RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 15 TENGKULAK-TENGKULAK KOTARAJA


__ADS_3

TENGKULAK-TENGKULAK KOTARAJA


Tidak ada bedanya antara orang yang kau cinta dengan orang yang kau benci, karena mereka memiliki persamaan. Mereka sama-sama membayangi pikiranmu setiap waktu.



Riyani masih saja uring-uringan. Setiap hari dia hanya marah-marah. Apapun yang dikerjakan mbok Dal selalu salah di matanya. Seperti pagi itu, baru saja membuka mata dia sudah marah-marah. Mbok Dal yang lagi sibuk-sibuk di dapur, buru-buru menghmpirinya.



“Ada apa Den Ayu? Mimpi lagi?” ujarnya.


“Uuh! Simbok sok tahu deh!” sambil melirik tajam mbok Dal, “Sebel!”



Perempuan separuh baya itu duduk di samping Riyani, di pegangnya kedua pipi junjungannya itu. Ditatapnya mata indah itu dalam-dalam. Riyani diam saja. Memang hanya mbok Dal yang mampu menenangkan hatinya kalau lagi gundah.



“Ya sudah. Sekarang Den Ayu mandi dulu. Nanti simbok siapkan air hangat ya?”



Riyani menggeleng cepat.


“Tidak mau! Aku mau mandi air dingin.”


Nada suaranya sudah menurun. Mbok Dal tersenyum. Lalu mengambil handuk dan menyiapkan baju ganti.



“Tidak usah mbok. Biar aku mempersiapkan baju sendiri.”


Mbok Dal menghela nafas panjang.


“Ya. Kalau begitu, simbok ke dapur lagi ya?”


Riyani hanya mengangguk. Mbok Dal keluar kamar dan kembali ke dapur.


Riyani memang bukan gadis manja. Dia sangat mandiri. Bahkan terlalu mandiri untuk ukuran puteri seorang Demang. Dia tak segan mengerjakan pekerjaan apapun di rumahnya. Mencuci, memasak, menyiapkan baju untuk ayahnya lalu membersihkan rumah bahkan membantu kang Tumin dan pekerja lainnya memberi makan kambing-kambing di belakang rumah yang jumlahnya ratusan.


Gadis secantik bidadari peduli dan lemah lembut. Dia selalu meminta mbok Dal untuk masak berlebih biar bisa dibagikan kepada orang-orang yang datang bertamu ke Kademangan.

__ADS_1



“Kademangan Wanasepi itu luas sekali mbok. Ada penduduk yang rumahnya di lereng gunung, dan butuh waktu setengah hari dari rumahnya untuk bertemu ayah. Tentu mereka lapar dan haus,” kata gadis itu suatu saat.



Kebaikannya menurun dari sifat ayahnya, Demang Wanasepi yang terkenal akan kerendahan hati dan kebaikan budinya. Selalu siap menolong siapapun tanpa pamrih. Pemimpin yang adil dan dihormati karena pengabdiannya kepada masyarakat. Ki Demang megajarkan warganya untuk bertani, beternak dan berkebun dengan cara-cara yang diatur bersama-sama.



Hanya kepada mbok Dal dia bersikap sedikit manja, mungkin karena hubungan batin yang begitu erat. Sejak isteri ki Demang meninggal setelah melahirkan puteri satu-satunya itu, mbok Dal yang merawat dan mengasuh Riyani hingga tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik jelita. Bagaikan bunga mawar yang terjaga pertumbuhannya, sehingga menebarkan aroma wangi ke setiap sudut Kademangan Wanasepi.



“Mbook!” mendadak Riyani memanggilnya kembali dari kamar mandi.


Setengah berlari, perempuan paruh baya itu bergegas menghampirinya.


“Ada apa Den Ayu? Kok marah lagi?”


“Air hangatnya mana? Kok belum disiapin?”



Wajah Riyani nampak kesal. Matanya melotot dan bibirnya manyun. Mbok Dal hanya berdiri terpaku sambil menepuk jidatnya. Hadewh, Den Ayu…Den Ayu… Katanya mau mandi air dingin, sekarang minta air panas. Mungkin mimpi memang bisa membolak-balik perasaan orang. Sebentar tersenyum, sesaat kemudian marah lagi, marah lagi, … hadewh.


Ki Demang sedang pergi ke Kotaraja menghadap kanjeng Sultan untuk mengantarkan pajak rakyat Kademangan Wanasepi dan melaporkan keadaan rakyat Kademangan. Biasanya memakan waktu satu bulan untuk pergi pulang pergi ke Kotaraja.


