
EPS 105 PERI WYONA
Malam sudah larut. Tanpa cahaya bulan, langit semakin kelam namun bintang-bintang terlihat semakin terang. Kerlip cahayanya seperti detak jantung yang selalu berdenyut, mengisyaratkan tanda-tanda bagi manusia yang mau berpikir. Seperti sebuah siklus kehidupan, bintang-bintang pun mengalami kelahiran sebelum menghabiskan energi di dalam tubuhnya untuk memancarkan cahaya, lalu kemudian mengalami kematian.
Di luar angin lembah yang sejuk berkesiur lembut. Suasana begitu sepi. Miracle tidur meringkuk di sisinya, sementara Tong Pi memilih merebahkan dirinya di dekat api unggun untuk menghangatkan tubuhnya. Sementara Spot tidur agak menjauh dari mereka. Namun kepalanya yang sebesar gubuk itu menghadap persis di depan Pranaja.
Pemuda itu masih khusyuk membaca Kitab Irodarsulasikin pemberian Panembahan Mbah Iro. Di dalam kitab itu banyak sekali pelajaran hidup yang bisa dijadikan acuan bagi Pranaja. Dalam salah satu bab kitab itu juga membahas tentang keberadaan Naga.
“Hm..menarik sekali isi daripada ajaran kitab Irodarsulasikin ini. Aku ingin tahu lebih dalam tentang keberadaan Naga. Salah satu legenda yang selalu di ceritakan dalam mitos-mitos budaya seluruh bangsa di dunia,” batin Pranaja. “Mengapa selalu ada cerita Naga dalam dongeng setiap bangsa di dunia?”
Dalam kitab itu jelas tertulis tentang riwayat sang Naga. Pada awalnya bangsa-bangsa di dunia berasal dari satu kerajaan. Mereka bisa bersatu karena menghadapi ancaman yang sama. Invasi bangsa-bangsa penghuni planet-planet dalam tata surya. Saat itu tekhnologi dan peradaban manusia jauh lebih maju daripada peradaban manusia modern sekalipun. Perang antar penghuni planet di tata surya bukanlah hal yang aneh.
Mereka menggunakan senjata-senjata super canggih yang tidak ditemukan dalam peradaban manusia modern. Sebagai planet yang paling indah diantara planet-planet lainnya, Bumi menjadi planet yang paling diinginkan sebagai tempat hunian. Karena jaraknya yang paling ideal dari matahari sehingga kondisi menjadi angat nyaman. Tidak terlalu panas, tapi juga tidak terlalu dingin.
Coba bandingkan suhu panas di planet Merkurius yang paling dekat dengan Matahari,. Merkurius adalah planet paling kecil dan paling dekat dengan matahari Waktu edarnyapun hanya delapan puluh delapan hari. Matahari di Merkurius nampak tiga kali lebih besar dari matahari di bumi. Suhu di siang hari mencapi 420ºC sedangkan malam hari -184ºC.
Atau suhu dingin di planet yang terjauh dalam system tata surya kita, Neptunus yang mencapai minus 300 derajat Celsius. Neptunus merupakan planet superior dengan diameter 50.200 km, letaknya paling jauh dari matahari. Atmosfer Neptunus dipenuhi oleh hidrogen, helium, metana, dan amoniak yang lebih padat dibandingkan dengan Bumi. Komposisi penyusun planet ini adalah besi dan unsur berat lainnya. Sangat berat hidup disana.
Tapi kerajaan Bumi dilindungi oleh sepasang Naga yang sangat perkasa, Drag dan Gon. Mereka selalu melakukan tindakan-tindakan heroik untuk melindungi kerajaan Bumi dari invasi bangsa-angsa lainnya. Dengan kecepatan terbangnya, dia mampu mengusir setiap pesawat angkasa luar yang berrnaksud menguasai Bumi.
“Aaarrgh! Aaarrgh!”
Teriakan-teriakan sepasang Naga itu berkumandang di jagad raya, saat mereka menyemburkan apinya yang sangat panas ke arah pesawat-pesawat induk yang membawa pasukan besar yang siap berperang. Akibatnya sungguh parah, pesawat-pesawat super raksasa itu hancur lebur sebelum mencapai atmosfer Bumi.
“Hm, menarik. Lalu kemana perginya sang Naga pelidung Bumi?” batin Pranaja.
