
PERTARUNGAN DUA GENERASI
Siang begitu panas. Angin yang berkesiur lembut tak mampu mendinginkan sinar matahari yang terik. Hanya debu dan asap bekas kayu terbakar yang masih mengepul. Musim kemarau yang begitu panjang membuat semuanya menjadi kering. Sumur, sungai, kolam, telaga, semuanya kering tanpa air sedikitpun.
Layaknya desa yang mendapatkan kutukan, Jalatunda benar-benar berada dibawah titik nadirnya. Tidak terlihat lagi tanda-tanda kemakmuran yang dahulu sempat jumawa menghinggapi perasaan warganya. Kini hanyalah bangunan-bangunan kosong tak berjiwa. Sepi menyayat. Hanya ada suara burung gagak yang berkoar di dahan mati.
Dua orang memasuki gerbang desa dengan wajah penuh tanda tanya. Sepasang suami isteri, Daningrum dan suaminya Tusin. Berpakaian serba biru, menaiki kuda yang berwarna sama, coklat susu, berselempang kain hitam, membawa anak-anak panah di punggungnya. Sepasang pedang berukir gambar burung rajawali di sarungnya, terselip di pelana kudanya.
Setelah menghilang lebih dari sepuluh tahun yang lalu, kini mereka kembali dengan membawa misi balas dendam kepada rakyat Jalatunda. Dan juga mencari anak mereka yang hilang, Ken Darsih, yang direbut paksa oleh Dadhungawuk dari tangan Daningrum. Entah kemana berandal Jalatunda itu membawanya, sampai sekarnag Daningrum belum mendapatkan kabarnya.
Setelah berguru di lembah Tidar kepada Eyang Sapujagad, kini mereka menjelma menjadi sepasang pendekar tangguh yang siap menggemparkan dunia persilatan.
“Apa yang terjadi suamiku, kemana perginya semua orang Jalatnda?” gumam Daningrum.
“Sepertinya habis terjadi pembantaian dua atau tiga hari yang lalu. Mungkin ada berandal kejam yang melakukan perampokan, lalu membakar desa ini,” ujar Tusin.
Daningrum memperlihatkan dengan seksama. Di beberapa sudut memang terlihat ada rumah-rumah gosong yang masih mengeluarkan asap tipis.
“Tapi tidak ada bau daging manusia yang terbakar,” sahut Daningrum
“Mungkin orang-orang kabur ketakutan. Sebelum desa dibakar,” sahut Tusin lagi.
Di depan Bale kelurahan mereka berhenti, lalu menambatkan kudanya. Bangunan megah yang dulu menjadi pusat pemerintahan desa, kini hancur berantakan. Mungkin yang paling parah dibanding bangunan lainnya.
Wajah Daningrum terlihat sangat kecewa. Keinginannya untuk menghabisi nyawa kepala Desa Jalatunda harus tertunda. Nampaknya berandal sampah itu sedang bersembunyi dari sesuatu yang sangat menakutkan.
“Aneh. Memangnya gerombolan perampok itu begitu menakutkan sampai seluruh penduduk lari meninggalkan harta bendanya?” tanya Daningrum lagi.
“Pasti ini bukan sekedar gerombolan perampok. Tapi sosok menakutkan yang kemampuannya melebihi bapa guru kita, Eyang Senthir,” ujar Tusin membantah pendapatnya sendiri..
__ADS_1
Mendengar suaminya menyebut nama Eyang Senthir, wajah Daninrum langsung berubah. Dia terlihat begitu cemas, lalu mengajak suaminya untuk mengunjungi Sanggar Pamujan. Mereka memacu kudanya dengan cepat mengingat keselamatan sang Acarya.
Belum sampai Sanggar Pamujan tubuh mereka melompat ke udara, lalu melesat cepat mendahuui kuda-kudanya. Rupanya mereka sudah tidak sabar melihat keadaan bapa gurunya.
Begitu memasuki pintu gerbang, mereka sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. Tak berbeda dengan yang lainnya, Sanggar Pamujan juga sudah habis terbakar, tinggal puing-puingnya belaka.Namun yang paling mengejutkan adalah sosok tinggi besar, berjubah abu-abu muda, berdiri gagah sambil menundukkan kepalanya diatas puing-puing itu. Saat mereka saling memandang, Tusin dan Daningrum langsung mengenalinya.
“Panembahan Somawangi!” teriak Tusin.
“Kau…” kata Daningrum dengan bibir bergetar.
Dia tak kuasa menahan gejolak hatinya. Laki-laki tua itulah yang dengan semena-mena memindahkan janin Ken Darsih dari perut Miryam ke dalam perutnya.
