RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 34 BERKUNJUNG KE NEGERI LELUHUR


__ADS_3

BERKUNJUNG KE NEGERI LELUHUR


Angin sore bertiup semilir mengantar warna senja, merubah dedaunan menjadi jingga. Tidak ada hati yang merasa bersalah kecuali penyesalan yang begitu mendalam. Kadang langkah hanya menghilir emosi tanpa berhulu pada kebeningan hati. Sehingga salah jalan adalah sesuatu yang lumrah karena manusia lebih sering berbicara dengan rasa daripada dengan hati.



“Teganya kalian mengeroyok saudara kalian sendiri,” tegur Panembahan pada warganya. “Ada apa dengan kalian?”



Semua orang tertunduk, tidak ada yang berani bersuara kecuali daun jendela tua yang bergerak tertiup angin sore.


“Kenapa tidak ada yang menjawab?” Panembahan mengulang pertanyannya. “Ada apa dengan kalian?”


“Maafkan kami kanjeng Panembahan, kami hanya mengikuti emosi karena ada yang meneriaki dia penyelundup.”



“Penyelundup?” ucap Panembahan.


Di pandangnya wajah-wajah penuh sesal itu satu persatu.


“Tidak ada penyelundup yang sanggup menguasai Dinding Bayangan dan Gajah Godham. Hanya keturunan Begawan Wanayasa yang mampu menguasainya.Kalian seharusnya sudah menghentikan serangan saat dia mengeluarkan pukulan Dinding Bayangan. Tapi kalian malah menyerangnya dengan pukulan Gajah Godham. Memalukan!”



Para penduduk menundukkan kepalanya semakin dalam. Dalam hati mereka membenarkan kata-kata sang Panembahan. Padahal mereka sudah tahu, siapapun yang menguasai Dinding Bayangan dan Gajah Godham, pasti saudara sendiri. Tapi mereka malah terus menyerangnya.



Lalu seorang yang paling tua diantara mereka berdiri dan menghampiri Pranaja.


“Maafkanlah kami saudara mudaku. Karena kemarahan, kami sampai tidak mengenalimu,” katanya.



Pranaja hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Rupanya dia masih belum mengerti.


“Maafkanlah mereka, anakku,” kata Panembahan.


Kedua tangannya ditangkupkan didepan dada sambil menundukkan kepalanya. Orang-orang menjadi bertanya-tanya kenapa sang Panembahan begitu hormat kepada pemuda itu. Malah Pranaja yang menjadi tidak enak hati.



“Eh, kakek, tidak perlu begitu. Biasa aja kali,” katanya sambil tersenyum. “Aku tidak marah kok?”



Lalu dia memandang orang-orang yang mengeroyoknya, melambaikan tangan sambil tertawa lebar.


“Hai!” katanya.


Dengan tangan kaku, orang-orang itu ikut melambaikan tangannya.


“Hai” sahut mereka berbarengan.


Ketika Panembahan menengok ke belakang, mereka langsung mnurunkan tangannya.



“Silahkan singgah di rumahmu, nak.”


Pranaja terhenyak. Kok, rumahku? Ah, mungkin kakek ini salah bicara, batinnya.

__ADS_1


“Iya kek,” katanya mantap.



Panembahan berjalan di depan, Pranaja mengikuti di belakangnya. Orang-orang masih melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya. Saat Pranaja melewati pohon besar di depan Rumah Joglo mereka terkesiap kaget. Pohon itu adalah satu-satunya pohon yang tumbuh dan membesar seperti bukit kecil.


Ranting-ranting pohon yang kuat nampak merunduk, seolah sedang memberi hormat kepada Pranaja. Kemudia diatas pohon itu terlihat segumpal awan yang menutupinya dari sengatan cahaya matahari.


***


Pranaja makan dengan lahapnya. Mulutnya penuh dengan makanan yang di sediakan para pelayan di Rumah Joglo. Rasanya sangat lezat. Sudah lama dia nggak merasakan makanan khas pedesaan. Di depannya Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Mas Parto hanya memandangnya, tanpa kata-kata.



“Kakek nggak ikut makan?” katanya kepada mereka.


Mereka bertiga hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Baiklah,” sahut Pranaja, mengambil sepotong paha ayam lagi.



Selesai makan mereka duduk di ruang pendopo.


“Siapa namamu anak muda?” tanya Panembahan Mbah Iro.


“Namaku Rich Pranaja Kek. Panggil saja Naja,” katanya.


“Apa tujuanmu datang kemari?”



Pranaja mengeluarkan album dari tas kecilnya, lalu di buka di depan Panembahan dan kedua orang kepercayaannya.


“Aku hanya ingin memastikan, apakah benar mereka adalah leluhurku?” ujarnya.



“Benar sekali Naja. Dan kami bertiga adalah kakek-kakekmu,” kata Panembahan.


Pranaja tersenyum lebar, senang sekali bertemu dengan kakek-kakeknya. Selama hidup, ini pertama kalinya dia bertemu mereka.


