
EPS 85 BLOODHOUND
“Heh, pantesan wajahmu cepat tua. Sekarang tertawalah, biar wajahmu terlihat muda.”
Ryong Bae menggelengkan kepalanya.
“Tidak.”
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Kenapa? Benar kataku tadi, tertawa juga dilarang di Korut?”
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
“Kalau kau ingin melihatku tertawa, kau harus menjadi sahabatku dulu,” kata Ryong Bae. “Itu peraturannya.”
Pranaja menghela nafasnya kembali.
“Heh. Iya deh, sekarang kita sahabatan.”
“Janji?”
“Iya.”
“Artinya kau tdak akan menghantuiku dan keluargaku?”
“Iya iya, mau ketawa aja ribet amat,” Pranaja menjadi kesal.
Ryong Bae menyunggingkan senyumnya.
“Baik, sekarang ceritakan semua tentangmu dan semua yang kau tahu tentang aku,” kata Pranaja.
Ryong Bae menganggukkan kepalanya. Lalu pilot Apache itu menceriterakan semuanya. Namanya Ryong Bae, seorang pilot dari angkatan udara Korea Utara. Ryong Bae adalah pilot terbaik di angkatannya. Dia dihubungi oleh rekannya seorang pilot dari China berpangkat kolonel untuk menjalankan misi ke Kazakhstan. Dia diantarkan oleh komandannya sendiri ke perbatasan China.
“Tugasmu adalah membunuh Rich Pranaja, seorang agen SIS Inggris atau M16,” katanya sambil menunjukkan foto Pranaja. “Dia adalah ancaman bagi Pemimipin Abadi Korea Utara dan negara Republik Demokratik Rakyat Korea.”
Wajah Ryong Bae langsung mengeras. Raut mukanya menunjukkan kebencian kepada Pranaja. Rupanya seluruh anggota militer Korea Utara sudah didoktrin untuk membenci siapapun yang mengancam kedaulatan negara dan Pemimpin Abadi mereka, Kim Jong Un. Dan hukuman bagi mereka adalah kematian.
“Siap!” ucapnya dengan sikap tegak sempurna.
__ADS_1
Sampai di perbatasan dia dijemput dengan sebuah kendaraan mliter yang dikawal ketat menuju sebuah bandara kecil di dekat perbatasan. Malamnya dia dipertemukan dengan Kolonel Ming Yo di sebuah tempat yang dikawal ketat di bandara itu. Di tempat itu dia di briefing tentang rencana dan strategi menghabisi Rich Pranaja, antek kolonialisme versi mereka.
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Kalau kau berasal dari Korea Utara dan yang merekrutmu adalah Kolonel Angkatan Darat China, mengapa kau menggunakan helikopter Apache buatan Amerika? Bukankah kalian berbeda ideologi dan saling bersaing?”
Ryong Bae tersenyum.
“Helikopter ini dipinjami oleh taipan Perancis Bartreuz Antolind. Dia membelinya dari pasar gelap, yang dicuri dari perusahaan pembuatnya.”
“Lalu apa hubungannya Taipan Perancis dengan mliter China dan Korea Utara memburuku Ryong?” tanya Pranaja.
“Kau telah menghancurkan rencana besar mereka. Beberapa oknum di militer dimanfaatkan oleh pemilik modal untuk mengamankan bisnis mereka mengeruk kekayaan alam di bawah padang pasir gurun Gobi.”
Pranaja menganggukkan kepalanya, sekarang dia paham mengapa dirinya menjadi target pembunuhan.
“Memang apa saja bisnis illegal mereka?”
“Banyak. Ada batu kristal, minyak bumi dan emas. Selama ini Gurun Gobi seolah menjadi ATM yang menghasilkan banyak uang bagi mereka. Sekarang, semua itu terpaksa ditutup karena ulahmu.”
“Jadi maksudmu, mereka menaruh dendam kepadaku?”
“Tentu saja.”
“Ryong, kenapa kau tersenyum saat aku mengatakan pertarungan ideologi antar bangsa?”
Lagi-lagi Ryong tersenyum tipis.
“Karena aku tidak mempercayainya.”
“Lalu apa yang kau percaya?”
“Aku lebih percaya ini adalah permainan bisnis para pemilik modal kelas dunia. Ideologi digunakan mereka untuk mempersatukan pikiran sekelompok orang, lalu mengaduk-aduk perasaan dan emosi mereka dengan jiwa patriotisme semu. Setelah itu antar ideologi dibenturkan, sehingga terjadilah peperagan antar umat manusia.”
Pranaja menatap wajah sahabat barunya itu dalam-dalam. Tak menyangka, seorang anggota militer dari negri tirani bisa memiliki pemikiran se’liar’ itu.
