RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 151 IMPIAN TERAKHIR TAMAT


__ADS_3

EPS 151 IMPIAN TERAKHIR


TAMAT


BERSAMBUNG KE SEKUEL BERIKUTNYA:


DI BALIK EMOTIKON CINTA 2020.


Panembahan Mbah Iro yang baru saja hendak pergi meninggalkan lokasi Pohon Cinta bersama Pranaja, langsung menghentikan langkahnya. Di hadapannya muncul sosok kyai Badrussalam yang tegak berdiri menghadang langkah mereka. Berpakaian serba putih dengan sorban yang melingkar di lehernya Kyai Badrussalam menatap lembut Panembahan dan Pranaja. Namun mereka jelas dapat merasakan ada kekuatan tak terlihat yang sangat kuat menahan langkah mereka.


“Salam. Maafkan karena aku telah mengganggu perjalanan kalian, kisanak,” ujar sang Kyai sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.


“Salam. Apakah ada yang ingin disampaikan kepada kami, saudaraku?” sahut Panembahan Mbah Iro.


Pranaja menatap heran laki-laki tua berwajah teduh itu.


“Dan darimana kau mengetahui kekuatan Tirtanala, orang tua.”


Panembahan Mbah Iro menggamit lengan Pranaja, agar pemuda itu menjaga ucapannya. Dia tahu, sosok yang menghadang mereka bukan orang sembarangan.


“Maafkan kata-kata cucuku. Bukan maksudnya menyinggung perasaanmu.”


Kyai Badrussalam masih tersenyum.


“Tidak apa-apa kisanak. Aku bisa memahaminya.”


“Sekarang sampaikan saja apa maksudmu menghalangi jalan kami orang tua,” sahut Pranaja lagi. “Dan kau juga belum menjawab pertanyaanku tadi.”


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Benar dugaannya, kekuatan Tirtanala tadi di hembuskan oleh seorang pendekar muda. Makanya terasa lebih menghentak dan bersemangat.


“Aku hanya ingin memastikan siapa pemilik kekuatan Tirtanala yang kurasakan malam ini, tidak seperti yang pernah kurasakan sebelumnya,” ujar Kyai Badrussalam.


Panembahan Mbah Iro dan Pranaja saling berpandangan. Rasa penasaran langsung terbayang di wajah mereka. Kata-kata orang tua yang tidak mereka kenal itu membuat mereka mengurungkan niatnya untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Jangan-jangan ada keturunan Panembahan Somawangi yang terecer tanpa mereka ketahui. Dan dia menguasai kekuatan Tirtanala.


“Apa maksudmu saudaraku. Apakah ada orang lain yang memiliki kekuatan Tirtanala dan kau mengenalnya?”

__ADS_1


“Cepat katakan orang tua, siapa yang memiliki kekuatan Tirtanala selain aku?” sambung Pranaja.


“Dia adalah pemilik pohon abadi yang ada di belakang kalian,” sahut Kyai Badrussalam.


Wajah Pranaja terkesiap kaget, dia justru semakin penasaran begitu mendengar kata-kata kayi Badrusslama. Sementara Panembahan hanya menatap sang kyai dengan wajah datar. Walau dia tahu, orang tua di depannya itu tidak sedang berdusta.


“Sebaiknya kita duduk terlebih dahulu sambil berbincang,’ ujarnya sambil melangkah kembali ke batu besar. “Silahkan saudaraku.”


Kyai Badrussalam menganggukkan kepala sambil menangkupkan kedua tangannya. Kemudian berjalan perlahan ke arah batu besar dan duduk menyilangkan kaki di atasnya. Di susul Pranaja dan Panembahan Mbah Iro.


“Perkenalkan namaku adalah Badrussalam. Orang-orang memanggilku Kyai Badrussalam. Aku adalah pemilik pesantren yang letaknya jauh dari Megapolitan.”


“Namaku Iro, lurah padukuhan Somawangi. Letaknya tidak begitu jauh dari sini. Dan ini adalah cucuku. Namanya Pranaja, dialah pemilik kekuatan Tirtanala yang kau maksud.”


Pranaja menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Assalamu’alaikum. Salam hormat saya, kyai Badrussalam. Memang akulah yang tadi telah menggunakan kekuatan Tirtanala.”


Kyai Badrussalam tersenyum sambil menatap tubuh Pranaja dari atas sampai ke bawah. Mata batinnya yang tajam dapat melihat kalau Pranaja bukanlah manusia biasa. Struktur tulang dan urat-urat tubuhnya terbentuk sempurna. Dan aliran darah di tubuhnya berbeda karena dapat menyimpan udara yang lebih banyak daripada manusia normal pada umumnya.


“Kau pasti memiliki kekuatan yang mengagumkan anak muda. Aku dapat merasakannya,” sahut Kyai Badrussalam. “Kau bahkan memiliki kekuatan sang Raja Surya.”


