
133 KEKESALAN AYAH
Di dalam pendopo Dalem Padukuhan Somawangi. Pemimpin Trah Somawangi, Panembahan Mbah Iro segera berdiri menyambut kedatangan Pranaja dan ayahnya. Lelaki tua yang selalu memakai pakaian serba putih dengan jubah berwarna putih, di dampingi dua orang kepercayaannya. Raden Mas Parto yang berpakaian serba hitam, berambut panjang dan kepalanya diikat kain berwarna merah dan Eyang Penatus dengan jubah merah menyala berukirkan burung garuda yang di sulam dengan benang emas.
“Salam Eyang Panembahan,” sapa Ayah begitu mereka memasuki ruang pringgitan.
Ayah menangkupkan kedua telapak tangannya di atas dada sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Pranaja mengikuti gerakannya dari belakang. Panembahan Mbah Iro menjawab salam mereka, kemudian mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam. Ayah menyalami ketiga tokoh tertinggi Trah Somawangi itu sambil mencium tangan mereka. Pranaja juga mengikutinya dari belakang.
Namun saat menyalami Panembahan Mbah Iro, tingkah konyolnya kumat lagi.
“Eh Kakek, kita ketemu lagi. Aku kangen banget padamu,” ucapnya sambil tertawa.
Lalu di peluknya tubuh renta itu kuat-kuat.
“Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ke Dataran Tinggi Dieng Kek,” ujarnya sambil cengengesan.
‘Duk!’
“Adduh!” tiba-tiba Pranaja mengaduh kesakitan.
Rupanya kaki ayah bagian belakang sudah bersarang di tulang kakinya. Ayah menjadi gemas melihat tingkah Pranaja yang dianggapnya tidak sopan itu. Tapi Panembahan Mbah Iro malah tertawa lebar. Tampaknya dia sudah mengenal tabiat Pranaja yang masih polos itu.
“Mohon maaf Panembahan,” kata ayah.
“Hahaha..biarkan saja Somad. Biar dia mencari jati dirinya sendiri,” katanya.
Raden Mas Parto dan Eyang Penatus yang sejak tadi diam seperti patung saja ikut terkekeh melihat tingkah Pranaja. Baru sekarang ada orang yang berani memeluk tubuh pemimpin mereka dengan sok akrabnya.
“Ayo, silahkan duduk,” kata Panembahan.
Ayah dan Pranaja pun duduk di atas kursi kayu besar berukirkan burung garuda. Eyang Panembahan mengamati tubuh Pranaja dengan mata batinnya. Dan seketika raut wajahnya seperti terkesiap kaget. Diam-diam dia mengagumi perkembangan ilmu kanuragan Pranaja yang meningkat pesat. Bahkan di luar pengetahuannya selama menggeluti dunia ilmu kanuragan.
Tapi Panembahan hanya menyimpan kekagumannya dalam hati. Rupanya dia belum mau membuka apa yang dilihatnya kepada ayah dan kerabat lainnya.
“Kau tahu Somad, puteramu mewarisi ilmu kanuragan tertinggi Trah Somawangi yaitu Kekuatan Geni Sawiji, Tirtanala dan Anugerah Mata Dewa yang aku sendiri tidak menguasainya. Artinya setelah limaratus tahun, dia adalah keturunan Trah Somawangi Yang Terpilih dan akan menjadi pemimpin tertinggi trah Somawangi menggantikan kedudukanku,” ujar Panembahan Mbah Iro kepada Ayah Pranaja.
Semua orang yang ada di pendopo hanya terdiam, mendengarkan penuturan Panembahan dengan khidmat.
“Tapi dia masih harus menyempurnakan kekuatan tubuhnya sehingga dapat meguasai kekuatan Tirtanala Sejati. Untuk itu aku perlu merendam tubuhnya selama tujuh hari tujuh malam di dalam sendang Edi Peni,” sambung Panembahan.
__ADS_1
“Kapan hal itu akan dilakukan Panembahan?”
“Aku belum tahu pasti, karena belum ada petunjuk yang aku terima. Tapi aku perlu menyampaikannya sekarang, agar kalian tidak terkejut.”
Ayah mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun dia tidak yakin sepenuhnya dengan kata-kata Panembahan. Setahu ayah siapapun yang akan di rendam dalam sendang Edi Peni adalah sosok yang sudah matang jiwanya, karena dia akan menerima ilnu tertinggi dengan segala nilai-nilai kebijaksanaan yang akan menjadi karakternya seumur hidup. Sedangkan Pranaja, sama sekali belum kelihatan dewasa, batin ayah sambil melirik Pranaja.
