RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 40 BINTANG BARU DUNIA PERSILATAN


__ADS_3

BINTANG BARU DUNIA PERSILATAN


Malam telah larut. Hawa dingin terasa menusuk kulit. Pranaja mengarahkan pandangannya ke langit yang cukup cerah walaupun bulan hanya seperempat. Tampak ribuan titik-titik gemerlap yang tidak lain adalah bintang-bintang. Menurut para ahli astronomi, ada sembilan ribu bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang, tanpa bantuan teleskop.


Secara sekilas pemandangan bintang-bintang di langit selalu sama setiap malam. Padahal sebenarnya bintang-bintang itu berubah. Setiap saat lahir bintang-bintang baru, dan bintang-bintang yang telah habis masa edarnya lenyap atau dihapuskan. Dan bintang –bintang yang mati itu akan tersedot ke dalam lubang hitam. Tekanan yang kuat dari putaran ini akan mendorong gas dan partikel gas untuk bersatu. Lalu muncullah bintang baru.


“Kau adalah bintang baru di dunia persilatan. Akan ada banyak orang yang berusaha mencari cara untuk bisa mengalahkanmu. Walaupun dengan cara-cara yang licik,” ucap Panembahan. “Mereka akan berusaha mengintai kelemahanmu, kemudian dimanfaatkan untuk mengalahkanmu.”


“Memang masih ada dunia persilatan itu kakek?” tanya Pranaja.


Panembahan mengangguk tegas.


“Ya. Tapi mereka berperang tidak secara fisik. Bahkan pertarungan tingkat tinggi adalah tanpa kehadiran mereka di arena pertempuran. Tapi, tahu-tahu yang kalah akan mati terbunuh. Keluarganya tidak tahu kalau dia meninggal karena kalah bertarung.”


Pranaja mengernyitkan keningnya.


“Bahkan beberapa penguasa di negeri ini menggunakan jasa mereka untuk melindungi kekuasaannya dari ancaman-ancaman serangan yang kasat mata.”


Pranaja menatap wajah teduh itu dalam-dalam. Pengalaman hidup serta kebijaksanaan nilai-nilai Irodarsulasikin yang diserap habis Panembahan membuat sikap dan pikirannya begitu bijaksana.


‘Kalau begitu aku mohon kakek agar tidak pernah lelah melatih kemampuanku.”


“Ya. Aku akan terus membimbingmu, sampai kau mendapatkan kekuatan yang sempurna. Yaitu Kekuatan Tirtanala Sejati.”


Pranaja tersenyum. Dalam hatinya dia merasa tidak enak sendiri.


“Iya kek, aku malah belum sempat mengucapkan terimakasih, kakek begitu besar perhatiannya kepada diriku.”

__ADS_1


Panembahan menggelengkan kepalanya. Ditatapnya remaja polos itu dengan penuh kasih sayang.


“Kau tidak perlu sungkan Pranaja. Ini adalah kewajibanku sebagai pemimpin Trah Somawangi. Dan aku harap kau semakin mendewasakan alam pikiranmu. Karena disitulah letak segala kekuatanmu.”


Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam hati dia bertekad untuk terus berlatih agar mampu mencapai puncak kekuatannya sebagai keturunan Trah Somawangi Yang Terpilih mendapatkan kekuatan Tirtanala.


Di bawah bimbingan Panembahan Mbah Iro, Pranaja terus mengasah kekuatannya. Memadukan kekuatan energi Tirtanala dan Geni Sawiji dengan energi elektromagnetik yang mengalir lewat baju pelindung, T-Shield 313216 nya. Akibatnya sungguh luar biasa. Perpaduan tenaga supranatural dengan kekuatan pengetahuan itu menyebabkan daya hancur Tirtanala dan Geni Sawiji miliknya menjadi berlipat-lipat.


“Ini ujianmu yang terakhir Pranaja, sebelum kau kembali berpetualang ke duniamu,” ujar Panembahan Mbah Iro saat mereka berlatih di sebuah kedung sungai Serayu. Dia sudah tahu Pranaja adalah seorang prajurit remaja yang bekerja seperti telik sandi. Bergerak di dalam kegelapan, lalu memukul dengan bayang-bayang.


Pranaja mengaktifkan baju pelindungnya. Lalu melompat dan berdiri tegak di udara. Dibentangkannya kedua tangannya kesamping kanan dan kiri. Matanya terpejam, elemen panas dalam tubuhnya menyerap enegi api, masuk kedalam setiap serat baju T-Shield 313216 nya. Lalu kekuatan itu mengalir di setiap pembuluh kapiler dan urat-urat serabutnya. Seluruh tubuhnya nampak bersinar merah membara, lalu perlahan berubah menjadi biru dengan suhu panas yang semakin meningkat.


