RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 142 R 4 J A


__ADS_3

EPS 142 R 4 J A


Drrrtt..drrtt..drrrttt!



Terdengar kedua ponsel Dandung dan Pranaja bergetar bersamaan. Sesaat keduanya saling berpandangan. Lalu mengambil ponsel masing-masing. Di layar ponsel Dandung terpampang wajah polwan cantik anak buahnya, Iptu Frida. Sedangkan di layar ponsel Pranaja tergambar wajah M, bos M16. Keduanya langsung mengambil jarak menjauh, takut percakapan mereka terdengar kemana-mana.



“Selamat malam Ndan! Iptu Frida di sini!” terdengar suara gadis di seberang sana.


“Selamat malam Free! Panggil Mas saja, kan hanya kita berdua,” bisiknya.



“Kalau hanya berdua kok bicaranya berbisik?”


“Ehm..makudku ada orang lain disini, tapi cukup jauh sih. Dia juga sedang menerima telepon.”



Frida mendengus.


“Cewek apa cowok?” nada bicaranya sedikit curiga.


“Cowok dong. Dia adiknya temanku, AKP Ben Wise Asshiddik, sekarang adalah Kastserse Polres Purbalingga.”


“Owh, kirain…” suara Frida tertahan.


“Memangnya kenapa kalau cewek. Cemburu?”



Tidak ada jawaban. Hanya desah nafas Frida yang terdengar gelisah.


“Tidak mas, aku tidak pernah punya hak untuk cemburu kepadamu. Aku sudah bersyukur bias menyintaimu.”



Dandung tersenyum getir. Cinta Frida kepada dirinya begitu tulus. Tidak mengharapkan balasan apapun. Bahkan ketika tahu dirinya bersama perempuan lain pun, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan kecemburuan, apalagi kemarahan. Mungkin wajah Dandung terlalu ganteng untuk menjadi sasaran kemarahan Polwan cantik yang menguasai Karateka Ban Hitam itu.



“Oke Free. Apa yang ingin kau laporkan?”


“Siap Ndan! Aku ingin melaporkan tentang surat izin pemyelidikan Megapolitan City sudah turun dari Mabes. Mohon konfirmasinya Ndan!”


Dandung dan Frida kembali bersikap profesional. Dandung menganggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat gembira.



“Oke. Besok pagi aku tunggu kedatanganmu bersama Bripda Edhik ke wilayah Megapolitan. Aku akan menunggu kalian di wilayah sekitar Brexit, atau Brebes Exit.”


“Siap Ndan! Bripda Edhik sedang mempersiapkan segala sesuatunya.”



Setelah itu terdiam. Komandan dan anak buahnya yang terlibat cinta terlarang itu diam tanpa kata. Larut dalam pikirannya masing-masing.



“Free…” panggil Dandung lirih.

__ADS_1


“Iya mas,” desis Frida.


Dandung menghela nafas panjang.


“Heh..Maafkan aku ya?”


Frida tersenyum.


“Karena kau belum bisa menyintaiku sepenuh hatimu? Kau sudah sepuluh kali mengatakan hal itu mas. Dan aku tidak apa-apa.”



Dandung tertawa sedikit malu.


“Ya, sudah. Eh, kau lagi dimana?”


“Biasalah, di apartemenmu?”


“Hah? Ngapain?”


“Bersih-bersih mas. Kau tidak sadar apartemenmu bagaikan kapal pecah. Berantakan sekali.”


“Waduh, sudah cocok jadi ibu rumah tangga nih?”


“Sudah mas, lebih baik kamu bobo. Istirahat buat besok.”



Dandung tersenyum lagi.


“Baiklah. Aku akan menuruti kata-katamu tuan puteri.”


“Hahaha… Dasar raja gombal! Sudah sana tidur, bye!”


“Bye!” sahut Dandung lalu ikut mematikan ponselnya.



Setelah memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam sakunya, pandangannya segera berputar, mencari keberadaan Pranaja. Dan wajahnya terkesiap, karena dia tidak menemukan pemuda itu dimana-mana. Padahal jelas tadi dia menerima telepon tidak jauh darinya. Kenapa tiba-tiba anak itu menghilang? Batinnya. Apa dia punya ilmu Panglimunan?



“Eh Bocil! Dimana kamu?” teriaknya.



Tidak ada jawaban. Dandung memanggilnya berkali-kali tapi tetap saja Pranaja tidak diketahui dimana rimbanya. Huh! Dasar bicah songong! Heran, kok bias ya Iben punya adik bandel begitu. Keluyuran di hutan malem-malem, mengintip kekasihnya yang sedang bersamadi, lalu menghilang pergi tanpa pamit.


Sungguh anak yang berakhlak! Dengusnya.


***


LIMA BELAS MENIT SEBELUMNYA…



Pranaja yang mendapat telepon pada waktu yang bersamaan, langsung bergerak menjauhi Dandung yang juga sedang mengangkat telponnya.



