RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 24 PARA PENCULIK TONG PI


__ADS_3

PARA PENCULIK TONG PI


Pranaja berjalan sendiri. Langkahnya ringan menapak di jalan beraspal menuju kampusnya. Dia melihat jam tangannya. Ah, masih terlalu pagi. Pantas kampus masih begitu sepi. Hanya ada beberapa orang petugas kebersihan dan satpam yang sudah sibuk dengan pekerjannya sendiri. Beberapa dosen juga sudah ada yang sibuk di meja kerjanya, mungkin sedang mengangsur hutang kerjanya memeriksa lembar kerja mahasisa.


Melewati jalan hutan buatan menuju ruang perpustakaan Pranaja sedikit terkesiap. Dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Indera pendengaran dan indera keenamnya langsung bekerja. Memindai pergerakan orang yang mengikutinya. Ah, pergerakan orang sangat cepat. Tubuhnya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya lebih cepat dari kedipan matanya. Tapi pola pergerakannya sama, dan itu bias terbaca oleh pikiran Pranaja.


Dengan pergerakan yang sangat cepat dia berbalik dan melompat kearah pohon pinus di sebelah kanan. Perhitungannya tepat. Manusia dengan kemampuan berpindah lebih cepat dari kecepatan cahaya itu muncul di belakang pohon itu. Langsung ditangkap oleh Pranaja.


“Hap! Kena kau!”


Tubuh kecil itu meronta-ronta. Tetapi tangan Pranaja sangat kuat memegang lengannya. Anak berusia sekitar tigabelas tahun berkepala plontos dan memakai tasbih besar hanya berteriak sambil tertawa-tawa.


“Ah, kak Naja. Lepasin!” teriaknya.


“Eh, anak nakal. Ngapain kamu ngikutin kakak ke kampus hah?” tanya Pranaja.


Tiba-tiba Pranaja merasakan kehadiran orang lain disitu.Dibekapnya mulut Tong Pi kemudian ditariknya ke balik kerimbunan pepohonan hutan. Tak lama kemudian, terlihat dua orang berbadan tegap memakai jas hitam dan berkacamata hitam tiba di tempat itu. Dengan membawa detector ditangannya mereka berhenti tidak jauh dari persembunyian Pranaja dan Tong Pi.


“Hm, jejaknya menghilang di tempat ini. Pasti dia bersembunyi di dalam hutan. Jack! Siapkan senjatamu!” kata orang yang berada di depan.


Jack segera bersikap waspada. Dia mengeluarkan senjatanya. Bukan pistol atau senapan, tetapi peralatan seperti antenna parabola super mini dengan tongkat kecil sebesar tusuk sate di tengahnya.


“Temukan dia Hower!” teriak Jack.


Hower mengangkat alat detectornya. Arahnya menuju kerimbunan semak belukar dimana Pranaja dan Tong Pi bersembunyi.Tanpa mengucapkan apa-apa, Hower memberi tanda dimana tempat persembunyian orang-orang yang diburunya. Lalu tiba-tiba dia menarik pelatuknya. Bukan peluru atau mortar yang meluncur, tetapai suara mendengung dengan frekwensi tinggi.


‘Ngungng…ngung..ngung…’


Dengungan itu tidak terlalu keras, tapi frekwensi mampu menusuk gendang telinga. Pranaja segera menutup telinganya kekuatan Lembu Sekilan, kekuatan yang melindungi tubuhnya dari serangan luar. Terlihat Tong Pi berkelojotan dan berguling kesana kemari. Rupanya dia tidak mampu menahan frekewensi suara yang langsung menusuk gendang telinganya. Kemampuan teleportasinya pun tidak bisa dia keluarkan.


Sejenak terjadi kegaduhan. Tong Pi jatuh lemas di atas jalan beraspal. Kedua orang berpakaian parlente itu langsung menyergapnya. Dan membawanya pergi. Namun baru saja mereka membalikkan tubuhnya. mereka terkesiap kaget. Nampak Pranaja sudah berdiri gagah menghadang mereka.


“Lepaskan dia bro,” katanya.


Jack tersenyum sinis. Dilepaskannya tubuh Tong Pi dan diberikan kepada Hower. Dia lalu maju dengan langkah tegak ke arah Pranaja. Dengan sangat percaya diri dia melancarkan tinjunya dan membiarkan pertahanannya terbuka.

__ADS_1


“Wudd!” terdengar kibasan angin saat pukulan Jack lewat satu senti di depan wajahnya.


Pranaja lalu membalasnya dengan satu pukulan lurus. Jack membiarkannya, rupanya dia meremehkan kekuatan pemuda cungkring tersebut.


“Pukulan Gajah Godam!”


‘BUG!!”


