RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 148 AKHIR PELARIAN


__ADS_3

EPS 148 AKHIR PELARIAN


Tubuh Pranaja melesat cepat dari dasar jurang. Seperti meteorit yang meluncur di dalam kegelapan malam, ujung pedangnya seperti memancarkan sinar. Sasarannya tentu saja makhluk siluman jelmaan tubuh Blade Muller yang dirasuki arwah siluman Naga penguasa hutan Kecipir, Nyai Nagabadra. Kedua tangannya dikibaskan, sambil berteriak mengeluarkan kekuatan Tirtanala yang membekukan sekaligus menghancurkan.



Tiba-tiba terasa angin berkesiur lembut. Hawa dingin berhembus menyeruak di seantero kawasan Megapolitan. Merasuk ke dalam pori-pori kulit dan terserap oleh pembuluh-pembuluh kapiler dalam jaringan darah. Membekukan butiran-butiran darah dan menghentikan alirannya. Bahkan hawa dingin itu terus menusuk sampai ke dalam sum-sum tulang.


Orang-orang yang berada di sekitar Megapolitan tidak dapat bergerak. Tubuh mereka membeku, diselubungi hawa dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Terasa ngilu dab menyakitkan. Semua orang sudah merasa ajalnya akan segera tiba. Namun, di tengah suasana yang hamper mencabut nyawa mereka, mendadak sebongkah api panas meluncur ke arah tubuh Pranaja.


‘Wuss!’


Dengan cepat, pemuda itu mundur menghindar. Bola api terus meluncur menabrak dinding bangunan sehingga menimbulkan kebakaran hebat. Namun efek panasnya mampu membuyarkan rasa dingin yang membekukan tubuh orang-orang lainnya. Rupanya sang Nyai Nagabadra berhasil membebaskan dirinya dari belenggu hawa dingin Tirtanala, dengan mengluarkan hawa panas dari dalam tubuhnya.


:”Hm, rupanya ada yang mau bermain-main denganku,” ujar siluman Blade.


Dari mulutnya dia melemparkan bola-bola api yang sangat panas, menyerang Pranaja. Tapi pemuda itu terus menghindar. Dia tahu siapa yang memiliki kekuatan bola api seperti itu. Dengan satu sentakan, tubuhnya melayang menuju tanah lapang. Serangan bola-bola api terus datang susul menyusul menghujani tubuhnya. Tapi tak ada satupun yang dapat menyentuh tubuh pemuda sakti berwajah imut itu.


Begitu kakinya menginjak tanah, dia mengibaskan kedua lengan bajunya. Hawa dingin menyebar mematikan bola-bola api yang mengepungnya.


“Wus!”


“Kenapa harus bersembunyi siluman Naga! Tunjukkan dirimu dan lawanlah aku!” seru Pranaja dengan jumawa.


Suaranya datar dan wajahnya nampak begitu tenang. Arwah Nyai Nagabadra yang masih berada di dalam tubuh Blade tak bergeming. Makhluk mengerikan itu bahkan tersenyum sinis seolah tidak menganggap Pranaja.


“Dasar bocah lancang! Memangnya siapa kau berani memerintahkan aku?”


Pranaja menaikkan salah satu alisnya, senyumnya begitu menjengkelkan.


“Kau bisa menipu semua orang dengan wujudmu. Tapi tidak denganku,” ujarnya.


Tanpa banyak kata, sluman Blade kembali menyerang Pranaja dengan membabi buta. Bola-bola api yang keluar dari mulutnya seakan mengurung pertahanan pemuda itu



‘Heya! Heya! Heya!'

__ADS_1


Dengan tenang pendekar muda keturunan trah Somawangi itu kembali mengibaskan kedua lengan bajunya. Hawa yang sangat dingin mendadak membekukan tempat itu. Rerumputan diliputi embun es, bola-bola api langsung padam, bahkan mulut siluman Blade seperti tersedak. Saat makhluk jelmaan itu belum sadar dengan apa yang terjadi, Pranaja sudah berada didepannya.


“Sok pamer! Aku bahkan bisa mematikan sumber apimu siluman Naga!”


Dicekalnya leher sang siluman Naga dengan tangan kanannya. Blade merasakan urat-urat di lehernya menjadi kaku dan membeku. Dan hampir tidak bisa bernafas.


“A..apa yang akan kau lakukan anak muda?” katanya dengan suara yang tercekat.


Pranaja tersenyum dingin.