“Halo M? Ada tugas apa?”


“Malam ini kau jemput agen 004 Lucra Venzi yang datang dari Jakarta. Lokasi penjemputan adalah Rest Area di wilayah Brexit, atau Brebes Exit. Penghubungmu akan menemui di lokasi restorant terbuka,” kata M.

__ADS_1


“Baik M. Aku akan laksanakan tugasku.”


M menutup layar ponselnya. Dia memang jarang berbicara. Hanya seperlunya saja.



“Kekuatan Tirtanala!” desis Pranaja sambil melirik Dandung.



Katanya setelah melakukan sedikit peregangan. Badannya masih merasa sakit di beberapa titik akibat penyetruman yang dilakukan oleh AKP Dandung, perwira polisi Resort Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dia menyalurkan kekuatan Trtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan.



Perlahan hawa sejuk itu merasuk ke dalam pori-porinya. Menembus kedalaman tulang sumsumnya, memberikan kekuatan menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Memberikan perasaan nyaman di sekjur tubuhnya. Perlahan rasa sakit itu mulai hilang dan kemudian lenyap tak berbekas.



“Uh, enak sekali rasanya, badanku terasa segar.” ujarnya sendiri.



Lalu dia melihat ke arah Dandung yang sedang asik menelpon dengan temannya. Setelah ditunggu beberapa menit, akhirnya Pranaja memutuskan untuk pergi karena Dandung tidak menperhatikannya.



“Wuss!”


Tubuhnya bergerak secepat angin! Meninggalkan Dandung yang sedang tenggelam dalam pembicaraan dengan kamar rahasianya. Maka ketika Dandung menengoknya, perwira polisi itu terkesiap kaget. Dia tidak menemukannya dimana-mana.


“Eh Bocil! Dimana kamu?” teriaknya.


Pranaja sudah hilang bak ditelan bumi. Dia berlari cepat kembali ke titik koordinat limapuluh Megapolitan City, tempat dimana dia memarkir kendaraan truknya. Setelah sampai, dia langsung lancap gas menuju Rest Area di pinggir jalan. Sesuai perintah M, dia langsung menjemput kehadiran agen 004 , Lucra Venzi.


***


Agen 004 Lucra Venzi masuk ke rest area dengan santainya. Tangannya melambai ke salah satu court minuman memesan segelas kopi capucino hangat. Seorang pelayan tampan membawakan minuman kepadanya, sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan. Lucra menerimanya, mengambil gelasnya sekaligus mencopot secarik kertas yang menempel di bawah gelas. Lucra meliriknya sekilas.


R 4 J A


Gadis itu, yang merasa bahagia, berjalan ke arah deretan mobil yang terparkir di rest area. Di depan sebuah truk tronton besar beroda sepuluh, Lucra berhenti. Dia melihat plat nomornya R 4 JA. Bibirnya tersenyum tipis, lalu dia membuka pintu depan, dan naik ke dalamnya.


Di depannya seorang pemuda bertubuh tinggi tegap duduk di belakang kemudi menyambutnya.


“Pranaja?” tebak Lucra.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Keadaan di sekitar itu sedikit gelap sehingga Lucra tidak bias menegaskan wajahnya. Namun dia sudah diberitahu oleh pihak konsulat Inggris dia akan di temani seorang agen rahasia M16 lainnya. Dan dia yakin lelaki yang duduk disampingnya adalah Pranaja.


“Oke, kemana tujuan kita sekarang?”


“Langsung ke Megapolitan ya?”


“Oke!”


Setelah berbasa-basi, Pranaja mengendarai mobilnya dengan tenang ke arah selatan. Jalan pgunungan yang gelap dan dingin dia lewati, menembus hutan Jati yang sepi dan beresiko tinggi. Di alam yang sepi ini, banyak begal dan perampas kendaraan di tengah hutan Jati. Apalagi kendaraan besar yang membawa barang seperti yang mereka naiki sekarang ini.


Dugaannya benar, di jalanan sepi, tiba-tiba beberapa motor keluar dari dalam alas Randudongkal, mengikuti kendaraan mereka. Pranaja tetap tenang. Empat buah motor dengan suara keras terus mengikuti mereka. Sampai di puncak bukit Siregol, Pranaja tiba-tiba membelokkan truknya ke sebuah tanah datar yang tidak terlalu luas.


Seperti dugaannya, Keempat sepeda motor itu nampak berhenti di tepi jalan. Pranaja turun dan berjalan menghampiri mereka. Mereka juga turun dan dan bergerak mengepung Pranaja. Pemuda itu tak mau membuang waktu. Dalam satu tarikan nafas, tangan dan kakinya bergerak hamper bersamaan menghajar preman-preman itu.


Brak!


Tubuh-tubuh mereka melayang di udara. Pranaja langsung menangkapnya, lalu meumpuknya mejadi satu. Sekalian dengan sepeda motornya, ditumpuk sekalian. Sadis!

__ADS_1


__ADS_2