“Jadi kau yang melakukan ini semua? Pemimpin perdikan berjiwa rendah. Hanya karea kematian satu orang anakmu, Glagah Jenar, kau rela membunuh satu desa?” kata Tusin.
Wajah Panembahan terlihat bingung. Dia yang sengaja mampir ke Jalatunda setelah kembali dari perjalanan sucinya ke Dieng, malah mendapatkan semua warganya telah pergi. Rumah, dan gedung Bale Kelurahan, Pasar, pusat perjudian Kalangan serta Sanggar Pamujan telah habis terbakar. Tiba-tiba datang dua orang muda yang dia kenal sebagai cantrik-cantriknya Acarya, enuduhnya macam-macam.
“Kau juga yang telah memindahkan janin di dalam perut Miryam ke dalam perutku!” jerit Daningrum histeris, pertanda dia ada di punak kemarahannya.
Panembahan Somawangi terkesiap, sekarang baru ingat wajah perempuan di depannya itu. Tapi dia malah gembira. Justru kedatangannya kesini adalah untuk menemui perempuan itu dan menanyakan dimana anak Miryam berada.
“Oh ya, …ya aku ingat sekarang. Kau adalah gadis yang menerima anak Miryam. Aku mohon maaf bila itu mengganggu perasaanmu. Justru aku datang untuk bertanya dimana….”
“Tidak ada maaf bagimu keparat!” teriak Daningrum sambil menyabetkan pedangnya.
“Wush!”
Panembahan yang tidak menyangka akan diserang oleh Daningrum langsung meloncat ke belakang. Dan Panembahan terkesiap lagi melihat kekuatan pedang Daningrum. Walaupun kibasan pedang Daningrum cukup jauh, tapi dorongan anginnya sempat menggetarkan jubahnya.
“Pedang Rajawali Cakra Buwana?” ujar Panembahan. “Darimana kalian mendapatkannya? Jangan bilang kalian murid Sapujagad dari Lembah Tidar.”
__ADS_1
Bibir Daningrum dan Tusin tersenyum sinis. Untung Daningrum yang menyerangnya tadi, seandainya serangan itu dilakukan oleh Sapujagad sendiri, dia yakin dirinya akan terluka.
“Biaiklah. Sekarang aku tahu kalian adalah murid Sapujagad, dan kalian pasti akan menjadi pendekar hebat. Tapi ada beberapa hal yang harus kalian perbaiki untuk meningkatkan kekuatan pedang Rajawali Cakra Buwana,” ujar Panembahan.
“Hmh, siapa sudi mendengarkan ocehanmu!” teriak Tusin.
Bersama dengan isterinya, Tusin menerjang menyerang Panembahan. Serangan mereka sangat lincah, gesit dan bertenaga, Sebentar kemudian tubuh tua tapi gagah itu terkurung oleh kilatan-kilatan cahaya pedang yang sangat membahayakan jiwanya. Panembahan terpaksa mundur lagi, lalu kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Lalu dengan cepat kedua tangannya itu diayunkan ke depan dan ditangkupkan.
“Plok!! Dinding Imajiner!”
Seperti ada dinding tak terlihat yang bergerak ke depan menyapu serangan Tusin dan Daningrum. Keduanya meloncat jauh ke belakang. Lalu meloncat bersama denga tubuh salang berpelukan. Kedua ujung pedang mereka disatukan. Kemudian tubuh mereka berputar cepat sekali, membentuk sinaran putih berbentuk mata bor raksasa. Perlahan ujung lancip yang beputar itu menembus ‘dinding angin’ milik Panembahan.
Blar!
Dinding imajiner itu buyar, mendorong tubuh Panembahan ke belakang. Sementara sinaran lancip itu terus bergerak menyerang Panembahan lagi.
“Hiyaaa…” teriak mereka.
Panembahan mengibaskan kedua jubahnya, mengeluarkan separuh kekuatan Tirtanala.
“Tirtanala!”
Suaranya menggelegar menembus angkasa. Seketika hawa yang begitu dingin menghembus kedua tubuh suami istri yang saling berpelukan itu,
Tusin dan Daningrum merubah formasi. Mereka berdiri tegak lalu melompat tinggi ke udara. Kedua pedangnya digesekkan satu sama lain.
“Sepasang Rajawali Mencabut Maut!” teriak mereka.
Dari hasil gesekan tadi keluar cahaya kilat menyambar dengan kekuatan besar. Sinar gemuruh seperti guntur itu merambat melalui dinding udara, lalu menghantam serangan hawa dingin Tirtanala
__ADS_1
“Blar!
Baik Panembahan maupun kedua pendekar itu sama-sama terdorong ke belakang. Dan sekarang Panembahan bisa mengukur kekuatan kedua lawannya.