“Bahkan aku bisa merasakan kau akan menjadi elemen penting dalam kehidupan Miryam.”


Panembahan Mbah Iro dan Pranaja diam terpaku menyimak kata-kata Kyai Badrussalam.


“Miryam? Siapa dia?” Tanya Panembahan Mbah Iro.


“Miryam? Dia perempuan?”tanya Pranaja.


“Dia adalah pemilik pohon cinta sekaligus satu-satunya pemilik kekuatan Tirtanala yang aku kenal sebelumnya.”


“Miryam itu orangnya?” Tanya Pranaja dengan mimik tak percaya.


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Apakah dia keturunan Panembahan Somawangi?”


Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.


“Bukan. Dia bukan keturunan Panembahan Somawangi, tapi isteri dari Panembahan Somawangi.”


Rasa penasaran mereka sampai kepada puncaknya. Isteri Panembahan Somawangi? It’s impossible! Bahkan Panembahan Mbah Iro baru pernah mendengar namanya. Bagaimana mungkin Panembahan Somawangi memiliki istri lainnya? Apakah ada sisi kelam dari sang Panembahan yang tidak diceritakan dalam kitab Irodarsulasikin?


“Bagaimana kisanak tahu kisah Panembahan Somawangi? Apakah ada buku atau cerita mengenai beliau yang tidak kami ketahui sebagai anak keturunannya.”


Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada satu buku pun atau cerita apapun tentang Panembahan Somawangi. Tapi ini adalah kisah nyata dari kehidupan seorang perempuan malang bernama Miryam,” ujar Kyai Badrussalam. “Dan aku mengetahuinya langsung dari orangnya, karena dia masih hidup hngga saat ini.”


“Apa?” seru Panembahan Mbah Iro dan Pranaja hampir berbarengan.


Bagai mendengar petir di siang bolong, mereka hamper terloncat dari tempat duduknya.


“Ya. Isteri Panembahan Somawangi masih hidup, dan di sekarang ada di pesantren milikku.”


Panembahan Mbah Iro terdiam tanpa kata-kata. Sementara mulut Pranaja terbuka tak percaya. Isteri Panembahan Somawangi masih hidup hingga saat ini?


“Aku akan menerima dengan senang hati kalau kalian bersedia mengunjunginya.” Tawar Kyai Badrussalam.


Panembahan Mbah Iro terdiam beberapa saat. Berusaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba bergejolak. Sesaat kemudian, dia menggelengkan kepalanya.


“Aku mengucapkan terimakasih atas undanganmu Kyai. Tapi kami juga punya urusan lain yang lebih penting. Pranaja pasti akan mengunjungi pesantrenmu, menemui Miryam untuk mencari keterangan yang jelas dari semua misteri ini. Biarlah ini menjadi kisah yang akan diungkap dalam episode dan kisah hidup Pranaja selanjutnya.”


Kyai Badrussalam mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memahami ada tugas yang harus dilaksanakan oleh Panembahan Mbah Iro dan Pranaja. Biarlah ini menjadi akhir petualangan Pranaja dan besok akan menjadi awal kehidupan pendekar muda itu dalam petualangan yang lebih seru dan menarik.


***


Panembahan Mbah Iro membawa Pranaja ke puncak gunung mati. Di sana ada sebuah kawah berair hangat yang bernama sendang Edi Peni, artinya selalu memberika keindahan. Di sendang itulah proses penyempurnaan kekuatan Pranaja akan dilakukan. Dia akan menjalani impiannya yang terakhir sbagai pemimpin Trah Somawangi yang digdaya sekaligus bijaksana.


“Setiap turun tahun kembar, air sendang ini akan mengeluarkan bau harum. Serta memilki kekuatan yang mampu membuat jaringan sel di dalam tubuhmu akan mengalami kelahiran kembali,” kata Panembahan. “Sekarang buka seluruh pakaianmu dan lumuri badanmu dengan lempung putih ini dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu tenggelamkan dirimu di dalam sendang ini.”

__ADS_1


Panembahan Mbah Iro duduk bersila sambil memejamkan matanya. Bibirnya nampak bergerak-gerak membaca doa. Lalu tangan kanannya menebarkan tujuh butir gotri emas berbentuk bulatan kecil dan beberapa ramuan lainnya ke dalam sendang. Seketika permukaan sendang bergejolak, lalu muncul gelembung-gelembung yang pecah dan mengeluarkan bau harum.


Tubuh Pranaja yang sudah tertutup tanah liat berwarna putih itu masuk ke dalam sendang yang airnya hangat. Selama tujuh hari tujuh malam dia akan bertapa di dalam air sendang untuk menyempurnakan kekuatan tubuhnya dan membersihkan jiwanya dari pengaruh hitamnya dunia.


__ADS_2