“Dan seluruh warga Dukuh Somawangi ini adalah saudara-saudaramu. Kita adalah trah Somawangi.”



Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun asyik ngobrol sampai malam, tenggelam dalam perbincangan yang panjang. Ketiga kakek baru Pranaja itu menjelaskan panjang lebar tentang Trah Somawangi dari awal mula sampai sekarang. Juga tentang kitab primbon Irodarsulasikin.



“Kitab Irodarsulasikin berisi nilai-nilai luhur yang harus di jalankan anggota Trah Somawangi, khususnya yang tinggal di Dukuh Somawangi,” kata Eyang Penatus.



Mas Parto menjelaskan tentang riwayat kekuatan Dinding Bayangan dan Gajah Godham yang merupakan ilmu warisan dari Begawan Wanayasa.



“Dinding Bayangan dan Gajah Godham hanyalah kekutan dasar yang dimiliki oleh seluruh keturunan Begawan Wanayasa. Masih ada kekuatan lain yang jauh lebih tinggi tingkatannya. Namanya kekuatan Tirtanala, Geni Sawiji, Anugerah Mata Dewa dan kekuatan Pengetahuan dan puncaknya adalah Tirtanala Sejati.”



“Itu semua juga harus dikuasai anggota Trah Somawangi?” tanya Pranaja.

__ADS_1


Mas Parto menggelengkan kepalanya.


“Hanya satu orang yang mampu mewarisi kelimanya, dan dia adalah keturunan Somawangi Yang Terpilih.”



Pranaja mengernyitkan keningnya. Keturunan ‘Yang Terpilih?’


“Ehm, kalo kemanpuan bernafas dalam air, bagaimana kek?”


“Apa?” tanya Panembahan Mbah Iro. “Apa maksudmu?”


“Maksudku kemanpuan untuk hidup di dalam air atau di luar angkasa?”


“Luar angkasa?” Panembahan malah balik bertanya. “ Maksudmu kau mampu melakukannya?”



Pranaja menganggukkan kepalanya. Ketiga kakeknya terkesiap kaget. Bola mata mereka langsung membesar.


“Maksudmu k..kau pernah pergi ke atas langit?”


“Iya kek. Bahkan aku pernah mengunjungi bulan. Dan menghancurkan bintang jatuh,” sahut Pranaja polos.



Pranaja mengeluarkan ponselnya. Lalu foto-fotonya saat dia berada di bulan di perlihatkan kepada mereka. Ketiga kakeknya benar-benar terkajut melihatnya. Lama sekali mereka menatap wajah Pranaja. Seolah mereka sedang menatap makhluk aneh di depannya.



“Kakek! Kakek!” kata Pranaja sambil melambaikan tangannya di depan wajah mereka. “Kenapa kalian diam saja seperti patung?”



Panembahan Mbah Iro yang pertama sadar, langsung menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.


“Oh, Hyang Jagad Dewa Batara! Engkaulah yang maha suci mengatur semuanya,” ucapnya, diikuti oleh Eyang Penatus dan Mas Parto.



Setelah lama terdiam dalam doa, barulah Panembahan berbicara kembali. Nadanya begitu pelan dan hati-hati.


“Luar biasa Pranaja, bahkan para leluhurmu pun belum pernah membuktikannya. Betapa wangsit yang aku terima benar-benar nyata. Kaulah keturunan Trah Somawangi Yang Terpilih,” kata Panembahan sambil memegang pundak Pranaja. “Aku tidak pernah ragu.”


“Apa! Aku adalah ‘Yang Terpilih?’ kata Pranaja tak percaya.



Kemudian Panembahan Mbah Iro menengok ke arah Mas Parto.


“Bicaralah dengan ayahnya. Sampaikan apa yang perlu dia ketahui. Katakan juga, Pranaja akan tetap disini sampai Purnama nanti.”


Mas Parto mengangguk takdzim.


“Baik Panembahan. Hari ini juga aku akan menemuinya,” sahut Mas Parto.



Pranaja Nampak kebingungan.


“Apa yang akan kakek lakukan?”


“Aku akan membimbingmu untuk melakukan perjalanan sunyi, berkunjung ke negeri para leluhurmu. Kita akan berjalan dari Somawangi menuju dataran Dieng, selama lima hari ke depan. Tepat pada malam purnama kau akan melakukan ritual untuk mendapatkan kekuatan inti air di bawah air mancur Curug Plethuk. Di tempat itulah kau akan membangkitkan kekuatan Tirtanala yang sudah tertanam dalam tubuhmu.”sahut Panembahan Mbah Iro.

__ADS_1



Pranaja hanya terdiam mendengar kata-kata Mbah Iro. Perjalanan Sunyi? Berkunjung ke negeri para leluhur? Hm, kayaknya bakal jadi petualangan yang seru, batinnya. Perlahan bibirnya tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.


__ADS_2