Apalagi situasi Negara sedang cukup genting, ada musuh baru dari negara luar yang sudah mendarat di pelabuhan Jayakarta. Kabarnya mereka sudah mendirikan benteng pertahanan di sana. Karena itu seluruh rakyat diminta untuk bersiaga.


Riyani sedang berjalan-jalan ke pasar hewan untuk melihat kambing dan sapi-sapinya yang dijual di sana. Diam-diam Ki Demang juga meminta Riyani untuk mengawasi keadaan di Kademangan. Walaupun pemimpin sementara Kademangan di serahkan kepada ki Joyoboyo, kepala pengawal Kademangan Wanasepi.



“Riyani kau harus membantu Joyoboyo menjaga kehidupan rakyat tetap aman. Roda ekonomi tetap bergerak selama aku pergi. Awasi keadaan pasar, para tengkulak dari Kotaraja, kadang ada yang curang menghargai ternak-ternak kita,” pesan ki Demang sebelum berangkat.


“Ya ayah. Aku akan melaksanakan perintah ayah semampuku,” katanya.



Karena itulah setiap hari pasaran, Riyani meminta kang Tumin dan teman-temannya untuk membawa hewan ternak terbaik milik Kademangan ke sana. Sehingga hewan ternak miliknya di jadikan patokan oleh peternak-peternak lainya. Dan gadis itu selalu mematok harga tinggi kepada para tengkulak dari Kotaraja. Akibatnya peternak lainnya pun ikut menaikkan harga ternaknya. Itulah yang membuat beberapa tengkulak tidak menyukainya.


__ADS_1


“Jangan sampai ada petani yang menjual murah hewan miliknya karena terdesak kebutuhan kang Tumin. Bila perlu kita beli dulu sebelum jatuh ke tangan para tengkulak,” pesan Riyani kepada kepala pasar.



“Siap Den Ayu. Kita akan mengawasi setiap peternak yang masuk ke pasar,” katanya.


“Tengkulak itu sangat licik melakukan tipudaya kepada para petani,” ujar Riyani.



Dan siang itu Riyani berjalan tanpa pengawalan. Dia berjalan perlahan sambil mengawasi kegiatan jual-beli antara pedagang dan pembeli. Beberapa orang yang dilewatinya membungkukkan badan sambil menyapanya. Diam-diam mereka mengagumi cara puteri Ki Demang melindungi para peternak dari tengkulak-tengkulak Kotaraja.



Mendadak dari arah belakang terdengar ada keributan. Tiga ekor kerbau berukuran sangat besar tiba-tiba mengamuk bagaikan banteng yag terluka. Mereka melompat dan menerjang apapun yang mengahangi jalan. Sebuah warung makan dari kayu yang berdiri di tengah pasar langsung roboh terkena terjangan mereka. Orang-orang yang sedang asyik makan sampai terlempar keluar dan nyangkut di pohon asam.


Tenaga mereka sunguh kuat. Dengan tanduknya yang panjang dan melengkung ke atas mereka mulai menyerang orang-orang yang sedang berkerumun di pasar.


“Aakh…lariii...!!!” teriak mereka sambil berlari kesana kemari.



Beberapa pedagang sapi yang berani mencoba menghalangi langkah mereka tapi malah diseruduk hingga terbanting dan tak bisa bangkit lagi. Diantara mereka ada yang mengalami luka robek pada bagian perutnya. Sebagian lainnya ada mengalami luka remuk karena terinjak kaki-kaki binatang besar itu.



“Mooo!!...Mooo!!”



Orang-orang di pasar bubar belarian ke segala arah. Sementara ketiga kerbau besar itu terus berlari. Arahnya sama dengan jalan yang dilewati Riyani. Kerbau-kerbau sebesar banteng India berlari penuh kemarahan. Dengus napas mereka terdengar memburu. Menuju seorang gadis cantik yang memakai payung berwarna merah!



“Den Ayu! Den Ayu! Awas!”



Orang-orang mulai panik. Mereka terus berteriak memperingatkan Riyani. Gadis itu menoleh, tapi terlambat. Jarak antara kerbau-kerbau raksasa itu dengan dirinya sudah terlalu dekat. Dan dia tidak bisa lari kemana-mana. Tubuhnya seperti mematung, kakinya seperti terpaku ke dalam tanah. Tanduk-tanduk mereka yang tajam mengarah lurus, siap merobek-robek tubuhnya.



“Den Ayuuu!” Mbok Dal berteriak histeris.

__ADS_1



Para pengawal yang merasa kecolongan langsung berlari dan melompat ke arah kerbau-kerbau itu. Tapi terjangan mereka hanya mengenai tempat kosong. Hanya tinggal satu detak jantung, tubuh indah puteri ki Demang Wanasepi itu akan hancur berantakan.


__ADS_2