
EPS 76 PERTEMPURAN HIDUP MATI
Ketegangan itu terus merayapi wajah Alisher dan yang lainnya. Monster sebesar batang pohon Akasia sepanjang enam meter muncul dari dalam pasir dengan mulut terbuka. Kemudian melahap tubuh korbannya yang telah dilumpuhkan dengan sengatan listriknya, setelah itu masuk kembali kedalam pasir dengan kecepatan super. Sungguh makhluk yang sangat mengerikan!
“Alisher! Bawa kakek dan semua pengawal semua ke atas bebatuan. Aku akan mencba menahan mereka!” teriak Pranaja.
“Pranaja tunggu…!” teriak Alisher.
Tapi tubuh sahabatnya itu sudah melesat jauh. Rupanya telinganya menangkap pergerakan dua monster lagi dari arah kanan. Ketajaman penglihatannya menembus kedalaman pasir sehingga dapat melihat arah pergerakan kedua monster itu. Tubuhnya terdiam, mengapung diudara. Lalu diarahkannya senjata pelontar granatnya ke tempat dimana kedua monster itu diperkirakan muncul.
Pada jarak yang tepat dia menembakkan senjatanya. Granat berbentuk mirip jantung pisang itu melesat cepat di udara mengarah ke tubuh monster-monster itu. Namun mendadak seperti ada kilatan sinar listrik berdaya tinggi keluar dari dalam pasir. Lalu menghantam granat itu di udara.
“Blar!”
Granat itu meledak di udara sebelum mencapai sasarannya. Serpihannya terbang kemana-mana. Daya ledaknya mendorong tubuh Pranaja terlempar ke belakang, lalu jatuh ke atas pasir dengan keras.
“Bug!”
Tubuhnya berguling-guling di atas pasir beberapa kali.
Ugh!
Pranaja merasa napasnya menjadi sesak beberapa saat. Saat bangkit berdiri dia melihat ada darah mengalir dari kaki kanannya. Rupanya terserempat pecahan granat tadi. Belum sempat menyeimbangkan kuda-kudanya, tiba-tiba kilatan cahaya listrik yang kedua menyerang dirinya. Pranaja berpikir cepat, langsung matek ajian Lembu Sekilan. Ada selubung tak terlihat yang melindungi tubuhnya. Sesaat lagi cahaya listrik itu akan menyengat tubuhnya.
“Heyaa!”
Tiba-tiba ada sosok tinggi tegap yang melompat dan mendarat di depannya. Alisher datang dengan mengayunkan pedangnya. Kilatan cahaya listrik berdaya tinggi itu langsung terserap ke dalam logam pedang yang terbuat dari platina murni. Membuat pedang itu mengeluarkan cahaya ungu.
“Heyaa!”
Alisher berteriak sekali lagi. Suaranya menggelegar membelah angkasa. Tubuhnya melompat tinggi sambail mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya. Begitu monster maut itu muncul dari dalam pasir, dia segera menyambutnya dengan pedang ungunya.
“Slap!”
Pedangnya membelah mulut monster yang terbuka. Cahaya ungunya terus merambat membelah tubuh monster itu sampai ekornya. Lalu jatuh kembali ke atas pasir.
“Bum! Bum!”
__ADS_1
Salah satu Cacing Maut Gurun Gobi itu mati menjadi dua bagian dengan tubuh menghitam. Melihat temannya tewas, monster yang satunya langsung masuk kembali ke dalam pasir. Menghilang tanpa jejak.
“Arrggh!”
Teriakan Alisher membelah angkasa. Seolah sedang merayakan kemenangan atau sekedar melepas ketegangannya. Pandangannya tegas menatap horizon.
“Tap! Tap! Tap!”
Terdengar beberapa langkah kaki para pengawal berlari mendekati mereka. Dengan sigap mereka berdiri melingkari tubuh Alisher dan Pranaja. Secara diam-diam pemuda itu menyalurkan kekuatan Tirtanala, mengobati kakinya yang terluka, sehingga kembali seperti semula.
“Bagaimana keadaanmu tuan?” tanya Adam.
“Aku baik-baik saja,” jawab Pranaja.
Alisher membalikkan tubuhnya. Menatap wajah Pranaja dengan rasa penasaran. Diperiksanya tubuh sahabatnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Utuh. Tidak ada luka sedikitpun. Padahal jelas sekali dia melihat ada darah yang mengalir dari kaki Pranaja. Ah, rasanya ada banyak hal yang disembunyikan oleh sahabat barunya itu.
“Hebat kau Alisher,” sanjung Pranaja.
Alsher tidak menjawabnya. Dia berlalu begitu saja dari hadapan Pranaja dan berjalan cepat ke arah kakeknya.