Pukulan Pranaja bersarang telah di perut Jack. Terasa ada dorongan besar menghantamnya. Tubuh tinggi besar itu seketika terlempar jauh ke belakang. Jatuh terguling-guling sebelum berhenti menabrak batang pohon pinus.


“Hoeek! Hoeek!”


Jack mengeluarkan seluruh isi perutnya yang terasa mual parah. Melihat rekannya tak berdaya, Hower segera mengeluarkan pistolnya. Dia hendak menembak Pranaja dari belakang. Senjatanya sudah mengarah tepat ke jantung Pranaja dan tinggal menarik pelatuknya. Tapi mendadak jari-jarinya seperti kaku. Seperti ada kekuatan tak terlihat yang membengkokkan pistol itu ke arah kepalanya.


Hower berusaha sekuat tenaga melawannya, namun sia-sia. Jari telunjuknya sudah mulai menarik pelatuknya. Satu detik lagi senjata itu meletus dan pelurunya akan menghancurkan kepalanya.


“Miracle, jangan! Jangan kau lakukan itu!” teriak Pranaja.


Pranaja mengambil bollpoint di sakunya, lalu dilemparkan dengan cepat ke arah pergelangan tangan Hower.


Pistolnya langsung mendongak keatas, pistolnya meletus di samping telinganya.


“Duar!!”


Suaranya hampir meledakkan gendang telinga dan menggaggu keseimbangan otaknya. Untuk beberapa saat dia kehilangan kesadarannya seperto orang linglung.


Pranaja menoleh ke belakang. Nampak Miracle berdiri tegak di tengah jalan sambil mengacungkan tagannya ke arah Howe. Wajahnya merengut, tidak suka pekerjannya diganggu ulah Pranaja.


“Apa yang kau lakukan Miracle? Kau hendak membunuhnya?” tanya Pranaja.


“Ya! Aku tidak akan membiarkan orang yang hendak mencelakakan Tong Pi hidup!” sahutnya kesal.


Lalu terdengar suara langkah kaki banyak orang berlari-lari ke tempat itu. Rupanya suara letusan pistol telah menari perhatian keamanan kampus. Mereka segera bergerak ke arah lokasi ledakan. Tong Pi yang sudah sadar masih nampak bingung. Pranaja menyentuh tangannya.


“Tong Pi pindahkan kita dari sini cepat!” katanya.

__ADS_1


Tong Pi segera memindahkan tubuhnya ke tempat lain. Tangan kanan Pranaja menyentu tubuh kecil itu, sedangkan tangan kirinya memegang tangan Miracle.


“Bles!”


Tubuh mereka menghilang. Petugas kemanan hanya mendapat tubuh Jak dan Hower dalam keadaan tak berdaya. Dengan cepat mereka meringkus tubuh Jack dan Hower dan dibawa ke ruang keamanan.


‘Bles!”


Di sebuah gunungan tempat penimbunan sampah, tubuh Pranaja, Tong Pi dan Miracle muncul kembali. Lngsung jatuh bergulingan dari atas gunungan sampah tersebut.


"Tong Pi! Kenapa kita muncul di tempat ini!” bentak Miracle. Seluruh tubuhnya jadi bau sampah. “ Tuh kan tubuhku jadi bau sampah.”


Pranaja juga agak kesal dengan Tog Pi, tapi maklum mungin anak kecil itu masih belum sadar sepenuhnya akibat serangan senjata suara milik Hower dan Jack.


***


Perkuliahan baru saja di mulai. Profesor Wise sedang asyik membacakan beberapa macam teori tentang luar angkasa, saat pintu diketuk dari luar.


Tok,Tok,Tok!


“Masuk!: kata professor.


Pintu dibuka, semua mata mengarah kesana. Seorang pemuda berdiri tegap dengan setelan jas baru yang keren. Tubuhnya agak melengkung, tinggi menjulang. Semua terpana, semua terpesona. Profesor saja sampai membuka matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Pranaja?”


Pranaja tersenyum. Lalu dengan tenang kakinya melangkah masuk ke dalam ruang perkuliahan. Lalu menyalami dan mecium tangan sang profesor.


“Selamat pagi prof. Maaf datang terlambat,” katanya.


“Ow, tidak apa-apa. Silahkan masuk dan duduklah,” balas professor.


Profesor Wise terseyum. Pranaja melangkah tenang menuju tempat duduknya. teman-temannya masih tak percaya, Pranaja masuk kuliah dengan jas barunya. Wow, kereen banget, batin para gadis. Tapi…bau apa ini? Seperti bau busuk sampah?


“Hooeek!!”

__ADS_1


Beberapa gadis meminta ijin keluar untuk muntah. Perkulihanpun hampir bubar, dan Pranaja duduk santai seolah tidak terjadi apa-apa.


__ADS_2