
EPS 150 POHON CINTA YANG KESEPIAN
Suasana pesantren begitu sunyi dan damai. Para santri baru saja terlelap setelah hamper menekuni kitab Safinah dan Tanbikhul Ghofilin. Hanya beberapa santri senior dan ustadz-ustadz muda yang masih terjaga. Sebagian sedang bertugas menjaga keamanan pondok, sebagian lainnya sedang asyik ngobrol menunggu rasa kantuk datang. Di tempat lainnya beberapa ustadz muda juga sedang melitih olah fisik mereka dengan berbagai macam ilmu kanuragan warisan para leluhur.
Sang Kyai sendiri sedang asyik terpekur dalam pertapaan segala jiwa. Melafadzkan dzikir, menyenandungkan doa dan melantunkan ayat-ayat suci dalam sebuah nada getar yang menyayat hati. Menafikkan fakta betapa begitu banyak manusia yang tenggelam dalam urusan duniawi, sehingga melupakan kepentingan yang hakiki. Membalikkan kenyataan seolah kehidupan akhirat hanya menjadi kebutuhan pelengkap manakala kehidupan dunia terpenuhi.
Lalu terasa getaran lembut kekuatan Tirtanala yang dihembuskan Pranaja menyentuh lapisan kulit terluarnya. Membran sel paling tipis itu seperti merinding sehingga menegakkan bulu-bulu halus yang menghampar di atasnya. Dan wajah kyai sepuh itu seperti terkesiap kaget. Rupanya dia mengenali kekuatan itu tapi bukan berasal dari orang yang dia kenal. Seketika dia membuka matanya yang terpejam.
“Kekuatan Tirtanala? Tapi bukan milik Miryam. Kekuatan ini lebih menghentak dan bersemangat. Sepertinya yang mengunakannya adalah pendekar muda,” batinnya. “Apa ada orang lain yang memiliki kekuatan ini selain Miryam. Hm, aku harus menyelidikinya. Mungkin bisa membuka tabir misteri yang menyelimuti kehidupan perempuan malang itu.”
Sesaat kemudian, nampak bayangan putih melesat cepat keluar dari Rumah Besar di tengah pesantren dimana Kyai Badrussalam bersemayam.
***
Di padukuhan Somawangi, Panembahan Mbah Iro baru saja menerima wangsit. Di ruang Sanggar Pamujan, lelaki tua yang masih terlihat gagah itu perlahan membuka matanya. Ditatapnya lukisan besar cahaya putih yang terpampang di dinding di depannya itu. Asap Dupa begitu tebal menyelimuti ruangan itu. Tapi tadi terlihat jelas sosok Begawan Wanayasa muncul dan memberikan perintah kepadanya.
Pemimpin besar Trah Somawangi itu mendapat perintah agar membawa Pranaja ke puncak Gunung Mati. Disana tubuhnya akan di rendam dalam sendang berair panas, telaga Edi Peni. Di tempat itu dia akan di rendam selama tiga purnama, disamping untuk untuk menyempurnakan kekuatannya juga untuk membersihkan hati dan jiwanya dari pengaruh negatif kehidupan dunia.
Perlahan dia menggoyangkan lonceng kecil yang terjepit di kaki kananya.
“Krincing! Krincing”
Pintu masuk ke sanggar pamujan setinggi empat meter itu terbuka perlahan,”Kriyeet!”
Eyang Penatus dan Raden Mas Parto membungkuk memberi hormat sebelum masuk ke dalam ruang ibadah sang Panembahan. Dua orang pengikut setia itu berjalan dengan hati-hati sebelum duduk di depan pemimpin mereka.
“Salam Panembahan. Tugas apakah gerangan yang akan diperintahkan kepada kami?” ujar Eyang Penatus.
Panembahan Mbah Iro memandang dua orang kepercayaannya dengan senyum tipis.
“Tidak ada tugas apapun Penatus. Aku hanya memberitahukan kepada kalian, aku baru saja mendapat wangsit untuk membawa Pranaja ke puncak Gunung Mati untuk di rendam di dalam telaga Edi Peni.”
Eyang Penatus dan Raden Mas Parto saling berpandangan. Itu artinya sang Panembahan akan pergi sendiri dan menyerahkan urusan Padukuhan Somawangi kepada mereka.
***
Di Megapolitan, Lucra Venzi masih belum bisa melupakan rasa terkejutnya. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana tubuh Pranaja melayang-layang di angkasa untuk menaklukkan makhluk jelmaan Blade Muller. Dengan langkah waspada dia mendekati tubuh Pranaja. Tangannya terlihat bergetar saat menyentuh tubuh pemuda itu, merabanya lalu memegang kedua pipinya.