“Kakek tidak apa-apa?”
Kakek Zyed tersenyum bangga menatap Alisher.
“Aku baik-baik saja.”
Lalu pemuda tampan itu duduk mematung di samping kakeknya.
Alisher terdiam. Tapi pandangannya jelas mengawasi gerak-gerik Pranaja. Kakek Zyed memahami kegelisahan cucunya.
“Aku tahu apa yang mengganggu pikiranmu,” kata kakek. “Itu terjadi karena sejak awal kau meremehkan kemampuannya. Jangan menilai seseorang dari luarnya saja Alisher.”
“Tapi itu sudah berlebihan. Kakek nggak melihat tadi tubuhya terbang dan mengapung di udara. Lalu menembakkan senjata pelontar granatnya.”
Kakek Zyed menganggukan kepalanya.
“Kau benar. Menembakkan senjata pelontar granat sambil melayang diudara tentu dibutuhkan kekuatan yang sangat besar. Tapi Pranaja melakukannya dengan begitu mudahnya.”
“Ada banyak hal yang dia sembunyikan dari kita kek.”
“Lalu apa masalahnya? Apa kau pikir, dia harus menunjukkan seluruh kemampuannya dihadapan kita? Malah kita nanti yang dianggap berlebihan Alisher.”
Alisher menatap wajah kakeknya dalam-dalam.
“Bersikaplah biasa Alisher. Jangan berprasangka buruk. Karena kakek percaya kepadanya, seperti aku percaya kepadamu.”
Alisher menganggukkan kepalanya.
“Suatu saat dia akan menunjukkan siapa dirinya pada saat kita benar-benar membutuhkannya,” pesan kakek lagi.
Alisher berjalan ringan menghampiri Pranaja.
__ADS_1
“Kau baik-baik saja brother?”
Pranaja tersenyum.
“I am fine. Tapi sekarang kita punya pekerjaan baru.”
“Apa itu?”
“Aku akan memeriksa bangkai monster itu. Untuk memastikan habitat dan ekosistemnya.”
Alisher menganggukkan kepalanya.
“Oke. Dan aku akan mengurus anak buahku yang menjadi korban keganasan monster tadi.”
***
Malam menjelang. Tapi mereka belum beranjak dari tempat itu. Mereka masih berlindung di atas hamparan bebatuan, yang tersebar seluas limapuluh meter persegi. Pranja menangkap masih ada banyak pergerakan lagi dari monster-monster itu. Bahkan semakin sore semakin bertambah. Mereka masih ada di dalam pasir dan begerak mengitarai mereka. Menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
“Mereka adalah binatang-binatang yang cerdas Alisher. Selain sengatan lstriknya, mereka juga menyerang dengan suaranya. Dengan resonansi yang tinggi menusuk telinga dan memecahkan konsentrasi pertahanan musuhnya. Lalu menyergap dengan cepat,” ujar Pranaja.
“Apakah aku harus meminta pengawal-pengawalku untuk menutupi telinga mereka?”
“Sebaiknya memang begitu.”
Alisher lalu berdiri dan memerintahkan Adam dan kawan-kawannya untuk menutup pendengaran mereka dengan kain. Kakek Zyed juga melakukannya. Mereka akan menghadapi pertempuran hidup mati malam ini.
Pranaja membuat beberapa api unggun yang melingkari tempat perlindungan mereka. Biasanya hewan-hewan melata memiliki rasa takut dengan api. Setelah itu, dibantu Alisher dan anak buahnya, mereka menggali parit perlindungan, kemudian diisi kayu dan ranting pohon akasia kering yang mudah terbakar.
Menjelang tengah malam, pergerakan monster-monster itu mulai terlihat. Nampak beberapa gundukan pasir berjalan melingkari mereka silih berganti. Pranaja memperkirakan ada sekitar duapuluh monster yang bersiap untuk menyerang mereka pada saat yang tepat.
“Kiyeeek!’
Terdengar teriakan monster itu dari jauh. Lalu pergerakan gundukan pasir itu Nampak berbalik arah. Seperti berlomba, gundukan-gundukan pasir itu bergerak bersama dengan kecepatan tinggi ke arah hamparan batu dimana mereka berdiri.
“Lihat tuan! Monster-monster itu bergerak dengan cepat kemari!” teriak Adam.
__ADS_1
Puluhan gundukan pasir dalam jarak seratus meter bergerak dengan cepat ke arah mereka. Membentuk garis-garis lurus dan panjang untuk melakukan penyerangan bersama-sama. Kalau satu monster saja begitu merepotkan, bagaimana kalau puluhan monster itu menyerang bersama? Dan Pranaja siap mengeluarkan seluruh kekuatannya.