
EPS 101 BUNGKER TERSEMBUNYI
Kembali ke kampus, Pranaja merasa sangat bahagia. Bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya. Mengeluti dunia akademik yang sekian lama ditinggalkannya. M belum memberikannya tugas lagi. Mungkin dia memberi kesempatan Pranaja untuk menemukan kembali dunianya yang telah lama hilang. Dunia yang penuh gelak tawa, diskusi cerdas serta tugas-tugas yang seringkali memusingkan.
Profesor Miranda Herdz yang mengampu mata kuliah Astronomi berdiri di depan ruang perkuiahan. Ditangannya ada sebuah bola dunia, di depannya ada cahaya lampu sorot mini yang menyala sangat terang. Profesor Herdz memberikan sebuah ilustrasi tentang rotasi bumi sambil memutar-mutar bula dunia di tangannya.
Malam baru saja berakhir. Di ufuk timur tampak cahaya merah, disusul terbitnya matahari. Alam pun menjadi terang benderang. Sang Surya terus bergerak menapaki hari hingga sore pun menjelang. Warna putihnya berubah menjadi warna kuning keemasan sebelum tenggelam kembali dan merubah hari menjadi malam. Begitulah, karena malam dan siang sudah menjadi peristiwa rutin sehari-hari, manusia pun sudah tidak mempedulikannya .
“Malam dan siang terkait dengan rotasi bumi,” kata professor sambil memutar bola dunia itu ke arah kanan perlahan.
“Rotasi berarti perputaran bumi pada porosnya?” tanya Miracle. ”Itu menyebabkan pergantian siang dan malam?”
“Benar sekali. Malam dan siang terjadi karena sebagian permukaan bumi mendapatkan sinar matahari sedang sebagian lainnya tidak sehingga menjadi gelap.”
“Aku tahu prof. Siang hari terang benderang itu karena permukaan bumi yang kita tempati sedang memperoleh sinar matahari. Sedangkan permukaan bumi yang membelakangi matahari terjadi gelap atau disebut malam,” ujar Pranaja.
“Ya, keadaan sebaliknya kalau kita mengalami gelap di malam hari,” jawab professor.
“Jadi selama ini anggapan orang-orang kalau matahari terbit dari timur dan tenggelam di sebelah barat itu salah ya prof? Justru bumilah yang berputar pada porosnya sendiri," tanya Khang Ryu.
Profesor Herdz menganggukkan kepalanya.
“Seringkali kita tertipu dengan adanya gerak relatif. Ketika kita melihat jendela mobil kita merasa pepohonan berlari, padahal mobil kitalah yang melaju kencang,” kata professor.
Hmm..Pranaja jadi ingat, saat terbang dia merasa awan-awan bergerak cepat berlawanan arah dengannya, padahal sebenarnya tubuhnya lah yang melaju cepat di angkasa.
“Demikian juga dengan apa yang kita lihat pada matahari. Kita merasa matahari yang bergerak mengelilingi bumi dari timur ke barat. Tapi sebenarnya bumilah yang berputar dari barat ke timur, dan matahari tetap berada di tempatnya” ujar professor lagi.
__ADS_1
Pranaja terdiam. Diluar angin berkesiur lembut. Seekor burung melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Dia nampak bergembira sekali bermain dengan anak-anaknya.
“Tapi prof, kalau memang bumi berputar, ketika kita melompat ke arah barat, kenapa kita tidak menginjak tempat semula?” tanya Tong Pi sambil melompat ke depan.
“Atau kalau kita melompat ke timur lompatan kita tidak lebih jauh daripada melompat ke barat, begitu maksudmu?” professor balik bertanya.
Tong Pi menganggukkan kepalanya.
“Atau kalau kita bepergian dengan jarak yang sama ke barat dan ke timur, waktu tempuhnya juga sama. Seharusnya kan waktu tempuh ke barat lebih pendek?” ujar Sarah Lee.
“Karena benda-benda di dalam lingkup atmosfer bumi terkena hukum momentum ruang. Seperti saat kita melempar bola ke atas didalam kereta. Jatuhnya bola tetap tidak jauh dari kita,” jawab professor. “Tapi kalau kita melempar bola melewati gerbong , bola akan terlempar ke belakang kereta. Karena bola itu sudah berada diluar bangun ruang gerbong kereta”
Pranaja terdiam sambil merenung. Ternyata banyak hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa-peristiwa rutin yang kita anggap biasa saja. Karena kita beranggapan memang seharusnya begitu.