“Tidak ada maaf siluman naga. Kau lah penyebab semua huru-hara ini. Semua gara-gara ulahmu yang telah mengganggu ketentraman Megapolitan”


“Kau salah sangka anak muda. Aku juga korban dari ulah suamiku sendiri. Kelakuan bejadnya tehadap sang Mawar Jalatunda menjadi awal bencana ini. Aku berkata jujur.”


Pranaja melepaskan cengkeramannya. Tubuh siluman Blade langsung jatuh tersungkur di tanah. Menerbangkankan debu dan asap yang tebal diudara.


“Bum!”


Siluman jadi-jadian itu menyeringai kesakitan. Tubuhnya berguling-guling kesana kemari. Kedua tangannya memegangi lehernya, menyalurkan kekuatan api, yang membeku agar kembali hangat. Setelah pulih, dia duduk bersimpuh di depan Pranaja.


“Keluarlah siluman Naga. Kau sudah terlalu banyak membunuh manusia. Kini saatnya aku akan menyempurnakan kematianmu,” ujar Pranaja dengan nada penuh ancaman.


Seberkas sinar keluar dari tubuh komandan tentara bayaran itu. Awalnya di bergerak berputar-putar di sekitar tubuh Blade, seolah enggan melepaskannya. Namun begitu melihat Pranaja memejamkan matanya, cahaya itu terlihat berputar semakin cepat. Seperti jiwa yang gelisah, bergerak tak tahu arah. Saat masih melayang-layang di udara, mendadak Pranaja membuka matanya.


“Anugerah Mata Dewa!”


Selarik sinar berwarna biru muda melesat dari mata Pranaja, seperti melahap cahaya yang berputar-putar diatas tubuh Blade.


Clap!


Lalu lenyap tak bersisa.


“Haah!”


Pranaja berdiri gagah sambil meneriakkan nada kemenangan di atas tubuh Blade yang tak berdaya. Lalu dia berjongkok, tangan kanannya menyentuh kembut ujung kepala Blade. Menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Memperbaiki sel-sel dan jaringan tubuh yang rusak, hingga semua luka yang di derita Blade sembuh sama sekali. Termasuk tulang-tulangnya yang remuk kembali utuh seperti semula.


Beberapa petugas keamanan menghampiri tubuh Blade. Mereka memborgol tangan Blade sebelum laki-laki perkasa itu tersadar dari pingsannya. Mengakhiri pelarian buronan kelas wahid pemerintah kerajaan Inggris. Disaksikan tatapan tak percaya dari sepasang mata indah bola ping pong milik Lucra Venzi.

__ADS_1


***


Slap! Slap! Slap!



Puluhan cahaya yang berasal dari lampu sorot mendadak menerangi langit Megapolitan. Satu peleton pasukan Kostrad dari kementrian pertahanan, tiba-tiba berdatangan dan mengepung tenpat itu. Di lengkapi dengan persenjataan berat, kendaraan lapis baja, dan barracuda berisi pasukan elit dari tiga matra. Ruapanya mereka tidak mau menganggap remah kemampuan Blade Muller.



Pranaja terkesiap kaget saat komandan mereka muncul dari tengah barisan. Perwira menengah berpangkat kolonel itu maju ke depan untuk menyambut Lucra dan Pranaja. Lelaki separuh baya itu berjalan sigap dengan pakaian seragam lengkap dengan berbagai macam atributnya. Gagah dan begitu berwibawa.



“Pak Darsono?” batin Pranaja.



Sepengetahuannya, pak Darsono adalah kepala keamanan di Megapolitan City. Pensiunan Kolonel Angkatan Darat yang mengabdikan ilmunya untuk menjaga keamanan megaproyek milik taipan Subrata. Dan Pranaja paham, Subrata selalu merekrut tenaga-tenaga professional terbaik yang akan dia bayar mahal untuk bekerja di perusahaannya.



“Crop!” ujar Darsono.


“313216,” sahut Pranaja.



What! Jadi selama ini yang menjadi penghubung M16 dengan dirinya adalah pak Darsono? Pantes dia tidak pernah ketinggalan informasi. Penghubungnya adalah orang yang menguasai lokasi.



“Siap! Hormat Grak!”



Pranaja berdiri dengan sikap sempurna, diikuti Lucra di belakangnya. Mereka memberikan salam hormat kepada penghubung M16 yang benar-benar telah mengejutkan hati mereka.

__ADS_1


Thank You, Sir!


__ADS_2