“Kau tahu siapa pemenangnya Pranaja?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Para pemodal itu kan?”
__ADS_1
Ryong menganggukkan kepalanya.
“Ya. Lewat bisnis penjualan senjata yang telah mereka produksi dengan investasi milyaran dolar. Dan pasar, yang mereka ciptakan sendiri, sudah tersedia untuk menjual hasil produk mereka.”
Pranaja mengepalkan tangannya. Ada kemarahan yang tersirat dari garis wajahnya. Kita memang hidup di dalam dunia yang penuh dengan kemunafikan. Para pemimpin dunia yang selalu berapi-api menyerukan perdamaian, sesungguhmya mereka juga yang terus menyulut api peperangan. Karena sesungguhnya rakyat tidak tahu apa-apa.
Seperti Ryong, yang dipaksa membunuh karena tekanan kekuatan tiran dibalik dogma ideologi omong kosong yang selalu mereka gaungkan.
***
Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!
Terdengar suara ratusan anjing pelacak yang berlari cepat memburu keberadaan Pranaja dan Ryong di hutan itu. Dengan penciumannya yang tajam mereka dapat menengarai tempat-tempat yang disinggahi serta jejak kaki Pranaja dan Riyong. Anjing-anjing Bloodhound yang sangat kuat dan terlatih itu terus memburu dengan cakar dan gigi-gigi mereka yang tajam dan berlendir.
Anjing pelacak jenis Bloodhound diyakini berasal dari Belgia, Perancis ataupun Inggris raya. Dengan berat tubuh mencapai hingga 72 kg, tinggi 69 cm anjing raksasa ini memiliki daya jelajah yang mengagumkan. Struktur kerangka yang sangat besar dengan sebagian besar beratbadannya terkosentrasi di tulangnya, membuat anjing ini lincah bergerak dan memiliki stamina yang tinggi. Mereka juga dapat membedakan bau tubuh manusia dari jarak 2 kilometer.
“Terus berlari Ryong. Anjing-anjing itu semakin dekat dengan kita!” teriak Pranaja.
Sebagai tentara, fisik Ryong sangat kuat. Mereka sudah berlari terus-menerus sejauh sepuluh kilometer,tapi tidak terlihat rasa lelah di wajahnya. Namun anjing-anjing itu terlalu kuat dan cepat. Pranaja harus menerapkan strategi yang tepat untuk menghadapi mereka.
Di tepi sebuah danau langkah mereka terhenti.
“Berendamlah kau di dalam danau Ryong. Gunakan semak-semak itu untuk bersembunyi. Gunakan bambu ini untuk bernafas,” kata Pranaja sambil menyerahkan sebatang ranting bambu yang memanjang.
Ryong menganggukkan kepalanya dan menuruti kata-kata Pranaja. Dia berjalan ke tengah danau dan bersembunyi di balik semak-semak dan pohon teratai yang tumbuh mengapung di atas permukaan air. Kemudian Ryong menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air, Sebatang bambu dia selipkan diantara bibirnya sebagai jalan udara agar dia dapat bernafas.
Sementara Pranaja berbalik, berlari menyongsong kedatangan anjing-anjing pelacak itu. Setelah jaraknya cukup jauh dari danau, dia melompat ke atas sebuah pohon kering dan berdiri gagah di dahan mati. Keberadaan tubuhnya yang tinggi menjulang diatas pohon, langsung tercium anjing-anjing itu.
Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!
Dalam sekejap, mereka langsung mengepung pohon dimana Pranaja berdiri. Pemuda itu memejamkan matanya, lalu melompat turun sambil mengangkat tangan kanannya. Begitu kakinya menyentuh bumi, tangannya diayunkan ke permukaan tanah.
“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya.
Ratusan anjing pelacak Bloodhound yang memburunya, ada yang berlompatan siap untuk mencabik-cabik tubuhnya, langsung membeku di udara. Beberapa saat pemuda itu terdiam. Dan ketika dia mengangkat tangannya, tubuh-tubuh makhluk hidup itu hancur menjadi serpihan-serpihan. Bagaikan patung kaca yang dihancurkan dengan palu.
Prang! Pyar!
Serpihan-serpihan itu jatuh keatas tanah, lalu hilang disapu angin Bayu Seta, ilmu warisan Roro Lawe yang sangat jarang digunakan oleh Pranaja.
Para tentara bayaran yang baru datang setelahnya menjadi bingung dan bergidik melihat anjing-anjing mereka sudah hilang tak berbekas. Segala pepohonan dan makhluk hidup lainnya pun ikut lenyap dari pandangan.
__ADS_1
Hutan didepan mereka sudah hilang dan berganti tanah lapang dalam jarak seratus meter persegi!