Sayang sekali, cerita itu hanya berhenti sampai disitu. Tida ada penjelasan lebih jauh tentang apa yang terjadi dengan kerajaan Bumi serta penghuni planet-planet lainnya. Hanya ada satu penjelasan yang sangat menarik perhatiannya.
__ADS_1
“Setiap Naga ada peri penjaganya. Dia terletak di dalam permata biru yang terpateri diantara kedua matanya,” Pranaja membaca dalam hatinya.
Kemudian pemuda itu menutup Kitab Irodarsulasikin yang sedang dibacanya. Sejenak terdiam dalam pikirnya. Matanya tajam menatap wajah Spot yang tertidur di depannya. Pranaja berdiri, lalu melangkah pelan mendekati Spot. Benar kata-kata dalam kitab itu, diantara kedua mata Spot terdapat sisik seperti terbuat dari permata dengan warna biru.
“Hm rupanya di dalam sisik biru ini si penjaga naga bersemayam,” batin Pranaja.
Dengan lembut di usapnya batu permata biru berbentuk sisik itu. Mendadak Pranaja dikejutkan dengan sinar biru yang terpancar dari batu permata itu. Dia langsung terloncat ke belakang. Sesosok tubuh perempuan cantik muncul dari dalam batu. Seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya putih. Dan dia tidak mengenakan penutup tubuh sehelaipun. Kecuali selubung seperti ari-ari buah salak yang temaram melekat di tubuhnya. Tentu saja asetnya masih terihat jelas.
Dan yang paling mengejutkan, wajah peremuan itu mirip sekali dengan Ren, gadis yang selalu ada di dalam hatinya.
“Si..siapa kau?” Tanya Pranaja tergagap.
“Aku adalah Wyona, peri penjaga naga milikmu,” sahutnya dengan suara lembut.
“Wyona kenapa kau tidak memakai gaunmu?” Tanya Pranaja.
“Gaun? Apa itu?” tanya Wyona.
Ah, percuma berbicara dengan Peri, pasti dia tidak punya gaun, malah mungkin tidak paham gaun itu apa. Aduh! Pranaja kelojotan. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya panas dingin. Sesuatu dorongan yang bergejolak di dalam tubuhnya membuatnya merasa meriyang (merindukan kasih sayang 😀 )
“Astaghfirullohal’adzim!” teriaknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran mesum dari dalam otaknya.
Di lalu mengambil beberapa daun dan menempelkannya pada tenpat-tempat yang sensitif. Dua lembar di atas menutupi sepasang gunung kembar itu dan satu di bawah perut menutup padang rumput hitam yang membuatnya menjadi malu. Tangannya terlihat bergetar hebat dengan peluh yang bercucuran di dahinya. Wajahnya mendadak merah seperti buah Cerri di musim semi.
__ADS_1
Wyona hanya terdiam sambil tersenyum melihat polah Pranaja.
“Kenapa kau membangunkan aku?”
Pranaja tidak menjawabnya, tapi lebih memilih menatap bulan di pulau ini yang semerah darah. Lalu menarik nafasnya dalam-dalam membuang segala kegelisahan, dan berusaha menata jiwanya kembali.
:Huft!
Dia menghepaskan nafasnya keras-keras mengusir beban yang begitu berat di hatinya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku?” tanya Wyona lagi.
Pranaja pun menjelaskan dengan sedikit tersendat tentang maksudnya membangunkan peri Wyona.
“Jadi begitu. Aku ingin tahu kelanjutan cerita dalam kitab yang aku baca,” katanya.
Wyona tersenyum, menembakkan panah dewa amor ke dalam hatinya.
Proll!
Lagi-lagi jantung Pranaja rontok untuk keseian kalinya.
“Seluruh bangsa alien penghuni planet-planet bersatu untuk melawan Drag dan Gon. Dengan suatu tipu muslihat mereka berhasil membuat sepasang naga itu tidak berdaya. Dalam keadaan mabuk, mereka memasukkan bergalon-galon butir salju yang diambil dari Saturnus yang sangat dingin. Akibatnya ketika tersadar mereka tidak bisa menyemburkan api dari mulutnya.”
__ADS_1
Wyona terdiam sejenak. Kedua matanya menjadi berembun, ada kesedihan disana. Pranaja hanya tertegun, tenggelam dalam kecantikan wajah peri Wyona yang mirip Ren itu. Ah, betapa ingin dia memeluknya, melampiaskan kerinduannya. Tapi dia takut kehilangan kendali dalam dirinya. Hadewh! Wyona..Wyona..