__ADS_1
“K..Kau sedang tidak kerasukan kan Pranaja?” tanya Lucra dengan bibir bergetar.
Pranaja menggeleng sambil tersenyum.
“Tentu tidak Lucra. Memangnya kenapa?”
Lucra terpaku memandang pemuda imut itu, rasanya bibirnya jadi sulit berucap.
“Aku melihat tubuhmu tadi melayang-layang di udara seperti terbang.”
Pranaja malah terkekeh.
“Rupanya kau terlalu megagumiku Lucra, sampai berhalusinasi begitu rupa. Mana mungkin aku terbang melayang di udara, memangnya aku punya sayap?”
Lalu dengan cueknya pemuda itu berjalan melewati agen seksi itu. Tanpa di duga, Pranaja mengecup bibir ranum Lucra, kemudian pergi melenggang meninggalkannya.
“Bruk!”
Dan tubuh seksi itu langsung jatuh pingsan. Beberapa agen lainnya segera membawa tubuh Lucra ke ruang klinik Megapolitan City. Benar-benar perempuan itu hanyut dalam dunia halunya.
“Lucra..Lucra,” gumam Pranaja.
Rencananya, dia akan menyelidikinya sekali lagi, setelah itu dia akan mengajak ayahnya pergi ke Padukuan Somawangi. Untuk melaporkannya kepada Panembahan Mbah Iro. Namun baru saja dia sampai di tempat itu, wajahnya nampak terkesiap. Dia terkejut melihat pemimpin Trah Somawangi itu sudah ada di tempat itu. Tubuhnya berdiri tegak memandang tajam pohon keramat yang selalu bercahaya itu.
“Kakek! Kakek Panembahan ada disini!” teriak Pranaja.
Tapi Panembahan Mbah Iro tidak memperdulikannya. Dia terus saja memandangi Pohon Cinta itu dengan seksama. Rupanya dia belum bisa mengatasi rasa terkejutnya, saat menyadari pohon keramat itu dingin membeku karena kekuatan Tirtanala. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh keturunan Trah Soamawangi Yang Terpilih. Bahkan dia sendiri sebagai pemimpin Trah Somawangi tidak menguasainya.
Karena Yang Terpilih adalah Rich Pranaja.
“Kakek! Hallouuww!” teriak Pranaja berusaha mengalihkan perhatian Panembahan.
Beberapa saat Paembahan Mbah Iro masih berdiri terpaku.
“Kau mengenali kekuatan yang membuat pohon ini bertahan hidup kan Pranaja?”
Pranaja yang sedang duduk mencangkung di atas batu besar, menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Tentu saja kakek. Ini adalah kekuatan Tirtanala,” jawab Pranaja.
Wajah Panembahan bertambah tegang. Dia menatap tajam Pranaja.
“Mungkinkah ini pohon warisan Panembahan Somawangi. Maksudku beliau yang menanamnya sendiri, kemudian menyelimutinya dengan kekuatan Tirtanala, sehingga dia bisa hidup abadi?”
Pranaja hanya terdiam. Dia memang tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas dia heran, tidak biasanya kakek Panembahan bertanya kepadanya. Biasanya dia yang banyak bertanya kepada guru besar kitab Irodarsulasikin itu.
“Memangnya kisah pohon ini tidak ada dalam kitab Irodarsulasikin kakek?” tanya Pranaja.
Sang Panembahan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mereka saling terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing.
“Eh, ngomong-ngomong, ada apa kakek mengunjungiku malam ini?” tanya Pranaja memecah suasana.
Panembahan Mbah Iro tersenyum. Gara-gara pohon itu hampir saja dia terlupa tujuannya datang menemui Pranaja.
“Oh ya, aku mendapat wangsit dari Begawan Wanayasa untuk membawamu ke puncak gunung mati. Tubuhmu akan di rendam dalam telaga berisi air panas yang disebut Sendang Edi Peni. Kau akan di rendan selama tiga purnama.”
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Apakah harus selama itu kakek?”
Panembahan menganggukkan kepalanya.
“Apakah kau keberatan?”
Pranaja menggeleng cepat.
“Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu kita berangkat sekarang.”
Panembahan Mbah Iro menggandeng tangan Pranaja. Namun baru saja mereka melangkah, tiba-tiba terdengar teriakan menggema.
“Tunggu! Jangan pergi dulu pemilik kekuatan Tirtanala!”
__ADS_1
Satu bayangan putih berkelebat, lalu berdiri tegak menghadang langkah mereka…