Kemudian pemuda itu memusatkan kekuatannya pada kedua tangannya. Perlahan energi api itu merambat ke ujung lengan kanannya. Membuatnya menjadi bersinar dari ujung telapak tangan sampai ke siku, begitu menyilaukan. Lalu dengan satu kali hentakan, tangannya memukul ke depan.


“Pukulan Api Biru!!” teriaknya.


Seketika gumpalan sinar berwarna biru melesat menuju sasaran, sebuah batu besar di tengah sungai. Suaranya keras mengguntur seperti badai hebat yang tengah mengamuk.


BUMM!!


Suara menggelegar diikuti deburan ombak setinggi puluhan meter menggetarkan alam sekitarnya. Diikuti gelombang elektromagnetik dalam skala besar sehingga alam seperti terguncang. Burung-burung beterbangan, hewan-hewan lainnya pun berlarian.


Pepohonan dalam radius tiga puluh meteran tumbang, rata dengan tanah. Beberapa saat setelah airnya mereda, batu itu sudah hilang, remuk menjadi bubuk!


Panembahan Mbah Iro menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedahsyatan pukulan api biru milik Pranaja.


“Luar biasa, kau berhasil melakukannya cucuku,” kata Panembahan Mbah Iro.

__ADS_1


Tubuh Pranaja masih melayang di udara. Beberapa detik kemudian, dia melesat ke udara begitu tinggi sampai hilang dari pandangan mata. Panembahan menunggu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul kembali dari balik awan. Turun ke bawah dengan kecepatan super. Gumpalan api biru itu lurus menghujam masuk ke dalam air pusaran sungai Serayu yang cukup dalam.


“Kekuatan Geni Sawiji!” teriaknya lagi


“Byur!”


Gumpalan api biru itu masih tetap menyala walaupun telah tenggelam sampai ke dasar sungai, membuat airnya yang bening itu berpendar mengeluarkan sinar biru. Lalu tak lama, air kedung sungai serayu itu menjadi bergejolak seperti air yang sedang mendidih. Rupanya panas api itu telah merubah suhu air dari duapuluh lima menjadi duaratus limapuluh derajat celcius.


Sesaat kemudian, tubuhnya keluar dari dalam air dan mendarat kembali di atas sebuah batu. Pranaja berdiri tegak, matanya terpejam. Lalu mengambil nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan. Tak lama kemudian api biru itupun padam, dan alam sekitar menjadi gelap kembali seperti tak pernah terjadi apa-apa.


Panembahan tersenyum puas melihatnya.


“Luar biasa,” batinnya.


Pranaja merentangkan tangannya kembali. Elemen air dalam dirinya menyerap kekuatan inti air dari alam, melewati serat-serat lembut baju pelapis T-Shield 313216. Mengolahnya mejadi kekuatan yang berlipat ganda. Lalu kekutan itu masuk ke dalam pori-pori tubuhnya, merasuk ke dalam pembuluh darahnya dan meresap sampai ke tulang sum-sumnya. Seluruh tubuhnya bergetar menyalurkan kekuatan Tirtanala ke kedua tangannya. Lalu dengan satu tarikan nafas, tubuhnya melenting ke atas, tangannya dikibaskan dengan lembut.


“Wudd!”


Terasa hawa dingin yang sangat ekstrem menyebar cepat. Pepohonan dan benda-benda lainnya pada jarak limapuluh meter persegi langsung membeku, Benda-benda itu seperti terbungkus di dalam lapisan es. Lalu tangannya diayunkan dengan kuat dari atas ke bawah.


“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya. “Heyaa!!!”


Suaranya menggema diantara perbukitan Sedula, menggetarkan penghuni hutan yang langsung berlarian menyelamatkan diri. Saat tangannya menyentuh tanah, Segala benda dan pepohonan yang membeku itu kemudian pecah dan remuk seperti serpihan-serpihan kaca.


“Prak! Prang! Brang!”


Luar biasa kekuatan Tirtanala yang dikuasai Pranaja. Panembahan bahkan sampai membelalakkan matanya, seolah tak percaya. remaja delapan belas tahun itu mampu melakukannya dengan sempurna.

__ADS_1


‘Oh, Hyang Jagad Dewa Batara. Hanya Kau yang mampu memberikan kekuatan sedahsyat itu,’ batinnya.


Sementara Pranaja masih berdiri dengan jumawa. Pikirannya di penuhi dengan kebanggaan anak muda yang telah berhasil mengendalikan kekuatannya menjadi kekuatan yang tidak bisa terkalahkan. Kekuatan Super!


__ADS_2