Ini bukan binatang biasa cucuku. Ini adalah monster. Tubuhnya sebesar batang pohon akasia. Panjangnya lebih dari tiga meter. Mulutnya berbentuk lingkaran sebesar tubuhnya, dengan dikelilingi taring-taring yang sangat tajam. Yang paling mengerikan, sebelum mencabik korbannya dia akan menyerangnya dengan listrik bertegangan tinggi hingga tubuh mangsanya hitam seperti terbakar.”



Semuanya terhenyak mendengar cerita kakek Zyed. Beberapa pengawal bahkan ada yang tubuhnya bergetar karena ngeri membayangkan keganasan makhluk yang telah mebunuh kedua temannya itu.



“Maksud kakek Death Worm atau Cacing Maut Gurun Gobi?” tanya Pranaja.



Kakek Zyed membelalakkan matanya.


“Kau mengetahuinya Pranaja?”



Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Kakek lupa aku si segala tahu?” katanya sambil tersenyum. “Di Google kan banyak artikelnya. Itu hanya makhluk legenda kakek. Sudah banyak peneliti yang datang ke gurun Gobi mencari keberadaan monster itu, tapi tidak ada bukti keberadaannya.”



Kakek Zyed menggelengkan kepalanya, wajahnya tak terpengaruh candaan Pranaja.



“Bagi mereka, monster itu mungkin hanya khayalan, tapi tidak bagi para pedagang yang biasa melintasi Gurun Gobi. Itu adalah cerita turun temurun dari nenek moyang kami yang mengabarkan keganasan Cacing Maut Gurun Gobi.”



Semua orang jadi terdiam, pikiran mereka terbelah, antara percaya dan tidak percaya. Kalau melihat ekspresi kakek Zyed, sepertinya makhluk ganas itu benar-benar ada. Tapi nyatanya belum ada satu orang pun yang pernah melihatnya.



“Baiklah. Kita akan melanjutkan perjalanan,” kata Alisher. “Adam dan Lallana, kalian berjalan di depan mendahului. Tetap dalam jarak pandang, kalau ada yang mencurigakan, kalian langsung kembali.”


Kedua pengawal itu menganggukkan kepalanya. Mereka berangkat mendahului rombongan, tapi tidak terlalu jauh, dalam jarak tigaratus meter. Agar Alisher dapat memantau keberadaan mereka.



“Alisher, bagaimana kalau aku ikut bersama kalian,” ucap Pranaja tiba-tiba. “Itu kalau kalian tidak merasa keberatan.”



Alisher dan kakek Zyed saling berpandangan. Tapi kemudian tersenyum lebar. Tentu saja mereka tidak keberatan sama sekali. Apalagi dalam situasai seperti ini. Terbukti pemikiran-pemikiran Pranaja sangat membantu mereka.



“Tentu saja kami sangat senang Pranaja. Kakek sudah menganggapmu sebagai cucunya. Jadi kau tidak usah sungkan,” kata Alisher.


“Terimakasih kakek,” ucap Pranaja.

__ADS_1



Dalam suasana yang penuh ketegangan mereka melanjutkan perjalanan. Rupanya Pranaja tidak tega membiarkan kakek Zyed dan Alisher menghadapi bahaya sendirian. Mereka adalah orang-orang baik yang perlu aku lindungi, batinnya.


__ADS_2