“Rrrr..” terdengar suara mendengkur dari mulut Pranaja yang sedang duduk bersila sambil menundukkan wajahnya.
“Pranaja…” gumam ayah tak enak hati sambil menahan rasa gemasnya.
Sementara Panembahan Mbah Iro, Denmas Parto dan Eyang Penatus kembali terkekeh melihat tingkah polah Pranaja.
“Hehehe…”
***
Tanah liat melekat, tetapi darah berkelana. Sedang nafas adalah sesuatu yang tidak ada habisnya, menghidupi setiap tubuh dalam mengarungi perjalanan. Hanya jika perjalanan telah usai, akan ada cukup waktu untuk tidur dan duduk mencangkung menikmati senja.
Di atas rerumputan yang menghitam di lembah Kedung Tangkil, Panembahan Mbah Iro duduk bersamadi dengan khusyuk. Sementara Pranaja berdiri tegak di tengah lembah, menatap langit malam yang penuh bintang. Panembahan ingin mengetahui kedahsyatan pukulan Badai Kosmik yang berasal dari kekuatan energy matahari. Sebuah kekuatan baru yang jelas bukan berasal dari para leluhur Trah Somawangi.
Tanpa membuka matanya, Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya.
“Tapi tempat yang indah ini akan mengalami kerusakan hebat kakek. Aku tidak mau melakukannya,” sambung Pranaja.
Panembahan membuka matanya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan, cucuku?”
Pranaja terdiam, berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar. Sepertinya dia mendapatkan sebuah ide. Lalu dia berjalan mendekati Panembahan dan membisikkan rencananya. Panembahan Mbah Iro mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Baiklah, aku menyetujui rencanamu. Lakukanlah!”
“Baik Kakek.”
__ADS_1
Pranaja membalikkan tubuhnya, lalu berlari kembali ke tengah lembah. Semakin lama semakin cepat, kemudian tubuhnya menghentak. Melenting tinggi ke udara, bersalto dua kali sambil berteriak.
“Kekuatan Geni Sawiji!”
Tubuhnya yang masih terbang di udara, mendadak diselubungi api berwarna biru yang sangat panas. Lalu gumpalan api biru itu terus melesat membelah angkasa menuju batas cakrawala. Melewati limit atmosfir bumi menuju bola besar yang menggantung gagah di jagad raya. Sang Raja Surya atau bola matahari.
“Uh..huy!” teriaknya memecah kebekuan ruang angkasa.
Mendekati matahari pada jarak seratus ribu kilometer Pranaja berhenti. Pada jarak itu, pemuda itu bisa melihat langsung badai matahari di depan matanya. Merasakan panasnya, merasakan kekuatannya.
“Hrrmmm,” bibirnya seperti menggumam tanpa makna.
Kemudian pemuda itu membalikkan tubuhnya membelakangi matahari, membiarkan energi panas sang raja Surya membasuh punggungnya. Pranaja memejamkan matanya, memusatkan pikiran dan menghimpun tenaga. Elemen panas dalam tubuhnya bergetar menyerap energi matahari, kekuatannya mengalir melewati pori-pori kulitnya dan tersambung ke pembuluh-pembuluh kapiler di dalam tubuhnya.
Perlahan tubuh Pranaja menjadi bersinar terang. Lalu cahaya itu merambat di lengan kanannya. Tangan Pranaja dari ujung telapak tangan sampai lengannya berubah mengeluarkan cahaya perak menyilaukan. Semakin lama sinarnya semakin terang, menerangi sebagian benda-benda langit disekitarnya. Inilah pukulan pamungkas terbaru yang dikuasai pendekar imut itu. Lalu dengan satu kali hentakan, Pranaja berteriak.
“Pukulan Badai Kosmik!”
Tangan kanan Pranaja meninju ke depan dengan kekuatan penuh. Segumpal cahaya ultra violet berbentuk bola raksasa melesat cepat menghantam gugusan asteroid yang sedang bergerak mendekati bumi. Suaranya bergemuruh laksana badai raksasa yang sedang mengamuk, menggetarkan alam sekitarnya. Cahaya itu melesat menerangi ruang angkasa yang biasanya gelap gulita.
Dan…
BUMM!
Terdengar ledakan yang sangat keras disertai bias cahaya menerangi semesta. Dususul oleh gelombang besar elektromagnetik menggulung dan menghancurkan batu-batu meteor dalam radius satu kilometer persegi. Beberapa saat kemudian, gugusan asteroid itu berubah menjadi serpihan-serpihan meteorid yang melayang-layang di angkasa.
__ADS_1
Lalu tersedot masuk ke dalam atmosfir bumi karena gaya gravitasinya….