“Lalu kenapa bumi bisa berputar prof? Maksudku apa yang menggerakkannya?” tanya Keane
Diskusi berlangsung begitu menarik seperti tidak kehabisan ide. Diam-diam Pranaja semakin kagum, betapa Alloh begitu sempurna menyiptakan alam ini. Dijadikannya malam agar kita bisa beristirahat dengan tenang. Dan dijadikannya siang agar kita dapat beraktifitas mengembangkan kehidupan di dunia.
***
Selesai kuliah Pranaja dan sahabat-sahabatnya duduk-duduk di taman depan ruang perpustakaan. Miracle terus saja mendekati Pranaja. Tangannya tidak pernah melepaskan lengan pemuda itu. Bahkan sesekali kepalanya bersandar manja di bahu Pranaja. Teman-teman yang sudah hafal tabiat gadis itu membiarkannya.
Mereka sama sekali tidak berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih. Karena sikap Pranaja yang terlalu biasa untuk disebut sebagai kekasih. Dari pagi Miracle yang justru yang terlihat begitu agresif mendekati Pranaja. Memang Pranaja membiarkannya, namun garis wajahnya menunjukkan kalau dia tidak memiliki perasaan cinta terhadap Miracle.
“Sayang, makan di kantin yuk. Lapar nikh,” katanya manja.
Pranaja menganggukkan kepalanya. Lalu mengajak teman lainnya untuk ikut makan di kantin.
__ADS_1
“Aku yang bayarin,” katanya.
Tentu saja ajakan Pranaja di sambut gembira teman-teman lainnya.Intelektual-intelektual muda yang kelaparan sehabis berpiir panjang. Wajah Miracle yang merengut tidak mereka perdulikan. Hanya Tong Pi yang peduli dengan kekecewaan Miracle. Dalam hatinya timbul tanda tanya. Apakah Pranaja benar-benar menyayangi Miracle?
Swiingg!
Sebuah bola baseball tiba-tiba melesat dengan cepat ke arah Pranaja. Begitu cepatnya sehingga tidak bisa ditegaskan dengan mata biasa. Orang-orang tidak menyadari kedatangan bola itu. Hanya desir angin yang tiba-tiba terasa menguat melewati mereka. Saat Pranaja hendak bergerak menangkap bola itu. Miracle mendahuluinya.
“Bug! Kembalilah!”
Miracle menghentikan laju bola baseball itu dengan kekuatan mentalistnya, kemudian meminta bola itu untuk kembali ke pemiliknya. Seketika bola itu membalik arah dengan kecepatan yang sama! Bola itu terbang melewati lapangan Basket dan lapangan Volley. Dari kejauhan, terdengar langkah kaki yang berlarian ke berbagai tempat.
Dhuar!!
“Wow!”
Orag-orang tersentak kaget. Ada apa itu? Mereka mengarahkan pandangannya ke tempat ledakan. Nampak nyala api berkobar diiringi asap yang mengepul tinggi. Ternyata benda sebesar bola baseball itu adalah sebuah bom berdaya ledak rendah atau low explosive bomb. Sahabat-sahabat Pranaja langsung berlarian menuju tempat ledakan.
“Ledakan apa tu tadi Met?” tanya mereka kepasa karyawan yang sudah sampai itu.
Memet, petugas kebersihan yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu hanya menggelengkan kepalanya. Layaknya detektif mereka mulai mencari tahu sumber dan penyebab ledakan itu. Meninggalkan Pranaja, Miracle dan Tong Pi berdiri termangu. Tong Pi memegang tangan kanan Pranaja dan tangan kiri Miracle.
Ting!
Tubuh mereka langsung menghilang dan muncul lagi di sebuah bungker militer yang sudah tidak terpakai lagi. Tempat itu sangat sepi, tidak kelihatan ada tanda-tanda kehidupan.
“Kenapa kita muncul disini Tongat?” tanya Miracle kesal.
__ADS_1
Belum selesai Miracle berbicara, tiba-tiba terdengar tapak kaki orang-orang berlarian menuju ke arah bunker itu. Pranaja memandang orang-orang itu. Hm, rupanya merekalah yang telah menyerang dirinya. Dan bungker inilah tempat persembunyian mereka.